Ya Tuhan di bulan ini kesabaranku benar-benar Kau uji. Tapi aku yakin bahwa:
Man shobaro zhofiro
"Barangsiapa yang sabar akan beruntung"
Sebenarnya di setiap zaman ada cermin. Layaknya cermin, ia dapat memberitahu kekurangan dan kelebihan pemakainya. Sayang, mata kita terlalu payah. Celah sebesar gajah bagai hiasan yang terpampang indah.
“Ilmu itu cahaya, dan ilmu Allah tak akan pernah turun pada orang yang selalu bermaksiat” -Imam Syafi’i-
“Kau tak perlu menjadi sempurna karena memang tak ada yang sempurna. Hanya senyumanmu yang kubutuhkan, yang manis.”
Lebih kurang begitulah syair lagu dari Slank.
“Sempurna” sebuah kata yang diagungkan terutama ketika kita mencari cinta.
Dulu sempat berpikir seperti itu, bahwa aku harus mencari cinta yang sempurna tapi aku sempat melupakan sebuah hal bahwa tak ada insan yang sempurna. Aku pun bukan perempuan yang sempurna, bagaimana bisa aku menemukan kaum Adam yang sempurna beserta cintanya yang juga sempurna?
Hati ini tergetar ketika membaca tulisan Asma Nadia dalam buku “Sakinah Bersamamu”
“Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna. Ini memang bukan kisah cinta sempurna. Tetapi kisah dua anak manusia yang belajar menyempurnakan cinta. Belajar memberi, menerima, dan memperbarui cinta hingga mereka menutup mata.”
Ingatlah, jika kau mencari kesempurnaan maka nihil yang akan kau dapatkan. Jika hidup kita terasa tak indah maka tugas kita adalah membuat hidup kita menjadi indah. Bahagia itu datang dari diri sendiri bukan dari keadaan. Jadikan bahagia sebagai alasan hidup kita.
Cinta memang tak sempurna dan kitalah yang akan menyempurnakan cinta itu. Memberi dan menerima dengan sepenuh hati adalah cerminan dari rasa cinta. Kecantikan seorang perempuan akan semakin bersinar ketika ia mengerti arti mengasihi dan menyempurnakan hidupnya yang tak sempurna.
Hanya ingin sakinah bersamamu. Sebab tanpamu tak ada janji suci bagiku. Jadilah yang setia dalam ketidaksempurnaan.
Mungkin ini adalah catatan paling nggak penting di blogku, maaf ya. . .hehehehe
Minggu ini merupakan minggu yang sangat berat bagiku, kenapa? karena banyak banget tugas yang harus kukerjakan. Bayangin aja (kalo nggak bisa bayangin ya gak usah dibayangin) dari 24 sks, 22 di antaranya diganti tugas dan 2 di antaranya MEMBUAT BUKU. . .lalu 3 diantaranya membuat sinopsis, menganalisis, dan membandingkan 4 novel, semua itu harus dikumpulkan pada tanggal 11 Juli 2011. . .wesssss. . .
Saking stresnya aku, akhirnya aku memutuskan untuk mbolang saja ke kebun teh di Pagilaran Batang. . .uyeee. . . ini dia fotonya cekidot
Ini foto di Kebun Teh Pagilaran
cantik ya. . .hehe
si Farijem juga ikut narsong
Ini dia yang ngajakin kami, jujur susah banget jadi pengarah gaya buat mas eko T__T
Ceritane lagi kampanye konservasi :p
Niatnya mau terjun dari jembatan gara2 tugas, tapi kok cethek banget :D
ihiyy ada background kebonya. . .berlagak kaya memanen teh. . asoyy. .
ceritanya lagi prewedding, tapi cowonya mana ya? hihihi
Belum puas mbolang di Batang, malamnya kami capcus ke Masjid Agung Jateng, tapi gara2 kemalaman jadi udah tutup deh.
MAJT di malem hari, kaga keliatan >,<
karena diusir sama petugas, perut kami yang kelaparan pun dimanjakan dengan lezatnya hidangan di WS hmmm yummy. . .
Eiitsss sebenarnya kami ga cuma foya2 doang, kami juga kondangan dulu ke pernikahannya Mas Agung + mba Vivi. .
Pas lagi salaman, aku nyolong kembang pengantinnya mbak vivi, semoga cepet nyusul. Hihihihi. . .Maaf bukannya frustasi dan memilih jalur mistis tapi ini cuma iseng2 ajah kok :P
Yeah, baru aku ngerasain petualangan yang seperti ini, mungkin sepintas orang mengira hal yang biasa tapi bagiku ini luar biasa. Yaiyalah jelas luar biasa, liburan kali ini aku benar-benar menjadi orang yang nekat. Gimana mau nggak nekat, di kala teman-teman kuliah terpenjara di Semarang buat ngerjain tugas, aku malah enak-enakan “plesiran” ke Jakarta. Eitsss. . .tapi bukan sekadar plesiran, aku ke Jakarta juga bawa laptop, kalau malam hari aku juga ngerjain tugas kok (Curcol, hehehe)
Sebenarnya aku nggak mau cerita tentang liburanku kali ini tapi lebih pada “Pangeran Stasiun Cakung” yang barusan aku lihat, waow!!
