Tampilkan postingan dengan label universitas kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label universitas kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2015

Menjadi Guru Besar


Guru besar adalah sebuah puncak karier dan derajat tertinggi bagi seorang dosen. Apa lagi yang diharapkan seorang dosen, selain penghargaan atas keilmuan yang dimiliki. Waktu itu, Selasa, 24 Maret 2015 aku menghadiri pengukuhan guru besar kedua dosen pembimbingku. Prof Subyantoro sebagai profesor bidang psikolinguistik dan Prof Teguh Supriyanto sebagai profesor ilmu susastra. Hari itu adalah pengalaman pertamaku menghadiri pengukuhan guru besar. Dalam benakku kala itu, “hari ini pasti mengesankan”. Hal itu pun benar terjadi.

Agenda pengukuhan guru besar biasanya dirangkai mulai dari senat yang memasuki ruangan, pembacaan biodata calon guru besar, orasi ilmiah, penyampaian ucapan terima kasih, dan pelantikan oleh rektor. Bagian yang paling mengesankan bagiku justru penyampaian ucapan terima kasih.

Prof Teguh dan Prof Subyantoro adalah dua orang yang sangat berperan pada pencapaian karier dan akademikku. Semoga keberkahan selalu menyertai mereka.

Pros Subyantoro sudah aku anggap tidak sekadar guru bagiku tapi seperti seorang bapak, bahkan saya mengenal istri beliau dengan baik. Beliau adalah dosen pembimbing skripsi dan tesisku. Hampir semua pemikiranku terinspirasi oleh beliau. Menurutku beliau adalah orang yang sangat logis, tapi berhati lembut. Di balik penampilan beliau yang semi-militer, ya maklum sampai saat ini beliau masih menjadi pembina Resimen Mahasiswa di Unnes, beliau memiliki jiwa kebapakan yang sangat tinggi. Ah, subhanallah. Beliau pernah bercerita tentang kehidupannya, beliau adalah anak seorang TNI dan guru SD. Beginilah kutipan pidato guru besar beliau:

Minggu, 22 Februari 2015

Perjalanan Spiritual

Saya pernah berkata pada teman dekat saya, “Bagaimana ya fenomena orang yang mahir membaca Quran tapi maksiat tetap jalan?”
“Bukankah keterampilan beragama bisa jadi berbeda dengan pemahaman ketuhanan?”

Kadang saya suka merenung.
“Apa sih hakikat hidup beragama?”
“Kok bisa ya ada orang yang sangat baik, suka bersedekah, rajin salat tapi pemahaman  tentang teori tentang agama sangat rendah.”
“Bagaimana ya kok ada orang yang memiliki pemahaman teori tentang agama yang sangat baik, tahu hukum ini-itu tapi perbuatannya banyak merugikan orang lain
Dan kita tak pernah tahu mana yang lebih baik.

Pernah suatu kali saya berdiskusi dengan senior saya di tempat kerja. Kata beliau mempelajari ilmu selain agama adalah mubah, yang wajib adalah ilmu agama karena itulah yang akan menyelamatkan kita. Waktu itu saya tak memiliki cukup argumen untuk menanggapi. Namun, bukankah Allah berjanji dalam Al Mujadalah-11 bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Ya, apa pun ilmu itu, saya yakin akan mendatangkan keberkahan selama dimanfaatkan untuk kebaikan.

Jumat, 21 November 2014

Cinta Orang Dewasa


Jatuh cinta dan menikah adalah dua hal yang berbeda tapi tidak dapat dipisahkan. Bagi anak SMP, cinta adalah pura-pura izin ke kamar kecil waktu pelajaran, padahal cuma ingin lewat di depan kelasnya. Bagi anak SMA, cinta mungkin sekadar antar-jemput kosan dan sekolah. Bagi anak kuliahan cinta mungkin sekadar menonton bioskop bersama. Atau, kata novel remaja, cinta adalah perasaan yang bisa membuat kamu deg-degan waktu melihatnya. Cinta orang dewasa adalah bagaimana cara menyatukan dua keluarga. Itulah bagian dari tujuan menikah.

