Tampilkan postingan dengan label argumen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label argumen. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Desember 2014

Nilai Ibadah



Saat itu kami sedang perjalanan dari Malang menuju Semarang. Kereta berhenti di Stasiun Kediri untuk mengangkut penumpang. Beberapa saat kemudian muncul seorang laki-laki dan duduk di depan kami. Tanpa mempedulikan sekelilingnya, dia membuka tas dan mengeluarkan kertas kerja. Dia menggunakan meja kecil yang ia taruh di pangkuannya untuk bekerja. Dia terlihat sangat sibuk dengan penggaris, pensil, dan kalkulatornya. Tak hanya itu, ketika magrib, lelaki itu mengeluarkan Al Quran dan mengaji di kereta.
“Mas, dia keren, rajin, alim.”
“Bila ia peduli dengan lingkungannya itu baru keren. Lihatlah apa yang dilakukan orang yang duduk di sebelahnya, bahkan tak dapat duduk di sebelah laki-laki itu karena ewoh. Lihat, meja kerja yang ia pangku hampir memenuhi kursi kereta. Bila saja ia membuat orang yang di sebelahnya nyaman, itulah yang bernilai ibadah lebih.”

Aaaah, ini hubungan horizontal yang banyak dilalaikan.

Jumat, 21 November 2014

Cinta Orang Dewasa


Jatuh cinta dan menikah adalah dua hal yang berbeda tapi tidak dapat dipisahkan. Bagi anak SMP, cinta adalah pura-pura izin ke kamar kecil waktu pelajaran, padahal cuma ingin lewat di depan kelasnya. Bagi anak SMA, cinta mungkin sekadar antar-jemput kosan dan sekolah. Bagi anak kuliahan cinta mungkin sekadar menonton bioskop bersama. Atau, kata novel remaja, cinta adalah perasaan yang bisa membuat kamu deg-degan waktu melihatnya. Cinta orang dewasa adalah bagaimana cara menyatukan dua keluarga. Itulah bagian dari tujuan menikah.

Pendekatan psikologis dibutuhkan untuk mempelajari karakter dan kepribadian si calon. Sedangkan, pendekatan sosio-kultural yang seharusnya digunakan untuk mempelajari kebiasaan keluarga dan lingkungan sekitar si calon. Hal-hal itu harus dilaksanakan dengan metode yang benar. Jangan sampai kita menggeneralisasikan secara sepihak karakter sebuah keluarga berdasarkan konklusi yang prematur. Di situlah kita harus melakukan persuasif yang benar. Tentu usaha itu harus disesuaikan dengan keadaan sosio-kultural sang objek.

Idealisme yang dulu ingin mendapatkan pasangan yang sempurna entah mengapa begitu bergeser. Mungkin ini sebuah penyadaran diri bahwa: kadang kita merasa bahwa diri ini adalah sosok yang sempurna. Pergeseran itu mengarah pada tindakan untuk menemukan orang yang mampu menerima ketidaksempurnaan kita. Saya mungkin tidak pernah terlalu bersusah-susah mencari pekerjaan, juga tak perlu bersusah-susah mencari uang, tak perlu juga bersusah-susah untuk bertahan hidup. Namun, kenyamanan itulah yang yang tidak boleh membuat kita silau pada diri kita sendiri. 

Kamis, 19 Juni 2014

What have you done in your age? #1 Menikmati Fase Kegagalan


Hidup adalah lompatan dari satu masalah ke masalah yang lain (Suseno, 2014).

Dinamika merupakan bagian yang pasti dalam kehidupan. Lima tahap kesedihan menurut Kubler Ross yakni: kemarahan, penyangkalan, penawaran, depresi, dan penerimaan. Tahapan itu mungkin di-amini oleh beberapa orang yang sudah pernah mengalaminya, begitu juga aku. Namun menurut Ross, ada perbedaan karakterisitik laki-laki dan perempuan saat mengalami kesedihan bila dilihat dari sikapnya. Laki-laki akan tampak biasa saja tetapi sesungguhnya dia sedang melakukan tindakan destruktif. Berbeda dengan perempuan, meskipun ia tampak begitu hancur, sesungguhnya ia sedang mengonstruksi dirinya menjadi lebih baik. 

