Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2016

Cerita Sore

Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke sebuah desa. Di sana saya “iseng” mendatangi sebuah rumah bidan desa dengan maksud periksa kandungan dan berkonsultasi. Warga desa tersebut mayoritas berprofesi sebagai buruh pabrik. Saya datang pukul 15.30, tigapuluh menit sebelum bidan praktik bersama suami saya dengan mengendarai sepeda motor tahun 1997. Saya disambut oleh seorang karyawan dan langsung ditembak dengan pertanyaan, “Bu, mau periksa pakai asuransi pabrik?” Saya yang masih agak bingung spontan menggelengkan kepala. Beberapa saat kemudian, asisten bidan pun datang.

“Bu, biasa periksa di mana?”
“Semarang Bu.”
“Di dokter atau bidan?”
“Dokter Bu.”
“Punya buku merah jambu?”
“Wah tidak diberi oleh dokter saya Bu, gimana?”
“Saya sarankan, besok Ibu periksa di bidan saja ya Bu.”
“Loh, kenapa Bu?”
“Agar dapat buku merah jambu Bu.”
Saya hanya tersenyum dan mengangguk.
“Di Semarang kerja di pabrik mana Bu?”
“Wah saya hanya ikut suami kok Bu.”
“Di rumah saja ya Bu?”
“Iya Bu, ngurus rumah tangga.”

Beberapa saat kemudian Bu Bidan dari ruang sebelah pun datang. Beliau memeriksa detak jantung janin saya kemudian mengukur perut saya.

“Normal Bu, ada keluhan?”
“Saya flu Bu, apakah boleh mengonsumsi obat?”
Beliau langsung menunjuk-nunjuk beberapa obat pada asistennya lalu menyerahkan tiga jenis obat kepada saya. Saya melihat-lihat tiga jenis obat itu, salah satu obat yang diberikan tidak memiliki pembungkus, hanya dimasukkan dalam plastik transparan yang ditulisi dengan spidol “3 X 1”.
“Maaf Bu saya mau tanya, ini obat apa ya?” – tepatnya percakapan saya menggunakan bahasa Jawa Krama.
“Ini obat aman kok Bu. Saya ini bidan, jelas saya sudah tahu mana obat yang baik atau tidak untuk ibu hamil. Kalau berobat itu yang mantap saja Bu. Kalau suruh minum obat ya diminum, tidak usah banyak tanya,” jawab Bu Bidan dengan nada tinggi.


Selanjutnya, saya sudah malas untuk bertanya lebih jauh. Saya pun mengajak suami untuk pulang. Begitulah cerita sore itu.

Kamis, 17 Desember 2015

Ayam Goreng dan Semut

Malam itu mataku terbuka. Ah, sudah pukul 02.30. Lapar sekali rasanya.

Kuraba perutku, Alhamdulillah tendangannya semakin terasa.

Alamak, baru kusadari rupanya aku tertidur di depan televisi dan giliran semut-semut di televisilah yang menonton aku. Program televisi telah usai karena sudah terlalu larut. Aku baru ingat kalau sebelum tidur aku merasa lelah sekali, badanku sangat lemas. Aku pun meminta suami untuk memasakan sesuatu untukku. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.

Di sebelahku, dia tengah tertidur pulas di atas lembaran karpet yang ditumpuk bedcover.  Kasur di depan televisi memang hanya cukup untuk menampung satu orang. Aku berjalan menuju meja makan, di sana sudah terhidang ayam goreng yang sudah dikerumuti semut.


Malam itu juga aku mengusir semut-semut dari piring saji. Aku harus tetap makan. Bukan hanya dengan alasan lapar.

Jumat, 21 Agustus 2015

Suprapti: Antara Seorang Ibu dan Guru

 “Bu Prapti”, begitulah saya menyapa Dra. Suprapti, M.Pd., sosok yang saya kenal sejak tujuh tahun silam tepatnya tahun 2008. “Galak dan disiplin”, itulah kesan (waktu itu) dalam benak saya ketika kali pertama menjadi mahasiswa beliau. Masih begitu saya ingat, ‘Meina Mahasiswa Baru’ duduk di kursi paling belakang karena takut “ditunjuk” menjawab pertanyaan yang dilontarkan pada mata kuliah Linguistik Umum. Ketakutan dan isu kakak kelas tentang betapa susahnya mata kuliah linguistiklah yang menjadi salah satu penyebab saya “merinding” ketika diajar beliau.
Ketika saya memasuki semester enam, Bu Prapti kembali mengajar saya pada mata kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa.
“Hai kamu yang duduk di belakang sendiri,” kata beliau sambil menunjuk saya.
“Iya Bu,” jawab saya.
“Nah itu contohnya, ‘duduk di belakang sendiri’ merupakan ungkapan yang terinferensi oleh bahasa daerah yaitu bahasa Jawa, ‘lungguh mburi dhewe’ maksudnya duduk paling belakang, begitu kan Mbak?”
“Padahal saya tidak duduk sendirian ya Bu,” celetuk saya.
“Beda lagi kalau saya katakan, ‘Mahasiswa dilarang berbicara sendiri ketika perkuliahan’ itu pasti ada mitra tuturnya, kalau berbicara sendiri malah bahaya,” canda beliau.
Segmen perkuliahan itu yang mengubah pandangan saya tentang Bu Prapti, tak ada lagi kesan “galak” dalam benak saya, hingga akhirnya saya tahu bahwa beliau merupakan sosok yang disiplin dan disegani. Memasuki semester tujuh, saya kembali ‘ngangsu kawruh’ pada beliau sebagai mahasiswa PPL. Itu adalah kesempatan besar bagi saya untuk banyak-banyak bertanya pada beliau tentang bahasa, pendidikan, dan pendidikan bahasa dalam ranah paradigma, konsep, maupun praktik. Sebagai dosen senior, jawaban Bu Prapti sangatlah cerdas dan taktis. Bahkan beliau tidak segan memberikan tips dan trik menjadi seorang guru yang baik dan berkualitas secara akademik, paedagogik, psikologis, serta sosial.

Rabu, 17 Juni 2015

Magister Pendidikan

“Wahai saudaraku… ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan ustadz, (6) membutuhkan waktu yang lama.”
(Imam Syafi'i)





Alhamdulillah wisuda :)

Jumat, 10 April 2015

Menjadi Guru Besar


Guru besar adalah sebuah puncak karier dan derajat tertinggi bagi seorang dosen. Apa lagi yang diharapkan seorang dosen, selain penghargaan atas keilmuan yang dimiliki. Waktu itu, Selasa, 24 Maret 2015 aku menghadiri pengukuhan guru besar kedua dosen pembimbingku. Prof Subyantoro sebagai profesor bidang psikolinguistik dan Prof Teguh Supriyanto sebagai profesor ilmu susastra. Hari itu adalah pengalaman pertamaku menghadiri pengukuhan guru besar. Dalam benakku kala itu, “hari ini pasti mengesankan”. Hal itu pun benar terjadi.

Agenda pengukuhan guru besar biasanya dirangkai mulai dari senat yang memasuki ruangan, pembacaan biodata calon guru besar, orasi ilmiah, penyampaian ucapan terima kasih, dan pelantikan oleh rektor. Bagian yang paling mengesankan bagiku justru penyampaian ucapan terima kasih.

Prof Teguh dan Prof Subyantoro adalah dua orang yang sangat berperan pada pencapaian karier dan akademikku. Semoga keberkahan selalu menyertai mereka.

Pros Subyantoro sudah aku anggap tidak sekadar guru bagiku tapi seperti seorang bapak, bahkan saya mengenal istri beliau dengan baik. Beliau adalah dosen pembimbing skripsi dan tesisku. Hampir semua pemikiranku terinspirasi oleh beliau. Menurutku beliau adalah orang yang sangat logis, tapi berhati lembut. Di balik penampilan beliau yang semi-militer, ya maklum sampai saat ini beliau masih menjadi pembina Resimen Mahasiswa di Unnes, beliau memiliki jiwa kebapakan yang sangat tinggi. Ah, subhanallah. Beliau pernah bercerita tentang kehidupannya, beliau adalah anak seorang TNI dan guru SD. Beginilah kutipan pidato guru besar beliau:

