Setelah melihat Kick Andy Show, dan Bapak Dahlan Iskanlah
yang menjadi bintang tamu malam ini. Jujur meskipun media sempat memberitakan
beliau begitu gencarnya bahkan dianggap sebagai tokoh yang kontroversional tapi
aku tak berminat untuk mencari tahu siapa sebenarnya beliau. Baru malam ini,
aku menemukan sosok yang benar-benar pantas disebut sebagai inspirator.
Dulu beliau hanya seorang anak miskin yang tak memiliki
sepatu hingga Aliyah kelas 2, tapi siapa sangka kalau sekarang anak itu sudah
menjelma menjadi seorang Menteri BUMN. Seorang manusia yang sudah pernah divonis akan meninggal dunia enam bulan lagi serta telah mengalami transplantasi hati, tapi siapa sangka saat ini terlihat begitu sehat.
Kata Pak Dahlan, “Saya merasa bahagia ketika dulu saya hidup miskin,
entah kenapa saat ini orang miskin terlihat sangat sengsara.”
Ketika membuka catatan lama, tiba-tiba menemukan ini, semoga bermanfaat.
Waktu itu
aku mendapat amanah untuk menjadi panitia dalam sebuah seminar. Sudah begitu
lama aku menunggu pembicara utama datang. Setelah cukup kepanasan tiba-tiba
datang seorang ukhti mendekatiku, dia menjabat tanganku erat. Waktu itu aku
masih terbengong dan tak menyangka karena dia adalah pembicara utama dalam
seminar itu. Dia berjalan dengan dibantu tongkat penyangga, kakinya terlihat
begitu lemah dan dengan ukuran kaki yang berbeda satu dengan kaki lainnya. Dia
cacat. “Subhanallah” dalam hatiku bertutur.
Senyumnya
mengembang dia berkata, “Perkenalkan nama saya Mimin. Siapa nama Mbak?”
“Nama saya
Fibri,” jawabku singkat. Kulihat dia meninggalkanku menuju podium utama. Ketika
Mimin melangkah di depan peserta seminar (tentu dengan dibantu oleh panitia)
hampir semua peserta seminar berdecak, “Subhanallah.” Mungkin para peserta tidak
menyangka bahwa pembicara utama adalah seseorang yang penuh dengan
keterbatasan.
Mimin
membuka seminarnya dengan suara yang mantap. Sungguh dengan kekurangannya,
tidak berpengaruh apapun pada kemampuannya yang luar biasa.
Dulu pada tahun 1983 Ajahn dan
beberapa biksu membangun sebuah wihara dengan tenaga mereka sendiri. Rupanya untuk
membuat suatu bangunan dengan pondasi dan kuat dan indah, tidak hanya
membutuhkan tenaga yang luar biasa, tapi juga pikiran ikut terkuras. Setelah berusaha
dengan sangat keras, akhirnya Ajahn berhasil membuat sebuah tembok yang
tersususun dari batu bata. Dia sangat senang karena hasil kerja kerasnya
berbuah manis. Rupanya senyum Ajahn tak bertahan lama, ia melihat dua buah bata
yang tak tersusun dengan apik. Karena dua bata itu, tembok yang ia bangun
menjadi sangat aneh. Ah tapi ini terlalu terlambat untuk membongkar tembok itu,
semen yang tertempel di sana sudah sangat merekat dengan kuat. “Itu benar-benar
pekerjaan yang gagal,” batin Ajahn.
Tiap kali ada orang yang
bekunjung ke Wihara, Ajahn selalu mengalihkan perhatian mereka sehingga mereka
tidak melihat tembok yang ia bangun. Hingga suatu hari ada seorang pengunjuk
yang tanpa sengaja melihat tembok itu dan dengan santainya ia mengatakan bahwa
betapa indahnya tembok itu. Sontak Ajahn sangat terkejut, “Apanya yang indah,
lihatlah dua bata yang merusak pemandangan kita, dua bata itu tak tersusun rapi
dan membuat tembok terlihat sangat aneh.”