Barangkali penerimaan yang sedang aku pelajari saat ini. Kalau mengulang pernyataan Ross, itu adalah fase terakhir dalam menyikapi kesedihan. Bilamana kehidupan bersifat dialektik maka setiap manusia akan mendapati fasenya masing-masing. Tentu, fase-fase itu akan terlihat dengan kadar yang berbeda dari sudut pandang manusia, tetapi sesungguhnya tidak di mata Tuhan. Seperti yang pernah dikatakan guru Madrasah Ibtidaiyahku kala itu, Tuhan akan memberikan tantangan pada setiap hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuannya. Itu sebabnya muncul nasihat bahwa manusia tak akan kalah oleh cobaan yang dihadapinya. “No one makes lock without a key. That’s why God won’t give you problems without solutions.”

Kamis, 01 Mei 2014

Siapalah Saya Ini (?)


Tulisan ini bukan karena esok adalah Hari Pendidikan Nasional, juga bukan karena hari ini adalah Hari Buruh. Aku hanya ingin berbagi rasa. Yah, pada catatan ini aku tak akan “sok tahu” seperti gaya halnya gaya tulisanku yang lain.

“Meina, beberapa hari ini kamu sering sekali sibuk dengan pikiranmu sendiri,” mungkin itu adalah ucapan yang terlontar dari langit-langit kamar kosku. sebuah ruangan ukuran 3x3 meter yang aku penuhi dengan buku-buku. Memang betul, usia 24 ini sepertinya menjadi awal mula munculnya pemikiran-pemikiran yang acap kali mengganggu pikiranku. Tak hanya tentang kuliahku, pekerjaanku, urusan keluarga, urusan teman, percintaan, bahkan keyakinan atas agama yang aku peluk juga aku pertanyakan. Tidak yakin atas pilihanku? Tidak, aku tak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya ingin apa yang aku perbuat selalu beralasan dan aku tahu kenapa aku harus melakukan hal itu. Tentu saja dengan seperti itu hidupku akan lebih nyaman.

Tidak Memakai Celana Jeans
Bila suami Oyi berpuasa minum teh, sesungguhnya sudah lebih dari satu tahun aku berpuasa memakai celana jeans. Aku pernah berdiskusi dengan Oyi sahabatku tentang makna mencari Tuhan. Ya, kami memang sering mendiskusikan hal-hal yang jarang terpikirkan oleh orang lain. Kami biasa menggunakan gaya sarcastic untuk mengingatkan satu sama lain, apalagi kalau aku sedang patah hati, beuh jangan sampai dia tahu, nanti aku jadi bahan bully-an selama tujuh hari tujuh malam.

Minggu, 16 Maret 2014

Postmodernisme


Akan ada saatnya manakala cinta disebut sebagai sesuatu yang sama sekali tak terdefinisi, termasuk pada siapa kita bisa jatuh cinta? Atau bisa jadi pada apa kita akan jatuh cinta. Saat teknologi merajai kehidupan kita, akan ada saatnya seseorang yang menikah dengan robot, laptop atau gadget yang lainnya.

Pada era postmodern ini bukankah semuanya berubah? Bisakah kau jelaskan siapa kekasihmu? Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menikmati kehidupan nyata, dibanding mengunggah foto di instagram? Bila teknologi tak secanggih sekarang, Theodore tak akan jatuh cinta pada Samantha yang sebuah program komputer. Tatkala cinta tak terdefinisi secara pasti, betapa Theodore mencintai Samantha yang seolah-olah begitu mengertinya, begitu menerimanya apa adanya. Ketika itulah sisi manusiawi akan tergantikan oleh teknologi. Bisa jadi manusialah yang sebenarnya menjadikan setan masuk neraka. Saat itulah kita juga tak bisa mendefinisikan bagaimana sakit jiwa itu.

Ya, pada era postmodernisme ini segalanya berubah. Menikah bisa dilakukan via skype, rumah tangga pun bisa dilakukan jarak jauh. Mengertilah wahai engkau, pada era ini cinta bukanlah sebuah kewajiban. Sebab, ketika kau memberi paksaan pada orang lain seolah-olah kau adalah monster baginya, bukan lagi kekasih. Contoh paling sederhana adalah: “Ketika saya tidak menghubungimu untuk urusan yang remeh, semisal menanyakan sudah makan atau belum, pertanyaan basi yang terlontar tapi tak berkonteks, bukan berarti aku tak mencintaimu. Mengertilah, pada era postmodern ini setiap orang bebas sibuk dengan pikirannya sendiri. Mungkin cinta bukan lagi harga mati.”