Pendekatan psikologis dibutuhkan untuk mempelajari karakter dan kepribadian si calon. Sedangkan, pendekatan sosio-kultural yang seharusnya digunakan untuk mempelajari kebiasaan keluarga dan lingkungan sekitar si calon. Hal-hal itu harus dilaksanakan dengan metode yang benar. Jangan sampai kita menggeneralisasikan secara sepihak karakter sebuah keluarga berdasarkan konklusi yang prematur. Di situlah kita harus melakukan persuasif yang benar. Tentu usaha itu harus disesuaikan dengan keadaan sosio-kultural sang objek.

Idealisme yang dulu ingin mendapatkan pasangan yang sempurna entah mengapa begitu bergeser. Mungkin ini sebuah penyadaran diri bahwa: kadang kita merasa bahwa diri ini adalah sosok yang sempurna. Pergeseran itu mengarah pada tindakan untuk menemukan orang yang mampu menerima ketidaksempurnaan kita. Saya mungkin tidak pernah terlalu bersusah-susah mencari pekerjaan, juga tak perlu bersusah-susah mencari uang, tak perlu juga bersusah-susah untuk bertahan hidup. Namun, kenyamanan itulah yang yang tidak boleh membuat kita silau pada diri kita sendiri. 

Senin, 25 Agustus 2014

Konsep Cinta (2)


“Bolehkah aku sedikit bercerita padamu, mungkin nanti juga ada pertanyaan yang ingin aku ajukan,” tanya dia.

“Tentu, dengan senang hati.”

Dia tersenyum lalu menatapku bersahaja. “Bagaimana pendapatmu tentang jodoh dan cinta? Lebih spesifik, akan aku jelaskan dengan contoh, apakah kamu percaya bahwa landasan dalam menjalin rumah tangga adalah komitmen bukan cinta? Sebenarnya beberapa saat yang lalu aku sempat mendapat nasihat dari seorang senior yang intinya bila kamu akan berumah tangga, carilah istri yang bisa diajak hidup bersama, di sana aku tidak menemukan kata cinta sama sekali, entahlah. Justru ini yang ingin aku bicarakan kepadamu, benarkah cinta itu bisa tumbuh seiring dengan perjalanan waktu karena terbiasa bersama?”

Dia menarik napas. Aku membalasnya dengan senyum, aku masih terdiam karena aku yakin ada lagi yang akan dia katakan.

“Sesungguhnya ada yang membuat aku gusar, ketika aku mengamini pernyataan aku tadi, justru muncul pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara mengenal calon istri atau suami manakala landasan berumah tangga bukanlah cinta, bisakah kamu memberikan pendapatmu?”

“Baiklah, kamu yang baik dan santun. Bukankah agama sudah mengatur segala sesuatu untuk manusia. Bilamana kamu mencari istri, kamu bisa memilihnya dengan empat pertimbangan yakni agama, keturunan, harta, dan rupa; aku juga tak menemukan kata cinta di sini. Namun, seperti yang pernah kamu katakan bahwa cinta itu tak ilmiah. Hal ini kontradiktif dengan pendapat Descartes yang mana sesuatu yang ilmiah selalu bermula dari kesangsian metodis, justru cinta bermula dari keyakinan. Sebelum aku menarik simpulan, mari ingat-ingat kembali cerita tentang Socrates dan Plato, menurutmu mereka cinta adalah sebuah kenihilan sedangkan jodoh adalah sebuah pilihan. Cinta diciptakan dari ego dan angan-angan tentang kesempurnaan yang diciptakan manusia. Justru simpulan yang dapat aku tarik, seungguhnya konsep cinta sejati yakni bila kita mencintai segala sesuatu karena Tuhan, bilamana cinta tak tercipta hanya sebatas ucapan selamat tidur, lebih dari itu cinta adalah tanggung jawab dan mau hidup bersama, tentu sesuai dengan penjelasan aku tadi.”

Kamis, 03 Juli 2014

Pilihan Hidup


“Ada yang memilih untuk mengalah pada cita-citanya yang sebenarnya lalu menghabiskan masa mudanya di kantor dan mempersiapkan kemapanan. Namun, ada juga yang memilih untuk menghabiskan masa mudanya dengan membela cita-citanya tanpa mempedulikan arti kemapanan pada saat itu. Mana yang benar? Tentu semua benar. Sebab, pada masa postmodernisme ini setiap pilihan manusia adalah hak baginya dalam menjalani kehidupan.”

Pada fase tertentu kata-kata akan dibuktikan, lalu Rendra menyebutnya sebagai perjuangan. 
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(Rendra, 1984)

Bagaimana aku bisa sampai pada titik ini? Seringkali sebelum tidur, aku ingat-ingat kembali langkah-langkahku, “Oh ternyata aku sudah melewati itu semua, tapi tentu saja jalan masih sangat panjang.” Meski dalam langkah kaki ini seringkali harus kulewati kerikil tajam, bahkan potongan-potongan kaca yang mencabik telapak kaki. Namun tahukah kau, Syafi’i pernah berkata bahwa manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang. Ya, di situlah aku banyak sekali belajar tentang bersabar dan bersyukur. 

Sabtu, 12 April 2014

Melepas


Apa esensi “sumarah” “tawakal” dan “kenapa kita harus berserah”? Sudah enam bulan aku memikirkan hal ini. Beberapa referensi aku coba pahami mulai dari buku Kejawen, pemahaman Siddharta, sampai pada buku-buku Islam ala Aa Gym dan Yusuf Mansur. Semua mengatakan bahwa, jalan menuju kedamaian hidup adalah keberterimaan, kepasrahan, dan menjalani semua dengan kesabaran. 

“Kenapa?” tanyaku dalam hati. “Mengapa justru ketika kita tak merelakan harapan kita justru kita akan memahami betul hakikat memiliki?” Bahkan aku masih bertanya-tanya mengenai nasihat seniorku di kantor. “Meina, bila kau menjatuhkan hati pada seseorang. Lepaskanlah. Bila ia jodohmu maka ia akan kembali kepadamu.” Diktum “romo” itulah yang selalu menjadi tanda tanya besar hingga malam ini akhirnya aku menemukan cahaya penerang.

Analoginya hampir sama dengan kejadian dua tahun yang lalu ketika aku selalu mengalah pada teman-temanku yang mendaftar pekerjaan sebagai guru les, ketika aku mengalah tak mengajukan beasiswa, atau harapan dan kesempatan lain yang rela kau bakar lalu abunya kau biarkan terbawa angin tak bersisa. Kita tak pernah tahu sebelum akhirnya langkah-langkah kecil kita sampai pada suatu titik yang mana akhirnya aku menyadari bahwa aku sudah mendapatkan jauh yang lebih besar dari apa yang sudah aku relakan itu. Menjadi dosen mungkin sebuah hadiah Tuhan dari kerelaan melepaskan kesempatan menjadi guru les. Bukan, bukan maksudku merendahkan guru les dan menganggap dosen adalah hal yang lebih prestisius, kenapa?

Senin, 10 Februari 2014

Menjelang 24

“Kapan menikah?” sepertinya jadi pertanyaan yang lazim terucap pada perempuan usia di atas 23. Setahuku di Indonesia, apalagi di Jawa usia 23 sampai 25 adalah usia yang paling banyak dipilih perempuan untuk menikah. Mengapa?
Mungkin pertimbangan yang utama adalah faktor produktivitas biologis, budaya, dan agama. Faktor produktivitas biologis mungkin jadi faktor yang seolah-olah terlihat paling mendesak, aku pernah dengar kalau perempuan dianjurkan untuk tidak melahirkan pada usia lebih dari 35 tahun. Kalau dilihat dari faktor budaya, ini juga dipengaruhi oleh faktor yang pertama tadi. Aku lebih menganggap faktor ini merujuk pada beban sosial, perempuan yang berusia lebih dari 30 dan belum menikah maka cap “Perawan tua” akan menancap pada dirinya, siapa yang tak sedih? Faktor yang terakhir adalah agama. Sebenarnya agama seharusnya menjadi yang nomor satu, tapi entahlah, jarang sekali ada yang menggunakan alasan ini pada kasus “Mendesaknya pernikahan”.
Suatu sore kudengar seorang ibu menelepon anak perempuannya, “Ibarat bunga, perempuan yang berusia lebih dari 25 tahun sudah menjadi bunga yang layu, mana ada kumbang yang mau hinggap.”
Gadis itu terdiam.
“Ingat, kamu sudah hampir 24. Besok kamu berkenalan dengan seorang pria, dia……”
Gadis itu tetap terdiam, dia pun tersenyum. Sesaat kemudian setelah menutup teleponnya, tangisnya pecah, pikirannya menjelajah pada suatu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, perjodohan.

Kamis, 02 Januari 2014

Berserah

Ketika aku gantungkan puncak harapanku pada-Nya, aku tambatkan cinta pada-Nya, bahkan semua urusanku pada-Nya. Bukan, bukan sebab aku egois tak mau menanggung urusanku sendiri tapi aku yakin itulah bukti cintaku pada-Nya. Ada hal yang tidak bisa kita selesaikan dengan menguras pikiran kita, menggerakan tangan kita, mengayunkan kaki kita, dan memeras keringat kita. Hal yang tak bisa disentuh oleh manusia, hal yang sangat mendalam dan hakiki : cinta. Ya, itulah anugerah terindah dari-Nya. Tak bisa direkayasa, apalagi dipaksa.
Entah kenapa hari itu terasa sangat indah. Langit pagi itu tetap sama, berwarna biru, bukan merah muda laksana orang jatuh cinta. Jalanan di Jakarta kala itu tetap sama, seperti yang biasa aku lihat di televisi, tidak tergelar karpet merah. Gedung-gedung pencakar langit pun tak ada yang beda, masih terlihat jemawa dan kapitalis. Perspektif dan subjektivitaskulah yang membuatnya sangat indah. Pagi itulah yang membuatku belajar tentang makna “berserah”, bukan “menyerah”.
Lelaki yang datang dengan rambut tak bersisir dan rela menuntun sepeda motorku saat ban motorku bocorlah yang sebenarnya kucari, bukan lelaki maha sempurna. Lelaki yang mengirimiku surat via pos ketika aku berulangtahunlah yang kutunggu, bukan lelaki yang memberiku barang-barang mahal tapi tak bermakna. Sebab, setiap keputusan harus beralasan, dan alasan tentu punya dasar; pertimbangan; sudut pandang. Dan, sayangnya kadang hal itu berlaku secara subjektif dan asumtif.

Sabtu, 20 April 2013

Sosok Istimewa (3)


Lanjutan dari : Sosok Istimewa dan Sosok Istimewa (2)
 
Sore itu, aku dikejutkan dengan sebuah paket berwarna cokelat. Paket yang sebenarnya aku tahu bahwa itu dikirimkan oleh teman sekamarku ketika kuliah S-1, Nita. Semenjak tahun 2008 kami memang punya ritual untuk memberikan kado ketika berulang tahun. Ulang tahunku sudah lewat cukup lama, Nita sudah berulang kali menanyakan, “Kamu mau kado apa?” Namun, tak jarang aku melewatkan SMS-nya, entahlah. “Nita, cuek itu bukan berarti tak peduli, aku hanya tidak ingin merepotkanmu,” batinku.

Bukan Nita namanya kalau tak protes denganku, luluh juga hatiku. “Iya Nit, aku pengin rok, tapi yang panjang, rok pemberianmu tahun lalu terlalu cungklang untukku,” begitu kira-kira balasan SMS-ku. Nita pun semakin rajin mengirimiku SMS untuk menanyakan model rok apa yang aku kehendaki, tapi dasar Mina, lagi-lagi aku jarang membalas SMS-nya. “Ngapain juga tanya-tanya, aku bukan orang yang ribet dalam memilih barang belanjaan,” kataku dalam hati.

Kami memang berbeda, apa lagi kalau sedang berbelanja. Aku suka belanja tapi bukan tipe orang yang ribet. Berbeda dengan Nita, ia harus berkeliling dari Toko A sampai Z baru menentukan pilihan, tak jarang pilihannya jatuh ke Toko A, alhasil kita harus putar balik. Dengan keadaan yang seperti itu, biasanya aku melancarkan aksi cemberut, tapi hilang sudah rasa jengkel kalau sudah disumpal traktiran oleh Nita, apalagi segelas teh susu Tong Tji. Nikmat sekali.

Aku masih saja berlaku cuek. Dia sudah sangat paham tabiatku, kalau cuek berarti Mina sedang terlalu banyak pekerjaan. Lama sudah dia tak SMS, hingga datanglah paket itu, aku membukanya dengan sangat hati-hati.

Selasa, 12 Februari 2013

Cuma Tentang Benih



Cerita Pertama

Ada sebuah pohon yang sangat rindang. Selain itu, ia juga memiliki akar dan batang yang kuat dan dahan yang menjulang tinggi. Dua buah benih ingin sekali menjadi seperti induknya.
“Hai saudaraku apakah kau ingin menjadi pohon yang rindang, tinggi, dan kuat seperti induk kita?” tanya sebuah benih.
“Ya tentu saja, bahkan aku ingin jauh melebihi induk kita,” jawab benih yang lain.
“Tapi bagaimana caranya?”
“Tentu saja dengan pergi jauh dari induk kita.”
“Kenapa harus begitu? Aku takut jika harus tumbuh dan pergi jauh, aku tak yakin bisa bertahan hidup, jangan-jangan nanti aku dimakan hewan, aku pun tak bisa tumbuh.”
“Kenapa harus takut? Baiklah aku akan membiarkan diriku tertiup angin dan aku akan tumbuh di tanah yang jauh.”
Puluhan tahun kemudian benih yang jatuh tidak jauh dari induknya ternyata tidak tumbuh lebih besar dari induknya. Tentu saja bisa begitu, ia harus berbagi zat hara dan air tanah dengan sang induk. Ia pun hidup biasa-biasa saja.
Lain halnya dengan benih yang lain. Ketika angin mendaratkannya pada sebuah tanah ia dapat tumbuh dengan subur  tanpa harus berbagi air dan zat hara. Ia pun tumbuh jauh lebih tinggi dan besar dari induknya.
Seorang bijak pernah berkata, “Benih yang jatuh di bawah pohon induknya tidak akan tumbuh melampaui induknya.”

“Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan penggantidari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” (Imam Syafii)

Cerita Kedua
Alkisah terdapat dua orang yang sedang beristirahat di bawah sebuah pohon yang rimbun. Mereka adalah seorang ayah dan anaknya yang berbadan kecil. Dua orang itu tampak sangat lelah setelah berdagang. Puas beristirahat, sang anak bertanya pada ayahnya, “Ayah apakah suatu saat aku bisa menjadi orang yang kuat seperti Ayah?”

Senin, 17 Desember 2012

Sosok Istimewa (2)

Lanjutan dari Sosok Istimewa 

Kita hidup di dunia seperti mampir (berhenti sejenak) untuk minum seteguk dua teguk air, begitulah perumpamaannya. Kita adalah pengembara yang menempuh perjalanan jauh.