Senin, 29 Desember 2014

Nilai Ibadah



Saat itu kami sedang perjalanan dari Malang menuju Semarang. Kereta berhenti di Stasiun Kediri untuk mengangkut penumpang. Beberapa saat kemudian muncul seorang laki-laki dan duduk di depan kami. Tanpa mempedulikan sekelilingnya, dia membuka tas dan mengeluarkan kertas kerja. Dia menggunakan meja kecil yang ia taruh di pangkuannya untuk bekerja. Dia terlihat sangat sibuk dengan penggaris, pensil, dan kalkulatornya. Tak hanya itu, ketika magrib, lelaki itu mengeluarkan Al Quran dan mengaji di kereta.
“Mas, dia keren, rajin, alim.”
“Bila ia peduli dengan lingkungannya itu baru keren. Lihatlah apa yang dilakukan orang yang duduk di sebelahnya, bahkan tak dapat duduk di sebelah laki-laki itu karena ewoh. Lihat, meja kerja yang ia pangku hampir memenuhi kursi kereta. Bila saja ia membuat orang yang di sebelahnya nyaman, itulah yang bernilai ibadah lebih.”

Aaaah, ini hubungan horizontal yang banyak dilalaikan.

Sepasang Penjual Mangga



Sabtu, 27 Desember 2014 di Batu Malang.

Sore itu gerimis merintik membasahi Batu yang hampir selalu basah. Selama tiga hari saya di sana, tak pernah ada hari tanpa hujan. Entah sebab musim hujan atau memang Batu sudah ditakdirkan sebagai kota hujan. Meskipun selalu basah, pesona Batu tak pudar. Batu menyimpan kenangan manis setiap saya melihat rintikan gerimis di mana pun.

Gerimis akhir tahun ini juga menyimpan kisah singkat antara kami dan sepasang penjual mangga. Kala itu, kami sedang berjalan dari Alun-Alun Batu menuju pangkalan taksi. Sepanjang jalan banyak sekali penjual yang menawarkan barang dagangannya.
“Mas, Mba mau mangga? Murah dan manis lo,” kata ibu penjual mangga.
Kami pun berhenti. Kami berdua sama-sama penggemar buah mangga.
“Boleh Bu, bisa kami cicipi dulu?” tanya saya.
“Oh boleh,” kata ibu penjual sambil memberikan kode pada partnernya yang sepertinya adalah suaminya. Penjual laki-laki itu lantas memberikan potongan mangga pada kami.
“Hm.. manis, boleh lah kami ambil, satu kilo saja Bu,” kata pacar saya.
“Satu kilo sepuluh ribu Mas, biasanya dapat dua mangga,” kata sang penjual laki-laki.

Rabu, 05 November 2014

Kesederhanaan


Yang istimewa pada pembukaan seminar internasional kali ini, bukan gedung auditorium yang mewah, bukan pidato dari para pejabat, bukan perkenalan para pembicara dari berbagai negara, bahkan bukan pula pidato dari "keynote speaker". Seorang kakek berkemeja putih yang duduk di sebelah saya-lah yang membuat malam ini begitu berkesan. Awalnya saya minta izin untuk duduk di kursi sebelah beliau yang kosong, beliau tersenyum dan mengizinkan saya. Pembicaraan pun mengalir, beiau terlihat sangat bersahaja. Beberapa saat kemudian, datanglah beberapa mahasiswa yang berulang kali membujuk beliau untuk duduk di kursi VIP, berulang kali pula beliau menolaknya.

Ketika pulang, saya kira beliau mengendarai mobil atau dijemput anak/cucunya. Saya berdiri di depan gedung auditorium dengan beliau, di luar hujan masih sangat deras. Beberapa mahasiswa membujuk beliau. "Saya mohon izin Bapak, apakah Bapak berkenan saya antar?" Beliau tersenyum dan kekeuh menunggu hujan reda. "Apakah Bapak masih akan menunggu angkot?"

---

Beliau adalah Bapak Djoko Kentjono, seorang pensiunan dosen linguistik di UI. Beliau pernah kuliah di Texas, satu angkatan dengan Prof Retmono (pernah menjadi Rektor Unnes), juga mengenal Prof Eko Wardono (guru besar linguistik di Unnes). Beberapa guru besar linguistik, seperti Harimurti Kridalaksana ternyata pernah dibimbing oleh beliau.

