Oleh-oleh dari
Indonesia Leadership Camp UI (9-12 November 2012)
Kamu boleh berteriak-teriak dan berpanas
ria, yang katamu sedang memperjuangkan nasib kaum duafa. Namun ironisnya di toilet
umum itu kamu tak pernah bersihkan sisa kotoranmu, bukankah itu sama saja dengan
menyakiti mereka?
(Introspeksi
diri, mulai dari hal kecil, tahu betul alasan dari perbuatanmu)
Bukankah bangsa Indonesia adalah bangsa yang
cerdas? Bahkan pada tahun 1928 pemuda-pemuda itu berkumpul dan bersumpah. Mereka
menjual “murah” bahasa daerahnya demi menjunjung bahasa persatuan bahasa
Indonesia.
(pemuda,
agen perubahan, bahasa Indonesia)
Soekarno rela keluar-masuk penjara demi
bangsa, beliau bahkan lebih memilih “menderita” daripada menjadi abdi Belanda
sebab pahlawan adalah orang yang mampu melampaui dirinya dan bersedia menderita
demi orang lain.
Selamat datang di kehidupan yang sebenarnya. Selamat
datang pada fase baru dalam hidupmu. Saat teman-temanmu satu per satu
menghilang, saat mereka mulai mencari pekerjaan dan mencoba untuk berdikari. Saat
diriku hampir terjebak pada rutinitas yang memuakkan. Saat pembicaraan di
telepon tidak lagi membahas soal si anu yang punya gebetan si itu, tapi sudah
pada tataran, “Ayo temenin aku ke job
fair”. Saat kita mulai membutuhkan orang yang membuat kita berdiri tegap
seperti pohon kurma yang berada di gurun, pohon yang selalu memberikan buah yang
manis walau dilempari batu.
Akhir-akhir ini hal yang sedikit “aneh” seringkali
terlintas di pikiranku. Sebenarnya untuk apa aku bekerja? Untuk apa aku
belajar? Untuk apa aku mencari bekal hidup? Untuk apa seorang ayah rela
membanting tulang dan bercucuran keringat demi menghidupi keluarganya? Apakah ia
benar-benar bekerja demi bertahan hidup? Lalu apa bedanya dengan seorang businessman yang super sibuk untuk
bekerja siang dan malam? Apakah ia hidup hanya untuk bekerja?
Inilah artikel yang membawa saya terpilih di antara 150 mahasiswa se-Indonesia untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan tingkat nasional.
Pengembangan
Smadha Peduli sebagai Komunitas Peduli Pendidikan
Oleh
:Meina Febriani
Universitas
Negeri Semarang
Andai saja seluruh alumni sekolah peduli pada
nasib almamaternya, pasti tidak akan ada bangunan sekolah yang roboh di negeri
ini. Andai saja masing-masing alumni punya rasa tanggung jawab terhadap
keberlangsungan pendidikan adik-adik tingkatnya, pasti tak ada siswa yang
terpaksa melepas seragam sekolahnya dan putus sekolah. Padahal tanggung jawab
sekolah tidak hanya memberikan pengajaran terhadap anak didiknya, tapi juga
pendidikan yang dapat menciptakan insan yang peduli, sayangnya saat ini terlalu
banyak sekolah yang lupa menanam hati. Tugas berat yang harus dipikul sekolah
adalah, bagaimana cara menanamkan sebuah rasa balas budi pada masing-masing
siswanya ketika ia sudah dapat berdikari.
Dengan berlandaskan sebuah ideologi bahwa
ikatan silaturahmi atau rasa kekeluargaan mampu memperlancar rezeki dan
memperpanjang usia rupanya membentuk sebuah keyakinan kuat bahwa setiap sekolah
memang memerlukan sebuah komunitas alumni. Komunitas alumni yang dapat
memperlancar rezeki maksudnya, dengan bertambahnya intensitas berkomunikasi
maka akan membuat sebuah jaringan yang sekiranya mampu menambah relasi dalam
berbagai hal. Selain itu, memperpanjang usia maksudnya adalah munculnya rasa
bahagia ketika bertemu dengan kawan lama karena pada hakikatnya usia adalah
bagaimana sebaik-baiknya seseorang mampu memanfaatkan masa hidupnya.
