Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2014

What Should We Do?

Berdiskusi dengan pacar memang hal yang menarik. Apalagi pacar yang memiliki daya intelektual tinggi. Satu-satunya laki-laki yang berani membanting buku di depan saya dan mengatakan, “Saya capek berdiskusi dengan orang yang tidak intelek.” Lalu, saya hanya cengar-cengir, garuk-garuk kepala, merasa bodoh, lantas kembali cuek dan lanjut bermain facebook sambil ngakak-ngakak sendiri. Maap ye...

Dia mengambil studi seni, sedangkan saya bahasa dan sastra. Dua disiplin ilmu yang kata orang, “Belajar seni dan sastra, mau jadi apa?” 

Baiklah, jangan anggap ini adalah tulisan berbobot dan solutif. Tulisan-tulisan di blog saya memang propokatif dan menipu (katanya). Pacar saya saja heran. Saya menjelma laksana perempuan idaman di blog ini. Padahal di rumah, saya duduk nyingkrang, berbicara ketika mulut penuh makanan, dan sangat cuek. Saya pernah beberapa kali mendapat SMS dan surel dari pengikut blog saya atau orang yang tersesat membaca blog saya dari google, mereka menyatakan persetujuan atau kekaguman kepada saya. Preeet! Kata pacar saya itu pembohongan publik besar-besaran. Bahkan, kata  si pacar tulisan saya ini dinilai tidak intelektual, sangat populer, dan tidak ada bobot keilmuannya, hahahha... yawis karepmulah.

Kamis, 01 Mei 2014

Siapalah Saya Ini (?)


Tulisan ini bukan karena esok adalah Hari Pendidikan Nasional, juga bukan karena hari ini adalah Hari Buruh. Aku hanya ingin berbagi rasa. Yah, pada catatan ini aku tak akan “sok tahu” seperti gaya halnya gaya tulisanku yang lain.

“Meina, beberapa hari ini kamu sering sekali sibuk dengan pikiranmu sendiri,” mungkin itu adalah ucapan yang terlontar dari langit-langit kamar kosku. sebuah ruangan ukuran 3x3 meter yang aku penuhi dengan buku-buku. Memang betul, usia 24 ini sepertinya menjadi awal mula munculnya pemikiran-pemikiran yang acap kali mengganggu pikiranku. Tak hanya tentang kuliahku, pekerjaanku, urusan keluarga, urusan teman, percintaan, bahkan keyakinan atas agama yang aku peluk juga aku pertanyakan. Tidak yakin atas pilihanku? Tidak, aku tak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya ingin apa yang aku perbuat selalu beralasan dan aku tahu kenapa aku harus melakukan hal itu. Tentu saja dengan seperti itu hidupku akan lebih nyaman.

Tidak Memakai Celana Jeans
Bila suami Oyi berpuasa minum teh, sesungguhnya sudah lebih dari satu tahun aku berpuasa memakai celana jeans. Aku pernah berdiskusi dengan Oyi sahabatku tentang makna mencari Tuhan. Ya, kami memang sering mendiskusikan hal-hal yang jarang terpikirkan oleh orang lain. Kami biasa menggunakan gaya sarcastic untuk mengingatkan satu sama lain, apalagi kalau aku sedang patah hati, beuh jangan sampai dia tahu, nanti aku jadi bahan bully-an selama tujuh hari tujuh malam.

