Senin, 10 Februari 2014

Untuk Suamiku (Kelak)

Wahai separuh jiwaku, semoga engkau selalu berada dalam lindungan Tuhan. Bila Tuhan menghendakiku untuk bersujud kepadamu, sungguh engkaulah jembatan surgaku. Kita mesti pahami bersama bahwa kita sudah bersepakat untuk membangun rumah di dunia dan juga di akhirat. Artinya, kita harus konsisten untuk menjalani hidup sebagai ibadah.
Suamiku, bukankah dulu sebelum menikah aku sudah pernah berkata kepadamu bahwa masa depan kita masih suci, tak perlu kau risaukan masa lalu kita. kita akan sama-sama membuka lembaran putih lalu menggoreskan lembaran itu dengan pena kesakinahan. Aku juga sudah jelaskan bahwa aku tak terlalu pandai di dapur, tak terlalu pandai mengatur keuangan, dan mungkin tak bisa selalu berada di rumah. Banyak yang mengira bahwa aku seorang perempuan yang career oriented, tapi kau tak peduli. Kau bilang padaku bahwa kau tahu tujuanku bekerja adalah untuk beribadah. Sungguh aku sangat terharu atas segala kemaklumanmu kepadamu. Katamu waktu itu, “Cinta itu sederhana.”
Tak perlu jadi orang paling kaya, kau juga tak perlu jadi presiden untuk membuatku bahagia. Aku hanya ingin kita membangun keluarga yang penuh dengan kebarokahan. Kita akan hidup bersama selamanya. Setelah orang tuaku melepasku kepadamu, ketakzimanku sepenuhnya kupersembahkan padamu. Ketika subuh, magrib, dan isya kita akan salat berjamaah dan bersalaman setelah salam. Kucium tanganmu, mengharap ampunanmu pada setiap kekuranganku, dan kau kecup keningku dengan mesra. Sembari menunggu isya, kau buka kitab suci dan membacanya bersama-sama denganku.
Bila ada rezeki berlebih kita akan kunjungi tanah suci bersama. Kita akan melingkari rumah Allah dengan memanjatkan doa keselamatan untuk keluarga kita. Di tanah suci kita mengkhatamkan Quran dan bersujud di depan ka’bah. Semoga kita juga bisa mengajak orang tua kita.

Menjelang 24

“Kapan menikah?” sepertinya jadi pertanyaan yang lazim terucap pada perempuan usia di atas 23. Setahuku di Indonesia, apalagi di Jawa usia 23 sampai 25 adalah usia yang paling banyak dipilih perempuan untuk menikah. Mengapa?
Mungkin pertimbangan yang utama adalah faktor produktivitas biologis, budaya, dan agama. Faktor produktivitas biologis mungkin jadi faktor yang seolah-olah terlihat paling mendesak, aku pernah dengar kalau perempuan dianjurkan untuk tidak melahirkan pada usia lebih dari 35 tahun. Kalau dilihat dari faktor budaya, ini juga dipengaruhi oleh faktor yang pertama tadi. Aku lebih menganggap faktor ini merujuk pada beban sosial, perempuan yang berusia lebih dari 30 dan belum menikah maka cap “Perawan tua” akan menancap pada dirinya, siapa yang tak sedih? Faktor yang terakhir adalah agama. Sebenarnya agama seharusnya menjadi yang nomor satu, tapi entahlah, jarang sekali ada yang menggunakan alasan ini pada kasus “Mendesaknya pernikahan”.
Suatu sore kudengar seorang ibu menelepon anak perempuannya, “Ibarat bunga, perempuan yang berusia lebih dari 25 tahun sudah menjadi bunga yang layu, mana ada kumbang yang mau hinggap.”
Gadis itu terdiam.
“Ingat, kamu sudah hampir 24. Besok kamu berkenalan dengan seorang pria, dia……”
Gadis itu tetap terdiam, dia pun tersenyum. Sesaat kemudian setelah menutup teleponnya, tangisnya pecah, pikirannya menjelajah pada suatu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, perjodohan.