Bersama Nurul, Bu Nur, dan salah satu anak down syndrom
Berpose bersama anak-anak down syndrome dan tunagrahita ketika jam istirahat
Yeah, akhirnya hari itu aku ke YPAC (Yayasan Penyandang Anak Cacat) juga, setelah vakum selama dua minggu karena ngurusi lomba di kampus. Alhamdulillah kemarin waktu aku ke sana semua masih sama. Mereka masih terlihat ceria tanpa beban masalah, menikmati hidup dengan penuh senyuman yang menenangkan.
Jadi lupa, dulu aku pernah berjanji akan menceritakan pengalamanku ketika melihat mereka beraksi di ruang kesenian. Subhanallah ternyata mereka juga sangat lihai bermain alat musik, bernyanyi, dan jago berpantomim walau kenyataannya ketika mereka dihadapkan dengan angka dan huruf, mereka tak mampu berkutik, bahkan untuk mengurutkan 1-10 pun suatu ancaman untuk mereka.
Lama tak berkunjung rupanya tak menjadi masalah bagi Bu Nur, beliau masih setia menyambut kami dengan keramahannya yang super. Hari itu kami disuruh masuk ke dalam kelas, beliau bercerita berbagai pengalamannya dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus. Rupanya anak berkebutuhan khusus itu secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu anak yang cacat secara fisik (tunarungu, tunanetra, tunadaksa) dan anak yang mengalami keterbelakangan mental. Di YPAC, anak yang memiliki gangguan mental diantaranya anak autis, anak tunagrahita, dan anak down syndrom. Aku paling berminat untuk menyusuri lebih dalam tentang anak yang menderita down syndrom. Di sana aku melihat banyak sekali anak yang memiliki tipe wajah yang hampir sama, rupanya merekalah yang menderita down syndrom, karena gangguan tersebut membuat mereka meiliki tipe wajah yang khas (wajah kembar terbanyak di dunia). Anak-anak down syndrom memiliki kecerdasan yang sangat rendah, bahkan lebih rendah dari anak tunagrahita (idiot).
Aku baru sadar bahwa Riski (anak yang sangat lihai berpantomim) juga memiliki wajah yang khas. Ahh. . .ternyata benar, dia adalah penderita down syndrom. Dia sebenarnya sudah berusia 17 tahun, tapi badannya yang gempal dan mungil membuatnya terlihat sangat awet muda, bahkan dulu kali pertama bertemu aki mengira dia berusia 12 tahun. Di kelas dia tidak bisa membaca dan berhitung, tapi kata Bu Nur sekarang Riski sudah mengalami kemajuan, dia sudah bisa menulis di garis yang lurus dan dia sudah bisa melengkapi seretan angka yang rumpang, subhanallah. . Semangat Riski. ^_^
Aku sangat ingin menyusuri tentang kehidupan pribadi anak-anak yang berkebutuhan khusus, terutama tentang kondisi keuangan keluarga, saat mereka jatuh cinta, dan bagaimana dengan masa depan mereka. Menurut Bu Nur, tidak semua siswa SLB itu berasal dari keluarga yang mampu, banyak diantara mereka yang manunggak biaya bulananan, bahkan ada yang sampai berjuta-juta. Riski pun berasal dari keluarga yang kurang mampu. Hal yang paling seru untuk diperbincangkan adalah gaya pacaran mereka. Anak yang down syndrom dan tunagrahita rupanya juga memiliki selera, mereka dapat menentukan orang yang pantas menjadi pacar mereka, atau tidak. Hal yang cukup menakutkan adalah kecemburuan yang mereka punya. Ketika mereka melihat sang pacar sedang bersama orang lain maka mereka tak sungkan-sungkan untuk meluapkan emosinya, memukul orang yang sedang di dekat pacar, atau marah-marah tidak jelas.
Di antara anak-anak tersebut ada juga yang nge fans dengan Charly ST 12, kemana-mana yang dibawa adalah foto Charly, kalau belajar sammbil melihat foto Charly, dia langsung semangat, hmm andai Charly tahu semua ini, hihihi. Selain itu, mereka ada juga yang berprestasi menjadi juara dalam bidang olah raga, kesenian, dan ada juga yag sudah masuk dapur rekaman, subhanallah, semangat ya. . .
