Prof. Tri Marhaeni seorang guru besar sosiologi
gender dari Universitas Negeri Semarang tak pernah menginginkan dirinya untuk
menjadi guru, apalagi masuk Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Ia
menjadi mahasiswa IKIP Semarang karena sang orang tua yang memaksanya agar
menjadi seorang guru. Ia heran mengapa kakak-kakak lelakinya diperbolehkan
masuk universitas dan bebas memilih profesi yang diminati, sedangkan dirinya
tidak?
Pada dasarnya setiap perempuan memiliki hak untuk
memilih dan beraktualisasi diri. Seiring dengan perkembangan pendidikan bagi
perempuan maka mereka pun punya kewenangan. Perempuan sudah bisa maju dengan
kemampuan dan wawasannya. Bahkan ia membutuhkan tempat untuk mengambangkan
potensinya.
Pandangan masyarakat saat ini masih sangat
stereotip terhadap profesi seorang perempuan. Bahwa perempuan hanya pantas
melakukan kegiatan 3 M yaitu; masak, macak, dan manak. Jika ada sedikit
kelonggaran maka profesi yang paling ideal bagi seorang perempuan adalah guru.
Alasannya masih cukup klise, guru memiliki banyak waktu untuk keluarga.
Sesempit itukah?
Kalau hanya dengan alasan “daripada nganggur
lebih baik lanjut S-2 saja”, menurutku itu adalah alasan yang sangat tidak
bijak. Lalu bila kau jawab dengan alasan, “tapi persaingan saat ini jauh lebih
sulit.” Oleh karena persaingan jauh lebih sulit maka jangan sampai kau
permainkan pendidikan.
Sesungguhnya pendidikan itu suci maka harus
disampaikan dengan suci pula. Bila pendidikan adalah sebuah proses memanusiakan
manusia maka pendidikan seharusnya tidak hanya meliputi transfer of knowledge tapi lebih dari itu, ada transfer of value, transfer of thinking, dan transfer of method. Yang aku sesali saat ini adalah kelonggaran sistem
pendidikan yang masih berpihak pada yang berduit. Pada negara yang masih
mengultuskan selembar kertas bernama ijazah dan gelar yang tercantum pada
sebuah nama. Padahal ada sebuah pertanggungjawaban yang besar dari ilmu yang
kau pelajari, dari gelar yang kau terima. Seharusnya selalu ada cita-cita mulia
dari sebuah pendidikan.
Kita hidup di dunia seperti mampir
(berhenti sejenak) untuk minum seteguk dua teguk air, begitulah perumpamaannya.
Kita adalah pengembara yang menempuh perjalanan jauh.
Angin yang berhembus kala itu di Kota Semarang,
gerimis yang menemani perbincangan kami, sepasang sahabat. Sembari memakan
beberapa irisan Mangga Harum Manis yang ia bawa dari tanah Tidar. “Aku sengaja
membawakan makanan buat anak kost,” katanya padaku. Aku tersenyum senang,
sembari sedikit berjingkrak dari tempat dudukku.
“Bagaimana kehidupanmu sekarang Nit?” tanyaku tanpa memalingkan wajah
dari komputer jinjing di hadapanku.
“Ya begitulah Min, nggak bisa kemana-mana, ibu kan keluar masuk rumah
sakit terus,” jawab Nita.
Aku memalingkan wajah. “Tapi sekarang sudah sehat kan?”
“Lumayan Min, sudah di rumah tapi sekarang beliau bergantung sekali
padaku.”
“Maksudmu?” tanyaku mulai serius.
Aku dan Nita adalah teman sekamar sejak tahun 2008
sampai 2012. Bahkan orang tua kami sudah saling mengenal baik. Semenjak aku
wisuda, aku memutuskan untuk pindah kos. Namun, bukan berarti komunikasi kita
terputus sampai di situ. Beberapa bulan ini kami mulai jarang berkomunikasi ya,
paling tidak seminggu dua kali kami saling mengirim sms. Kadang pula kami
saling menelpon. Entahlah, mungkin aku pantas untuk mengutuk diri. Semenjak aku
terjebak pada rutinitasku yang memuakkan, untuk kuliah dan bekerja, aku dan
Nita pun semakin jarang berkomunikasi. Sekali dua kali dalam sepekan dia
mencoba menghubungiku, kadang aku ogah-ogahan untuk membalasnya. Begitu pula
dengan dia, kalau aku kesepian dan mencoba menghubunginya terkadang pesanku
dijawab begitu lama. Dia juga sudah terperangkap dalam kesibukkannya.
Mungkin terdengar konyol, tapi ini serius. Dulu aku beranggapan bahwa dengan menjadi
seseorang yang berada di jabatan terpuncak, kita bisa melakukan segala hal,
termasuk merealisasikan segala impianku. Dengan jabatan itu, yang aku takutkan
adalah intimidasi-intimidasi untuk berbelok arah dan idealisme yang terlupakan.
Namun, saat ini aku merasa bahwa pemimpin bukanlah tentang jabatan struktural. Dia
hanya berkorban, berjuang, dan berbuat lebih banyak dari orang lain. Bukan
untuk mengejar pujian atau pun nama yang selalu terpampang. Jauh lebih mulia
dari sekadar pencitraan publik. Masih sangat ingin bermimpi dan
merealisasikannya. Dan biarkan lutut ini berdiri lebih tinggi dari gunung
tertinggi di dunia sekalipun. Untuk hidup di dunia yang sementara ini,
manfaatkanlah sebaik-baiknya.
“Kemudian yang kamu perlu cuma kaki yang akan
berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari
biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan
lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari
baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang
akan selalu berdoa. Keep our dreams
alive, and we will survive.” (Donny Dhirgantoro, 5 cm)