Suatu sore di kantor. Saat itu gerimis masih cukup istimewa. Sepuluh
menit pertama kala gerimis asik mencumbu basah tanah yang semakin mongering,
justru adalah hal yang puitis. Sebab, ada harum tanah yang bisa kau nikmati.
“Sedang apa Dik?” tanya beliau.
“Sedang iseng saja Pak, ini nyicil tesis, sudah ada tagihan rupanya,”
jawab saya sembari tersenyum.
“Dik, kau tak iri melihat teman-teman kau menikah?” sambungnya.
“Ya sampai saat ini biasa saja sih Pak, saya malah ikut seneng,
mungkin belum waktunya saja buat saya Pak.”
“Saya senang melihat orang yang punya semangat tinggi seperti kau. Ya,
semangat untuk membuat hidup jadi lebih baik dan terus membaik. Namun, ada
baiknya kau juga tak lupakan untuk membangun kehidupan yang baru, sebab itu
juga upaya untuk membuat hidupmu jadi lebih baik.”
“Meina Febriani”, itulah nama saya. Nama yang
cukup aneh sebab ada dua nama bulan di sana, Mei dan Februari. Saya dilahirkan
pada tanggal 18 Februari 1990, di Ajibarang, Kabupaten Banyumas, sebuah desa
kecil di daerah selatan Jawa Tengah. Lahir dan tinggal sampai usia 18 di
Banyumas membuat saya tertarik memelajari budaya Banyumas. Banyak orang yang
menganggap saya etnosentris dan terlalu membanggakan Banyumas. Sebenarnya
pendapat itu cukup berdasar sebab sebagian besar karya ilmiah saya bertema
Banyumas, bahkan skripsi saya. Tidak hanya itu, saya pun berencana untuk
menulis tesis saya yang kembali mengusung muatan budaya, mungkin kali ini lebih
luas karena yang akan saya teliti adalah muatan budaya Jawa.
Saya yang juga mengidap ailurophobia ini,
sesungguhnya tidak terlalu berterima bila disebut sebagai etnosentris. Saya
menganggap bahwa, “Bila bukan kita yang melestarikan kearifan lokal, lalu siapa
lagi?” Banyak sekali identitas kultural Banyumasan yang saya kagumi dan memengaruhi
kepribadian saya, seperti sikap cablaka,
blakasutha, egaliter, blak-blakan, dan nilai-nilai luhur Banyumasan yang
lain. Pandangan sempit mengenai etnosentris mungkin terlontar sebab hanya
melihat kasus dari faktor makro. Menurut saya, mencintai sesuatu yang besar,
bisa dimulai dengan memerhatikan hal yang dianggap sepele.
Saya lahir di tengah keluarga yang tidak terlalu
demokratis dan sedikit saklek terutama dalam memilih cita-cita. Oleh karena
kedua orang tua saya berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), mereka hampir
selalu mengultuskan PNS adalah pekerjaan yang paling mapan.
Apakah benar kata Raditya Dika bahwa ada fase
harus dilalui oleh manusia menjelang dewasa? Setelah melalui fase anak-anak
yang penuh keceriaan, lalu ABG atau remaja yangidentik dengan “alay”. Sebelum ia menjadi dewasa, masa-masa ABG itulah
yang biasanya dipenuhi dengan ke-alay-an. Alay disebut-sebut sebagai
akronim“anak layangan”, orang yang
dianggap norak dan ndeso. Biasanya
ke-alay-an remaja ditandai dengan kegandrungan pada boyband, lalu menulis
dengan huruf kapital secara berantakan, menggunakan bahasa yang dirasa “aneh”,
tapi tentu saja keren menurut mereka. Terus terang saya juga bingung untuk
mendefinisikannya.
J.W.M. Bakker Sj dalam bukunya yang berjudul
Filsafat Kebudayaan menjelaskan bahwa ada hal-hal yang dinamakan dengan faktor
kebudayaan. Faktor-faktor itulah yang dapat membentuk suatu kebudayaan,
diantaranya ada yang disebut sebagai teori evolusi dan degenerasi.
Evolusi merupakan perubahan yang terjadi secara
perlahan-lahan menjadi lebih baik atau lebih kompleks. Evolusi diajukan sebagai
faktor kebudayaan pada pertengahan abad XIX, pandangan itu diambil alih dari
ilmu biologi, orang yang sangat populer menggencarkan teori itu adalah Ch.
Darwin dengan publikasi yang menggemparkan The
Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preservation of Favoured
Races in theStruggle of Life. Tidak
hanya ilmu biologi, evolusionisme juga berkembang dalam perkembangan kebudayaan
manusia. Contoh evolusi yang dilalui manusia adalah masa-masa berburu dan
meramu, lalu menggunakan otot, gigi, berkembang menjadai masa-masa penuh
peralatan , menanam , beternak, membangun kota, dan berpolitik.
Sebuah tulisan yang mungkin bisa disebut lanjutan dari cerita rekan
saya Gita Wiryawan : Menjelma Sisifus.
Sebuah jawaban untuk pengejaran cinta selama empat
tahun. Ini benar-benar sebuah pengejaran. Yang Bukit tahu mengejar cinta
seperti menggenggam pasir, bukan seperti sedang bermain petak umpet. Kenyataannya
Bukit harus bersembunyi dari Sisifus, melakukan repetisi penolakan.
Ia tidak sepenuhnya seperti Sisifus. Hanya saja
ada bagian dalam hidupnya yang menyerupai hukuman Sisifus, repetisi. Sebuah kegagalan
yang ia ulang, mungkinkah sebab kepuasan atau obsesi? Inilah kisah antara Sisifus
dan sebuah Bukit. Bukan hukuman abadi, tapi sebuah usaha untuk meletakkan batu
di atas Bukit. Batu inilah yang katanya simbol ketulusan cintanya melalui
repetisi dan usaha nyata.
Dalam mitologi Yunani, Sisifus mendapat hukuman untuk mengangkat batu besar
ke atas Bukit. Setelah sampai, batu besar itu menggelinding dan ia harus
kembali mengangkatnya ke Bukit, begitu seterusnya. Sisifus inilah, simbol repetisi kegagalan, melakukan sesuatu yang ia
tahu bahwa sebenarnya gagal tapi tetap melakukannya. Kali ini ia benar-benar
menyerah. Simbol Sisifus sudah usai baginya.
Sisifus tak lagi mengangkat batu ke atas Bukit. Sisifus
dengan bijak mengakhiri hukumannya, ia membiarkan batu itu di Lembah, setelah
ia sadar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diafirmasi Bukit. Batu yang ia bawa benar-benar
tak bisa diterima oleh Bukit, membuatnya terus menggelindingkan batu itu ke Lembah.
“Aku tak merasakan bahwa batu itu sebuah simbol ketulusan,
yang aku rasa batu itu menjadi simbol obsesi
yang ia lakukan secara terus-menerus,” ucap Bukit pada Sisifus. “Pengejaran bukanlah
sesuatu hal yang buruk, tetapi ada hal yang tidak bisa diafirmasi dari segala
repetisimu,” lanjutnya.
Izinkan aku
belajar pada-Mu. Kau yang Maha Memberi Teladan.
Ini masih pukul 20 tapi badanku sepertinya sudah remuk redam. Han,
sudah satu pekan ini aku lembur di kantor, pulang kerja tengah malam dan pukul
7 pagi aku sudah kembali bekerja. “Perjuangan adalah satupelaksanaan cita dan rasa, perjuangan adalah
pelunasan kesimpulan penghayatan”, begitu kata Rendra dalam “Sajak Peperangan
Abimanyu”.
Han, tahukah Kau bahwa aku merindukan-Mu?
Saat aku berlari melunasi kata-kata akankah Kau mengejar dan memelukku?
Semakin aku jauh melangkah dan berlari mengejar mimpi, semakin erat dan
mesrakah aku dalam peluk-Mu?
Sebuah ucapan penuh hikmah “Ridha
nas ghayatun la tudrak”, keridaan seluruh umat adalah hal yang tidak
mungkin terjadi. Begitu jugakah yang Kau rasakan Han? Kenapa tak semua orang
merasa bahagia? Juga rida pada satu tujuan? Padahal yang aku tahu, bahagia itu
relatif. Setiap orang memiliki konsep kebahagiaan dan itulah hak prerogatif
sebagai seorang manusia.
Aku tak lagi peduli pada hal itu, sebab tak mungkin aku menjadi
nahkoda pada setiap kereta hati manusia. Aku hanyalah pemasung rambu-rambu yang
terpampang di jalanan itu. Entah kemana ia pecutkan kuda itu, tak lagi bisa aku
memaksanya lewat jalan mana.
Bila Tuhan memberikanku kesempatan untuk terlahir kembali, atau
mengulang lagi hidupku, mau jadi apakah aku?
Aku masih akan memilih jalan hidupku yang seperti ini. Jika aku
meminta kepada Tuhan untuk menggariskan jalan B karena aku tahu bahwa jalan A
yang kulalui sekarang adalah jalan yang salah, bisa jadi Meina yang terlahir
kembali nantinya benar-benar tak tahu dengan jalan B nya. Dia hanyalah Meina
yang mengikuti takdir hidupnya untuk menjalani B. Meski aku tahu jalan yang aku
tempuh ini terkadang berliku dan terjal, bahkan seringkali sedikit melenceng
dan tersesat, tapi dari jalan inilah aku dapat menentukan pilihan hidupku. Aku
jadi tahu mana yang benar dan mana yang salah hingga aku bisa tahu alasan dalam
setiap pilihan hidupku.
Ya Tuhan, aku begitu bersyukur dalam keadaanku sekarang, keluarga yang
aku sayangi dan teman-teman yang sangat baik kepadaku. Semoga Engkau membalas
setiap helai kebaikan mereka dengan berlipat-lipat kali lebih banyak. Aamiin.