Jumat, 10 Januari 2014

Cinta Itu Bagai Mencari Fosil Dinosaurus


Sumber

“Mei, mengajak perempuan makan di warteg tidak akan bikin dia jatuh cinta. Kamu tahu, cinta itu hanya ada di negeri dongeng, di dunia nyata yang ada hanya ongkos! Bangun Mei…..” kata seorang kawan pada saya. “Cinta tidak bakal bisa buat bayar cicilan rumah,” lanjutnya.
“Sekejam itukah dunia? Apakah benar saya makhluk negeri dongeng yang tersesat di dunia nyata?”
“Meina, tidak usah lagi kamu terheran-heran mendengar cerita teman-temanmu yang baru saja membeli tas seharga dua juta dan mereka bahagia.”
“Tapi tas saya seharga enampuluh ribu, saya juga bahagia.”
Murah sekali kamu Meina. Yakin kamu akan tenggelam dalam kebodohan ini di saat teman-temanmu mulai realistis?”
“Saya bodoh dan tidak realistis? Saya bahagia ketika diajak makan oleh orang yang saya cintai, meskipun itu di tempat yang sangat sederhana dengan lauk yang sederhana. Saya sangat menikmatinya.”
“Mungkin saja. Tapi itu sekarang kan? Tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu sudah tahu, seberapa mahalnya biaya masuk sekolah anakmu kelak.”
“Oh ya? Beasiswa masih banyak.”
“Hahaha, dasar alien.”
“Alien?”
“Emmm bisa jadi kamu itu semacam alien, dan kita adalah manusia. Mendambakan cinta dan kehidupan yang tulus, adalah omong kosong. Bisa jadi cinta semacam Dinosaurus. Konon, dahulu negeri ini adalah negeri dongeng yang dihuni alien macam kamu, dengan cinta sebagai hal yang paling mulia. Setelah datang manusia, mereka menjajah negeri dongeng dan cinta pun punah seperti Dinosaurus. Negeri dongeng sudah hilang, dan sekarang dunia berubah jadi dunia nyata yang dihuni manusia. Memang saya tidak yakin masih ada cinta yang baik di dunia ini, tapi saya percaya bahwa masih banyak laki-laki dan perempuan yang baik di sini, tenang saja Mei, kamu nggak sepenuhnya salah, hahaha,” sambungnya.

Kamis, 02 Januari 2014

Berserah

Ketika aku gantungkan puncak harapanku pada-Nya, aku tambatkan cinta pada-Nya, bahkan semua urusanku pada-Nya. Bukan, bukan sebab aku egois tak mau menanggung urusanku sendiri tapi aku yakin itulah bukti cintaku pada-Nya. Ada hal yang tidak bisa kita selesaikan dengan menguras pikiran kita, menggerakan tangan kita, mengayunkan kaki kita, dan memeras keringat kita. Hal yang tak bisa disentuh oleh manusia, hal yang sangat mendalam dan hakiki : cinta. Ya, itulah anugerah terindah dari-Nya. Tak bisa direkayasa, apalagi dipaksa.
Entah kenapa hari itu terasa sangat indah. Langit pagi itu tetap sama, berwarna biru, bukan merah muda laksana orang jatuh cinta. Jalanan di Jakarta kala itu tetap sama, seperti yang biasa aku lihat di televisi, tidak tergelar karpet merah. Gedung-gedung pencakar langit pun tak ada yang beda, masih terlihat jemawa dan kapitalis. Perspektif dan subjektivitaskulah yang membuatnya sangat indah. Pagi itulah yang membuatku belajar tentang makna “berserah”, bukan “menyerah”.
Lelaki yang datang dengan rambut tak bersisir dan rela menuntun sepeda motorku saat ban motorku bocorlah yang sebenarnya kucari, bukan lelaki maha sempurna. Lelaki yang mengirimiku surat via pos ketika aku berulangtahunlah yang kutunggu, bukan lelaki yang memberiku barang-barang mahal tapi tak bermakna. Sebab, setiap keputusan harus beralasan, dan alasan tentu punya dasar; pertimbangan; sudut pandang. Dan, sayangnya kadang hal itu berlaku secara subjektif dan asumtif.

