Tampilkan postingan dengan label jalan allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan allah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2015

Menikah

Berawal pada 17 Agustus 2014. Sebuah perkenalan yang dilakukan setelah melaksanakan upacara kemerdekaan rupanya berujung pada janji suci.

Alhamdulillah setelah melewati proses empat bulan setelah khitbah akhirnya kami pun menikah. Bahagia sekali karena Insya Allah akan mendapat kebahagiaan dunia-akhirat dengan orang yang saya cintai.

1. Seserahan/Malam Midodareni




2. Ijab









3. Resepsi






Terima kasih kepada:
Orang tuaku dan keluargaku, bapak-ibu mertua serta keluarga Kudus, para sahabat, dan suamiku.

Jumat, 10 April 2015

Menjadi Guru Besar


Guru besar adalah sebuah puncak karier dan derajat tertinggi bagi seorang dosen. Apa lagi yang diharapkan seorang dosen, selain penghargaan atas keilmuan yang dimiliki. Waktu itu, Selasa, 24 Maret 2015 aku menghadiri pengukuhan guru besar kedua dosen pembimbingku. Prof Subyantoro sebagai profesor bidang psikolinguistik dan Prof Teguh Supriyanto sebagai profesor ilmu susastra. Hari itu adalah pengalaman pertamaku menghadiri pengukuhan guru besar. Dalam benakku kala itu, “hari ini pasti mengesankan”. Hal itu pun benar terjadi.

Agenda pengukuhan guru besar biasanya dirangkai mulai dari senat yang memasuki ruangan, pembacaan biodata calon guru besar, orasi ilmiah, penyampaian ucapan terima kasih, dan pelantikan oleh rektor. Bagian yang paling mengesankan bagiku justru penyampaian ucapan terima kasih.

Prof Teguh dan Prof Subyantoro adalah dua orang yang sangat berperan pada pencapaian karier dan akademikku. Semoga keberkahan selalu menyertai mereka.

Pros Subyantoro sudah aku anggap tidak sekadar guru bagiku tapi seperti seorang bapak, bahkan saya mengenal istri beliau dengan baik. Beliau adalah dosen pembimbing skripsi dan tesisku. Hampir semua pemikiranku terinspirasi oleh beliau. Menurutku beliau adalah orang yang sangat logis, tapi berhati lembut. Di balik penampilan beliau yang semi-militer, ya maklum sampai saat ini beliau masih menjadi pembina Resimen Mahasiswa di Unnes, beliau memiliki jiwa kebapakan yang sangat tinggi. Ah, subhanallah. Beliau pernah bercerita tentang kehidupannya, beliau adalah anak seorang TNI dan guru SD. Beginilah kutipan pidato guru besar beliau:

Minggu, 22 Februari 2015

Perjalanan Spiritual

Saya pernah berkata pada teman dekat saya, “Bagaimana ya fenomena orang yang mahir membaca Quran tapi maksiat tetap jalan?”
“Bukankah keterampilan beragama bisa jadi berbeda dengan pemahaman ketuhanan?”

Kadang saya suka merenung.
“Apa sih hakikat hidup beragama?”
“Kok bisa ya ada orang yang sangat baik, suka bersedekah, rajin salat tapi pemahaman  tentang teori tentang agama sangat rendah.”
“Bagaimana ya kok ada orang yang memiliki pemahaman teori tentang agama yang sangat baik, tahu hukum ini-itu tapi perbuatannya banyak merugikan orang lain
Dan kita tak pernah tahu mana yang lebih baik.

Pernah suatu kali saya berdiskusi dengan senior saya di tempat kerja. Kata beliau mempelajari ilmu selain agama adalah mubah, yang wajib adalah ilmu agama karena itulah yang akan menyelamatkan kita. Waktu itu saya tak memiliki cukup argumen untuk menanggapi. Namun, bukankah Allah berjanji dalam Al Mujadalah-11 bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Ya, apa pun ilmu itu, saya yakin akan mendatangkan keberkahan selama dimanfaatkan untuk kebaikan.