Minggu, 02 Maret 2014

Tentang Pencarian Jati Diri



“Saya pernah hampir gila waktu mempelajari hal ini,” kata seorang ustaz yang belajar ilmu filsafat islam sampai jenjang doktoral. Pernyataan itulah yang terus menghantuiku, bahkan sampai terlintas pemikiran bodoh, “Opo aku kudu edan sik ben nemu sopo aku? Opo agamaku?”

Obrolanku semalam via BBM dengan sahabatku, Yosnia, tentang makna Islam, Islami, keislam-islaman, dan keislaman pun yang masih terbayang-bayang sampai saat ini. Apakah Islam sama dengan Islami? Samakah dengan keislam-islaman dan keislaman? Bagaimana hakikatnya? Lalu, “Apakah kau menganut agama? Memeluk agama? Atau bersetubuh dengan agamamu?”

Pengajian tadi pagi di TK ABA juga membuatku semakin dalam memikirkan tentang teka-teki ini. Ada tiga hal yang diberantas Akhmad Dahlan dalam perjuangannya yakni taqlid, bid’ah, dan khufarat. Islam tidak menganut paham tahayul atau hal-hal yang mengultuskan suatu hal selain Allah. Islam tidak mengajarkan tentang perhitungan pernikahan, ramalan, dan hal-hal yang mengarah pada kesyirikan.

Selasa, 22 Oktober 2013

Benarkah Saya Alay?



Apakah benar kata Raditya Dika bahwa ada fase harus dilalui oleh manusia menjelang dewasa? Setelah melalui fase anak-anak yang penuh keceriaan, lalu ABG atau remaja yang  identik dengan “alay”. Sebelum ia menjadi dewasa, masa-masa ABG itulah yang biasanya dipenuhi dengan ke-alay-an. Alay disebut-sebut sebagai akronim  “anak layangan”, orang yang dianggap norak dan ndeso. Biasanya ke-alay-an remaja ditandai dengan kegandrungan pada boyband, lalu menulis dengan huruf kapital secara berantakan, menggunakan bahasa yang dirasa “aneh”, tapi tentu saja keren menurut mereka. Terus terang saya juga bingung untuk mendefinisikannya.
J.W.M. Bakker Sj dalam bukunya yang berjudul Filsafat Kebudayaan menjelaskan bahwa ada hal-hal yang dinamakan dengan faktor kebudayaan. Faktor-faktor itulah yang dapat membentuk suatu kebudayaan, diantaranya ada yang disebut sebagai teori evolusi dan degenerasi.
Evolusi merupakan perubahan yang terjadi secara perlahan-lahan menjadi lebih baik atau lebih kompleks. Evolusi diajukan sebagai faktor kebudayaan pada pertengahan abad XIX, pandangan itu diambil alih dari ilmu biologi, orang yang sangat populer menggencarkan teori itu adalah Ch. Darwin dengan publikasi yang menggemparkan The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preservation of Favoured Races in the  Struggle of Life. Tidak hanya ilmu biologi, evolusionisme juga berkembang dalam perkembangan kebudayaan manusia. Contoh evolusi yang dilalui manusia adalah masa-masa berburu dan meramu, lalu menggunakan otot, gigi, berkembang menjadai masa-masa penuh peralatan , menanam , beternak, membangun kota, dan berpolitik. 

Senin, 21 Oktober 2013

Sebuah Jawaban


Sebuah tulisan yang mungkin bisa disebut lanjutan dari cerita rekan saya Gita Wiryawan : Menjelma Sisifus.