Bermula dari sebuah pemikiran sederhana
tentang sebuah komunitas yang mampu mengikat para alumni untuk tetap menjalin
silaturahmi walaupun sudah lama meninggalkan bangku sekolah. Tak bisa
dipungkiri bahwa semakin tua manusia kian berganti fase dalam hidupnya, teman
lama yang tak satu pemikiran kian menjauh, lalu datanglah orang baru yang kita
anggap satu visi. Semakin lama, ikatan persahabatan dengan teman lama semakin
terkikis, apalagi jika tak memiliki topik pembicaraan yang sekiranya sejalan
maka teman sekolah dulu pun hilang tertelan waktu. Tak sedikit alumni yang malu
untuk menghadiri reuni atau acara berkumpul hanya karena dirinya merasa tidak
lebih sukses dari kawan-kawannya. Kontrasnya, kegiatan berkumpul antarkawan
lama biasanya hanya diisi dengan jamuan makan dan ditutup dengan acara
mengobrol tidak jelas dan hal-hal yang bersifat hedonis. Oleh karena itu,
diperlukan sebuah wadah yang memiliki visi dan misi yang jelas sehingga membuat
kegiatan berkumpul antarkawan menjadi lebih bermanfaat tanpa kesan
menghambur-hamburkan.
Tinggal di Semarang rupanya memberikan sensasi
tersendiri bagiku. Mulai dari kebanjiran ketika musim hujan, rob, sampai
kekeringan ketika musim kemarau. Bukan hanya sekali, dua kali, tapi sangat
sering aku mengendarai sepeda motor dalam keadaan jalan yang banjir bahkan
hampir selutut orang dewasa. Sampai-sampai aku paham benar trik agar si motor
tidak wafat ketika banjir. Pernah juga waktu itu ketika mengendarai motor pada
malam hari, hujan deras, dan banjir, beberapa pohon tumbang dan jalan pun
ditutup, terpaksa harus putar balik padahal selama di Semarang aku tak terlalu
hapal jalan.
Kali ini kemarau terasa sangat panjang. Persediaan
air di kos-kosan menipis. Terpaksalah kami
melaundry baju, mandi coboy, bahkan
keramas hanya dengan air sepuluh gayung. Beberapa anak kos pun memilih numpang
mandi di pom bensin. Yah, kondisi darurat memang memaksa kita untuk berpikir
cerdik, sampai-sampai aku dapat merumuskan trik mandi dengan air yang sangat
terbatas.
Teman-temanku yang akan wisuda sedang
heboh-hebohnya karena ada satu anak yang sebenarnya ia bukan seorang aktivis,
tapi sengaja menandai dirinya pada daftar nama wisudawan aktivis. Sontak teman-teman
yang benar-benar aktivis tidak terima, mereka menganggap bahwa kerja keras
mereka selama ini dihargai dengan sangat murah, bahkan tidak dihargai. Seseorang
yang tak aktif saja dapat dengan mudahnya mencantumkan namanya di daftar
aktivis, lalu apa guna kerja keras selama
bertahun-tahun?
Baiklah, sebenarnya apa sih yang akan didapatkan
dari sebuah julukan “wisudawan aktivis?” bukankah hanya selembar kertas
berbentuk sertifikat? Memang sih di negara kita masih mengultuskan sesuatu yang
hanya dilambangkan dengan hitam di atas putih. Namun, sahabat coba kau
renungkan lagi tentang esensi dari selembar kertas. Bukankah julukan hanyalah
sebagai julukan. Lalu apa yang kau dapatkan selama ini, ketika kau benar-benar
menjadi seorang aktivis pelajaran kehidupan, manajemen diri, kepemimpinan,
bahkan sahabat. Lalu apa yang dia dapatkan ketika dia mendapatkan sertifikat
wisudawan aktivis? Dan apakah ada kerugian bagimu ketika dia mendapatkan
julukan itu?
Percayalah dengan yang disebut berkah. Opo sing koe tandhur bakal ngunduh.
Hiburan kampung yang sangat aku rindukan. Entah kapan
kali terakhir aku menikmati wahana pasar malam. Di sekitar kampusku, tiap tahun
memang rutin diadakan pasar malam. Selama empat tahun, aku jarang sekali
mengunjungi pasar malam, yang kuingat adalah waktu semester satu aku pernah
pergi ke pasar malam, tapi untuk membeli jajan, ketika aku lihat wahana yang
ada aku cukup tersenyum simpul dan bergumam, “kampungan sekali”.
Namun kemarin, segalanya berubah. Aku dan Indah
kawanku, mengunjungi pasar malam dan sepertinya aku akan ketagihan. Betapa aku
menemukan berbagai perspektif yang berbeda dari pasar malam. Mulai dari tingkah
pedagang, pengunjung, sampai pada pengelola wahana pasar malam. Mulai dari
pedagang jilbab, pedagang harum manis, pedagang pakaian, pedagang perkakas
rumah tangga bahkan sampai pedagang pakaian dalam. Ada pula tingkah pengunjung
yang pergi bersama kekasih, pengunjung yang pergi seorang diri, pengunjung yang
pergi bersama keluarga, dan yang pergi dengan teman-temannya. Ada juga tingkah
pengelola wahana rumah hantu, bianglala, ombak banyu, pesawat terbang, kereta,
dan komidi putar.