Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2015

Menjadi Guru Besar


Guru besar adalah sebuah puncak karier dan derajat tertinggi bagi seorang dosen. Apa lagi yang diharapkan seorang dosen, selain penghargaan atas keilmuan yang dimiliki. Waktu itu, Selasa, 24 Maret 2015 aku menghadiri pengukuhan guru besar kedua dosen pembimbingku. Prof Subyantoro sebagai profesor bidang psikolinguistik dan Prof Teguh Supriyanto sebagai profesor ilmu susastra. Hari itu adalah pengalaman pertamaku menghadiri pengukuhan guru besar. Dalam benakku kala itu, “hari ini pasti mengesankan”. Hal itu pun benar terjadi.

Agenda pengukuhan guru besar biasanya dirangkai mulai dari senat yang memasuki ruangan, pembacaan biodata calon guru besar, orasi ilmiah, penyampaian ucapan terima kasih, dan pelantikan oleh rektor. Bagian yang paling mengesankan bagiku justru penyampaian ucapan terima kasih.

Prof Teguh dan Prof Subyantoro adalah dua orang yang sangat berperan pada pencapaian karier dan akademikku. Semoga keberkahan selalu menyertai mereka.

Pros Subyantoro sudah aku anggap tidak sekadar guru bagiku tapi seperti seorang bapak, bahkan saya mengenal istri beliau dengan baik. Beliau adalah dosen pembimbing skripsi dan tesisku. Hampir semua pemikiranku terinspirasi oleh beliau. Menurutku beliau adalah orang yang sangat logis, tapi berhati lembut. Di balik penampilan beliau yang semi-militer, ya maklum sampai saat ini beliau masih menjadi pembina Resimen Mahasiswa di Unnes, beliau memiliki jiwa kebapakan yang sangat tinggi. Ah, subhanallah. Beliau pernah bercerita tentang kehidupannya, beliau adalah anak seorang TNI dan guru SD. Beginilah kutipan pidato guru besar beliau:

Jumat, 20 Juni 2014

What is Great Teacher?

"Attorikotu ahammu minal maddati wal ustadzu ahammu minattorikoti waruhul ustadzi ahammu min kulli syai'in." Metodologi lebih penting daripada materi, kurikulum, dan buku. Guru lebih pating dari metode. Tapi guru yang bagaimana? Semangat pengabdian gurulah yang terpenting di antara semua itu. Artinya, mutu guru yang amanah dan ikhlas mengemban tugas mendidik dan mempunyai komitmen kuat sebagai pendidik serta menyayangi peserta didik sebagai generasi penerus. (Prof Dandan)

Guru yang baik tidak sekadar duduk dan ceramah, tapi menjadi fasilitator dan motivator bagi peserta didik. Pendidikan di sekolah yang baik tentu tidak hanya mentransfer pengetahuan semata. Mendewasakan peserta didik melalui kreativitas yang bisa membuat mereka pandai dalam memecahkan permasalahan tentu menjadi PR besar bagi guru. Tidak hanya permasalahan di dalam kelas tapi juga yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan. Sebab, kata kawanku hakikat hidup yang sebenarnya adalah lompatan dari satu masalah ke masalah yang lain. 

Jumat, 28 Februari 2014

I am Happy to be a Teacher

Ungaran, tahun 2011.
“Bagus sekali musikalisasi puisinya Nak, Ibu sampai menangis terharu,” kata seorang guru sambil memeluk gadis kecil itu seusai menyajikan musikalisasi puisi berjudul ‘Bunda’.
Sajian musikalisasi puisi itu sempat menghipnotis pergelaran pada siang hari itu. Diawali dengan alunan musik ‘Bunda’ milik Melly Goeslow, lalu dipadukan dengan harmoni paduan suara dan deklamasi yang sangat menyentuh. Saya pun sampai tersihir. Saya hanya berdiri di barisan paling belakang lalu ikut bertepuk tangan riuh ketika anak-anak itu turun panggung.
Sungguh saat itu pujian bergemuruh di sekitar telinga saya, ya tidak lain mereka memuji pementasan musikalisasi pusi tadi.
Bukan guru atau pelatihnya.
Di situlah saya yang waktu itu menjadi guru praktikan di SMP diberi banyak kesempatan untuk memahami makna seorang guru. Menjadi seorang guru berarti belajar keikhlasan, seperti halnya semut hitam kecil di atas batu yang legam. Seorang guru tidak akan iri ketika muridnya melampaui dirinya, bahkan itulah indikator kesuksesan baginya.