Jumat, 20 Februari 2015

Kata Temanku



Kata temanku, tiap orang memiliki jatah rezeki sendiri-sendiri. Ya, bukan berarti kita tak punya upaya untuk menjemput rezeki kan?

Kalau sudah berupaya tapi belum juga dapat, berarti itu bukan rezeki kita. Bisa jadi ‘bukan’, bisa jadi ‘belum’.

Rezeki itu kan macam-macam, tidak hanya uang/kekayaan. Kata temanku, kesehatan, persahabatan, kelancaran urusan, bahkan pasangan yang baik itu juga rezeki loh, hanya saja jarang disadari.
Rezeki itu tidak jatuh dari langit tapi dijemput dengan usaha. Kalau Allah memudahkan jalan kita, itulah yang dinamakan rezeki yang diridai Allah.

Kata temanku, tak usah iri pada rezeki yang didapat orang lain. “Lha, aku kan lebih keren dari dia, kenapa dia yang dapat?” itulah misteri. Bisa jadi yang dia dapat saat ini adalah “sebab”, bisa jadi pula “akibat”. Misalnya, seseorang yang berbuat curang, tapi malah berhasil. “Bisa jadi keberhasilannya adalah buah dari doa ibunya, atau berkah dia yang sudah berbakti pada orang tuanya, atau bisa jadi dia ternyata rajin memberi sedekah dan orang yang diberi sedekah kemudian mendoakannya.” Namun, ada juga kemungkinan bahwa capaiannya saat ini (yang ia peroleh dengan berbuat curang) itu adalah “sebab”; pada sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Bisa jadi, kelak urusannya akan dipersulit Allah, dan sebagainya. Wallahua’lam.

Selasa, 06 Januari 2015

Di Antara



Suatu hari seorang lelaki yang baik pengetahuan agamanya datang menemui gurunya. Ia sedang bimbang karena dihadapkan oleh beberapa pilihan. Dengan baik-baik, ia bertanya pada gurunya tentang pertimbangan memilih jodoh.

“Ustaz, siapakah yang sebaiknya saya pilih di antara dua gadis ini?”

“Bagaimana karakteristik masing-masing?”

“Dua-duanya sama-sama pintar, sama-sama Islam, sebut saja si A dan si B. Si A adalah gadis yang sangat mandiri, ia adalah tulang punggung bagi keluarganya, pengetahuan agamanya sangat baik karena sejak kecil dibesarkan di pondok pesantren. Sedangkan si B adalah gadis yang cukup manja, pengetahuan agamanya pun biasa saja.”

“Bila engkau ingin menjadi imam yang baik justru pilihlah si B maka kau bisa membimbingnya menjadi istri yang solehah.”

Senin, 25 Agustus 2014

Konsep Cinta (2)


“Bolehkah aku sedikit bercerita padamu, mungkin nanti juga ada pertanyaan yang ingin aku ajukan,” tanya dia.

“Tentu, dengan senang hati.”

Dia tersenyum lalu menatapku bersahaja. “Bagaimana pendapatmu tentang jodoh dan cinta? Lebih spesifik, akan aku jelaskan dengan contoh, apakah kamu percaya bahwa landasan dalam menjalin rumah tangga adalah komitmen bukan cinta? Sebenarnya beberapa saat yang lalu aku sempat mendapat nasihat dari seorang senior yang intinya bila kamu akan berumah tangga, carilah istri yang bisa diajak hidup bersama, di sana aku tidak menemukan kata cinta sama sekali, entahlah. Justru ini yang ingin aku bicarakan kepadamu, benarkah cinta itu bisa tumbuh seiring dengan perjalanan waktu karena terbiasa bersama?”

Dia menarik napas. Aku membalasnya dengan senyum, aku masih terdiam karena aku yakin ada lagi yang akan dia katakan.

“Sesungguhnya ada yang membuat aku gusar, ketika aku mengamini pernyataan aku tadi, justru muncul pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara mengenal calon istri atau suami manakala landasan berumah tangga bukanlah cinta, bisakah kamu memberikan pendapatmu?”

