Rabu, 19 September 2012

Fase



Ada kalanya aku merasa sendiri dan tak punya teman, ketika letih ini menerpa, aku hanya butuh teman berbagi.
Dan ketika masing-masing sudah sibuk dengan pilihan hidupnya.
Karena yang aku renungkan adalah:
“Dewasa berarti harus siap untuk kehilangan.”
Satu per satu kawan telah pergi, merantau, mengabdi di pulau terpencil, pergi ke luar negeri, kembali ke kampung halaman, dan aku kini memutuskan untuk kembali menimba ilmu. Aku bertemu dengan kawan baru, dan kawan lama pun telah menemukan kehidupannya yang baru.
Ternyata aku sudah berada di fase hidup yang berbeda.
Aku akan selalu mengingat setiap tetes keringat perjuangan ini, bahkan setiap rintikan air mata. Sebab yang aku tahu, perjuangan tak pernah dilewati dengan taburan bunga. Tak ada kesombongan yang lebih indah dari pada perjuangan meraih cita-cita.
Apalagi yang harus kuingat ketika letih ini hampir mengalahkan semangatku? Tapi ingatlah, bahwa perjuanganmu barulah satu langkah dari ribuan anak tangga.
Untuk kawan-kawanku.
Penggores kenangan 2008-2012.

Rabu, 12 September 2012

Refleksi Kuliah (1)



Terinspirasi dari kutipan dialog pada film Perahu Kertas; “Pada kertas putih kosong ini sebenarnya tidak kosong, kau hanya perlu menyibaknya, sebenarnya terdapat jutaan kata di balik tampilannya.”

Alhamdulillahirabbi’alamin. Aku telah menjalani hampir dua minggu masa kuliahku, tugas kuliah pun semakin banyak dan berat. Yang aku rasakan saat ini, kuliah S-2 memang sangat berbeda dengan kuliah S-1. Baiklah kali ini aku akan melakukan refleksi kuliahku selama ini.

Teori Sastra
Mata kuliah ini sangat asyik karena yang mengajar adalah Dr. Teguh, orang asli Ajibarang tempat tinggalku, cukup membanggakan juga Ajibarang bisa menghasilkan orang hebat macam beliau haha. Perlu diakui bahwa beliaulah salah satu alasan aku melanjutkan studi di Unnes, kata beliau orang Ajibarang harus hebat. Karena mata kuliah ini pula aku semakin mantap dengan pilihanku saat ini dan mulai menghapus bayang-bayang Ilmu Susastra UGM, kenapa? Karena semakin banyak kita tahu ternyata semakin kita tahu bahwa kita tidak banyak tahu, halah. Kali ini aku sangat-sangat-sangat mengakui bahwa referensi sastraku, dan pengetahuanku tentang sastra sangat cetek. Minggu kemarin aku sedang berusaha memahami Theory of Literature punya Rene Wellek dan Austin Waren dan Pengantar Teori Sastra punya A Teeuw dan ternyata kedua buku itu sangat sulit dipahami bagiku.
Karena mata kuliah ini pula aku jadi tersadar bahwa pengetahuan tentang sastra yang berkembang di masyarakat pun ternyata banyak yang harus dikritisi. Contohnya, pengetahuan tentang puisi yang selama ini dimaknai sebagai sebuah karya yang memiliki nilai sastra tinggi dan ditulis dengan bahasa kias yang memiliki nilai estetika tinggi. Jika pengertian puisi seperti itu maka bagaimana cara mengukur nilai sastra yang tinggi dan nilai estetika yang tinggi? Rupanya Semiotika telah mematahkan teori estetika, karena sesungguhnya keindahan itu adalah hal yang relatif. Puisi adalah aktivitas bahasa yang mengatakan suatu hal tetapi ternyata membicarakan maksud yang lain, atau dapat dikatakan sebagai ekspresi tidak langsung. Pokoknya kuliah ini asyik banget, tiap dua kali pertemuan harus menghabiskan satu buku setebal 400 halaman (syangar opo orak?) yah, namanya juga perjuangan mencari ilmu.

Minggu, 09 September 2012

SMA 2 Purwokerto Peduli



T    : Apa yang dimaksud dengan “SMA 2 Purwokerto Peduli”?
J     : “SMA 2 Purwokerto Peduli” adalah sebuah komunitas non-formal bersifat sosial yang digagas oleh alumni SMA  2 Purwokerto lulusan tahun 2008.
T    : Apa tujuan didirikannya “SMA 2 Purwokerto Peduli”?
J     : Bermula dari diskusi kami tentang sebuah komunitas yang dapat “mengikat” alumni secara nyata dan dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi almamater.
T    : Bagaimana komunitas ini dapat berjalan?
J     : Komunitas ini bersifat online, kami belum memiliki kantor tersendiri. Kami mengandalkan donasi baik dari para alumni atau siapa saja yang senang bersedekah dan cinta dunia pendidikan.
T    : Siapa sasaran dari komunitas “SMA 2 Purwokerto Peduli”?
J     : Sasaran kami adalah siswa SMA 2 Purwokerto yang mengalami kesulitan secara finansial tetapi memiliki kompetensi dan semangat yang tinggi untuk belajar.