Berkat kesederhanaan beliau, kehujanan bersama mamang ojek pun jadi terasa begitu romantis.

Terima kasih Pak Djoko, saya masih ingat berulang kali Bapak mengatakan, "Semoga besok kita bertemu lagi."

Tangerang Selatan, 5 November 2014

Selasa, 22 Juli 2014

Investasi



“Kala itu, terlintas di pikiran saya sebelum akhirnya saya memutuskan untuk menjadi guru. Alangkah bahagianya kyai-kyai itu yang tanpa ia minta santri-santrinya untuk berbakti padanya, justru santri-santri itulah yang mendekat padanya. Kenapa? Karena kyai dianggap memiliki ilmu. Ketika saya berpikir: ‘Mungkin saat ini saya masih sehat dan segar, tapi bagaimana bila tiba-tiba saya terkena stroke, atau ketika tua nanti saya sudah tidak bisa apa-apa?’ di situlah saya mulai berpikir Dik, bahwa pekerjaan saya saat ini (mungkin) memang yang terbaik untuk saya, terlepas dari bila itu takdir Tuhan untuk saya. Saat itu saya bertemu dengan seorang seniman yang ketika muda ia sangat gagah; siapa perempuan yang kuasa menolak ia? Tapi setelah ia tua, saya melihat ia duduk di kursi antrean pasien rumah sakit. Ia hanya duduk berdua ditemani istrinya yang masih cantik. Pemikiran saya terbang pada masa depan yang kita tak tau pasti. Bahwa saat-saat sekarang ini adalah waktu keemasan untuk menanam investasi dunia-akhirat. Sebab, kita tak tahu pasti apa yang akan terjadi nanti. Pun bilamana akhirnya  saya memutuskan untuk menjadi guru, saya tak akan memaksa anak-anak didik saya untuk berbakti kepada saya. Namun, kita sebagai manusia tak mungkin pernah menghindari satu hal: rasa.”

-Sendang Mulyana, pada perbincangan siang hari di Gedung B1 102-

Jumat, 30 Mei 2014

Aib


Kampoeng Kopi Banaran, Bawen 29 Mei 2014.

Seorang perempuan muda yang sedang hamil satu setengah bulan sedang duduk bersamaku sambil menikmati semilir angin di bawah pepohonan. Namanya tidak jauh beda dengan namaku, hanya selisih satu huruf, namaku Meina dan nama perempuan itu Neina. Kami adalah rekan kerja, usianya hanya terpaut empat bulan lebih tua dari aku tetapi waktu kuliah S-1 dia adalah kakak tingkatku dan kami pun pernah berada di organisasi yang sama.

“Dik, saat ini aku benar-benar merasakan makna persahabatan,” ujarnya padaku.
“Maksudnya Mbak?” tanyaku balik.
“Saat kita jauh dengan orang tua, suami, keluarga, di situlah kita hanya punya sahabat yang bisa diandalkan. Aku punya seorang sahabat dan baru kali ini aku menganggapnya seperti keluargaku sendiri. Kenapa? Karena dia sangat setia, perhatian, dan aku benar-benar tidak pernah merasa sendiri bila dengannya.”
“Oh iyakah Mba, senang ya punya sahabat seperti itu,” sambungku.
“Iya Dik, bahkan dia adalah orang yang paling sering aku ceritakan pada keluargaku. Orang yang paling bapakku hafal adalah dia, begitu juga dengan ibuku yang merasa sangat senang ketika mengenal dan bercakap-cakap dengannya,” ucapannya terpotong. Dia berhenti sejanak lalu menatapku. Entahlah tiba-tiba jantungku berdetak lebih kencang.
“Kamu tahu siapa orang yang sedang aku ceritakan?”
Aku terdiam, mungkin mukaku sudah memerah.
“Itu kamu Dik. Aku tak pernah menyesali apa pun yang pernah kamu perbuat. Meskipun kamu suka galau dan patah hati, kamu yang sangat lemah di urusan asmara karena susah move on, padahal sudah ratusan kali aku mengingatkanmu untuk mencoba mencintai orang lain, tapi kamu tak pernah mendengarkanku, entahlah tapi kamu pintar, baik, dan visioner. Apa pun yang kamu perbuat, kebodohan, ke-alay-anmu, sifat ngeyelmu selalu membuat aku tersenyum dan bisa membuatku memaafkan semuanya.”