“Baiklah, kamu yang baik dan santun. Bukankah agama sudah mengatur segala sesuatu untuk manusia. Bilamana kamu mencari istri, kamu bisa memilihnya dengan empat pertimbangan yakni agama, keturunan, harta, dan rupa; aku juga tak menemukan kata cinta di sini. Namun, seperti yang pernah kamu katakan bahwa cinta itu tak ilmiah. Hal ini kontradiktif dengan pendapat Descartes yang mana sesuatu yang ilmiah selalu bermula dari kesangsian metodis, justru cinta bermula dari keyakinan. Sebelum aku menarik simpulan, mari ingat-ingat kembali cerita tentang Socrates dan Plato, menurutmu mereka cinta adalah sebuah kenihilan sedangkan jodoh adalah sebuah pilihan. Cinta diciptakan dari ego dan angan-angan tentang kesempurnaan yang diciptakan manusia. Justru simpulan yang dapat aku tarik, seungguhnya konsep cinta sejati yakni bila kita mencintai segala sesuatu karena Tuhan, bilamana cinta tak tercipta hanya sebatas ucapan selamat tidur, lebih dari itu cinta adalah tanggung jawab dan mau hidup bersama, tentu sesuai dengan penjelasan aku tadi.”

Minggu, 11 Mei 2014

Faktor X


Baginya untuk meraih sukses, 90% usaha akan sia-sia jika tak diimbangi dengan porsi 10% doa. Begitu pula dengan 10% doa, akan sia-sia jika tak disempurnakan dengan 90% usaha. Menurutnya doa adalah puncak dari ikhtiar karena keberuntungan tidak serta merta datang pada seseorang tapi harus dijemput dengan doa dan ikhtiar (Kutipan Buku “The Professors” – Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum.).

Tidak jauh beda dengan pendapat Bu Uum, rekan kerja yang dulu dosenku sendiri. Kamis siang itu tak sengaja aku melewati ruangan beliau, bermaksud menyalami saja ternyata kami pun larut dalam obrolan kami. Maklum sebagai sesama penggemar Ustaz Yusuf Mansur (YM), obrolan kami pun mengalir dengan sangat alami. Ngobrol dengan beliau membuatku semakin bodoh, kenapa? Ya, di situlah justru aku merasa bahwa ilmuku masih sangat cethek dibanding beliau.

“Mba Meina, sesungguhnya bila kita analisis segala yang terjadi ini memang tak lepas dari campur tangan Allah. Kalau saya boleh bilang malah 99% usaha itu akan sia-sia bila Allah tak merahmati atau meridai meskipun hanya 1%. Justru 1% yang biasa orang bilang sebagai “faktor x” lah yang menjadi penentu segalanya. Ya, di situlah saya semakin menyadari bahwa tak ada alasan untuk menyombongkan diri. Sebab, bisa jadi yang orang lihat sebagai sebuah keberhasilan itu semata-mata anugerah atas izin Allah dan bukan berasal dari kemampuan manusia itu,” ucap beliau.

Senin, 10 Februari 2014

Untuk Suamiku (Kelak)

