Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

Tentang Pencarian Jati Diri



“Saya pernah hampir gila waktu mempelajari hal ini,” kata seorang ustaz yang belajar ilmu filsafat islam sampai jenjang doktoral. Pernyataan itulah yang terus menghantuiku, bahkan sampai terlintas pemikiran bodoh, “Opo aku kudu edan sik ben nemu sopo aku? Opo agamaku?”

Obrolanku semalam via BBM dengan sahabatku, Yosnia, tentang makna Islam, Islami, keislam-islaman, dan keislaman pun yang masih terbayang-bayang sampai saat ini. Apakah Islam sama dengan Islami? Samakah dengan keislam-islaman dan keislaman? Bagaimana hakikatnya? Lalu, “Apakah kau menganut agama? Memeluk agama? Atau bersetubuh dengan agamamu?”

Pengajian tadi pagi di TK ABA juga membuatku semakin dalam memikirkan tentang teka-teki ini. Ada tiga hal yang diberantas Akhmad Dahlan dalam perjuangannya yakni taqlid, bid’ah, dan khufarat. Islam tidak menganut paham tahayul atau hal-hal yang mengultuskan suatu hal selain Allah. Islam tidak mengajarkan tentang perhitungan pernikahan, ramalan, dan hal-hal yang mengarah pada kesyirikan.

Kamis, 22 Agustus 2013

Nguri-uri Budaya Melalui Museum Desa


Kesenian Kentongan

Pada hari Minggu, 4 Agustus 2013, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas. Dermaji merupakan sebuah desa yang terletak di Kabupaten Banyumas bagian barat. Saya mendapatkan informasi tentang desa tersebut dari internet dan komunitas Blogger Banyumas. Saya merasa sangat senang, sebab jarang sekali ada pemerintah desa atau warga yang berinisiatif untuk mengabadikan dan menuliskan tradisi yang masih dijalaninya dalam bentuk website desa yakni http://dermaji.desa.id.
Mulanya, saya yang notabene masih berstatus menjadi mahasiswa mendapat tugas dari dosen saya untuk mencari informasi tentang tradisi lisan yang masih berkembang di Kabupaten Banyumas. Banyumas merupakan salah satu daerah yang sangat kaya akan budaya. Warga Banyumas memiliki keunikan identitas kultural berupa cablaka dan blakasuta yang berarti tindakan yang tanpa ditutup-tutupi. Identitas kultural itu tercermin dalam berbagai tradisi yang berkembang di Banyumas. Menurut saya, akan sangat sia-sia jika Banyumas yang sangat “kaya” itu kemudian kehilangan identitasnya karena tak ada upaya untuk melestarikannya. 

Sabtu, 18 Agustus 2012

Bicara tentang Seni, Bahasa dan Sastra


Jika bicara tentang benar dan salah maka ilmu pengetahuan jawabannya,
Jika bicara tentang baik dan buruk maka karakter jawabannya,
Jika bicara tentang indah atau jelek maka seni jawabannya.

Source
Bicara soal keindahan atau estetika maka jawaban yang akan muncul tidak akan jauh-jauh dari seni. Banyak sekali orang yang sangsi tentang manfaat belajar seni, apa lagi sastra juga ilmu bahasa. Belajar sastra juga belajar tentang keindahan, karena seni dan sastra itu memiliki ikatan yang cukup erat, begitu juga antara sastra dan bahasa.
Karena dalam seni dan sastra ada istilah ekspresi dan apresiasi maka keduanya memiliki hubungannya saling berkait, seringkali orang mengekspresikan sastra dengan berkolaborasi dengan seni, seperti pementasan drama dan musikalisasi puisi. Begitu juga ketika orang menyuguhkan pentas seni, mereka menari dan menyanyi, sebenarnya mereka pun sedang berakting, itulah kenapa sebuah pementasan yang bernilai yang tinggi acap kali menggabungkan antara seni tari, drama, dan musik. Sama halnya dengan sastra dan bahasa memiliki ikatan seperti saudara otak dan alat gerak. Bahasa adalah sarana dalam bersastra. 

Senin, 18 Juni 2012

Jangan Malu Mengakui Diri Sendiri


“Saat ini banyak sekali orang yang malu mengakui diri sendiri. Bila kita orang Banyumas maka akuilah juga budayanya. Jangan malu untuk bicara dengan dialek Banyumasan karena sebenarnya itu adalah jati diri kita.”
“Anak muda zaman sekarang jangan hanya pasrah dan prihatin melihat keadaan yang semakin memburuk. Sudah saatnya anak muda melanjutkan perjuangan untuk membawa perubahan.”
Itulah kira-kira simpulan dari silaturahim singkat selama satu jam di rumah Bapak Ahmad Tohari.
Menurutku benar juga. Kadang orang malu untuk mengakui dirinya sendiri.
Lingkungan adalah cermin diri kita. Senang sekali bertemu dengan orang hebat macam beliau. Semoga perjuangan bapak dapat menginspirasi kami.

Selasa, 12 Juni 2012

Belajar Mencintai Budaya Sendiri

Berawal dari BBM dengan sahabatku Papito, kami memulai pembicaraan dengan topik yang nggak penting hingga akhirnya membahas perihal budaya. Aku sering minta rekomendasi lagu dangdut koplo atau campur sari yang bagus pada dia, hingga akhirnya kami berdiskusi tentang tembang dan gending Banyumasan yang sudah mulai dilupakan anak muda zaman sekarang. Kata Papito, dia sangat sulit menemukan web yang menyediakan fasilitas unduhan tembang atau gendhing Banyumasan. Dulu memang aku sangat anti dengan lagu-lagu macam itu, apalagi sejenis dangdut, campur sari, atau gendingan. Tapi ketika aku melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan dan hampir semua temenku adalah orang Pantura, mereka dengan bangganya menyanyikan dangdut koplo yang memang menjadi kesukaan mereka. Yah, dari situlah kemudian aku berpikir, jika bukan kita yang melestarikan "lagu" kita sendiri, lalu siapa lagi? Mungkin waktu pertama kamu dengerin berasa aneh, tapi lama-lama enak juga kok. Hehehe. Ada dua lagu yang lagi jadi favoritku Caping Gunung dan Kembang Glepang, Cekidot ya. . .