Jumat, 10 Januari 2014

Cinta Itu Bagai Mencari Fosil Dinosaurus


Sumber

“Mei, mengajak perempuan makan di warteg tidak akan bikin dia jatuh cinta. Kamu tahu, cinta itu hanya ada di negeri dongeng, di dunia nyata yang ada hanya ongkos! Bangun Mei…..” kata seorang kawan pada saya. “Cinta tidak bakal bisa buat bayar cicilan rumah,” lanjutnya.
“Sekejam itukah dunia? Apakah benar saya makhluk negeri dongeng yang tersesat di dunia nyata?”
“Meina, tidak usah lagi kamu terheran-heran mendengar cerita teman-temanmu yang baru saja membeli tas seharga dua juta dan mereka bahagia.”
“Tapi tas saya seharga enampuluh ribu, saya juga bahagia.”
“Murah sekali kamu Meina. Yakin kamu akan tenggelam dalam kebodohan ini di saat teman-temanmu mulai realistis?”
“Saya bodoh dan tidak realistis? Saya bahagia ketika diajak makan oleh orang yang saya cintai, meskipun itu di tempat yang sangat sederhana dengan lauk yang sederhana. Saya sangat menikmatinya.”
“Mungkin saja. Tapi itu sekarang kan? Tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu sudah tahu, seberapa mahalnya biaya masuk sekolah anakmu kelak.”
“Oh ya? Beasiswa masih banyak.”
“Hahaha, dasar alien.”
“Alien?”
“Emmm bisa jadi kamu itu semacam alien, dan kita adalah manusia. Mendambakan cinta dan kehidupan yang tulus, adalah omong kosong. Bisa jadi cinta semacam Dinosaurus. Konon, dahulu negeri ini adalah negeri dongeng yang dihuni alien macam kamu, dengan cinta sebagai hal yang paling mulia. Setelah datang manusia, mereka menjajah negeri dongeng dan cinta pun punah seperti Dinosaurus. Negeri dongeng sudah hilang, dan sekarang dunia berubah jadi dunia nyata yang dihuni manusia. Memang saya tidak yakin masih ada cinta yang baik di dunia ini, tapi saya percaya bahwa masih banyak laki-laki dan perempuan yang baik di sini, tenang saja Mei, kamu nggak sepenuhnya salah, hahaha,” sambungnya.

Jumat, 08 November 2013

Cinta Sederhana



Suatu sore di kantor. Saat itu gerimis masih cukup istimewa. Sepuluh menit pertama kala gerimis asik mencumbu basah tanah yang semakin mongering, justru adalah hal yang puitis. Sebab, ada harum tanah yang bisa kau nikmati.

“Sedang apa Dik?” tanya beliau.
“Sedang iseng saja Pak, ini nyicil tesis, sudah ada tagihan rupanya,” jawab saya sembari tersenyum.
“Dik, kau tak iri melihat teman-teman kau menikah?” sambungnya.
“Ya sampai saat ini biasa saja sih Pak, saya malah ikut seneng, mungkin belum waktunya saja buat saya Pak.”
“Saya senang melihat orang yang punya semangat tinggi seperti kau. Ya, semangat untuk membuat hidup jadi lebih baik dan terus membaik. Namun, ada baiknya kau juga tak lupakan untuk membangun kehidupan yang baru, sebab itu juga upaya untuk membuat hidupmu jadi lebih baik.”

…suasana pun hening.

Jumat, 20 September 2013

Dear Tuhan



 Dear Tuhan.

Izinkan aku belajar pada-Mu. Kau yang Maha Memberi Teladan.

Ini masih pukul 20 tapi badanku sepertinya sudah remuk redam. Han, sudah satu pekan ini aku lembur di kantor, pulang kerja tengah malam dan pukul 7 pagi aku sudah kembali bekerja. “Perjuangan adalah satu  pelaksanaan cita dan rasa, perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan”, begitu kata Rendra dalam “Sajak Peperangan Abimanyu”.

Han, tahukah Kau bahwa aku merindukan-Mu?

Saat aku berlari melunasi kata-kata akankah Kau mengejar dan memelukku? Semakin aku jauh melangkah dan berlari mengejar mimpi, semakin erat dan mesrakah aku dalam peluk-Mu?

Sebuah ucapan penuh hikmah “Ridha nas ghayatun la tudrak”, keridaan seluruh umat adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Begitu jugakah yang Kau rasakan Han? Kenapa tak semua orang merasa bahagia? Juga rida pada satu tujuan? Padahal yang aku tahu, bahagia itu relatif. Setiap orang memiliki konsep kebahagiaan dan itulah hak prerogatif sebagai seorang manusia.

Aku tak lagi peduli pada hal itu, sebab tak mungkin aku menjadi nahkoda pada setiap kereta hati manusia. Aku hanyalah pemasung rambu-rambu yang terpampang di jalanan itu. Entah kemana ia pecutkan kuda itu, tak lagi bisa aku memaksanya lewat jalan mana.

