Sabtu, 20 April 2013

Sosok Istimewa (3)


Lanjutan dari : Sosok Istimewa dan Sosok Istimewa (2)
 
Sore itu, aku dikejutkan dengan sebuah paket berwarna cokelat. Paket yang sebenarnya aku tahu bahwa itu dikirimkan oleh teman sekamarku ketika kuliah S-1, Nita. Semenjak tahun 2008 kami memang punya ritual untuk memberikan kado ketika berulang tahun. Ulang tahunku sudah lewat cukup lama, Nita sudah berulang kali menanyakan, “Kamu mau kado apa?” Namun, tak jarang aku melewatkan SMS-nya, entahlah. “Nita, cuek itu bukan berarti tak peduli, aku hanya tidak ingin merepotkanmu,” batinku.

Bukan Nita namanya kalau tak protes denganku, luluh juga hatiku. “Iya Nit, aku pengin rok, tapi yang panjang, rok pemberianmu tahun lalu terlalu cungklang untukku,” begitu kira-kira balasan SMS-ku. Nita pun semakin rajin mengirimiku SMS untuk menanyakan model rok apa yang aku kehendaki, tapi dasar Mina, lagi-lagi aku jarang membalas SMS-nya. “Ngapain juga tanya-tanya, aku bukan orang yang ribet dalam memilih barang belanjaan,” kataku dalam hati.

Kami memang berbeda, apa lagi kalau sedang berbelanja. Aku suka belanja tapi bukan tipe orang yang ribet. Berbeda dengan Nita, ia harus berkeliling dari Toko A sampai Z baru menentukan pilihan, tak jarang pilihannya jatuh ke Toko A, alhasil kita harus putar balik. Dengan keadaan yang seperti itu, biasanya aku melancarkan aksi cemberut, tapi hilang sudah rasa jengkel kalau sudah disumpal traktiran oleh Nita, apalagi segelas teh susu Tong Tji. Nikmat sekali.

Aku masih saja berlaku cuek. Dia sudah sangat paham tabiatku, kalau cuek berarti Mina sedang terlalu banyak pekerjaan. Lama sudah dia tak SMS, hingga datanglah paket itu, aku membukanya dengan sangat hati-hati.

Senin, 01 April 2013

Renungan Indah



Renungan Indah
WS. Rendra
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskan di atas ranjang)


aku berkata,
Ketika semua orang memujiku

Bahwa semua itu hanyalah titipan.
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya.
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya.
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya.
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya.

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah.
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka.
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja,
untuk melukiskan kalau itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku.