Bukan, bukan sedang merasa sendu. Tapi kadang manusia memang takut
kehilangan. Apalagi orang yang dia cinta. Sepantasnya tidak begitu. Oleh karena
kita milik Tuhan maka segala sesuatu yang kita miliki juga milik-Nya. Hanya titipan.
Memenuhi isi hati dengan keyakinan bahwa yang kita pegang, puja, peluk
bukanlah milik kita bukanlah perkara yang mudah. Pantaskah merasa takut kehilangan? Yah,
lagi-lagi aku berpikir tentang hati. Tuhanlah pemilik hati ini. Dia mampu membolak-balikkannya
dengan sangat mudah.
Ya ampun shock sekali melihat album foto saya ketika zaman SMA. Gaya fotonya selalu diambil dari pojok atas dan tidak tahu kenapa (sepertinya zaman dulu memang sedang musim, jangan lupa sambil memanyunkan bibir). Tapi sepertinya sayang sekali jika tidak diabadikan. Mungkin itulah yang dinamakan gaya alay. Ya sudahlah, kata Raditya Dika dalam siklus hidup seseorang ada masa-masa alay, sebelum akhirnya ia menjadi dewasa tapi sayang sekali si friendster sudah lenyap dari peradaban (eh tapi katanya berubah jadi game online ya? padahal dia menyimpan semua bukti autentik). Selamat ya mungkin suatu saat anakku nanti akan menertawakan gaya berfoto emaknya :(
Aku tahu harusnya pagi ini aku tak semalas ini, tapi
pesona pulau kapuk rupanya telah berhasil membuaiku. Semestinya pagi ini aku
bangun cukup gasik untuk menyelesaikan koreksian ujian tengah semester yang tak
kujamah selama dua pekan. Letupan kata “antimalas” seolah-olah menjadi gol
bunuh diri bagiku. Seperti saat ini, harusnya aku sedang mengejar-ngejar narasumber
untuk aku wawancarai tapi yang terjadi aku malah asyik bermain-main dengan
imajinasiku.
Sesuatu yang kita rasakan belum pula dirasakan
sama oleh orang lain. Dari dulu aku menganggap bahwa mengirim sesuatu lewat pos
adalah hal yang unik, bahkan lebih dari itu, aku berani bilang bahwa itu adalah
hal yang romantis. Ketika kakakku berulang tahun aku pernah mengirimkan kado
untuknya lewat pos walaupun kami tinggal dalam satu rumah. Kenapa aku memilih
pos? entahlah yang jelas menanti sesuatu adalah hal yang asyik dan memiliki
sensasi tersendiri.
Dahulu ketika teknologi tak semaju sekarang, apa
yang dilakukan oleh sepasang kekasih yang terpisahkan oleh jarak? Tatkala belum
ada handphone¸social media, dan surat
elektronik. Bisa jadi hati mereka selalu berdesir ketika mendengar deru sepeda
motor atau sepeda onthel berwarna oranye khas milik tukang pos. Saat hidup tak
semudah saat ini, saat akses tak sepraktis zaman sekarang, komitmen seseorang
untuk menjalin hubungan mungkin benar-benar teruji.
Oleh-oleh dari
Indonesia Leadership Camp UI (9-12 November 2012)
Kamu boleh berteriak-teriak dan berpanas
ria, yang katamu sedang memperjuangkan nasib kaum duafa. Namun ironisnya di toilet
umum itu kamu tak pernah bersihkan sisa kotoranmu, bukankah itu sama saja dengan
menyakiti mereka?
(Introspeksi
diri, mulai dari hal kecil, tahu betul alasan dari perbuatanmu)
Bukankah bangsa Indonesia adalah bangsa yang
cerdas? Bahkan pada tahun 1928 pemuda-pemuda itu berkumpul dan bersumpah. Mereka
menjual “murah” bahasa daerahnya demi menjunjung bahasa persatuan bahasa
Indonesia.
(pemuda,
agen perubahan, bahasa Indonesia)
Soekarno rela keluar-masuk penjara demi
bangsa, beliau bahkan lebih memilih “menderita” daripada menjadi abdi Belanda
sebab pahlawan adalah orang yang mampu melampaui dirinya dan bersedia menderita
demi orang lain.
