Kamis, 17 Mei 2012

Menyulam Benang Pendidikan


Guru yang biasa-biasa saja memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang bagus menunjukkan bagaimana caranya. Tetapi guru yang luar biasa menginspirasi murid-muridnya (William A. Ward ).

Dunia ibarat sebuah pakaian yang utuh, guru adalah penjahit yang bertugas merancang dan menyulam kain “manusia” dengan benang “pendidikan”. Pakaian yang indah akan tercipta dari sulaman benang yang kuat dan berkualitas. Dunia dengan pendidikan yang berkualitas akan menciptakan manusia yang cendekia dengan kearifan.
Setiap orang di dunia dilahirkan dengan amanah yang ada di pundaknya. Ketika Tuhan meniupkan roh dalam jasad manusia, ia telah hidup dan amanah yang ada dipundaknya merupakan kewajiban yang sepantasnya ia jalankan. Amanah pada diri manusia bukanlah beban yang harus ia jalankan dengan bahu membungkuk karena dianggap memberatkan. Amanah itu adalah “ibadah” yang harus dijalankan oleh setiap manusia.

Rabu, 09 Mei 2012

Ilmu yang Bermanfaat


Dalam setiap sujud di akhir salat malamku aku selalu meminta pada Allah
agar aku diberikan ilmu yang bermanfaat.
Menuntut ilmu adalah tuntutan seumur hidup

Apa itu ilmu yang bermanfaat? Baru terpikirkan setelah aku berusia 22 tahun. Selama ini yang kutahu, aku kuliah di jurusan kependidikan karena ingin jadi pendidik, kenapa? Ya pengin aja, pendidik itu kerjaan yang mulia choy, selain dapat penghasilan juga dapet pahala, trus nggak terlalu sibuk, jadi bisa ngurusin keluarga. Sesimpel itu kah? “Iya.” Tapi jawaban itu terbantahkan dengan disempurnakan oleh penjelasan tentang “Ilmu yang bermanfaat” apa itu?

Kata Bapak Ahmad Syaifudin
Beliau adalah dosenku, usianya masih muda hanya enam tahun di atasku. Waktu itu aku lembur di kantor jurusan. Beliau memanggilku dan dua temanku, aku kira urusan apa, ternyata beliau memberikan nasihat yang sangat berharga bagi kami, beliau bahkan sangat mendukung kami untuk melanjutkan S-2. Kata Pak Ahmad, carilah ilmu sebanyak-banyaknya, dan buatlah ilmu itu menjadi bermanfaat.
“Maksudnya gimana pak?”

Senin, 07 Mei 2012

Ratapan Seorang Pengangguran Terselubung


“Janganlah kau terlalu bangga waktu kau wisuda karena pintu gerbang menuju pengangguran akan terbuka lebar untukmu”
Pernyataan itu mungkin berlaku bagi sebagian mahasiswa yang belum mapan, termasuk saya. Akhir April kemarin saya diwisuda dan resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan, wuiiiih calon guru nih ye. Sekarang dua minggu sudah berlalu dan aku pun sudah mulai jenuh dengan kegiatan sehari-hariku. Yah aku sekarang nggak punya status, bukan mahasiswa lagi, kalau ada lomba udah nggak bisa ikutan lagi, padahal “lomba” adalah mata pencaharianku selama kuliah hehehehe.
Kalau orang bilang aku pengangguran sebenarnya nggak sepenuhnya betul sih, soalnya kemarin awal Mei ceritanya aku udah ikut tes masuk pascasarjana, tapi kamu tau kapan tahun ajaran baru akan dimulai?? 3 September 2012!! Yap lalu apa yang akan aku lakukan selama tiga setengah bulan di rumah???
Dulu sempet punya banyak rencana nih (teori)
1.       Jadi guru bimbel.
Ide yang bagus juga, selain buat ngembangin skill mengajar, bisa buat ngisi waktu luang, dan nambah uang saku. Tapi masalahnya, “apa ada bimbel yang mau nerima tenaga pengajar cuma tiga bulan aja?” kayaknya sih rata-rata ada tanda tangan kontrak, kalau keluar sebelum setahun terus suruh denda gitu. Lagian aku pikir nanti seumur hidup aku juga bakal ngabisin waktuku buat mengajar, ini kesempatan aku buat cari kerjaan lain.

Minggu, 06 Mei 2012

Mapres; Mahasiswa Depresi ???


Mapres? Siapa yang tak kenal?
Apaan tuh? Mapres = Mahasiswa Depresi??? Tentu saja bukaaaan.
Mapres = Mahasiswa Berprestasi? Wuiiih top banget pastinya. Sepakatkah? Kita renungkan baik-baik ya.

Setiap tahunnya DIKTI (di bawah Kemendikbud) mengadakan ajang atau kompetsisi bergengsi bagi mahasiswa, kompetisi itu adalah “Pemilihan Mahasiswa Berprestasi” (Mapres). Dalam pemilihan Mapres (tapi kami lebih sering memlesetkan jadi “mahasiswa depresi” atau “mahasiswa prangas-prenges”) ada empat aspek penilaian, aspek-aspek tersebut adalah karya ilmiah 30%, kegiatan ekstrakurikuler (pemberkasan) 25%, bahasa Inggris 25%, dan IPK 20%. Proses pemilihan mahasiswa berprestasi melalui beberapa tahap, dimulai dari tingkat jurusan (biasanya diambil dua perwakilan), berlanjut ke tingkat fakultas (biasanya dua perwakilan), lanjut lagi di tingkat universitas (satu perwakilan). Juara 1 Mapres universitas lalu mengirimkan berkas dan karya ilmiahnya ke Jakarta dan dipilihlah 15 besar Mapres yang nantinya dinobatkan sebagai Mapresnas. Keren banget kan?
Jadi Mapres tentu tak mudah. Yaelah dari judulnya aja udah keren banget kali, tapi sebenarnya untuk apa sih Mapres itu? Well jujur aja, awal masuk kuliah, salah satu targetku ya jadi Mapres itu. Gimana gak semangat, waktu itu sebelum kenal dengan siapa-siapa di “random university”, hal pertama yang dikenalkan kakak-kakak panitia waktu OSPEK ya pemenang Mapres, pamflet-pamflet yang bersebaran di seluruh penjuru kampus pun isinya ucapan selamat bagi Mapres, jalan-jalan ke depan dekanat pun ada baliho gede banget yang bertuliskan ucapan selamat tuk Mapres. Waktu itu tiap detik ospek, kami selalu dicekoki dengan Mapres, seolah-olah predikat Mapres seolah predikat yang puuaaaling keren seantero jagad kampus. Heuheuheu.
Masih ingat banget waktu itu tahun 2008, Mapres universitas adalah Mas Nindya Candra kemudian 2009 Mas Eko Heriyanto (sekarang jadi ayah alay bagiku), tahun 2010 Mbak Ryan Marina. Gimana kami nggak ngiler, kami mahasiswa cupu yang nggak punya modal apa-apa tiba-tiba bermimpi jadi Mapres. Akhirnya padatahun 2011 aku “dipaksa” untuk daftar Mapres, ya Cuma modal nekad walau aku tahu tak mungkin jadi juara 1 karena tiap tahun Mapres Unnes itu dari Jurusan Bahasa Inggris. Ya Alhamdulillah bisa masuk 3 besar fakultas. Rasanya???? Banggakah???

Rabu, 02 Mei 2012

Semesra Bayanganmu


Semesra Bayanganmu


Aku tak akan takut pada cahaya
Karena aku akan melihat bayanganmu
Sungguh, aku ingin melihat Tuhan di matamu

Jumat, 27 April 2012