Jumat, 21 September 2012

Mantra Baru : Man Shobaro Zhafiro

-->
Source


Masih ingat postingan aku edisi galau yang ini? Ketika dua minggu itu aku meratapi nasibku sebagai seorang pengangguran intelektual akhirnya saat ini aku mendapatkan jawaban dari segala gundah gulanaku, halah. Setelah aku memutuskan untuk meluruskan niatku bahwa mencari pekerjaan tidak semata-mata karena alasan material, bahwa ada yang jauh lebih berharga daripada urusan duniawi, yaitu kebermanfaatan bagi orang lain. Tak bisa dipungkiri bahwa manusia ingin selalu menjerit ketika segala usaha yang telah dilakukannya ternyata belum jua berbuah. Baiklah, rupanya benar apa yang dikatakan Bang Fuadi, antara usaha dan terkabulnya keinginan itu ada jarak, dan untuk mengisi jarak itu yang dibutuhkan adalah kesabaran. Tuhan akan selalu menjawab pertanyaan manusia, tapi kadang manusia yang terlalu bodoh untuk memahami maksud Tuhan, butuh waktu dan perenungan yang mendalam untuk menafsirkannya.
Tidak sampai 24 jam ketika aku memutuskan untuk mengubah mind setku untuk bekerja demi mengamalkan ilmu, tiba-tiba ponselku berdering, dari layar handphoneku tertulis dengan jelas bahwa yang memanggil adalah kantor jurusan. Setelah aku angkat dan aku berbicara dengan orang di seberang sana rasanya seperti ada sesuatu yang jatuh di kepalaku, besok pagi pukul 07.00 aku diminta untuk mengajar di depan tiga kelas dengan total 150 mahasiswa pada Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia. Entah kenapa tiba-tiba aku langsung saja menerima amanah itu, bagiku itu adalah sebuah tantangan. Ya, meskipun hanya mengajar 6 SKS, dan posisiku hanya sebagai dosen pengganti karena Bu Uum harus pergi ke Rusia.

Kamis, 20 September 2012

Refleksi Kuliah (2)



Catatan ini adalah lanjutan dari catatan sebelumnya.

Teori Pembelajaran Bahasa
Menurutku mata kuliah ini hampir sama dengan Psikolinguistik. Teori Pembelajaran Bahasa membahas tentang perkembangan bahasa sampai dengan cara belajar bahasa. Dosen mata kuliah ini adalah Dr. Subyantoro, M.Hum. alias Pak Kajur, dosen pembimbing skripsiku. Rasanya senang sekali kembali diajar beliau. Karena beliaulah aku mulai merancang hidupku, merencanakan hal dengan sedini mungkin. Yang aku amati selama ini, Pak Bi benar-benar menerapkan hadits “Barang siapa ingin urusannya dimudahkan, hendaknya ia memudahkan urusan orang lain.” Beliau paling suka dengan orang yang bersemangat, oleh karena itu beliau hapal dengan aku, hehehe.
Pada pertemuan kedua, kami diberi penjelasan tentang sebuah sekolah alam di Salatiga yang bernama Qoriyah Toyibah. Sekolah alam itu baru saja didirikan beberapa tahun yang lalu, dan baru ada jenjang Sekolah Menengah Pertama. Siswa-siswa di sekolah tersebut dibebaskan untuk belajar apa saja yang mereka inginkan. Anehnya walaupun Qoriyah Toyibah setara dengan kejar paket B, tapi siswa-siswanya malah “menantang” untuk ikut Ujian Nasional seperti yang dilakukan oleh siswa-siswa di sekolah lain, dan hasilnya? Nilai mereka lumayan, dan tidak jauh berbeda disbanding siswa-siswa yang sehari-hari didrill dan dicekoki latihan soal. Sekolah alam Qoriyah Toyibah makin menginspirasiku untuk membuat sekolah yang tidak hanya menciptakan orang yang “pintar” tapi juga cerdas, dan berkarakter. Karena “pintar” hanyalah sebuah produk yang dicetak dan dipoles oleh sekolah, tapi orang cerdas dan berkarakterlah yang nantinya berhak menjadi pemimpin.