Nah, ini dia yang aku tunggu-tunggu, ada bocoran nih. Insya Allah tanggal 10 April pukul 08.00, kami akan mengundang Riski untuk pentas di Unnes yaitu di gedung B1 106 dalam rangka untuk membuka seminar “Pengajaran Apresiasi Sastra dan Mengenang Alm. Bapak Suharianto”yang akan disaksikan oleh ratusan guru dan mahasiswa. Kami akan menunjukkan pada dunia bahwa anak berkebutuhan khusus juga bisa berkarya.
Untuk Riski dan teman-teman yang luar biasa, semangat sayang, dunia tidak akan kiamat karena keterbatasanmu. Jadilah orang yang luar biasa karena segala kekurangan yang kamu punya. Tersenyumlah dan jadilah mutiara bagi orang tuamu. Riski, Jadilah pementas pantomim terbaik sedunia, jadilah cerdas di mata kami, dan buktikan pada dunia. Berkaryalah.
Alhamdulillahirabbil’alamin atas karunia-Mu aku masih dapat memainkan jari-jariku di malam super bulan ini dengan segala hal luar biasa yang telah Engkau titiskan.
#1
Hari pertamaku di YPAC Semarang
Hari itu Jumat 18 Maret 2011, aku dan teman sekamarku (Faknita Utami) melaju dengan motor Supra AA 3425 BK menuju YPAC Semarang (Yayasan Penyandang Anak Cacat), kami sampai di sana pukul 11.30. Kemudian aku segera menuju ke ruang loket untuk menanyakan tentang keterampilan pantomim yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus. Ibu loket meminta kami untuk menunggu sampai pukul 13.30 karena SLB (Sekolah Luar Biasa) baru akan dimulai, dan Bu Nur, guru yang dapat melatih pantomim bagi siswa SLB baru akan datang pada jam tersebut. Karena masih lelah, aku dan Nita memutuskan untuk beristirahat sebentar di depan YPAC, dan sungguh aku mendapat pemandangan yang membuat hati miris. Di depanku terpampang pintu dengan tulisan “Ruang Fisioterapi” dan seorang anak dengan kaki kurus duduk di depan sepeda motor, tampak bapaknya kemudian menjunjung anak itu ke ruang Fisioterapi. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan anak itu, tapi yang jelas, dia berbeda denganku. Panorama lain kemudian muncul, seorang anak SD dengan sangat lincahnya mondar-mandir dan seperti tak kenal lelah, ibunya yang sedang duduk dengan muka biasa saja, memandangi anaknya yang hiperaktif, sungguh keaktifan yang tidak biasa (autis) dan lagi-lagi aku melihat orang yang berbeda denganku.
Karena lelah menunggu akhirnya aku dan Nita memutuskan untuk jalan-jalan ke Citra Land yang kebetulan hanya berjarak 20 meter dengan YPAC. Di CL, kami menuju Alfath sebuah butik muslimah. Nita yang memang shopaholic mondar-mandir dari satu deretan baju ke deretan baju yang lain, sedangkan aku hanya duduk sambil memandangi orang belanja. Tapi eiiits pandanganku berhenti pada satu titik, yaitu seorang “embak-embak” sedang berdiri dengan anggunnya. Dia memakai gamis hijau muda yang dipadukan dengan cardigan hijau tua, memakai sepati hak tinggi, dan berkaos kaki. Wajahnya? Aduhaiiii aku melihat bidadari di Citra Land, hidungnya mancung, matanya besar, kulitnya putih, so perfecccccttooooo, sampai-sampai aku berdiri dan pura-pura melihat-lihat baju hanya untuk memandang wajah mbak-mbak itu, sungguh mengagumkan. Tapi ada yang aneh dalam diriku. “Siapa aku bila dibandingkan dengan mbak-mbak itu?” she is so perfect, aku minderrrrrr.