Minggu, 25 Mei 2014

Sepenggal Kisah di Persimpangan


Kawanku seorang perempuan berusia 23 tahun baru saja putus dari kekasihnya yang sudah dua tahun berkomitmen. Dia bercerita dengan penuh penyelesalan. Kala itu kekasihnya meminta komitmen yang lebih, lalu kawanku meminta waktu berpikir. Sejenak sebelum ia meneruskan ceritanya, aku memotong ucapannya, “Jarang-jarang ada lelaki yang ingin lebih dulu berkomitmen.” 

“Justru itu yang aku tangisi saat ini Meina,” katanya sambil mengusap air matanya.

Sebenarnya ketika kawanku menjalin hubungan dengan kekasihnya dia juga menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak, tidak ada komitmen dengan pria lain itu, hanya saja sang pria begitu lihai memainkan benang asmara tarik-ulur dengan begitu indah, sialnya timbulnya rasa penasaran dari kawan perempuanku inilah yang membuatnya terus mencoba menghubungi pria asing itu.

“Aku katakan pada kekasihku bahwa aku tidak yakin dengannya. Di situlah akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Baginya untuk apa melanjutkan hubungan yang bahkan yang menjalani saja tidak merasa yakin.”

Suasana pun hening.

Kamis, 01 Mei 2014

Siapalah Saya Ini (?)


Tulisan ini bukan karena esok adalah Hari Pendidikan Nasional, juga bukan karena hari ini adalah Hari Buruh. Aku hanya ingin berbagi rasa. Yah, pada catatan ini aku tak akan “sok tahu” seperti gaya halnya gaya tulisanku yang lain.

“Meina, beberapa hari ini kamu sering sekali sibuk dengan pikiranmu sendiri,” mungkin itu adalah ucapan yang terlontar dari langit-langit kamar kosku. sebuah ruangan ukuran 3x3 meter yang aku penuhi dengan buku-buku. Memang betul, usia 24 ini sepertinya menjadi awal mula munculnya pemikiran-pemikiran yang acap kali mengganggu pikiranku. Tak hanya tentang kuliahku, pekerjaanku, urusan keluarga, urusan teman, percintaan, bahkan keyakinan atas agama yang aku peluk juga aku pertanyakan. Tidak yakin atas pilihanku? Tidak, aku tak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya ingin apa yang aku perbuat selalu beralasan dan aku tahu kenapa aku harus melakukan hal itu. Tentu saja dengan seperti itu hidupku akan lebih nyaman.

Tidak Memakai Celana Jeans
Bila suami Oyi berpuasa minum teh, sesungguhnya sudah lebih dari satu tahun aku berpuasa memakai celana jeans. Aku pernah berdiskusi dengan Oyi sahabatku tentang makna mencari Tuhan. Ya, kami memang sering mendiskusikan hal-hal yang jarang terpikirkan oleh orang lain. Kami biasa menggunakan gaya sarcastic untuk mengingatkan satu sama lain, apalagi kalau aku sedang patah hati, beuh jangan sampai dia tahu, nanti aku jadi bahan bully-an selama tujuh hari tujuh malam.

Sabtu, 22 Maret 2014

Untuk Engkau: Kisah Tentang Perempuan Venus dan Lelaki Mars




Engkau yang jauh di Kota Tua.
Gambar tersebut aku ambil dari facebook tatkala mereka mengikuti kontes untuk mendapatkan tiket liburan gratis di Bali. 
Namanya Surahmat, ia seorang sahabat yang telah membuktikan bahwa Venus mampu bersatu dengan Mars. Seorang laki-laki yang menggunakan celana sobek-sobek lalu menikahi seorang perempuan bergamis lebar. Laki-laki yang suka “men-siuit” perempuan seksi yang lewat ternyata menikah dengan seorang ustazah.

