Kamis, 14 Juni 2012

Pahlawan yang Selalu Gagal di Akhir Pertempuran


Inspirasi bagiku selalu datang ketika aku berada di kamar mandi, yah karena di kamar mandilah aku biasa melamun, dan ide menulis pun datang.

Aku teringat ucapan temanku Muzakki, setengah tahun yang lalu bahwa tahun ini dia akan berangkat Pimnas dan dia pun lolos Pimnas tahun ini.
Teringat pula tingkah Rika yang sudah mengemasi barang-barangnya ketika akan memasuki semester 7, dia bilang bahwa ia akan lulus 3,5 tahun, aku hanya tertawa dan bilang, “Ah PD banget sih kamu.” Dan ternyata benar, ia lulus 3,5 tahun dan menjadi lulusan terbaik.
Juga ketika aku memasang wallpaper di laptopku bahwa aku akan melanjutkan sekolahku di S-2 Unnes, maka terjadilah.

Selasa, 12 Juni 2012

Belajar Mencintai Budaya Sendiri

Berawal dari BBM dengan sahabatku Papito, kami memulai pembicaraan dengan topik yang nggak penting hingga akhirnya membahas perihal budaya. Aku sering minta rekomendasi lagu dangdut koplo atau campur sari yang bagus pada dia, hingga akhirnya kami berdiskusi tentang tembang dan gending Banyumasan yang sudah mulai dilupakan anak muda zaman sekarang. Kata Papito, dia sangat sulit menemukan web yang menyediakan fasilitas unduhan tembang atau gendhing Banyumasan. Dulu memang aku sangat anti dengan lagu-lagu macam itu, apalagi sejenis dangdut, campur sari, atau gendingan. Tapi ketika aku melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan dan hampir semua temenku adalah orang Pantura, mereka dengan bangganya menyanyikan dangdut koplo yang memang menjadi kesukaan mereka. Yah, dari situlah kemudian aku berpikir, jika bukan kita yang melestarikan "lagu" kita sendiri, lalu siapa lagi? Mungkin waktu pertama kamu dengerin berasa aneh, tapi lama-lama enak juga kok. Hehehe. Ada dua lagu yang lagi jadi favoritku Caping Gunung dan Kembang Glepang, Cekidot ya. . .

Ketika Kau Mengingatku Maka Kau Akan Mengingat-Nya


Ketika membuka catatan lama, tiba-tiba menemukan ini, semoga bermanfaat.
 
Waktu itu aku mendapat amanah untuk menjadi panitia dalam sebuah seminar. Sudah begitu lama aku menunggu pembicara utama datang. Setelah cukup kepanasan tiba-tiba datang seorang ukhti mendekatiku, dia menjabat tanganku erat. Waktu itu aku masih terbengong dan tak menyangka karena dia adalah pembicara utama dalam seminar itu. Dia berjalan dengan dibantu tongkat penyangga, kakinya terlihat begitu lemah dan dengan ukuran kaki yang berbeda satu dengan kaki lainnya. Dia cacat. “Subhanallah” dalam hatiku bertutur.

Senyumnya mengembang dia berkata, “Perkenalkan nama saya Mimin. Siapa nama Mbak?”
“Nama saya Fibri,” jawabku singkat. Kulihat dia meninggalkanku menuju podium utama. Ketika Mimin melangkah di depan peserta seminar (tentu dengan dibantu oleh panitia) hampir semua peserta seminar berdecak, “Subhanallah.” Mungkin para peserta tidak menyangka bahwa pembicara utama adalah seseorang yang penuh dengan keterbatasan.
Mimin membuka seminarnya dengan suara yang mantap. Sungguh dengan kekurangannya, tidak berpengaruh apapun pada kemampuannya yang luar biasa.

Senin, 11 Juni 2012

Makan di Ngrembel (lagi) Yuk!


Kali ini aku akan bercerita tentang sebuah tempat yang menjadi favorit bagiku. “Ngrembel Asri”, ya sebuah tempat yang berada di Jalan Raya Manyaran – Gunungpati. Sebenarnya tempat itu tidak hanya tempat pemancingan, tempat makan, tapi juga bisa menjadi tempat rekreasi keluarga dan refreshing tentunya. Kali pertama ke sana sebenarnya tidak disengaja karena Cuma ikut-ikutan kakak tingkat aja, toh tempatnya lumayan jauh dari kota, kalau dari kampusku sekitar 20 menit naik motor. Jalan yang dilewati pun jalan pedesaan, lumayan dekat dengan SMA Semesta.
Lalu ada apa saja di Ngrembel?
Yup, di sana tentu saja ada kolam ikan, kalian bebas buat mancing dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Biasanya kalau hari Minggu bakal penuh banget. 
Welcome to Ngrembel

Minggu, 10 Juni 2012

Ajahn Brahm dan Dua Bata Jelek


Dulu pada tahun 1983 Ajahn dan beberapa biksu membangun sebuah wihara dengan tenaga mereka sendiri. Rupanya untuk membuat suatu bangunan dengan pondasi dan kuat dan indah, tidak hanya membutuhkan tenaga yang luar biasa, tapi juga pikiran ikut terkuras. Setelah berusaha dengan sangat keras, akhirnya Ajahn berhasil membuat sebuah tembok yang tersususun dari batu bata. Dia sangat senang karena hasil kerja kerasnya berbuah manis. Rupanya senyum Ajahn tak bertahan lama, ia melihat dua buah bata yang tak tersusun dengan apik. Karena dua bata itu, tembok yang ia bangun menjadi sangat aneh. Ah tapi ini terlalu terlambat untuk membongkar tembok itu, semen yang tertempel di sana sudah sangat merekat dengan kuat. “Itu benar-benar pekerjaan yang gagal,” batin Ajahn.
Tiap kali ada orang yang bekunjung ke Wihara, Ajahn selalu mengalihkan perhatian mereka sehingga mereka tidak melihat tembok yang ia bangun. Hingga suatu hari ada seorang pengunjuk yang tanpa sengaja melihat tembok itu dan dengan santainya ia mengatakan bahwa betapa indahnya tembok itu. Sontak Ajahn sangat terkejut, “Apanya yang indah, lihatlah dua bata yang merusak pemandangan kita, dua bata itu tak tersusun rapi dan membuat tembok terlihat sangat aneh.”

Jumat, 01 Juni 2012

Sosok Istimewa


Orang-orang yang selalu tersenyum dalam kegetiran dan berdiri tegar dalam rasa kehilangan itu, telah membuatku belajar tentang arti hidup ini. Dua orang yang mengisi hari-hariku semenjak aku di Semarang, merekalah orang yang paling aku rindukan dan orang-orang yang kali pertama ingin aku temui di Kota Lumpia itu.

Namanya Faknita Utami dan Arum Mutiara Sari
Dua orang yang memiliki karakter yang sangat berbeda. Nita terkenal dengan pribadi yang ceroboh dan Arum yang konsisten dengan sisi kemisteriusannya. Keduanya sangat memesona bagiku. Kami telah menghabiskan hari-hari bersama. Kami menjelajah kota-kota itu bersama, kedinginan karena AC bus Coyo, berlari di Stasiun Poncol karena ketinggalan kereta, tragedi ganti baju di angkot, naik ojek dengan berbonceng 3 ketika di Salatiga, menonton film Korea sampai pagi, bahkan kita seringkali menangis dan tertawa bersama. Aaah aku sungguh kehilangan kata-kata. Karena tak ada kata-kata yang seistimewa kalian.