Rabu, 19 September 2012

Fase



Ada kalanya aku merasa sendiri dan tak punya teman, ketika letih ini menerpa, aku hanya butuh teman berbagi.
Dan ketika masing-masing sudah sibuk dengan pilihan hidupnya.
Karena yang aku renungkan adalah:
“Dewasa berarti harus siap untuk kehilangan.”
Satu per satu kawan telah pergi, merantau, mengabdi di pulau terpencil, pergi ke luar negeri, kembali ke kampung halaman, dan aku kini memutuskan untuk kembali menimba ilmu. Aku bertemu dengan kawan baru, dan kawan lama pun telah menemukan kehidupannya yang baru.
Ternyata aku sudah berada di fase hidup yang berbeda.
Aku akan selalu mengingat setiap tetes keringat perjuangan ini, bahkan setiap rintikan air mata. Sebab yang aku tahu, perjuangan tak pernah dilewati dengan taburan bunga. Tak ada kesombongan yang lebih indah dari pada perjuangan meraih cita-cita.
Apalagi yang harus kuingat ketika letih ini hampir mengalahkan semangatku? Tapi ingatlah, bahwa perjuanganmu barulah satu langkah dari ribuan anak tangga.
Untuk kawan-kawanku.
Penggores kenangan 2008-2012.

Rabu, 12 September 2012

Refleksi Kuliah (1)



Terinspirasi dari kutipan dialog pada film Perahu Kertas; “Pada kertas putih kosong ini sebenarnya tidak kosong, kau hanya perlu menyibaknya, sebenarnya terdapat jutaan kata di balik tampilannya.”

Alhamdulillahirabbi’alamin. Aku telah menjalani hampir dua minggu masa kuliahku, tugas kuliah pun semakin banyak dan berat. Yang aku rasakan saat ini, kuliah S-2 memang sangat berbeda dengan kuliah S-1. Baiklah kali ini aku akan melakukan refleksi kuliahku selama ini.

Teori Sastra
Mata kuliah ini sangat asyik karena yang mengajar adalah Dr. Teguh, orang asli Ajibarang tempat tinggalku, cukup membanggakan juga Ajibarang bisa menghasilkan orang hebat macam beliau haha. Perlu diakui bahwa beliaulah salah satu alasan aku melanjutkan studi di Unnes, kata beliau orang Ajibarang harus hebat. Karena mata kuliah ini pula aku semakin mantap dengan pilihanku saat ini dan mulai menghapus bayang-bayang Ilmu Susastra UGM, kenapa? Karena semakin banyak kita tahu ternyata semakin kita tahu bahwa kita tidak banyak tahu, halah. Kali ini aku sangat-sangat-sangat mengakui bahwa referensi sastraku, dan pengetahuanku tentang sastra sangat cetek. Minggu kemarin aku sedang berusaha memahami Theory of Literature punya Rene Wellek dan Austin Waren dan Pengantar Teori Sastra punya A Teeuw dan ternyata kedua buku itu sangat sulit dipahami bagiku.
Karena mata kuliah ini pula aku jadi tersadar bahwa pengetahuan tentang sastra yang berkembang di masyarakat pun ternyata banyak yang harus dikritisi. Contohnya, pengetahuan tentang puisi yang selama ini dimaknai sebagai sebuah karya yang memiliki nilai sastra tinggi dan ditulis dengan bahasa kias yang memiliki nilai estetika tinggi. Jika pengertian puisi seperti itu maka bagaimana cara mengukur nilai sastra yang tinggi dan nilai estetika yang tinggi? Rupanya Semiotika telah mematahkan teori estetika, karena sesungguhnya keindahan itu adalah hal yang relatif. Puisi adalah aktivitas bahasa yang mengatakan suatu hal tetapi ternyata membicarakan maksud yang lain, atau dapat dikatakan sebagai ekspresi tidak langsung. Pokoknya kuliah ini asyik banget, tiap dua kali pertemuan harus menghabiskan satu buku setebal 400 halaman (syangar opo orak?) yah, namanya juga perjuangan mencari ilmu.