Kesinkronan Mars dan Venus bisa terjadi berkat harmonisasi yang terjalin sebab perjalanan dan perjuangan yang panjang dan tidak mudah. 

Laki-Laki Mars dan Perempuan Venus, tahukah kau?
Ini tidak melulu soal Surahmat dan Rosi. Kisah Mars dan Venus rupanya masih menjadi mitos percintaan terhebat di bumi ini. 

Jumat, 10 Januari 2014

Cinta Itu Bagai Mencari Fosil Dinosaurus


Sumber

“Mei, mengajak perempuan makan di warteg tidak akan bikin dia jatuh cinta. Kamu tahu, cinta itu hanya ada di negeri dongeng, di dunia nyata yang ada hanya ongkos! Bangun Mei…..” kata seorang kawan pada saya. “Cinta tidak bakal bisa buat bayar cicilan rumah,” lanjutnya.
“Sekejam itukah dunia? Apakah benar saya makhluk negeri dongeng yang tersesat di dunia nyata?”
“Meina, tidak usah lagi kamu terheran-heran mendengar cerita teman-temanmu yang baru saja membeli tas seharga dua juta dan mereka bahagia.”
“Tapi tas saya seharga enampuluh ribu, saya juga bahagia.”
“Murah sekali kamu Meina. Yakin kamu akan tenggelam dalam kebodohan ini di saat teman-temanmu mulai realistis?”
“Saya bodoh dan tidak realistis? Saya bahagia ketika diajak makan oleh orang yang saya cintai, meskipun itu di tempat yang sangat sederhana dengan lauk yang sederhana. Saya sangat menikmatinya.”
“Mungkin saja. Tapi itu sekarang kan? Tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu sudah tahu, seberapa mahalnya biaya masuk sekolah anakmu kelak.”
“Oh ya? Beasiswa masih banyak.”
“Hahaha, dasar alien.”
“Alien?”
“Emmm bisa jadi kamu itu semacam alien, dan kita adalah manusia. Mendambakan cinta dan kehidupan yang tulus, adalah omong kosong. Bisa jadi cinta semacam Dinosaurus. Konon, dahulu negeri ini adalah negeri dongeng yang dihuni alien macam kamu, dengan cinta sebagai hal yang paling mulia. Setelah datang manusia, mereka menjajah negeri dongeng dan cinta pun punah seperti Dinosaurus. Negeri dongeng sudah hilang, dan sekarang dunia berubah jadi dunia nyata yang dihuni manusia. Memang saya tidak yakin masih ada cinta yang baik di dunia ini, tapi saya percaya bahwa masih banyak laki-laki dan perempuan yang baik di sini, tenang saja Mei, kamu nggak sepenuhnya salah, hahaha,” sambungnya.

Senin, 11 November 2013

Pembicaraan dengan Kekasih Masa Lalu


Sore itu kujumpai telepon genggamku terdapat panggilan tak terjawab, “Oh dari dia, ada apa ya,” batinku. Setengah jam kemudian telepon genggamku pun kembali berdering.
“Halo Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, suaramu masih sama seperti yang dulu,” suara seorang laki-laki dari speaker telepon genggamku.
“Iya, tapi bukan berarti aku masih sama seperti yang dulu.”
“Maksudnya?”
“Filosofinya, hari ini harus lebih baik dari kemarin,” jawabku.
“Setidaknya suara itu yang dulu selalu menemaniku.”

Kami selalu mengawali pembicaraan dengan perdebatan. Ya, dia dulu pernah menjadi kekasihku ketika remaja, boleh dibilang cinta pertamaku. Bahkan, jauh sebelum kami dekat, kami selalu berselisih pendapat ketika rapat organisasi. Entahlah, waktu itu ada sesuatu yang membuatku luluh dan berkata, “iya”.

Jumat, 08 November 2013

Cinta Sederhana



Suatu sore di kantor. Saat itu gerimis masih cukup istimewa. Sepuluh menit pertama kala gerimis asik mencumbu basah tanah yang semakin mongering, justru adalah hal yang puitis. Sebab, ada harum tanah yang bisa kau nikmati.