Sebuah jawaban untuk pengejaran cinta selama empat tahun. Ini benar-benar sebuah pengejaran. Yang Bukit tahu mengejar cinta seperti menggenggam pasir, bukan seperti sedang bermain petak umpet. Kenyataannya Bukit harus bersembunyi dari Sisifus, melakukan repetisi penolakan.
Ia tidak sepenuhnya seperti Sisifus. Hanya saja ada bagian dalam hidupnya yang menyerupai hukuman Sisifus, repetisi. Sebuah kegagalan yang ia ulang, mungkinkah sebab kepuasan atau obsesi? Inilah kisah antara Sisifus dan sebuah Bukit. Bukan hukuman abadi, tapi sebuah usaha untuk meletakkan batu di atas Bukit. Batu inilah yang katanya simbol ketulusan cintanya melalui repetisi dan usaha nyata.
Dalam mitologi Yunani, Sisifus  mendapat hukuman untuk mengangkat batu besar ke atas Bukit. Setelah sampai, batu besar itu menggelinding dan ia harus kembali mengangkatnya ke Bukit, begitu seterusnya. Sisifus inilah, simbol  repetisi kegagalan, melakukan sesuatu yang ia tahu bahwa sebenarnya gagal tapi tetap melakukannya. Kali ini ia benar-benar menyerah. Simbol Sisifus sudah usai baginya.
Sisifus tak lagi mengangkat batu ke atas Bukit. Sisifus dengan bijak mengakhiri hukumannya, ia membiarkan batu itu di Lembah, setelah ia sadar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diafirmasi Bukit. Batu yang ia bawa benar-benar tak bisa diterima oleh Bukit, membuatnya terus menggelindingkan batu itu ke Lembah.
“Aku tak merasakan bahwa batu itu sebuah simbol ketulusan, yang aku rasa batu itu menjadi simbol  obsesi yang ia lakukan secara terus-menerus,”  ucap Bukit pada Sisifus. “Pengejaran bukanlah sesuatu hal yang buruk, tetapi ada hal yang tidak bisa diafirmasi dari segala repetisimu,” lanjutnya.

Senin, 19 Agustus 2013

Konsep Cinta (?)


Akhir-akhir ini entah kenapa saya merasa tak punya semangat dan motivasi untuk hidup. Ya, bukan lagi pernyataan yang lajak, tapi saya benar-benar hampir kehilangan identitas saya. Bukan main-main, saya bahkan sampai meragukan apa yang telah saya yakini sepenuhnya, tentang berbagai keyakinan yang saya anut sebelumnya. Mungkin benar, terlalu banyak yang dipikirkan membuat kita tidak fokus terhadap tujuan hidup ini. Hal yang saya tangkap dalam buku Quantum Ikhlas, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak usah kita pikirkan, tentu saja jika hal itu malah menambah beban pikiranmu, yang jika kau pikirkan pun tak bakal menjadi sebuah solusi. Oleh sebab itu, bersikap tak acuh terhadap beberapa hal boleh jadi menjadi kunci agar kita bisa ikhlas.
Beberapa sebab yang membuat saya galau akhir-akhir ini adalah sesuatu yang memang layak dipikirkan oleh perempuan seusia saya, 23,5 tahun. Usia yang tak lagi dibilang remaja. Saya mempertanyakan tentang konsep cinta, tentang masalah di keluarga saya, tentang pekerjaan, masa depan saya, dan tentu tentang kelanjutan studi saya yang hampir memasuki tingkat akhir.
Entahlah, diusia saya ini, saya masih sangat alay dan terkesan labil apalagi di media sosial (saya sangat mengakui itu), tapi itulah media saya berekspresi. Beberapa waktu ini saya memang lebih sering berdiam diri di kamar, bukan untuk mengeja kitab suci, tapi malah cenderung melakukan hal-hal yang tak penting, lebih tepatnya bermalas-malasan. Saya kehilangan banyak kesempatan berinteraksi dengan orang, apalagi saya baru saja terjebak dalam zona nyaman pascalibur lebaran. Baru saya sadari sepenuhnya bahwa saya murni makhluk sosial yang tak bisa kehilangan interaksi dengan orang-orang dengan waktu yang agak lama. Setelah saya sedikit memaksa diri untuk sekadar berkunjung ke kamar teman, atau hang out dengan adik-adik tingkat, rupanya itu cukup efektif untuk menghilangkan rasa kesendirian saya yang bisa membuahkan kegalauan, apalagi galau tentang cinta.

Minggu, 24 Maret 2013

Filosofi Kentut



Mungkin memang sedikit aneh, jika orang lain tutup hidung ketika dia kentut, tapi aku tidak. Bagiku menghirup kentut sendiri adalah sebuah kenikmatan. Logikanya sederhana, perut sudah kerja keras menghasilkan gas, sayang sekali jika tak ada yang mau menghirupnya padahal kentut adalah bagian dari tubuhmu sendiri. Sayangnya aku tak suka menghirup kentut orang lain, alasannya simpel, itu bukan hasil karyaku.
Aku memang sangat awam soal biologi, bahkan nilai Ujian Nasionalku waktu SMA hanya 5,75, nyaris tidak lulus karena batas kelulusan waktu itu 5,25. Aku pun tak tahu bagaimana prosesnya hingga terbentuklah si kentut. Namun, aku punya pandangan lain yang aku temukan ketika tadi pagi kucium aroma kentutku di toilet. Nikmat sekali rasanya.
Kentutmu adalah tanggung jawabmu. Ya, ketika tubuhmu menghasilkan sesuatu, itulah bagian dari hidupmu. Hampir sama dengan kehidupan. Apa pun yang kamu lakukan, dan apa pun hasilnya, itulah konsekuensi yang kamu terima dan harus kamu pertanggungjawabkan. Entah hasilnya baik atau buruk, entah kentutmu sewangi mawar atau sebau tahi kerbau. Namun, itulah bagian darimu. Oleh karena itu, aku suka bau kentutku.