Rabu, 05 September 2012

Demi “Man Jadda Wajada”


Hanya sebuah cerita aneh dan tidak penting

Hari ini benar-benar spesial bagiku, mungkin beberapa orang menganggapnya lebay, tapi tak apalah. Hari ini aku tak mudah untuk berhenti tersenyum bahkan, camera digital itu aku bawa waktu kuliah dan aku pamerkan pada teman kuliahku bahwa aku baru saja bertemu dengan idolaku, salah satu orang yang menginspirasiku untuk bermimpi, beliau adalah A. Fuadi penulis Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna.
Bermula dari pesan singkat dari Diana temanku yang memberitahu bahwa besok A. Fuadi akan menjadi pembicara pada “Penyambutan Mahasiswa Baru FMIPA” katanya kalau aku berkenan datang saja karena acara itu terbuka untuk umum. Mulanya agak tidak berminat, apalagi malam itu pesan dari Diana terputus karena sebagian teks hilang. Aku malah membalas sekadarnyasaja lalu lebih memilih untuk menarik selimut dan segera tertidur. Rupanya insomniaku kambuh, aku tak mudah terlelap dan kepalaku malah makin pusing, tipis harapanku untuk melihat A. Fuadi, rasanya malas sekali.
Pagi pun menjelang, aku salat subuh dan tidur lagi, bukan karena apa-apa tapi karena aku baru tidur beberapa jam dan rasanya masih pusing sekali. Akhirnya aku terbangun pukul 08.45, sungguh bukan waktu yang pagi lagi, segera saja aku raih hand phoneku dan aku bertanya pada Diana, kapan acara dimulai? Rupanya semua sudah siap, acara dimulai setengah jam lagi di Auditorium. Alamaaak, bagaimana ini aku belum mandi, belum makan, belum siap-siap pula. Ah, tapi kapan lagi aku bisa melihat orang yang menginspirasiku dengan mantranya dan sepertinya A. Fuadi juga terinspirasi dengan syair-syair Imam Syafi’i yang sesungguhnya juga aku kagumi, kapan lagi aku dapat kesempatan?

Sabtu, 25 Agustus 2012

Egois atau Realistis?


Source

Beda Egois dan Realistis?

Sadar atau tidak, makin tua manusia makin egois, entahlah apa itu hanya perasaanku saja. Aku pun tak begitu paham apa beda antara realistis dan egois. Setahuku egois itu mementingkan diri sendiri, sedangkan realistis adalah bersifat nyata, misalnya dengan mengambil keputusan yang tidak merugikan diri sendiri. Mungkin terlihat sangat bodoh, yaaa aku begitu paham perbedaan di antara keduanya.
Dulu ketika aku duduk di bangku Taman Kanak-Kanak guru TK ku berkata bahwa, jika ada pengemis minta-minta maka berilah ia uang. Selanjutnya, waktu aku naik ke Sekolah Dasar, guru SD ku berkata bahwa jika kamu naik bus dan ternyata ada orang tua, wanita hamil, atau anak kecil yang tidak mendapat tempat duduk maka berikanlah tempat duduk. Rupanya doktrin kebaikan-kebaikan itu masih melekat kuat di pikiranku sampai aku duduk di bangku SMA. Dulu ketika aku naik bus, aku selalu memberikan tempat dudukku pada ibu-ibu, anak kecil atau siapa pun yang terlihat lebih lemah dari aku, dan apa yang aku rasakan? Semua terasa baik-baik saja, apalagi ketika mereka bilang, “Makasih mbak.” Wuiiih rasanyaaaa ada kebanggaan tersendiri. Apalagi ketika ada pengemis, pasti aku kasih duit. Tapi, seringkali ada berita di TV bahwa beberapa pengemis adalah oknum bahkan aslinya mereka kaya raya. Hmm. . .sekarang pikir-pikir dulu deh kalau mau ngasih.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kalo Kata Film Korea : Dream High


Hari ini adalah hari (hampir) terakhir aku akan mengakhiri liburan panjangku yang begitu panjang. Besok aku akan melaksanakan matrikulasi program pascasarjana. Kampusnya masih sama dengan kampusku ketika S-1. Yah, besok pasti aku akan bertemu dengan teman-temanku di kampus. Well, pasti akan banyak sekali komentar di sana. Salah satunya kenapa memilih bertahan di Unnes?
Mungkin sebagian orang menganggap bahwa catatan ini adalah sampah yang nggak berguna. Tapi mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi orang-orang yang pernah merasakan “salah jurusan” seperti yang pernah aku alami empat tahun silam.