Pangeran yang bukan pangeran biasa karena sifat kepahlawanannya (Ciyeeeee )
Kejadiannya bermula dari hari Kamis, 23 Juni 2011 waktu itu aku terkena diare dan muntah-muntah yang sangat hebat, entah kenapa hampir tiap jam aku ke belakang dan setiap habis makan aku langsung muntah. Setelah ke Rumah Sakit, rupanya aku menderita “KERACUNAN” what? Yeah mungkin karena efek pesta duren, makan soto betawi pinggir jalan, dan sate ayam kepedesan. Alhasil, tiket kereta api untuk hari Jumat harus dibatalkan. Setelah itu mami ngamuk-ngamuk, “Udah deh, kamu ikut mamah aja pulang ke Ajibarang, nggak usah ke Semarang dulu.” Ya wes lah manut. Akhirnya aku dibelikan tiket kereta api untuk hari Senin dengan jurusan Jakarta-Purwokerto.
Hari Minggu pun tiba. Alhamdulillah penyakit “keracunan”ku sudah sembuh, dan aku siap pulang ke Purwokerto esok hari. Tiba-tiba Budhe menghubungi ibuku bahwa beliau akan ke Semarang. Cling muncul ide brilian. “Ya udah mah, aku nggak jadi ke Purwokerto, aku ke Semarang aja ikut Budhe.” Kataku pada Kanjeng Mami. “Oh yawes besok tiketmu tak jual aja ke orang.”
Senin pagi pun tiba. Aku, adikku, dan kanjeng mami pergi ke stasiun Jatinegara. Maksud hati, kanjeng mami dan adek naik kereta ke Purwokerto dan aku naik KRL ke stasiun Cakung (kediaman Budhe). Singkat cerita aku sudah berada di KRL jurusan Bekasi. Rupanya stasiun yan kami lewati adalah stasiun-staiun kecil dan setiap kereta berhenti pun hanya beberapa detik saja. Kata Budheku aku disuruh turun di stasiun Cakung, tepatnya setelah stasiun Klender Baru. Di KRL pun aku udah clingak-clinguk tanya sana-sini takut kebablasan. Akhirnya sampai juga di stasiun Cakung, kereta pun berhenti. Daaaaaaaaan jeng. . .jeng. . .jeng. . .
“Aduh Bu, kok ini gak ada tangganya?” tanyaku pada penumpang lain. “Udah mba, tinggal terjun aja nggak apa-apa dari pada keretanya jalan nanti, Terjun aja mbak.” Bodohnya aku, mendengar bujukan seperti itu aku manut TERJUN dari kerta api. Tuing. . . .jlep. aku pun terjun dari ketinggian 4 meter (sialan banget tuh penumpang setan). Mending medannya kasur, lah ini kerikil, naasnya aku nyungsep di kerikil. Tas yang kubawa berserakan kemana-mana. Orang-orang pada nemplek di kaca kereta api memandangiku yang jatuh nyungsep. Adu gile sakitnya bukan main, bayangin aja muka imutku diamplas pake krikil. . .waktu jatuh itu yang kulihat dan kurasa cuma batu, pasir, dan bibir yang jontor.
Tapi, tiba-tiba. . .aku melihat uluran tangan seorang laki-laki (so sweet banget ini nulisnya pake deg-degan) “Nggak apa-apa kan mba?” katanya merdu (lebay). “oh nggak apa-apa,” jawabku (belum ngelihat wajahnya. Daaaaann eng ing eng. . ow my god aku melihat Kim Bum, sumpah deh gantengggggggggggggggggggggggg bangetttttt. . .pangeran berkemeja putih dan berjam elegan sedang berdiri di depanku, memegang tanganku, dan menolongku. Sumpah nggak nyesel aku terjun dari KRL. “Berdarah ini,” katanya sambil membereskan tasku. Rupanya di stasiun kereta yang sangat ramai itu hanya ada satu orang yang menolongku, yaaaa mas ganteng itu (mana kepedulian orang-orang?). “Iya berdarah bibirnya, ayok dibersihkan dulu.” Katanya sambil memelas. “Lah ini jalannya naik banget, nggak ada tangga,” kataku. Mas-mas itu langsung naik ke pagar dan kembali mengulurkan tangannya, membantuku naik ke tembok itu, hoooooo meleleh. Dia mengantarku menuju ke penjual air mineral, dia membelikanku sebotol Aqua dan nggak mau dibayar. Aduh, udah ganteng baik hati pula. . . . .”Makasih ya mas,” Kataku sambil kumur-kumur air Aqua dan membersihkan bibirku yang jontor kena krikil. “Itu mbak, dagunya masih berdarah.” Katanya sambil menunjuk daguku. “OH iya, makasih banget mas.” (Aduh gile nih orang baik bangetttt).
“Aku mau dijemput Budheku, tak telpon dulu ya.” Kataku ke mas-mas berkulit putih itu. “Oh ya, silakan.” Rupanya budhe sudah berada di stasiun, Budhe pun melambaikan tangan.
Kebodohanku selanjutnya adalah : AKU LUPA BERKENALAN.
Aku malah langsung berlari menuju Budhe dan meninggalkan Pangeran Cakung seorang diri di depan bakul aqua tanpa menanyakan nama atau nomor hape.
Menyesal seumur hidup dehhhh. . . . .
Kalau jodoh nggak kemana, semoga ada kesempatan bertemu.