Rabu, 25 Juli 2012

Untuk Ibu Oyi


Sepenggal kisah, hadiah untuk calon keponakanku.

Ya, itulah namanya. Tapi dia lebih beken dipanggil dengan sebutan “Oyi”. Mungkin diambli dari “Qori” (Iqra) yang katanya artinya membaca. Kata Oyi sampai saat ini dia pun belum tahu secara pasti, apa arti namanya. Yosnia diambil dari nama orang tuanya, Qori artinya membaca, dan Zamza adalah mata air, nyambung? Ya disambung-sambungin saja, hehe.

Kali pertama aku mengenalnya (eh, bukan mengenal, tapi cuma tahu) yakni ketika lomba murid teladan SD tingkat kecamatan. SD Oyi adalah SD paling favorit di kecamatanku, sebagai rival aku tentu penasaran, siapa gerangan perwakilannya? Ternyata guruku mengenal Oyi. Datanglah gadis kecil itu mendekatiku dan guruku, dia membawa gorengan di tangannya, bibirnya pecah-pecah dan komentar dari guruku adalah, “Oyi bedakan sih ngapa” (Oyi, lebih baik kamu memakai bedak). Pertemuan pertama yang sama sekali tidak mengesankan.

__________

Selasa, 24 Juli 2012

Rumah Allah


Pernahkah kamu merasakan : ingin sesuatu sampai kamu menitikkan air mata ketika mengingatnya?
Aku rindu, sungguh merindukan-Nya.

Labaika Allahumma Labaaik, labaaik Laa Syarika Laka Labaaik Inal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulka La Syarikalaka


Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah dan tiada sekutu apapun bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji-pujian dan nikma dan kerajaan hanya kepunyaan-Mu yang tiada sekutu bagi-Mu

Sabtu, 21 Juli 2012

Bukan Cinta yang Terbagi


(bukan puisi, hanya sebuah catatan antah berantah)



Aku mencintaimu, dan aku akan membiarkanmu pergi.
Aku bukanlah anak seorang pejabat, ataulah seseorang yang bisa mengangkat derajatmu di depan orang-orang itu.

Aku mencintaimu, meski aku tak berani mengharap.
Aku bukanlah orang yang akan memberikanmu segalanya ketika kau membutuhkannya.

Aku mencintaimu, tapi aku akan membiarkanmu dengannya.
Jika itu benar akan membuatmu bahagia.

Aku akan hidup damai,
Bukan, bukan untuk berharap tetap bersamamu.
Tapi lelaki lain, dan mungkin aku akan hidup bersamanya.
Bukan, bukan berarti melupakanmu.

Rabu, 18 Juli 2012

Jejak yang Tak Kunjung Terhapus


Kau adalah semangatku untuk menulis dan terus menulis.
Jutaan huruf ini kutuangkan untukmu, sedang jemari tak kunjung berhenti menari.
Dan masih belum ada keberanian untuk menunjukkannya padamu.

Rasa takut menodai hatimu. 
Mungkin hanya bisa membiarkanmu bahagia. 
Meski terasa nyeri bagi hatiku, ketika tak lagi bersama. Cukup bagiku terus membohongi diri.
Entah sampai kapan tak berhenti begini, 
hingga jejakmu tak kunjung terhapus dalam darahku, di setiap mimpiku.
Tak bisa kutolak ketika hujan itu memaksaku untuk merintik pada kemarau.



Senin, 16 Juli 2012

Mainan Facebook

Lagi iseng aja nih mainan aplikasi facebook hahaha (makin lama isi blog makin geje, tak apalah yang penting aku seneng ;p )

Kadar Kemalasan

Yaa, Alhamdulillah dapet predikat normal, padahal aslinya aku rajin loh, rajin tidur, rajin on line, rajin nonton gosip, rajin nonton film.

Minggu, 15 Juli 2012

Mari Menertawakan Diri Sendiri


source
Menertawakan diri sendiri adalah benih kebijaksanaan, why?
1.       Orang yang menertawakan diri sendiri berarti telah menyadari bahwa dirinya bodoh dan bersalah.
2.      Orang yang bergengsi tinggi tentu saja tidak akan mengulangi kesalahannya, setelah ia tahu bahwa dirinya memang benar-benar salah.
3.      Orang yang pandai tentu saja tak ingin terlihat bodoh di depan dirinya sendiri, apalagi setelah ia menyadari kesalahannya. Itu namanya mempermalukan diri sendiri.
4.    Dengan menertawakan diri sendiri akan membuatmu malu pada diri sendiri, menyadari kebodohanmu yang mengakibatkan kamu tak akan mengulangi kesalahan-kesalahanmu.
Perubahan hanya datang pada orang-orang yang sadar. Menyadari kesalahannya hingga ia ingin memperbaiki diri. Awalnya mungkin berat, tapi jadilah orang yang terbiasa karena terpaksa. Hidayah tidak akan datang pada orang yang menunggu, dia akan datang pada orang yang mencari. Kebahagiaan juga tak akan jatuh pada orang yang hanya mengutuk dirinya sendiri, tapi ia akan selalu hadir pada orang-orang yang memaksa dirinya berbahagia. Sungguh tak akan ada senyum pada setiap musibah, tapi kamu dapat menghadirkannya. Senyum palsu? Mungkin saja. Tapi kepalsuan itu lama-lama akan menjadi kebiasaan baik bagimu. Mari menertawakan diri sendiri.