Tentang Cita-cita
“Manusia yang tak punya cita-cita atau tujuan hidup lebih baik mati saja. Manusia yang takut menghadapi peliknya hidup lebih baik mati saja.” Begitulah kira-kira yang pernah dikatakan oleh kakak tingkatku.
Diakui atau tidak kuliah di pendidikan apalagi jurusan Sastra atau Bahasa dan Sastra Indonesia dianggap sebagai jurusan pelarian setelah tidak diterima di mana pun, right? Kenapa aku memilih jurusan ini? Dulu ketika kelas XII aku ingin sekali menjadi guru, tapi di lain pihak, aku adalah seorang anak yang harus menaati nasihat orang tua. Termasuk ketika aku memilih untuk masuk IPA, padahal ketika lulus aku tidak mau sama sekali masuk kuliah di jurusan IPA. Alhasil aku selalu ikut seleksi lewat jalur IPS. Aku daftar ke sana-kemari dan tidak diterima di mana-mana. Hingga akhirnya pilihan terakhirku yakni jalur SNMPTN, aku masih bertekad ingin masuk Jurusan Bahasa Inggris, tapi temanku menyarankan, kenapa nggak masuk Jurusan Bahasa Indonesia? entah kenapa tiba-tiba aku menulisnya di formulir pendaftaran (hohoho).

Senin, 16 Juli 2012

Mainan Facebook

Lagi iseng aja nih mainan aplikasi facebook hahaha (makin lama isi blog makin geje, tak apalah yang penting aku seneng ;p )

Kadar Kemalasan

Yaa, Alhamdulillah dapet predikat normal, padahal aslinya aku rajin loh, rajin tidur, rajin on line, rajin nonton gosip, rajin nonton film.

Senin, 02 Juli 2012

We Are The Fantastic Four


Mungkin bukanlah tindakan yang bijak jika aku banyak menulis tentang orang lain tapi orang terdekatku tak pernah aku kisahkan. Baiklah, kali ini aku akan bercerita tentang salah satu keajaiban dalam hidupku. Ya, mereka adalah belahan jiwaku : kakak-adikku. Kami dilahirkan empat bersaudara dalam keluarga kecil dan sederhana. Kami memang bukan kakak-adik yang sempurna, dulu ketika kami masih kanak-kanak kami sering sekali bertengkar, sampai-sampai aku kabur dari rumah (tapi kabur ke rumah Mbah, percuma dong hahaha). Tapi kau tahu, justru memori-memori itulah yang membuat kita tersenyum penuh makna ketika mengingatnya.

Arine Astika
Mba Rin, begitulah kami memanggilnya. Sungguh tak ada satu orang pun yang pernah mengatakan bahwa aku lebih cantik dari kakak pertamaku ini. Dia memang cantik, kulitnya putih bersih, wajahnya imut sekali walau penampilannya sangat sederhana.
Hal yang istimewa dari mbakku yang satu ini adalah bagaimana ia dapat mengontrol sugestinya, bagaimana ia mampu bertahan dikala keadaan yang tak menentu, dan bagaimana ia mampu menangguhkan egonya hingga akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga biasa agar bisa fokus pada keluarga kecilnya. Dia adalah orang yang kehilangan separuh masa mudanya dan terpaksa menghabiskan tujuh tahun untuk menamatkan S-1. Bukan karena apa-apa tapi karena kesehatan yang kadang datang dan pergi  tak menentu. Dia divonis menderita endometriosis selama hampir tujuh tahun dan selama itu ia tak pernah pergi ke luar kota. Selain itu, hampir enam bulan sekali dia terpaksa masuk rumah sakit, vertigo, infeksi saluran kencing, infeksi saluran pernapasan, tifus dan apalagi sampai aku tak ingat. Dan itulah yang membuatnya sangat membenci obat-obatan kimia.