“Sedang apa Dik?” tanya beliau.
“Sedang iseng saja Pak, ini nyicil tesis, sudah ada tagihan rupanya,” jawab saya sembari tersenyum.
“Dik, kau tak iri melihat teman-teman kau menikah?” sambungnya.
“Ya sampai saat ini biasa saja sih Pak, saya malah ikut seneng, mungkin belum waktunya saja buat saya Pak.”
“Saya senang melihat orang yang punya semangat tinggi seperti kau. Ya, semangat untuk membuat hidup jadi lebih baik dan terus membaik. Namun, ada baiknya kau juga tak lupakan untuk membangun kehidupan yang baru, sebab itu juga upaya untuk membuat hidupmu jadi lebih baik.”

…suasana pun hening.

Senin, 21 Oktober 2013

Sebuah Jawaban


Sebuah tulisan yang mungkin bisa disebut lanjutan dari cerita rekan saya Gita Wiryawan : Menjelma Sisifus.

Sebuah jawaban untuk pengejaran cinta selama empat tahun. Ini benar-benar sebuah pengejaran. Yang Bukit tahu mengejar cinta seperti menggenggam pasir, bukan seperti sedang bermain petak umpet. Kenyataannya Bukit harus bersembunyi dari Sisifus, melakukan repetisi penolakan.
Ia tidak sepenuhnya seperti Sisifus. Hanya saja ada bagian dalam hidupnya yang menyerupai hukuman Sisifus, repetisi. Sebuah kegagalan yang ia ulang, mungkinkah sebab kepuasan atau obsesi? Inilah kisah antara Sisifus dan sebuah Bukit. Bukan hukuman abadi, tapi sebuah usaha untuk meletakkan batu di atas Bukit. Batu inilah yang katanya simbol ketulusan cintanya melalui repetisi dan usaha nyata.
Dalam mitologi Yunani, Sisifus  mendapat hukuman untuk mengangkat batu besar ke atas Bukit. Setelah sampai, batu besar itu menggelinding dan ia harus kembali mengangkatnya ke Bukit, begitu seterusnya. Sisifus inilah, simbol  repetisi kegagalan, melakukan sesuatu yang ia tahu bahwa sebenarnya gagal tapi tetap melakukannya. Kali ini ia benar-benar menyerah. Simbol Sisifus sudah usai baginya.
Sisifus tak lagi mengangkat batu ke atas Bukit. Sisifus dengan bijak mengakhiri hukumannya, ia membiarkan batu itu di Lembah, setelah ia sadar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diafirmasi Bukit. Batu yang ia bawa benar-benar tak bisa diterima oleh Bukit, membuatnya terus menggelindingkan batu itu ke Lembah.
“Aku tak merasakan bahwa batu itu sebuah simbol ketulusan, yang aku rasa batu itu menjadi simbol  obsesi yang ia lakukan secara terus-menerus,”  ucap Bukit pada Sisifus. “Pengejaran bukanlah sesuatu hal yang buruk, tetapi ada hal yang tidak bisa diafirmasi dari segala repetisimu,” lanjutnya.

Senin, 18 Maret 2013

Dari Radio


Cerita Pertama
Seorang lelaki yang diam-diam pergi ke dokter THT, dia mencurigai bahwa istrinya memiliki gangguan pendengaran. Takut membuat istrinya tersingggung, ia mencoba berkonsultasi dengan sang dokter. “Coba kau panggil istrimu dengan suara yang sedang-sedang saja dalam jarak 10 meter, lalu semakin mendekatlah ketika ia tidak mendengar, setelah itu kau bisa kembali lagi ke sini,” ucap dokter. “Baik Dok.”
Lelaki itu benar-benar menuruti saran dokter. Ia coba memanggil istrinya dari jarak 10 meter tatkala sang istri sedang berada di dapur dan menyiapkan sarapan pagi. Lelaki itu bertanya, “Masak apa Sayang?” tak ada jawaban.
Dia mencoba berjalan 2 meter mendekat, kali ini posisinya berjarak 8 meter dengan sang istri. “Masak apa Sayang?” masih tak ada jawaban, sang istri pun belum juga menolehkan wajahnya. Lelaki itu masih bersabar, ia maju lagi 3 meter, posisinya jadi 5 meter di belakang istrinya. “Masak apa Sayang?” kembali ia mengulang pertanyaannya. Nihil, istrinya masih asik memasak.
Tak putus asa, ia kembali mendekat 2 meter, posisinya kini jadi 3 meter di balik sang istri. Ia kembali mengulang pertanyaannya dengan volume yang sama dengan kali pertama ia coba memanggil sang istri. “Masak apa Sayang?” tak juga ada jawaban.