Wahai separuh jiwaku, semoga engkau selalu berada dalam lindungan Tuhan. Bila Tuhan menghendakiku untuk bersujud kepadamu, sungguh engkaulah jembatan surgaku. Kita mesti pahami bersama bahwa kita sudah bersepakat untuk membangun rumah di dunia dan juga di akhirat. Artinya, kita harus konsisten untuk menjalani hidup sebagai ibadah.
Suamiku, bukankah dulu sebelum menikah aku sudah pernah berkata kepadamu bahwa masa depan kita masih suci, tak perlu kau risaukan masa lalu kita. kita akan sama-sama membuka lembaran putih lalu menggoreskan lembaran itu dengan pena kesakinahan. Aku juga sudah jelaskan bahwa aku tak terlalu pandai di dapur, tak terlalu pandai mengatur keuangan, dan mungkin tak bisa selalu berada di rumah. Banyak yang mengira bahwa aku seorang perempuan yang career oriented, tapi kau tak peduli. Kau bilang padaku bahwa kau tahu tujuanku bekerja adalah untuk beribadah. Sungguh aku sangat terharu atas segala kemaklumanmu kepadamu. Katamu waktu itu, “Cinta itu sederhana.”
Tak perlu jadi orang paling kaya, kau juga tak perlu jadi presiden untuk membuatku bahagia. Aku hanya ingin kita membangun keluarga yang penuh dengan kebarokahan. Kita akan hidup bersama selamanya. Setelah orang tuaku melepasku kepadamu, ketakzimanku sepenuhnya kupersembahkan padamu. Ketika subuh, magrib, dan isya kita akan salat berjamaah dan bersalaman setelah salam. Kucium tanganmu, mengharap ampunanmu pada setiap kekuranganku, dan kau kecup keningku dengan mesra. Sembari menunggu isya, kau buka kitab suci dan membacanya bersama-sama denganku.
Bila ada rezeki berlebih kita akan kunjungi tanah suci bersama. Kita akan melingkari rumah Allah dengan memanjatkan doa keselamatan untuk keluarga kita. Di tanah suci kita mengkhatamkan Quran dan bersujud di depan ka’bah. Semoga kita juga bisa mengajak orang tua kita.

Jumat, 20 September 2013

Dear Tuhan



 Dear Tuhan.

Izinkan aku belajar pada-Mu. Kau yang Maha Memberi Teladan.

Ini masih pukul 20 tapi badanku sepertinya sudah remuk redam. Han, sudah satu pekan ini aku lembur di kantor, pulang kerja tengah malam dan pukul 7 pagi aku sudah kembali bekerja. “Perjuangan adalah satu  pelaksanaan cita dan rasa, perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan”, begitu kata Rendra dalam “Sajak Peperangan Abimanyu”.

Han, tahukah Kau bahwa aku merindukan-Mu?

Saat aku berlari melunasi kata-kata akankah Kau mengejar dan memelukku? Semakin aku jauh melangkah dan berlari mengejar mimpi, semakin erat dan mesrakah aku dalam peluk-Mu?

Sebuah ucapan penuh hikmah “Ridha nas ghayatun la tudrak”, keridaan seluruh umat adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Begitu jugakah yang Kau rasakan Han? Kenapa tak semua orang merasa bahagia? Juga rida pada satu tujuan? Padahal yang aku tahu, bahagia itu relatif. Setiap orang memiliki konsep kebahagiaan dan itulah hak prerogatif sebagai seorang manusia.

Aku tak lagi peduli pada hal itu, sebab tak mungkin aku menjadi nahkoda pada setiap kereta hati manusia. Aku hanyalah pemasung rambu-rambu yang terpampang di jalanan itu. Entah kemana ia pecutkan kuda itu, tak lagi bisa aku memaksanya lewat jalan mana.

Senin, 10 Juni 2013

Terlalu Lelah



Ketika aku punya seseorang yang aku kagumi dan menganggap ia baik lalu aku jadikan ia teladan serta kugantungkan harapan padanya. Serupa mawar yang indah, ia tetaplah berduri, serupa manusia biasa ia juga punya cela. Tatkala panas setahun hilang diguyur hujan sehari. Persis seperti susu sebelanga ternoda setitik nila. Hanya kecewa yang aku dapat.
Pemikiran itu berganti pada anggapan tak mau lagi bergantung pada orang lain, mungkin hanya diri sendiri yang pantas diandalkan. Bukan merasa damai, justru hati ingin mengalahkan diri sendiri. Jiwa persaingan memuncak rasanya ingin jadi nomor satu. Padahal tak perlu selalu jadi nomor satu untuk bahagia. Rupanya Aristoteles benar, bahwa manusia adalah makhluk sosial. Lagi-lagi pemikiran ini tak begitu selaras.
 Gontai sudah langkah hati, tak adakah yang bisa aku andalkan, bahkan alam semesta? Pagi itu Semarang diguyur hujan lebat, padahal sudah bulan Juni, seharusnya sudah masuk kemarau. Hati mengaduh tak karuan, apalagi tak bisa berangkat kerja karena hujan yang mengguyur atau cucian yang tak kering, bahkan cuaca yang tiba-tiba berganti panas membara. Lagi-lagi aku salahkan alam, salahkan langit, salahkan siapa saja yang mencipratiku genangan air ketika sedang berjalan kaki. Menyalahkan apa pun yang aku kira membuatku merasa selalu benar. Rupanya sungguh sangat melelahkan. Menganggap yang lain selalu salah, dan diri sendiri yang jelas benar.

