Minggu, 16 Desember 2012

Allah Tahu Mana yang Terbaik



Belajar dari kegagalan. Tak mau lagi berdusta pada diri. Tak mau lagi menyombongkan diri.
Aku begitu yakin Kau tahu segala yang terbaik bagiku, dan menurut-Mu.
Dalam istikharahku,
Setiap sujud dan tetesan air mataku.
Sepagi ini.
Di sajadah itu.
Bahkan setiap hembusan udara dalam napasku, semoga hanya asma-Mu yang ada.
Tunjukkanlah pilihan-Mu.
Yang membuatku bisa melihat-Mu pada setiap tatapannya.
Yang bisa membuat kami kekal di surga-Mu.
Karena cara-Mu jauh lebih indah dari segala rencana manusia.

Jumat, 14 Desember 2012

Mozaik “The Professor”


Sumber
Sebuah mozaik kehidupan beberapa guru besar yang aku rekam dari perbincangan bersama sosok-sosok luar biasa itu. Insyaallah pada bulan Maret sekaligus untuk memperingati Dies Natalis, akan diterbitkan buku dengan judul “The Professor” yang merupakan kumpulan kisah hidup guru besar-guru besar se-Universitas Negeri Semarang. Tujuan pembuatan buku itu adalah untuk menginspirasi para mahasiswa dan dosen agar bisa terus belajar melalui perjalanan hidup tokoh-tokoh tersebut.

Prof Fathur Rokhman
Mengapa hanya ada satu orang ahli rayap di Indonesia? padahal jumlah rayap sangat banyak. Mengapa hanya ada tiga orang ahli buaya di Indonesia? padahal sebagai Negara tropis, banyak sekali buaya yang hidup di Indonesia. Jika orang-orang berjualan soto, mengapa kita harus berjualan soto? Bukannya takut bersaing, hanya saja jadilah yang berbeda. Carilah resep membuat bakso, dan berjualanlah bakso. Ia tidak dilahirkan sebagai orang yang cerdas. Bahkan ketika ia mendaftarkan diri sebagai siswa di SMA 1 Purwokerto, sebuah sekolah favorit di Banyumas, ia tidak diterima karena nilai yang ia punya tidak memenuhi standar. Ia pun berjalan kaki dari Purwokerto menuju Sokaraja yang berjarak sepuluh kilometer. Ia ingin merasakan betapa susahnya menjadi orang bodoh. Saat ini berkat kerja keras dan ketekunannya ia berhasil menjadi guru besar bidang Sosiolinguistik. menurutnya dosen yang baik itu tidak hanya menghabiskan waktunya di kelas. Dosen yang baik itulah yang mengajar melebihi jam di kelas, artinya ia membuka waktu kapan saja untuk menerima konsultasi dari mahasiswa. Tidak hanya itu, dosen harus memiliki penelitian-penelitian yang mengagumkan dan mampu menginspirasi mahasiswa-mahasiswanya.

Jumat, 30 November 2012

Sebuah Refleksi dari: Menimang Bahasa Membangun Bangsa

*Sebuah refleksi studium generale dengan Prof. Mahsun, M.S Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nasional.

Sumber

“Kadang kita tak bisa menjelaskan diri sendiri. Namun, berkat orang lainlah kita bisa terjelaskan. Kita bisa menamai jari tengah kita dengan sebutan si tengah karena ada masing-masing dua jari di sebelah kanan dan kirinya.” (Prof. Mahsun, M.S.)