Jumat, 07 September 2012

Hari Ini Aku Terlahir Kembali



Hari ini aku telah terlahir kembali. Bukan, bukan karena hari ini ulang tahunku, bukan pula karena aku baru saja siuman dari tidur panjang. Sungguh, sungguh ini dinamakan proses pembelajaran dalam kehidupanku. Bahwa trial and error itu memang ada, bahwa hakikat hidup adalah mencoba,dan kemudian belajar dari kesalahan. Well kita tak perlu menjadi orang yang terus mengalami kesempurnaan dalam hidup karena memang tak ada orang yang sempurna. Namun, menyempurnakan hidup itu bisa dilakukan walaupun hidup ini jauh dari sempurna, maka bersyukurlah.
Hari ini aku merasakan betul bahwa dua minggu aku benar-benar berubah dan tak menjadi sosok aku yang sebenarnya. Aku menjadi orang yang suka menyendiri di kamar, asik dengan duniaku, rasanya malas sekali berinteraksi. Aku pun mulai menyibukan diri sendiri dengan melakukan kegiatan-kegiatan aneh, sedangkan malam harinya aku pun tak mudah terlelap. Yah, aku punya masalah, tapi sebenarnya tak pantas disebut sebagai sebuah masalah yang besar, hanya saja aku belum berhasil berdamai dengan diriku sendiri. Kata teman-temanku aku adalah orang yang sangat idealis, tak sedikit yang menganggap bahwa aku orang yang perfectionist, sangat struktural, terlalu sistematis, terlalu banyak pertimbangan, dan kurang berani menghadapi tantangan.

Dare to Dream; Dengan Spirit Man Jadda Wajada


“Apa gunanya masa muda jika tidak untuk membela cita-cita dan membahagiakan orang tua.” 

Source
Wahai anak muda keluarlah dari zona nyaman maka kau akan melihat dunia yang berbeda. Jangan pernah remehkan impian, setinggi apa pun itu karena Tuhan sungguh maha mendengar. Man Jadda Wajada; Siapa bersungguh-sungguh maka ia akan mencapainya.
 Usaha untuk meraih tujuan diperlukan waktu, oleh karena itu harus diisi dengan sabar maka ada mantra Man Shobaro Zhafiro; Barangsiapa bersabar maka ia akan beruntung. Pakailah filosofi “mengetuk pintu” ketika kau ingin menuju suatu ruangan maka ketuklah pintu, jangan hanya terdiam di depan pintu dan menanti orang lain membukakannya untukmu.
Tuliskanlah impianmu, bahkan seremeh apapun itu karena menulis dapat memperpanjang usia bahkan jauh melebihi usia sang penulis. Tulisan lebih kuat dari peluru, satu peluru yang hanya bisa menembus satu kepala dapat dikalahkan oleh sebuah kata kalau kita tembakan dia dapat menembus ke beberapa kepala, bahkan ratusan kepala.
Pada hakikatnya kegagalan adalah satu langkah menuju keberhasilan jika tak berhenti berusaha. Beruntung adalah ketika kita mencobanya lebih sering dari orang lain dan hingga akhirnya kita mendapatkannya. Ingatlah bahwa definisi tertinggi dari sebuah kesuksesan adalah ketika ia bermanfaat bagi orang lain.

*Sebuah mozaik dari A. Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara

Rabu, 05 September 2012

Demi “Man Jadda Wajada”


Hanya sebuah cerita aneh dan tidak penting

Hari ini benar-benar spesial bagiku, mungkin beberapa orang menganggapnya lebay, tapi tak apalah. Hari ini aku tak mudah untuk berhenti tersenyum bahkan, camera digital itu aku bawa waktu kuliah dan aku pamerkan pada teman kuliahku bahwa aku baru saja bertemu dengan idolaku, salah satu orang yang menginspirasiku untuk bermimpi, beliau adalah A. Fuadi penulis Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna.
Bermula dari pesan singkat dari Diana temanku yang memberitahu bahwa besok A. Fuadi akan menjadi pembicara pada “Penyambutan Mahasiswa Baru FMIPA” katanya kalau aku berkenan datang saja karena acara itu terbuka untuk umum. Mulanya agak tidak berminat, apalagi malam itu pesan dari Diana terputus karena sebagian teks hilang. Aku malah membalas sekadarnyasaja lalu lebih memilih untuk menarik selimut dan segera tertidur. Rupanya insomniaku kambuh, aku tak mudah terlelap dan kepalaku malah makin pusing, tipis harapanku untuk melihat A. Fuadi, rasanya malas sekali.
Pagi pun menjelang, aku salat subuh dan tidur lagi, bukan karena apa-apa tapi karena aku baru tidur beberapa jam dan rasanya masih pusing sekali. Akhirnya aku terbangun pukul 08.45, sungguh bukan waktu yang pagi lagi, segera saja aku raih hand phoneku dan aku bertanya pada Diana, kapan acara dimulai? Rupanya semua sudah siap, acara dimulai setengah jam lagi di Auditorium. Alamaaak, bagaimana ini aku belum mandi, belum makan, belum siap-siap pula. Ah, tapi kapan lagi aku bisa melihat orang yang menginspirasiku dengan mantranya dan sepertinya A. Fuadi juga terinspirasi dengan syair-syair Imam Syafi’i yang sesungguhnya juga aku kagumi, kapan lagi aku dapat kesempatan?