Senin, 11 Maret 2013

Bukan Melepasmu


Untuk : Lelaki Platonik

Tak ada yang salah pada bulan Maret, saat langit merintikkan hujannya dan membasahiku. Tak ada yang perlu dirisaukan dari kristal yang mengembun di kelopak mata. Bukanlah sebuah kekeliruan bila pada hari ini, saat aku mulai merasa kehilangan sesuatu yang (aku rasa) sempat aku miliki. Bukan seperti kisah Azab dan Sengsara tatkala Aminuddin yang merelakan Mariamin karena dikawin paksa, atau kisah serupa pada kesusastraan 1920-an. Kerelaan yang disebab oleh keadaan dan pemaksaan atau ada pihak ketiga yang membuat cinta tak lagi bersatu. Bukan, kerelaanku sungguh bukan karena sebab-sebab yang bisa aku deskripsikan secara gamblang dan buat semua orang mengerti. Mungkin cenderung metafisik.
Selepas senja ini, aku berjanji akan selalu menyelipkan sebuah angan dalam setiap doaku. Tuhan memang tak pernah melarang hamba-Nya untuk jatuh cinta, bahkan cinta begitu dimuliakan. Oleh sebab itu, sebagai seorang hamba-Nya, sungguh aku ingin pula dimuliakan dengan selalu menyebutmu dalam setiap kepingan mimpiku, bahwa “Aku ingin cinta yang halal…”

Selasa, 12 Februari 2013

Cuma Tentang Benih



Cerita Pertama

Ada sebuah pohon yang sangat rindang. Selain itu, ia juga memiliki akar dan batang yang kuat dan dahan yang menjulang tinggi. Dua buah benih ingin sekali menjadi seperti induknya.
“Hai saudaraku apakah kau ingin menjadi pohon yang rindang, tinggi, dan kuat seperti induk kita?” tanya sebuah benih.
“Ya tentu saja, bahkan aku ingin jauh melebihi induk kita,” jawab benih yang lain.
“Tapi bagaimana caranya?”
“Tentu saja dengan pergi jauh dari induk kita.”
“Kenapa harus begitu? Aku takut jika harus tumbuh dan pergi jauh, aku tak yakin bisa bertahan hidup, jangan-jangan nanti aku dimakan hewan, aku pun tak bisa tumbuh.”
“Kenapa harus takut? Baiklah aku akan membiarkan diriku tertiup angin dan aku akan tumbuh di tanah yang jauh.”
Puluhan tahun kemudian benih yang jatuh tidak jauh dari induknya ternyata tidak tumbuh lebih besar dari induknya. Tentu saja bisa begitu, ia harus berbagi zat hara dan air tanah dengan sang induk. Ia pun hidup biasa-biasa saja.
Lain halnya dengan benih yang lain. Ketika angin mendaratkannya pada sebuah tanah ia dapat tumbuh dengan subur  tanpa harus berbagi air dan zat hara. Ia pun tumbuh jauh lebih tinggi dan besar dari induknya.
Seorang bijak pernah berkata, “Benih yang jatuh di bawah pohon induknya tidak akan tumbuh melampaui induknya.”

“Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan penggantidari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” (Imam Syafii)

Cerita Kedua
Alkisah terdapat dua orang yang sedang beristirahat di bawah sebuah pohon yang rimbun. Mereka adalah seorang ayah dan anaknya yang berbadan kecil. Dua orang itu tampak sangat lelah setelah berdagang. Puas beristirahat, sang anak bertanya pada ayahnya, “Ayah apakah suatu saat aku bisa menjadi orang yang kuat seperti Ayah?”