Kamis, 30 Mei 2013

How to be An Inspiring Teacher?


Ibarat seorang petani yang menyebarkan benih, kelak benih itu akan menjadi pohon, lalu pohon itu juga menghasilkan benih, lalu benih itu tumbuh lagi menjadi pohon yang juga menghasilkan benih. Begitu pula halnya dengan menyebarkan ilmu.
Alhamdulillahirabbil’alamin Ya Rabb yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk mewujudkan cita-citaku menjadi seorang guru. Terima kasih tak terhingga untuk gurunda yang telah memberikan inspirasi luar biasa, gurunda yang pernah mengajariku dari aku duduk di bangku kanak-kanak hingga berada di bangku kuliah pascasarjana. Sesungguhnya suara kalian yang telah membisik lembut di telingaku, keihklasan kalian yang telah membuatku semakin mantap melangkahkan kaki dan mengabdi di dunia pendidikan.
Semenjak aku duduk di bangku taman kanak-kanak, aku sering diajak ibuku ke sekolah. Ya, ibuku adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP. Semenjak 1981 beliau mengajar sampai saat ini, beliau  tak pernah membawa kendaraan ke sekolah. Ibu selalu berjalan kaki ke sekolah karena jarak sekolah dan rumah memang cukup dekat.  Memang dekat, tapi apakah ibu tak punya keinginan untuk mengendarai mobil atau sekadar sepeda motor matic ketika berangkat ke sekolah? Apakah ibu tak iri dengan para pengendara? Atau tak bosan berjalan kaki? Apakah ibu tak punya keinginan untuk sesekali mencicipi kendaraan pribadi ketika berangkat bekerja? Ah sudahlah, 32 tahun yang lamanya sama dengan kekuasaan Presiden Soeharto itu mungkin perjalanan yang tak cukup panjang untuk menikmati dinamika menjadi seorang guru. Bahwa soal tunggangan atau sekadar gengsi bukanlah menjadi hal yang didewakan ibu. Yang aku tahu, ibu hanya punya sebuah tas yang sering beliau bawa kemana-mana, ya untuk mengajar atau untuk kegiatan apa saja. “Ibu, sudah seharusnya Ibu menikmati hari tua dan bersenang-senanglah untuk dirimu.”
Sungguh tak ada gambaran lain selain menjadi guru, apalagi semenjak kecil aku sangat akrab dengan lingkungan sekolah tempat ibuku mengajar. Apakah ibu menyadari bahwa engkaulah inspirasi terhebat bagiku untuk menjadi seorang guru, inspirasi bagiku untuk mendalami bahasa dan sastra Indonesia. Sampai kapan pun, engkaulah guru terbaik bagiku.  
Ibu, aku ingin bercerita bahwa aku sangat menikmati hari-hariku menjadi seorang guru. Katamu, jadilah guru yang tidak hanya mengajar tapi juga mendidik. Oleh karena itu, kau bilang bahwa guru adalah pendidik. Pendidikan adalah sebuah pembiasaan, perubahan perilaku yang tadinya buruk menjadi baik, perubahan dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Dari situlah aku menyadari bahwa menjadi guru bukanlah tugas yang ringan. Aku malu Bu, malu bila “sok-sokan” mengajari yang baik padahal dirinya belum menjadi orang yang baik. aku malu Bu, kalau “sok-sokan” mengajar tapi ternyata yang diajarkan adalah hal yang salah.
Entahlah, tapi aku sangat yakin bahwa menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang memberikan aset dunia dan akhirat. Aku pernah membaca sebuah artikel bahwa ketika kita hanya mengejar urusan duniawi maka kita akan selalu disibukkan oleh urusan duniawi yang tiada habisnya, hanya lelah yang didapat. Aku juga pernah membaca hadits yang kurang lebih berisi; kalau kita ingin mendapatkan dunia pelajari ilmunya, kalau kita ingin mendapatkan akhirat pelajari ilmunya, kalau ingin mendapatkan keduanya pelajari pula ilmunya. Alangkah indah bila benih ilmu yang kita tanam bisa menjadi bekal bagi diri dan juga orang lain, subhanallah.
Pernah juga kudengar bisik mereka tentang guru, mereka bilang, “Mau-maunya jadi guru, gajinya kan sedikit.” Bagaimana Bu? tapi paradigmaku saat ini “yang penting berkecukupan”, pekerjaan dan tugas yang begitu banyak dan penghasilan yang lebih sedikit dari timbangan beban kerja, mungkin bisa saja disebut sebagai “kerja berkah”, wallahua’lam. Nyatanya ibu bertahan menjadi guru selama 32 tahun, dan kita tak mati kelaparan.