Dalam hidup ini setiap orang berhak bermimpi atau bercita-cita kemudian ia memutuskan bahwa ia akan berjuang demi mimpinya atau mengalah pada realita. Kata Dewi Lestari, “Menyerah dan realistis beda tipis”. Tidak hanya satu atau dua orang, tapi sudah tak terhitung Sarjana Pendidikan yang menyerah pada realita. Hanya soal keputusan.

Mengajar bukan perkara mudah yang hanya bisa diselesaikan di atas meja dengan tumpukan berkas-berkas. Mengajar pun bukan profesi yang selesai pada jam kerja saja. Mengajar juga ‘memaksa’ guru untuk terus belajar. Sebab, ada karakter yang harus dibangun, yang tak hanya transfer of knowledge tapi juga transfer of thinking, transfer of method, dan yang terpenting adalah transfer of value. 

Kamis, 30 Mei 2013

How to be An Inspiring Teacher?


Ibarat seorang petani yang menyebarkan benih, kelak benih itu akan menjadi pohon, lalu pohon itu juga menghasilkan benih, lalu benih itu tumbuh lagi menjadi pohon yang juga menghasilkan benih. Begitu pula halnya dengan menyebarkan ilmu.
Alhamdulillahirabbil’alamin Ya Rabb yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk mewujudkan cita-citaku menjadi seorang guru. Terima kasih tak terhingga untuk gurunda yang telah memberikan inspirasi luar biasa, gurunda yang pernah mengajariku dari aku duduk di bangku kanak-kanak hingga berada di bangku kuliah pascasarjana. Sesungguhnya suara kalian yang telah membisik lembut di telingaku, keihklasan kalian yang telah membuatku semakin mantap melangkahkan kaki dan mengabdi di dunia pendidikan.
Semenjak aku duduk di bangku taman kanak-kanak, aku sering diajak ibuku ke sekolah. Ya, ibuku adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP. Semenjak 1981 beliau mengajar sampai saat ini, beliau  tak pernah membawa kendaraan ke sekolah. Ibu selalu berjalan kaki ke sekolah karena jarak sekolah dan rumah memang cukup dekat.  Memang dekat, tapi apakah ibu tak punya keinginan untuk mengendarai mobil atau sekadar sepeda motor matic ketika berangkat ke sekolah? Apakah ibu tak iri dengan para pengendara? Atau tak bosan berjalan kaki? Apakah ibu tak punya keinginan untuk sesekali mencicipi kendaraan pribadi ketika berangkat bekerja? Ah sudahlah, 32 tahun yang lamanya sama dengan kekuasaan Presiden Soeharto itu mungkin perjalanan yang tak cukup panjang untuk menikmati dinamika menjadi seorang guru. Bahwa soal tunggangan atau sekadar gengsi bukanlah menjadi hal yang didewakan ibu. Yang aku tahu, ibu hanya punya sebuah tas yang sering beliau bawa kemana-mana, ya untuk mengajar atau untuk kegiatan apa saja. “Ibu, sudah seharusnya Ibu menikmati hari tua dan bersenang-senanglah untuk dirimu.”
Sungguh tak ada gambaran lain selain menjadi guru, apalagi semenjak kecil aku sangat akrab dengan lingkungan sekolah tempat ibuku mengajar. Apakah ibu menyadari bahwa engkaulah inspirasi terhebat bagiku untuk menjadi seorang guru, inspirasi bagiku untuk mendalami bahasa dan sastra Indonesia. Sampai kapan pun, engkaulah guru terbaik bagiku.  
Ibu, aku ingin bercerita bahwa aku sangat menikmati hari-hariku menjadi seorang guru. Katamu, jadilah guru yang tidak hanya mengajar tapi juga mendidik. Oleh karena itu, kau bilang bahwa guru adalah pendidik. Pendidikan adalah sebuah pembiasaan, perubahan perilaku yang tadinya buruk menjadi baik, perubahan dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Dari situlah aku menyadari bahwa menjadi guru bukanlah tugas yang ringan. Aku malu Bu, malu bila “sok-sokan” mengajari yang baik padahal dirinya belum menjadi orang yang baik. aku malu Bu, kalau “sok-sokan” mengajar tapi ternyata yang diajarkan adalah hal yang salah.
Entahlah, tapi aku sangat yakin bahwa menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang memberikan aset dunia dan akhirat. Aku pernah membaca sebuah artikel bahwa ketika kita hanya mengejar urusan duniawi maka kita akan selalu disibukkan oleh urusan duniawi yang tiada habisnya, hanya lelah yang didapat. Aku juga pernah membaca hadits yang kurang lebih berisi; kalau kita ingin mendapatkan dunia pelajari ilmunya, kalau kita ingin mendapatkan akhirat pelajari ilmunya, kalau ingin mendapatkan keduanya pelajari pula ilmunya. Alangkah indah bila benih ilmu yang kita tanam bisa menjadi bekal bagi diri dan juga orang lain, subhanallah.
Pernah juga kudengar bisik mereka tentang guru, mereka bilang, “Mau-maunya jadi guru, gajinya kan sedikit.” Bagaimana Bu? tapi paradigmaku saat ini “yang penting berkecukupan”, pekerjaan dan tugas yang begitu banyak dan penghasilan yang lebih sedikit dari timbangan beban kerja, mungkin bisa saja disebut sebagai “kerja berkah”, wallahua’lam. Nyatanya ibu bertahan menjadi guru selama 32 tahun, dan kita tak mati kelaparan.