Senin, 23 Desember 2013

Bahagia dalam Ketidakpastian


“Bahagia, sedih, keberterimaan, bahkan penolakan adalah ritme kehidupan yang biasa dialami oleh setiap manusia,” ucap kawanku waktu itu. Sebuah warung kopi adalah saksi, mungkin terlalu dini untuk membicarakan tentang perpisahan.
Kawan saya mungkin terlalu legawa dengan urusan perpisahan. “Cinta adalah anugerah dari Tuhan, itu yang membuat saya merelakan istri saya dengan lelaki itu.”
Hal ini membuat saya cukup speechless. Namun, inilah yang mengingatkan saya pada perkataan Umar  Kayam di “Sri Sumarah dan Bawuk” (1975), tentang sikap “nrimo” nya wong Jowo. Sumarah atau pasrah, nrimo ing pandum. Sebuah keputusan untuk menjalani kehidupan sesuai seirama dengan alunan Tuhan. Kayam memang sengaja menjelmakan Sri Sumarah sebagai simbol wong Jowo yang penuh dengan kepasrahan dan keberterimaan.
Berbicara tentang keberterimaan, Herman Hesse pernah mengungkapnya dalam “Siddharta”. Perjalanan adalah hakikat kehidupan yang sebenarnya. Pencarian jati diri menemukan kedamaian spiritual adalah puncak kebahagiaan sejati. Hingga tibalah pada sebuah titik bahwa keberterimaan menjadi kulminasi kebahagiaan dan kedamaian hati. Menerima apa yang dianugerahkan Tuhan, dengan apa pun wujud anugerah itu, yang bahkan bisa dilihat orang lain sebagai bencana.
Prinsip keberterimaan itulah yang saat ini sedang saya renungi sungguh-sungguh dalam segala ketidakpastian hidup ini. Bisa jadi, ini hanya sebuah pemikiran perempuan usia 23 yang masih labil saja. Ada beberapa hal yang tidak usah kita pikirkan dengan begitu serius, seperti : masa depan. Sebab tak ada yang tahu apa yang akan terjadi kecuali Tuhan, bukankah begitu? Seperti halnya kita memikirkan, “Apakah esok hari saya masih bernapas?” pertanyaan seperti itu tak pantas kita pikirkan dengan sungguh-sungguh pada hari ini, sebab itu sudah menjadi urusan Tuhan. Sumarah? Ya. Ikhtiar dan doa lah yang bisa kita lakukan. “Mengapa aku harus berdoa? Mungkinkah sebab pikiran dan hatiku tak cukup untuk menampung kehidupan?”

Senin, 11 November 2013

Pembicaraan dengan Kekasih Masa Lalu


Sore itu kujumpai telepon genggamku terdapat panggilan tak terjawab, “Oh dari dia, ada apa ya,” batinku. Setengah jam kemudian telepon genggamku pun kembali berdering.
“Halo Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, suaramu masih sama seperti yang dulu,” suara seorang laki-laki dari speaker telepon genggamku.
“Iya, tapi bukan berarti aku masih sama seperti yang dulu.”
“Maksudnya?”
“Filosofinya, hari ini harus lebih baik dari kemarin,” jawabku.
“Setidaknya suara itu yang dulu selalu menemaniku.”

Kami selalu mengawali pembicaraan dengan perdebatan. Ya, dia dulu pernah menjadi kekasihku ketika remaja, boleh dibilang cinta pertamaku. Bahkan, jauh sebelum kami dekat, kami selalu berselisih pendapat ketika rapat organisasi. Entahlah, waktu itu ada sesuatu yang membuatku luluh dan berkata, “iya”.