Jumat, 24 Mei 2013

Untuk Greta



Untuk Greta, sahabatku.

Entah mengapa aku ingin menulis catatan ini untukmu, untuk kau yang selalu di dekatku, sangat dekat. Kau pernah bilang bahwa kau akan selalu ada untukku ketika ada cahaya. “Mina, pergilah mendekat cahaya maka aku ada untukmu,” katamu sambil tersenyum. Greta, teruslah tersenyum untukku walau dalam keadaan paling menyakitkan sekalipun.
Pernah suatu ketika kau datang padaku dengan muka yang sangat berseri dan senyum yang mengembang. Kau bilang bahwa kau sedang merasa bahagia sekali. Ya, perasaan yang tak kau rasakan sejak tahun 2009 silam saat kau memutuskan untuk tidak lagi mencintai seorang “lelaki beruntung”, wajah yang menghiasi hari-hari pada masa remajamu. Namun setelah itu, aku baru melihat matamu begitu berbinar dan pipimu begitu merona.
Katamu waktu itu, “Mina, baru kali ini aku bertemu dengan sebuah cermin, seseorang yang di matanya aku bisa melihat diriku sendiri.”
Aku tersenyum dan sangat bahagia mendengar cerita-ceritamu waktu itu, aku berharap kisah itu tak kembali kandas karena aku tahu, hatimu begitu rapuh Greta. “Hanya dengannya, moment memilih sabun colek pun jadi moment yang sangat menyenangkan. Aku bisa melihat Tuhan di matanya, dia platonik, lelaki yang aku cari!”
Sesaat setelah kau datang kau menunjukkan sebuah buku padaku, buku gambar yang tidak kau gunakan untuk menggambar. “Aku membelinya di toko alat tulis, sengaja memang, aku ingin mengabadikan segala sesuatu di sini, mulai dari karcis parkir, karcis bioskop, bahkan plastik pembungkus botol mineral ketika kali pertama kita bertemu. Kau tahu Mina, ternyata kami memiliki buku gambar yang sama, hanya saja buku gambar yang ia punya sangat kecil.”
“Lantas kau bilang kalau kalian berjodoh hanya karena memiliki banyak hal yang sama?”
Kau hanya meringis. “Bukankah ini amazing?”

Kamis, 16 Mei 2013

Izinkan Aku Reguk Cinta-Mu




Sumber
“Akan sangat menyedihkan dan menyakitkan, 
merindukan seseorang yang belum halal bagi kita.” (Nana Riskhi)