Selamat datang di kehidupan yang sebenarnya. Selamat
datang pada fase baru dalam hidupmu. Saat teman-temanmu satu per satu
menghilang, saat mereka mulai mencari pekerjaan dan mencoba untuk berdikari. Saat
diriku hampir terjebak pada rutinitas yang memuakkan. Saat pembicaraan di
telepon tidak lagi membahas soal si anu yang punya gebetan si itu, tapi sudah
pada tataran, “Ayo temenin aku ke job
fair”. Saat kita mulai membutuhkan orang yang membuat kita berdiri tegap
seperti pohon kurma yang berada di gurun, pohon yang selalu memberikan buah yang
manis walau dilempari batu.
Akhir-akhir ini hal yang sedikit “aneh” seringkali
terlintas di pikiranku. Sebenarnya untuk apa aku bekerja? Untuk apa aku
belajar? Untuk apa aku mencari bekal hidup? Untuk apa seorang ayah rela
membanting tulang dan bercucuran keringat demi menghidupi keluarganya? Apakah ia
benar-benar bekerja demi bertahan hidup? Lalu apa bedanya dengan seorang businessman yang super sibuk untuk
bekerja siang dan malam? Apakah ia hidup hanya untuk bekerja?
Inilah artikel yang membawa saya terpilih di antara 150 mahasiswa se-Indonesia untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan tingkat nasional.
Pengembangan
Smadha Peduli sebagai Komunitas Peduli Pendidikan
Oleh
:Meina Febriani
Universitas
Negeri Semarang
Andai saja seluruh alumni sekolah peduli pada
nasib almamaternya, pasti tidak akan ada bangunan sekolah yang roboh di negeri
ini. Andai saja masing-masing alumni punya rasa tanggung jawab terhadap
keberlangsungan pendidikan adik-adik tingkatnya, pasti tak ada siswa yang
terpaksa melepas seragam sekolahnya dan putus sekolah. Padahal tanggung jawab
sekolah tidak hanya memberikan pengajaran terhadap anak didiknya, tapi juga
pendidikan yang dapat menciptakan insan yang peduli, sayangnya saat ini terlalu
banyak sekolah yang lupa menanam hati. Tugas berat yang harus dipikul sekolah
adalah, bagaimana cara menanamkan sebuah rasa balas budi pada masing-masing
siswanya ketika ia sudah dapat berdikari.
Dengan berlandaskan sebuah ideologi bahwa
ikatan silaturahmi atau rasa kekeluargaan mampu memperlancar rezeki dan
memperpanjang usia rupanya membentuk sebuah keyakinan kuat bahwa setiap sekolah
memang memerlukan sebuah komunitas alumni. Komunitas alumni yang dapat
memperlancar rezeki maksudnya, dengan bertambahnya intensitas berkomunikasi
maka akan membuat sebuah jaringan yang sekiranya mampu menambah relasi dalam
berbagai hal. Selain itu, memperpanjang usia maksudnya adalah munculnya rasa
bahagia ketika bertemu dengan kawan lama karena pada hakikatnya usia adalah
bagaimana sebaik-baiknya seseorang mampu memanfaatkan masa hidupnya.
Bermula dari sebuah pemikiran sederhana
tentang sebuah komunitas yang mampu mengikat para alumni untuk tetap menjalin
silaturahmi walaupun sudah lama meninggalkan bangku sekolah. Tak bisa
dipungkiri bahwa semakin tua manusia kian berganti fase dalam hidupnya, teman
lama yang tak satu pemikiran kian menjauh, lalu datanglah orang baru yang kita
anggap satu visi. Semakin lama, ikatan persahabatan dengan teman lama semakin
terkikis, apalagi jika tak memiliki topik pembicaraan yang sekiranya sejalan
maka teman sekolah dulu pun hilang tertelan waktu. Tak sedikit alumni yang malu
untuk menghadiri reuni atau acara berkumpul hanya karena dirinya merasa tidak
lebih sukses dari kawan-kawannya. Kontrasnya, kegiatan berkumpul antarkawan
lama biasanya hanya diisi dengan jamuan makan dan ditutup dengan acara
mengobrol tidak jelas dan hal-hal yang bersifat hedonis. Oleh karena itu,
diperlukan sebuah wadah yang memiliki visi dan misi yang jelas sehingga membuat
kegiatan berkumpul antarkawan menjadi lebih bermanfaat tanpa kesan
menghambur-hamburkan.