Akhirnya pukul 13.30 dan aku sampai lagi di YPAC. Aku meminta Nita untuk menunggu di lobi dan aku masuk ke ruang guru. Di sana aku disuruh menunggu Bu Nur datang, tak berselang lama, Bu Nur pun datang dengan menunggangi sepeda motor matic berwarna biru. Setelah Bu Nur masuk ke ruang guru, beliau menyambutku dengan begitu hangat. “Perkenalkan Bu, nama saya Meina. Saya dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes. Saya dan rekan-rekan saya (Nana Riskhi Susanti dan Nurul Basyiroh) mendapatkan kesempatan dari Dikti untuk melaksanakan program pengabdian masyarakat di YPAC semarang. Kami mendapatkan informasi bahwa di YPAC ini terdapat pelatihan pantomim bagi siswa berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, kami memiliki niat untu membuat YPAC Semarang sebagai SLB percontohan bagi seluruh SLB di Indonesia, bahwa anak yang berkebutuhan khusus juga bisa (dan berhak) untuk berkreasi, berkesenian, dan berkarya.” Tiba-tiba mata Bu Nur berkaca-kaca. “Benar, di sini ada seorang anak tuna grahita bernama Riski, ia tak bisa menulis dan menghitung, ketika saya menyuruhnya menulis dia malah bergerak-gerak seperti orang berpantomim, dia bergaya seperti sedang memakai bedak, menyisir, dan sebagainya, lalu saya arahkan saja dia. Akhirnya sekarang dia sudah pernah dipanggil pihak TVRI, berbagai mall, bahkan acara gubernuran untuk menampilkan bakatnya berpantomim.”
Subhanalloh ada aliran bening membasahi hatiku, sungguh setelah mendengar penjelasan Bu Nur aku benar-benar merasakan bahwa Allah Maha Adil.
Teng...Teng...Teng tiba-tiba lonceng tanda masuk berbunyi. “Sudah masuk jam pelajaran, ayo ikut saya kalo Mbak mau berkenalan dengan Riski.” Kata Bu Nur.
Aku lalu mengikuti langkah Bu Nur menuju ruang kelas sepanjang perjalanan kami, aku lihat berbagai anak tuna grahita asik bermain di koridor kelas, mereka tertawa riang gembira, dalam raut wajah mereka sungguh tak ada satu gores pun kesedihan.
“Haiiiiiii” sapa Bu Nur dengan seorang anak kecil (kira-kira kelas 1 SD), kemudian anak itu ikut melambaikan tangannya, ternyata dia juga tuna grahita.
Akhirnya aku dipersilakan untuk masuk kelas. Suasana di dalam kelas sungguh sangat bising, mereka sik dengan dunia mereka sendiri. “Ini Mbak yang Namanya Riski.” Kata Bu Nur. “Hai, namanya siapa?” tanyaku sambil menyodorkan tangan pada perempuan kelas 1 SMALB itu. Kemudian Riski menjawab, “Gita”. Nah lo? Rupanya anak tuna grahita kadang tidak bisa menangkap apa yang kita omongkan kepada mereka.
Karena tidak ingin mengganggu Kegiatan Belajar Mengajar, saya mohon diri. Besok aku akan ke YPAC lagi, karena kata Bu Nur anak-anak berkebutuhan khusus memiliki jadwal ektrakurikuler berkesenian pada hari sabtu, pada minggu ke-2 dan ke-4. I’ll back.
Selama perjalanan pulang aku masih speechless, aku dan Nita saling diam di atas sepeda motor. Sungguh jadi kepikiran mbak-mbak yang ketemu di butik. Bahwa rasa minderku itu sungguh tak beralasan. Masih banyak orang yang ada di bawah kita, mengapa kita harus berkecil hati? Bersyukurlah. Mereka saja yang “berbeda” dengan kita masih bisa tertawa riang gembira, mengapa kita harus bersedih?
“Tak ada manusia yang terlahir sempurna, jangan kau sesali segala yang pernah terjadi. Kita mungkin pernah dapatkan cobaan yang berat, seakan hidup ini tak ada artinya lagi. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.” (d'massive)
Jangan pernah kau sesali hidup ini kawan.