Angin yang berhembus kala itu di Kota Semarang, gerimis yang menemani perbincangan kami, sepasang sahabat. Sembari memakan beberapa irisan Mangga Harum Manis yang ia bawa dari tanah Tidar. “Aku sengaja membawakan makanan buat anak kost,” katanya padaku. Aku tersenyum senang, sembari sedikit berjingkrak dari tempat dudukku.
“Bagaimana kehidupanmu sekarang Nit?” tanyaku tanpa memalingkan wajah dari komputer jinjing di hadapanku.
“Ya begitulah Min, nggak bisa kemana-mana, ibu kan keluar masuk rumah sakit terus,” jawab Nita.
Aku memalingkan wajah. “Tapi sekarang sudah sehat kan?”
“Lumayan Min, sudah di rumah tapi sekarang beliau bergantung sekali padaku.”
“Maksudmu?” tanyaku mulai serius.
Aku dan Nita adalah teman sekamar sejak tahun 2008 sampai 2012. Bahkan orang tua kami sudah saling mengenal baik. Semenjak aku wisuda, aku memutuskan untuk pindah kos. Namun, bukan berarti komunikasi kita terputus sampai di situ. Beberapa bulan ini kami mulai jarang berkomunikasi ya, paling tidak seminggu dua kali kami saling mengirim sms. Kadang pula kami saling menelpon. Entahlah, mungkin aku pantas untuk mengutuk diri. Semenjak aku terjebak pada rutinitasku yang memuakkan, untuk kuliah dan bekerja, aku dan Nita pun semakin jarang berkomunikasi. Sekali dua kali dalam sepekan dia mencoba menghubungiku, kadang aku ogah-ogahan untuk membalasnya. Begitu pula dengan dia, kalau aku kesepian dan mencoba menghubunginya terkadang pesanku dijawab begitu lama. Dia juga sudah terperangkap dalam kesibukkannya. 

Jumat, 14 Desember 2012

Mozaik “The Professor”


Sumber
Sebuah mozaik kehidupan beberapa guru besar yang aku rekam dari perbincangan bersama sosok-sosok luar biasa itu. Insyaallah pada bulan Maret sekaligus untuk memperingati Dies Natalis, akan diterbitkan buku dengan judul “The Professor” yang merupakan kumpulan kisah hidup guru besar-guru besar se-Universitas Negeri Semarang. Tujuan pembuatan buku itu adalah untuk menginspirasi para mahasiswa dan dosen agar bisa terus belajar melalui perjalanan hidup tokoh-tokoh tersebut.

Prof Fathur Rokhman
Mengapa hanya ada satu orang ahli rayap di Indonesia? padahal jumlah rayap sangat banyak. Mengapa hanya ada tiga orang ahli buaya di Indonesia? padahal sebagai Negara tropis, banyak sekali buaya yang hidup di Indonesia. Jika orang-orang berjualan soto, mengapa kita harus berjualan soto? Bukannya takut bersaing, hanya saja jadilah yang berbeda. Carilah resep membuat bakso, dan berjualanlah bakso. Ia tidak dilahirkan sebagai orang yang cerdas. Bahkan ketika ia mendaftarkan diri sebagai siswa di SMA 1 Purwokerto, sebuah sekolah favorit di Banyumas, ia tidak diterima karena nilai yang ia punya tidak memenuhi standar. Ia pun berjalan kaki dari Purwokerto menuju Sokaraja yang berjarak sepuluh kilometer. Ia ingin merasakan betapa susahnya menjadi orang bodoh. Saat ini berkat kerja keras dan ketekunannya ia berhasil menjadi guru besar bidang Sosiolinguistik. menurutnya dosen yang baik itu tidak hanya menghabiskan waktunya di kelas. Dosen yang baik itulah yang mengajar melebihi jam di kelas, artinya ia membuka waktu kapan saja untuk menerima konsultasi dari mahasiswa. Tidak hanya itu, dosen harus memiliki penelitian-penelitian yang mengagumkan dan mampu menginspirasi mahasiswa-mahasiswanya.

