Ada yang beda pada malam itu.
Hujan dan mantel yang tak mampu menghalau basahnya tubuh ini. Dua manusia yang
tak pernah berikrar untuk saling mencintai. Entahlah aku pun tak tahu apakah
kedua hati itu telah bertaut. Sungguh bukan gulita biasa, apalagi malam tanpa
makna. Mungkin bagi yang lain tak ada beda, tapi sungguh bagi dua manusia itu,
malam yang membuat mereka bersama akan menjadi memori tak terhapuskan.
Tak ada bintang, apalagi
pancaran bulan. Tapi malam itu sangat indah, malam yang mereka habiskan berdua.
Sebuah keindahan yang mereka ciptakan sendiri.
Karena cinta?
Mungkinkah cinta sebenarnya
adalah sejenis adsorben dari segala zat yang dianggap wajar dan biasa, bahkan
bisa menyerap racun di segala suasana?
Beri aku jawaban, meskipun aku
tahu kau juga tak bisa jelaskan.
Entahlah.
Kita minta jawaban pada Tuhan
saja.
Dear Platonik,
“Mencintaimu dalam diam”, bisa jadi menjadi
sesuatu hal yang sangat klise. Bahkan bisa dibilang norak. “Mengapa jika kau
mencintai, kau harus menyembunyikan perasaanmu?”
Platonikku, pada hari itu saat kutahu kau masih
setia berdiri di sampingku adalah sesuatu hal yang sangat istimewa untukku.
Saat kau mampu menahan segala egomu, amarahmu, bahkan kau masih saja tersenyum padaku
ketika aku melakukan segala hal bodoh.