Dan jangan sekali-kali membuat jurang perbedaan antara kita dengan anak-anak berkebutuhan khusus, karena kita semua SAMA.
Semarang, 19 Maret 2010
(Bersambung hari #2 @YPAC Semarang Sabtu, 19 Maret 2011...............)
*Special thank’s to Nita yang sudah mau nemenin aku, love u fulllll
Kadang kita merasa benci dengan seseorang, benci dengan keadaan, benci dengan rutinitas, benci dengan semua orang hingga kita menjadi bosan bertingkah sebagai “orang baik” hingga jiwa serasa brutal. Ketika sesuatu yang dianggap baik seolah menjadi sebuah rutinitas tanpa sensasi yang melekat di hati, lalu apa yang akan terjadi? Bukankah brutal dan antagonis akan menjadi sebuah solusi yang hebat untuk melepas kepenatan hidup?
Seperti halnya kaki seorang bayi yang baru dilahirkan. Kecil, putih, bersih, wangi, lalu apa yang akan dilakukan kaki itu ketika menapak bumi maka kakinya yang suci akan penuh dengn lumuran dosa, kaki mungilnya berubah menjadi monster mengerikan yang kasar dan menjijikan oleh dunia yang bermandikan dosa. Sebuah dunia penuh hina yang menyamar menjadi nirwana.
Kesal memang kesal. Raga dan jiwa terasa letih dan kaku menjalani dunia yang selalu tersenyum palsu. Aku benci dengan semua ini. Apalagi sosok perempuan itu, sosok yang aku tak mau lagi melihat wujudnya. Sosok yang telah menghancurkan hidupku, dan bermuka topeng.
Mulanya perempuan itu datang dengan tersenyum manis, parasnya yang lugu dan menawan membuat hati ini merona jingga, tapi apa dikata itu adalah topeng kebusukannya, dunia ini busuk kawan.
Sama halnya dengan tuanku di tempatku bekerja, dia menawarkan imbalan padaku yang selangit tingginya, ternyata dia dusta, dia penipu dan tak ubahnya seperti mayat hidup yang hanya mampu berjalan dengan raganya yang busuk. Dia hidup, tapi jiwanya sudah mati. Sungguh pantas bila kusebut dia mayat.
Saat ini hatiku galau, berbagai tempaan hidup aku jalani.
Susah iya, tapi kenapa senang tak kunjung datang?
Apakah Tuhan adil?
Dulu waktu aku masih kecil, guru mengajiku pernah bilang bahwa Tuhan tak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hamba-Nya, apakah Tuhan pernah berbohong? Atau jangan-jangan guru mengajikulah yang berbohong.
Oh tidak, akau harap semua ini hanya mimpi, aku ingin terbangun dengan kondisi yang nyaman, tapi begitu aku menampar pipiku. Aaaaauwwww, sakit yang kurasa, ternyata aku tak sedang bermimpi.
Tuhan, kali ini aku bersujud padamu, entah kapan kali terakhir aku bersujud pada-Mu yang kutahu sajadahku sekarang berdebu, sarungku sudah lapuk karena hanya kupakai untuk tidur, sedangkan kitabku? Mungkin terbawa ibu waktu dia menjual buku-bukuku di tukang rongsok.
Tuhan, apa Kau bisa menjawab tanyaku?
Tuhan mengapa kau mengutus perempuan itu? Mengutus orang-orang yang hanya bisa menghancurkan hidupku?
Tuhan, mengapa kau menciptakan neraka, bila ada surga yang begitu menyenangkan?
Aku terdiam,
Tapi tunggu....
Apa jangan-jangan Tuhan mengutus perempuan dan orang-orang itu untukku semata untuk mengujiku?
Apa jangan-jangan Tuhan menciptakan neraka, agar semua orang berusaha berbuat baik untuk mencium surga-Nya?