Jumat, 05 Oktober 2012

Jangan Ragukan Kekuatan Berkah

Source


Teman-temanku yang akan wisuda sedang heboh-hebohnya karena ada satu anak yang sebenarnya ia bukan seorang aktivis, tapi sengaja menandai dirinya pada daftar nama wisudawan aktivis. Sontak teman-teman yang benar-benar aktivis tidak terima, mereka menganggap bahwa kerja keras mereka selama ini dihargai dengan sangat murah, bahkan tidak dihargai. Seseorang yang tak aktif saja dapat dengan mudahnya mencantumkan namanya di daftar aktivis, lalu apa guna kerja keras selama bertahun-tahun?
Baiklah, sebenarnya apa sih yang akan didapatkan dari sebuah julukan “wisudawan aktivis?” bukankah hanya selembar kertas berbentuk sertifikat? Memang sih di negara kita masih mengultuskan sesuatu yang hanya dilambangkan dengan hitam di atas putih. Namun, sahabat coba kau renungkan lagi tentang esensi dari selembar kertas. Bukankah julukan hanyalah sebagai julukan. Lalu apa yang kau dapatkan selama ini, ketika kau benar-benar menjadi seorang aktivis pelajaran kehidupan, manajemen diri, kepemimpinan, bahkan sahabat. Lalu apa yang dia dapatkan ketika dia mendapatkan sertifikat wisudawan aktivis? Dan apakah ada kerugian bagimu ketika dia mendapatkan julukan itu?
Percayalah dengan yang disebut berkah. Opo sing koe tandhur bakal ngunduh.

Jumat, 21 September 2012

Mantra Baru : Man Shobaro Zhafiro

-->
Source


Masih ingat postingan aku edisi galau yang ini? Ketika dua minggu itu aku meratapi nasibku sebagai seorang pengangguran intelektual akhirnya saat ini aku mendapatkan jawaban dari segala gundah gulanaku, halah. Setelah aku memutuskan untuk meluruskan niatku bahwa mencari pekerjaan tidak semata-mata karena alasan material, bahwa ada yang jauh lebih berharga daripada urusan duniawi, yaitu kebermanfaatan bagi orang lain. Tak bisa dipungkiri bahwa manusia ingin selalu menjerit ketika segala usaha yang telah dilakukannya ternyata belum jua berbuah. Baiklah, rupanya benar apa yang dikatakan Bang Fuadi, antara usaha dan terkabulnya keinginan itu ada jarak, dan untuk mengisi jarak itu yang dibutuhkan adalah kesabaran. Tuhan akan selalu menjawab pertanyaan manusia, tapi kadang manusia yang terlalu bodoh untuk memahami maksud Tuhan, butuh waktu dan perenungan yang mendalam untuk menafsirkannya.
Tidak sampai 24 jam ketika aku memutuskan untuk mengubah mind setku untuk bekerja demi mengamalkan ilmu, tiba-tiba ponselku berdering, dari layar handphoneku tertulis dengan jelas bahwa yang memanggil adalah kantor jurusan. Setelah aku angkat dan aku berbicara dengan orang di seberang sana rasanya seperti ada sesuatu yang jatuh di kepalaku, besok pagi pukul 07.00 aku diminta untuk mengajar di depan tiga kelas dengan total 150 mahasiswa pada Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia. Entah kenapa tiba-tiba aku langsung saja menerima amanah itu, bagiku itu adalah sebuah tantangan. Ya, meskipun hanya mengajar 6 SKS, dan posisiku hanya sebagai dosen pengganti karena Bu Uum harus pergi ke Rusia.

Jumat, 07 September 2012

Hari Ini Aku Terlahir Kembali



Hari ini aku telah terlahir kembali. Bukan, bukan karena hari ini ulang tahunku, bukan pula karena aku baru saja siuman dari tidur panjang. Sungguh, sungguh ini dinamakan proses pembelajaran dalam kehidupanku. Bahwa trial and error itu memang ada, bahwa hakikat hidup adalah mencoba,dan kemudian belajar dari kesalahan. Well kita tak perlu menjadi orang yang terus mengalami kesempurnaan dalam hidup karena memang tak ada orang yang sempurna. Namun, menyempurnakan hidup itu bisa dilakukan walaupun hidup ini jauh dari sempurna, maka bersyukurlah.
Hari ini aku merasakan betul bahwa dua minggu aku benar-benar berubah dan tak menjadi sosok aku yang sebenarnya. Aku menjadi orang yang suka menyendiri di kamar, asik dengan duniaku, rasanya malas sekali berinteraksi. Aku pun mulai menyibukan diri sendiri dengan melakukan kegiatan-kegiatan aneh, sedangkan malam harinya aku pun tak mudah terlelap. Yah, aku punya masalah, tapi sebenarnya tak pantas disebut sebagai sebuah masalah yang besar, hanya saja aku belum berhasil berdamai dengan diriku sendiri. Kata teman-temanku aku adalah orang yang sangat idealis, tak sedikit yang menganggap bahwa aku orang yang perfectionist, sangat struktural, terlalu sistematis, terlalu banyak pertimbangan, dan kurang berani menghadapi tantangan.