Bukan apa yang kau terima dari cintamu, tapi apa yang telah kau lakukan untuk cintamu. Karena siapa? makhluk? tentu saja bukan. Lakukan semuanya lillahita’ala maka hidupmu damai selalu.
Menemukan konsep jatuh cinta, hal yang benar-benar sedang Greta renungkan dalam tiga bulan belakangan ini. Bahwa memang sangat melelahkan dan menyiksa perasaan, mengharap sesuatu selain kepada Tuhan. Manusiawi, jika kita “mengharap” tapi harapan hanya akan mendatangkan kecewa jika tak bermuara kepada-Nya. Berharap dengan makhluk hanya akan menyiksa batin karena manusia memiliki kuasa untuk menyalahkan dia sebagai sesama makhluk. Beda halnya ketika segala puncak pengharapan hanya ditujukan pada zat yang kekal, tak akan ada rasa su’udzon.
Mungkin benar kata Sudjiwo Tedjo, bahwa “Jatuh cinta itu takdir dan menikah itu nasib.” Perasaan cinta pada seseorang tumbuh dengan alamiah dan naluriah, mana bisa manusia menghindarinya?
“Hanya dengan tidak jatuh cinta pada masanya yang bisa menjaga hati kita tetap suci dan damai,” batin Greta. Benarkah begitu? “Sepertinya akan sangat menyakitkan bagi seorang suami bila mengetahui bahwa istrinya ternyata dulu sangat mencintai pria lain,” sambungnya. Ya, jatuh cinta dan setia pada pasangan yang akan mengantarkan kita surga nanti, bahkan jauh sebelum dipertemukan secara nyata, akan menjadi hal yang sangat indah. 

Senin, 17 Desember 2012

Sosok Istimewa (2)

Lanjutan dari Sosok Istimewa 

Kita hidup di dunia seperti mampir (berhenti sejenak) untuk minum seteguk dua teguk air, begitulah perumpamaannya. Kita adalah pengembara yang menempuh perjalanan jauh.

Angin yang berhembus kala itu di Kota Semarang, gerimis yang menemani perbincangan kami, sepasang sahabat. Sembari memakan beberapa irisan Mangga Harum Manis yang ia bawa dari tanah Tidar. “Aku sengaja membawakan makanan buat anak kost,” katanya padaku. Aku tersenyum senang, sembari sedikit berjingkrak dari tempat dudukku.
“Bagaimana kehidupanmu sekarang Nit?” tanyaku tanpa memalingkan wajah dari komputer jinjing di hadapanku.
“Ya begitulah Min, nggak bisa kemana-mana, ibu kan keluar masuk rumah sakit terus,” jawab Nita.
Aku memalingkan wajah. “Tapi sekarang sudah sehat kan?”
“Lumayan Min, sudah di rumah tapi sekarang beliau bergantung sekali padaku.”
“Maksudmu?” tanyaku mulai serius.
Aku dan Nita adalah teman sekamar sejak tahun 2008 sampai 2012. Bahkan orang tua kami sudah saling mengenal baik. Semenjak aku wisuda, aku memutuskan untuk pindah kos. Namun, bukan berarti komunikasi kita terputus sampai di situ. Beberapa bulan ini kami mulai jarang berkomunikasi ya, paling tidak seminggu dua kali kami saling mengirim sms. Kadang pula kami saling menelpon. Entahlah, mungkin aku pantas untuk mengutuk diri. Semenjak aku terjebak pada rutinitasku yang memuakkan, untuk kuliah dan bekerja, aku dan Nita pun semakin jarang berkomunikasi. Sekali dua kali dalam sepekan dia mencoba menghubungiku, kadang aku ogah-ogahan untuk membalasnya. Begitu pula dengan dia, kalau aku kesepian dan mencoba menghubunginya terkadang pesanku dijawab begitu lama. Dia juga sudah terperangkap dalam kesibukkannya. 

Minggu, 16 Desember 2012

Allah Tahu Mana yang Terbaik



Belajar dari kegagalan. Tak mau lagi berdusta pada diri. Tak mau lagi menyombongkan diri.
Aku begitu yakin Kau tahu segala yang terbaik bagiku, dan menurut-Mu.
Dalam istikharahku,
Setiap sujud dan tetesan air mataku.
Sepagi ini.
Di sajadah itu.
Bahkan setiap hembusan udara dalam napasku, semoga hanya asma-Mu yang ada.
Tunjukkanlah pilihan-Mu.
Yang membuatku bisa melihat-Mu pada setiap tatapannya.
Yang bisa membuat kami kekal di surga-Mu.
Karena cara-Mu jauh lebih indah dari segala rencana manusia.