Jumat, 05 Oktober 2012

Semarang oh Semarang, dari Rob, Banjir, sampai Kekeringan



Tinggal di Semarang rupanya memberikan sensasi tersendiri bagiku. Mulai dari kebanjiran ketika musim hujan, rob, sampai kekeringan ketika musim kemarau. Bukan hanya sekali, dua kali, tapi sangat sering aku mengendarai sepeda motor dalam keadaan jalan yang banjir bahkan hampir selutut orang dewasa. Sampai-sampai aku paham benar trik agar si motor tidak wafat ketika banjir. Pernah juga waktu itu ketika mengendarai motor pada malam hari, hujan deras, dan banjir, beberapa pohon tumbang dan jalan pun ditutup, terpaksa harus putar balik padahal selama di Semarang aku tak terlalu hapal jalan.
Kali ini kemarau terasa sangat panjang. Persediaan air di kos-kosan  menipis. Terpaksalah kami melaundry baju, mandi coboy, bahkan keramas hanya dengan air sepuluh gayung. Beberapa anak kos pun memilih numpang mandi di pom bensin. Yah, kondisi darurat memang memaksa kita untuk berpikir cerdik, sampai-sampai aku dapat merumuskan trik mandi dengan air yang sangat terbatas.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Jadilah Kamu yang Berjuang dalam Pilihan Hidupmu; Karena Kita Adalah Kesatria



Assalamualaikum warrahmatullahiwabarakatuh.
(edisi Ramadhan, nulis diawali dengan salam)

           
Alhamdulillahirabbil’alamin, akhirnya aku sudah melaksanakan matrikulasi sebanyak dua kali dan mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga. Besok tinggal satu kali matrikulasi, dan itu ujiaaan aaargghh. Saat ini aku menghuni kos baru, berada di kampus lama yang dibungkus dengan teman-teman baru, cukup membuat kepala ini pusing menghapal nama-nama yang masih asing terdengar di telingaku. Yah, aku memang paling lemah untuk menghapal jalan dan nama orang.
Beberapa hari ini aku disibukkan untuk menata kamar baruku. Alhamdulillah kali ini aku pindah ke tempat yang lebih layak, satu kamar berisi satu orang, kasurnya empuk, kamar mandi bersih. Tapi bukan berarti kos lama buruk, aku sangat menikmati kesederhanaan kami waktu itu, bahkan menemukan sahabat yang seperti saudara kandung bagiku, Nita, Arum, Mbak Tika, Mbak Ratih, Mba Haniek, Mbak Deni, Mbak Amel, Mbak Dewi, dan Mey. Saat ini aku juga sangat sibuk untuk mengatur jadwal buka puasa bersama (ceileh) yaaa, bagaimana pun juga silaturakhim harus selalu disambung.