Rabu, 22 Agustus 2012

Dengan Menyebut Nama Allah


Dengan menyebut nama Allah
Jalani hidupmu
Yakinkan niatmu
Jangan pernah ragu

Dengan menyebut nama Allah
Bulatkan tekadmu
Menempuh nasibmu
Kemanapun menuju

Serahkanlah hidup dan matimu
Serahkanlah pada Allah semata
Serahkanlah duka gembiramu
Agar damai senantiasa hatimu

(Dengan Menyebut Nama Allah)


Dulu aku mengira lagu itu hanya angin lalu atau lagu tang ngetrend ketika bulan Ramadhan. “Mungkin karena tuntutan usia” aku mulai mencoba meresapi setiap apa yang ada di sekitarku atau setiap hal yang terjadi padaku. Kalau kata Aa Gym : “Jangan pernah berharap pada manusia karena yang akan didapat hanyalah perasaan gelisah, berharaplah sepenuhnya pada Allah.”

Kamis, 16 Agustus 2012

Al Mu'minuun



Assalamu’alaikum warrahmatullahiwabarakatuh,

Yang membuat seseorang semakin bersyukur, salah satunya dengan cara berkunjung ke tempat yang membuatmu melihat indahnya dunia.
“Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” [Ibrahim : 7]

Al Mu'minuun

Kamis, 12 Juli 2012

Laki-laki Biasa yang Luar Biasa



Mungkin inilah yang dinamakan cobaan. Kemarin tanggal 8 Juli, kakakku baru saja kehilangan calon anaknya karena kakak iparku keguguran. Jika tangisku dapat kutukar dengan kembalinya ia calon keponakanku maka aku rela menangis semalaman, tapi apa dikata? Semua sudah suratan-Nya. Kami yakin inilah yang terbaik bagi kami, semoga kakak kami segera mendapat penggantinya.
Hati ini sungguh berdesir ketika kemarin sore aku mengunjungi kakak iparku. Kakakku dengan telatennya memijat kaki istrinya, memakaikannya kaus kaki, dan tak letih menghiburnya. Aku bangga dengan kakakku atas segala ketegarannya.
Kakakku memang orang yang biasa, bahkan jika kau mengenalnya, sungguh ia orang yang sangat-sangat biasa, tapi kau tahu, aku sudah menemukan sesuatu yang luar biasa darinya, bahkan jika kau tak melihatnya.
Coba kamu baca cerita ini, aku tulis dulu waktu tahun 2010 terinspirasi dari cerpen Asma Nadia.

Sabtu, 16 Juni 2012

Inspirasi dari Sepatu Dahlan


Malam ini, sesak rasanya napas ini.
Setelah melihat Kick Andy Show, dan Bapak Dahlan Iskanlah yang menjadi bintang tamu malam ini. Jujur meskipun media sempat memberitakan beliau begitu gencarnya bahkan dianggap sebagai tokoh yang kontroversional tapi aku tak berminat untuk mencari tahu siapa sebenarnya beliau. Baru malam ini, aku menemukan sosok yang benar-benar pantas disebut sebagai inspirator.
Dulu beliau hanya seorang anak miskin yang tak memiliki sepatu hingga Aliyah kelas 2, tapi siapa sangka kalau sekarang anak itu sudah menjelma menjadi seorang Menteri BUMN. Seorang manusia yang sudah pernah divonis akan meninggal dunia enam bulan lagi serta telah mengalami transplantasi hati, tapi siapa sangka saat ini terlihat begitu sehat.
Kata Pak Dahlan, “Saya merasa bahagia ketika dulu saya hidup miskin, entah kenapa saat ini orang miskin terlihat sangat sengsara.”
Itulah yang membuat hati saya bergetar.