Minggu, 03 Maret 2013

Dijodohkan Tuhan


Ada yang beda pada malam itu. Hujan dan mantel yang tak mampu menghalau basahnya tubuh ini. Dua manusia yang tak pernah berikrar untuk saling mencintai. Entahlah aku pun tak tahu apakah kedua hati itu telah bertaut. Sungguh bukan gulita biasa, apalagi malam tanpa makna. Mungkin bagi yang lain tak ada beda, tapi sungguh bagi dua manusia itu, malam yang membuat mereka bersama akan menjadi memori tak terhapuskan.
Tak ada bintang, apalagi pancaran bulan. Tapi malam itu sangat indah, malam yang mereka habiskan berdua. Sebuah keindahan yang mereka ciptakan sendiri.
Karena cinta?
Mungkinkah cinta sebenarnya adalah sejenis adsorben dari segala zat yang dianggap wajar dan biasa, bahkan bisa menyerap racun di segala suasana?
Beri aku jawaban, meskipun aku tahu kau juga tak bisa jelaskan.
Entahlah.
Kita minta jawaban pada Tuhan saja.

Dear Platonik,
“Mencintaimu dalam diam”, bisa jadi menjadi sesuatu hal yang sangat klise. Bahkan bisa dibilang norak. “Mengapa jika kau mencintai, kau harus menyembunyikan perasaanmu?”
Platonikku, pada hari itu saat kutahu kau masih setia berdiri di sampingku adalah sesuatu hal yang sangat istimewa untukku. Saat kau mampu menahan segala egomu, amarahmu, bahkan kau masih saja tersenyum padaku ketika aku melakukan segala hal bodoh.

Rabu, 13 Februari 2013

Menjelang 23


Sebuah rasa syukurku.
Karena engkau: Lelaki Platonik

Salam,
Hai, Lelakiku apa kabarmu? Pagiku kali ini terbuat dari senyumanku untukmu. Di atas ranjang mata yang terpejam, tak inginku terlelap kembali, kantuk terkalahkan pagi. Sedang apa kau di sana? apakah kau juga menggenggam rindu untukku?

Menjelang 23 ini, aku ingin katakan padamu bahwa banyak sekali hal yang terjadi dalam hidupku. Rasa syukur itu tentu saja yang selalu kupeluk erat. Kau datang padaku dan menggoreskan kisah pada jalan berdebu. Keping hati yang sedang mencari, seperti sepatu kuyu yang hilang satu. Kau datang kehujanan, dengan mantel basah dan bibir menggigil kedinginan. Bukan, bukan sebab sepeda tua yang kau kayuh malam itu. Bukan juga karena sapa lembut dirimu. Kau datang dengan hadiah untukku, senyuman yang menghangatkan tubuhku di antara rintik hujan. Di balik punggungmu, masih kupeluk erat bayanganmu.

Selasa, 12 Februari 2013

Cuma Tentang Benih



Cerita Pertama

Ada sebuah pohon yang sangat rindang. Selain itu, ia juga memiliki akar dan batang yang kuat dan dahan yang menjulang tinggi. Dua buah benih ingin sekali menjadi seperti induknya.
“Hai saudaraku apakah kau ingin menjadi pohon yang rindang, tinggi, dan kuat seperti induk kita?” tanya sebuah benih.
“Ya tentu saja, bahkan aku ingin jauh melebihi induk kita,” jawab benih yang lain.
“Tapi bagaimana caranya?”
“Tentu saja dengan pergi jauh dari induk kita.”
“Kenapa harus begitu? Aku takut jika harus tumbuh dan pergi jauh, aku tak yakin bisa bertahan hidup, jangan-jangan nanti aku dimakan hewan, aku pun tak bisa tumbuh.”
“Kenapa harus takut? Baiklah aku akan membiarkan diriku tertiup angin dan aku akan tumbuh di tanah yang jauh.”
Puluhan tahun kemudian benih yang jatuh tidak jauh dari induknya ternyata tidak tumbuh lebih besar dari induknya. Tentu saja bisa begitu, ia harus berbagi zat hara dan air tanah dengan sang induk. Ia pun hidup biasa-biasa saja.
Lain halnya dengan benih yang lain. Ketika angin mendaratkannya pada sebuah tanah ia dapat tumbuh dengan subur  tanpa harus berbagi air dan zat hara. Ia pun tumbuh jauh lebih tinggi dan besar dari induknya.
Seorang bijak pernah berkata, “Benih yang jatuh di bawah pohon induknya tidak akan tumbuh melampaui induknya.”

“Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan penggantidari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” (Imam Syafii)

Cerita Kedua
Alkisah terdapat dua orang yang sedang beristirahat di bawah sebuah pohon yang rimbun. Mereka adalah seorang ayah dan anaknya yang berbadan kecil. Dua orang itu tampak sangat lelah setelah berdagang. Puas beristirahat, sang anak bertanya pada ayahnya, “Ayah apakah suatu saat aku bisa menjadi orang yang kuat seperti Ayah?”

Kamis, 31 Januari 2013

Rindu (?)


Cemara berderai mengikuti jejak langkah
Langit berubah warna
Tak terasa
Dalam bisu kuberkata, dalam buta kumelihat
Aku tak tahu lagi apa beda hati yang mendera bukan karena derana
Yang kukira dulu mati rasa

Aku hanya bisa melihatmu dari beamount tua di depan kastil Venesia
Punggungmu menghilang di balik butiran gerimis

Aku tak mengenali diriku
Terasa masih buta dan bisu
Seperti tatap yang sulit kuungkap
Seperti kata yang sulit terucap

Mungkinkah ini dera rindu?
Dalam sebuah sajak sederhana
Pada tatapan Arjuna

O mungkinkah kau lelaki platonik itu?


(Kusuma, 30 Januari 2013)

Sumber

Selasa, 01 Januari 2013

Apakah Guru Adalah Pekerjaan Paling Ideal bagi Perempuan?

Sumber
 Prof. Tri Marhaeni seorang guru besar sosiologi gender dari Universitas Negeri Semarang tak pernah menginginkan dirinya untuk menjadi guru, apalagi masuk Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Ia menjadi mahasiswa IKIP Semarang karena sang orang tua yang memaksanya agar menjadi seorang guru. Ia heran mengapa kakak-kakak lelakinya diperbolehkan masuk universitas dan bebas memilih profesi yang diminati, sedangkan dirinya tidak?
Pada dasarnya setiap perempuan memiliki hak untuk memilih dan beraktualisasi diri. Seiring dengan perkembangan pendidikan bagi perempuan maka mereka pun punya kewenangan. Perempuan sudah bisa maju dengan kemampuan dan wawasannya. Bahkan ia membutuhkan tempat untuk mengambangkan potensinya.
Pandangan masyarakat saat ini masih sangat stereotip terhadap profesi seorang perempuan. Bahwa perempuan hanya pantas melakukan kegiatan 3 M yaitu; masak, macak, dan manak. Jika ada sedikit kelonggaran maka profesi yang paling ideal bagi seorang perempuan adalah guru. Alasannya masih cukup klise, guru memiliki banyak waktu untuk keluarga. Sesempit itukah?

Tangan Ayah

Sebelum ayam berkokok dan langit mencerah
Aku kirimkan satu peti rindu untuk ayah
Yang telah aku punguti dalam setiap mimpi
Lewat samudra aksara

Aku hanya ingin melihat tangannya yang selalu menggenggam senja
Di ladang yang gersang dan sengon-sengon yang menjulang

Ia katakan pada hama bahwa tangannya tak akan lelah
Ia peluk hujan dan berbisik, jangan matikan ladangnya

Demi musim panen yang dinanti
Dan sedikit rupiah untuk biaya kuliah adik

Tangan ayah akan selalu halus
Walau sudah menua dan tak lepas dari cangkul