Selasa, 01 Januari 2013

Apakah Guru Adalah Pekerjaan Paling Ideal bagi Perempuan?

Sumber
 Prof. Tri Marhaeni seorang guru besar sosiologi gender dari Universitas Negeri Semarang tak pernah menginginkan dirinya untuk menjadi guru, apalagi masuk Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Ia menjadi mahasiswa IKIP Semarang karena sang orang tua yang memaksanya agar menjadi seorang guru. Ia heran mengapa kakak-kakak lelakinya diperbolehkan masuk universitas dan bebas memilih profesi yang diminati, sedangkan dirinya tidak?
Pada dasarnya setiap perempuan memiliki hak untuk memilih dan beraktualisasi diri. Seiring dengan perkembangan pendidikan bagi perempuan maka mereka pun punya kewenangan. Perempuan sudah bisa maju dengan kemampuan dan wawasannya. Bahkan ia membutuhkan tempat untuk mengambangkan potensinya.
Pandangan masyarakat saat ini masih sangat stereotip terhadap profesi seorang perempuan. Bahwa perempuan hanya pantas melakukan kegiatan 3 M yaitu; masak, macak, dan manak. Jika ada sedikit kelonggaran maka profesi yang paling ideal bagi seorang perempuan adalah guru. Alasannya masih cukup klise, guru memiliki banyak waktu untuk keluarga. Sesempit itukah?

Senin, 31 Desember 2012

Daripada Nganggur Mending S-2 Saja (?)

Sumber


Kalau hanya dengan alasan “daripada nganggur lebih baik lanjut S-2 saja”, menurutku itu adalah alasan yang sangat tidak bijak. Lalu bila kau jawab dengan alasan, “tapi persaingan saat ini jauh lebih sulit.” Oleh karena persaingan jauh lebih sulit maka jangan sampai kau permainkan pendidikan.
Sesungguhnya pendidikan itu suci maka harus disampaikan dengan suci pula. Bila pendidikan adalah sebuah proses memanusiakan manusia maka pendidikan seharusnya tidak hanya meliputi transfer of knowledge tapi lebih dari itu, ada transfer of value, transfer of thinking, dan transfer of method. Yang aku sesali saat ini adalah kelonggaran sistem pendidikan yang masih berpihak pada yang berduit. Pada negara yang masih mengultuskan selembar kertas bernama ijazah dan gelar yang tercantum pada sebuah nama. Padahal ada sebuah pertanggungjawaban yang besar dari ilmu yang kau pelajari, dari gelar yang kau terima. Seharusnya selalu ada cita-cita mulia dari sebuah pendidikan.

Minggu, 16 Desember 2012

Alasan Saya Tidak Lagi Ingin Menjadi Ibu Negara

Sumber

Mungkin terdengar konyol, tapi ini serius. Dulu aku beranggapan bahwa dengan menjadi seseorang yang berada di jabatan terpuncak, kita bisa melakukan segala hal, termasuk merealisasikan segala impianku. Dengan jabatan itu, yang aku takutkan adalah intimidasi-intimidasi untuk berbelok arah dan idealisme yang terlupakan. Namun, saat ini aku merasa bahwa pemimpin bukanlah tentang jabatan struktural. Dia hanya berkorban, berjuang, dan berbuat lebih banyak dari orang lain. Bukan untuk mengejar pujian atau pun nama yang selalu terpampang. Jauh lebih mulia dari sekadar pencitraan publik. Masih sangat ingin bermimpi dan merealisasikannya. Dan biarkan lutut ini berdiri lebih tinggi dari gunung tertinggi di dunia sekalipun. Untuk hidup di dunia yang sementara ini, manfaatkanlah sebaik-baiknya.


“Kemudian yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa. Keep our dreams alive, and we will survive.” (Donny Dhirgantoro, 5 cm)