Minggu, 01 Juli 2012

Untuk Mugi :)


Nggak sengaja nemu catatan tahun 2010 (tanpa perubahan gaya bahasa)

Just for my roommate "Mugi Nurnguati" 

Ternyata aku kasih judul artikel ini Kisah Manusia dan Ingon-ingonnya (piss ^^)
 

Pada zaman dahulu, ada sebuah kos2an bernama pamulyo yang terdiri atas 14 perempuan cantik titisan dewi kwetiaw dan putri cap cay, 11 orang diantara mereka satu angkatan yaitu angkatan 2008 dan 7 diantaranya siswi SMA 2 Pwt.

Salah dua diantara mereka ada yang bernama Meina dan Mugi, bahkan kita pernah kumpul kebo selama 3 tahun (saya manusia dan dia kebo nya) hehe. Banyak sekali kejadian konyol yang kita alami bersama.

Kali ini edisi khususon aku persembahkan buat mugi nurnguati sarimin pergi ke pasar, buat bidadari2 lainnya ngantre ya....wkwkwk.

Waktu duduk di kelas X, aku dan mugi berada di kelas yang sama yaitu X-3, bahkan kita duduk sebangku. Udah sekamar, sebangku pula, leh apa nggak bosen? Ternyata nggak tuh, whaha. Aku dan mugi pernah diramal sama guru fisika kita yang bernama bu supat** bahwa suatu saat persahabatan kita akan renggang karena masalah cowo, ya rebutan cowo gitu deh, tapi nyatanya ampe sekarang adem ayem aje tu.

Sabtu, 30 Juni 2012

Kenangan Indah di Tanjungmas


Mungkin ini yang dinamakan kekalahan yang menguntungkan. Karena skor proposal KKN Alternatif kami berada di bawah kelompok lain, terpaksalah tim kami harus bersedia di tempatkan di mana pun oleh LP2M Unnes. Akhirnya kami “dibuang” ke Tanjungmas, daerah paling utara di Kota Semarang dan daerah yang harus kami tempuh selama satu jam tiap harinya. Daerah yang jauh sekali dari gambaran kami. Kampus kami berada di gunung dan kami harus ber-KKN ria di daerah terpanas di bumi Semarang (lajak bener). 

Gambaran pertama ketika kami tiba di sana adalah : rob, aroma yang anyir dan terasa di lidah, panas, dan capek! 

Rabu, 20 Juni 2012

Hujan yang Berbohong


Juni ini dia berbohong padaku.

Kata orang-orang dia romantis, dia yang rela menahan rindunya pada sang kekasih.
Dia yang tabah, bijak, dan arif.
Dia yang mampu menghapus jejak pada hati yang tak ingin disakiti.  
Dia bahkan rela jika harus terlesap dan tak terlihat. 
Dan dia yang konon begitu setia.

Bau tanah basah itu, aroma yang dikabarkannya padaku.
Sore tadi dia datang. Rupanya dirinya tak lagi mampu menahan rindu dan dia benar-benar terjatuh menjadi rintikan hujan di sore tadi.
Hujan yang tak lagi mampu menunggu kalanya.
Dia telah datang pada kemarau ini.

Senin, 18 Juni 2012

Aku Ingin


Tak tahu apa yang sedang aku lakukan itu benar atau salah. Yang pasti aku menikmati keadaanku saat ini. Mencintaimu dan membiarkanmu bahagia. Mencintaimu dengan cara yang sederhana. Untuk apa memikirkan hal-hal yang tak pasti, aku hanya menjalani apa yang ada di hadapanku saat ini.

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Aku ingin mecintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
                                     Sapardi Djoko Damono, (1989)
Silakan unduh musikalisasi puisi Aku Ingin di sini. Sangat merdu sebagai pengantar tidur.