Belajar bahasa adalah belajar budaya. Bagaimana tidak? Sebuah etnis bisa dikenali lantaran bahasanya. Dalam perjalanan sebuah bangsa, bahasa adalah hal penting yang harus mendapat perhatian. Tatkala Israel sudah memiliki wilayah, mereka menggali dan menghidupkan kembali bahasa Ibrani dari naskah-naskah kuno dan menggunakannya sebagai bahasa mereka. Artinya, kedudukan bahasa sangat penting untuk menunjukkan identitas.
Indonesia yang terdiri atas berbagai kebudayaan memang membutuhkan sebuah unsur  pengikat kebangsaan.  Bahasa merupakan salah satu unsur pengikat kebangsaan selain agama dan ras. Pilihan Indonesia untuk menggunakan bahasa sebagai pengikat merupakan pilihan yang sangat strategis. Ras dapat teridentifikasi karena bahasa, suku Jawa menamai dirinya Jawa karena ia memiliki bahasa Jawa. Namun, Indonesia tak menggunakan agama sebagai unsur pengikat.  Ingatlah pada kegagalan piagam Jakarta yang menyebutkan bahwa “….yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, …” dianggap merupakan hal yang sensitif karena menyebut urusan agama. Padahal pada kenyataannya di Indonesia agama tidak hanya Islam.

Hati Ini Milik Siapa?

Sumber


Bukan, bukan sedang merasa sendu. Tapi kadang manusia memang takut kehilangan. Apalagi orang yang dia cinta. Sepantasnya tidak begitu. Oleh karena kita milik Tuhan maka segala sesuatu yang kita miliki juga milik-Nya. Hanya titipan.

Memenuhi isi hati dengan keyakinan bahwa yang kita pegang, puja, peluk bukanlah milik kita bukanlah perkara yang mudah.  Pantaskah merasa takut kehilangan? Yah, lagi-lagi aku berpikir tentang hati. Tuhanlah pemilik hati ini. Dia mampu membolak-balikkannya dengan sangat mudah.

Minggu, 25 November 2012

Masa-masa Kejayaan si Alay

Ya ampun shock sekali melihat album foto saya ketika zaman SMA. Gaya fotonya selalu diambil dari pojok atas dan tidak tahu kenapa (sepertinya zaman dulu memang sedang musim, jangan lupa sambil memanyunkan bibir). Tapi sepertinya sayang sekali jika tidak diabadikan. Mungkin itulah yang dinamakan gaya alay. Ya sudahlah, kata Raditya Dika dalam siklus hidup seseorang ada masa-masa alay, sebelum akhirnya ia menjadi dewasa tapi sayang sekali si friendster sudah lenyap dari peradaban (eh tapi katanya berubah jadi game online ya? padahal dia menyimpan semua bukti autentik). Selamat ya mungkin suatu saat anakku nanti akan menertawakan gaya berfoto emaknya :(

Rabu, 21 November 2012

Pos

Aku tahu harusnya pagi ini aku tak semalas ini, tapi pesona pulau kapuk rupanya telah berhasil membuaiku. Semestinya pagi ini aku bangun cukup gasik untuk menyelesaikan koreksian ujian tengah semester yang tak kujamah selama dua pekan. Letupan kata “antimalas” seolah-olah menjadi gol bunuh diri bagiku. Seperti saat ini, harusnya aku sedang mengejar-ngejar narasumber untuk aku wawancarai tapi yang terjadi aku malah asyik bermain-main dengan imajinasiku.
Sesuatu yang kita rasakan belum pula dirasakan sama oleh orang lain. Dari dulu aku menganggap bahwa mengirim sesuatu lewat pos adalah hal yang unik, bahkan lebih dari itu, aku berani bilang bahwa itu adalah hal yang romantis. Ketika kakakku berulang tahun aku pernah mengirimkan kado untuknya lewat pos walaupun kami tinggal dalam satu rumah. Kenapa aku memilih pos? entahlah yang jelas menanti sesuatu adalah hal yang asyik dan memiliki sensasi tersendiri.
Dahulu ketika teknologi tak semaju sekarang, apa yang dilakukan oleh sepasang kekasih yang terpisahkan oleh jarak? Tatkala belum ada handphone¸social media, dan surat elektronik. Bisa jadi hati mereka selalu berdesir ketika mendengar deru sepeda motor atau sepeda onthel berwarna oranye khas milik tukang pos. Saat hidup tak semudah saat ini, saat akses tak sepraktis zaman sekarang, komitmen seseorang untuk menjalin hubungan mungkin benar-benar teruji.