“Kadang kita memikirkan sesuatu hanya dari segi yang kita merasa “dirugikan” pernahkah kamu berpikir bahwa kesulitan-kesulitan yang sedang kamu rasakan adalah keseulitan “utusan” Tuhan yang dikirimkan untuk mengujimu? Ya tentu saja agar membuatmu lebih kuat.”
---Allah tak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hamba-Nya ---
Rasa sedih itu wajar dialami oleh setiap manusia, apalagi ketika kita mengalami kegagalan, kehilangan, atau bahkan merasa sendiri di dunia. Kadang kita merasa bahwa hidup ini tidak adil, apa yang telah kita perbuat ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Padahal kita sudah berusaha keras dan sebagainya.
Hasilnya???
Manusia merasa putus asa dan meninggalkan segala ikhtiar mereka.
Kita sering sekali tidak menyadari bahwa setiap makhluk pasti pernah merasakan masa paling sulit dalam hidupnya.
Jadi teringat isi kajian siang hari itu, yakni tentang kisah Elang. Seekor burung Elang yang sangat gagah ternyata rata-rata mampu bertahan hidup selama 60 tahun, ketika mereka menginjak usia 30 tahun burung Elang harus rela kehilangan fungsi paruhnya selama 4 bulan. Paruhnya yang melengkung kedalam dapat melukai lehernya. Alhasil si burung Elang harus menahan sakit dan mematahkan paruhnya agar lehernya tidak terluka dan menunggu paruhnya tumbuh kembali selama 4 bulan. Selain itu dalam waktu 4 bulan tersebut, burung Elang juga harus mencabut kuku dan bulunya (alasannya kenapa aku lupa, hehe kayaknya sih buat regenerasi gitu) jadi intinya selama 4 bulan itu si Elang harus menahan lapar dan dahaga (ternyata burung bisa puasa juga ya, hihi). Dan semua itu ternyata dapat dilalui oleh si Elang. Artinya perjuangan tersebut merupakan fase untuk menyongsong masa 30 tahun mendatang yang lebih baik. Subhanallah.
Begitu juga dengan manusia.
Seperti yang dialami oleh Urwah bin Zubeir, ketika beliau harus kehilangan satu kakinya yang diamputasi juga seorang puteranya yang tewas ditendang seekor kuda, beliau tetap tegar. Bahkan ketika beliau pulang, kerabatnya menyambut Urwah dengan raut kesedihan, beliau berkata, “Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu, maka masih tersisa tiga, puji syukur bagi-Nya. Aku dikaruniai empat kekuatan (dua kaki dan dua tangan), lalu hanya diambil satu, maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya.”
Jika kita jujur sebenarnya nikmat yang tersisa jauh lebih banyak daripada nikmat yang hilang. Tapi ketika fokus kita tertuju pada nikmat yang hilang, maka nikmat lain yang lebih banyak akan terasa lenyap tak tersisa. Dari sisi ini maka orang yang berputus asa karena musibah yang menerpa, bahkan seringkali manusia tak habis-habisnya menyalahkan takdir. Itu artinya dia telah kufur atas segala nikmat Allah, akibatnya hatinya akan merasa kecewa dan tersiksa.
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum kafir.” (Yusuf : 87)
Untuk meraih kesuksesan dan tujuan hidup kita, seseorang pastilah pernah mengalami fase yang penuh dengan hambatan, tapi jangan pernah menganggap hambatan itu sebagai penghalang, anggap saja bahwa semua itu hanyalah “tantangan” sebuah teka-teki yang mengasyikan untuk dicari solusi pemecahannya.
Jadi jika kamu sekarang merasa di bawah, ingat cuy kalau hidup itu bagai roda, kadang di atas kadang di bawah. Yang penting ketika kita di atas jangan lupain ya sama yang di bawah. Soalnya “Ketika kamu menyombongkan diri, maka kehancuran sudah didekatmu.” (percaya deh, hihi)
So always be low profile and never give up.
Ingat hidup itu sangat indah dan kesedihan hanya untuk mereka yang tidak bersyukur.
Maka alangkah indahnya bila buah kehilangan adalah bersimpuhnya kita dihadapan Allah dan semangat untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.