Selasa, 25 Februari 2014
Arti Kerinduan
“Kredibilitas label halal dipertanyakan”. Kabar itu yang menyeruak akhir-akhir ini. Aku tidak akan membicarakan tentang MUI, tapi aku jadi teringat quote yang ditulis kawan saya, “Halal is a must, not just about what we eat, but also what we wear, and what we love.”
Haruskah label halal pada hati juga mesti dipertanyakan?
Haruskah hilang prinsip hanya karena tak tahan didera cobaan?
Hidup dalam kesederhanaan dan perjuangan mungkin sudah menjadi pilihan hidupku saat ini, termasuk memilih untuk tidak egois pada perasaanku sendiri. Menyimpan kerinduan hanya sebatas sesuatu yang indah dan aku rasakan sendiri, mungkin itu yang terbaik saat ini.
Meskipun jatuh cinta, kita tetap harus menyerahkan hati kita pada Allah. Sebab, kerinduan yang terjalin kepada seseorang yang belum halal hanya akan menghadirkan kepalsuan dan kekecewaan.
Tahukah kau bahwa Rasulullah pernah menahan lapar seharian demi membahagiakan Aisyah? Tahukan kau Rasulullah pernah berjuang begitu keras demi Kahdijah yang seorang konglomerat? Bukankah segalanya butuh persiapan matang? Meskipun sudah dijamin Allah pada An Nur : 32.
Senin, 10 Februari 2014
Untuk Suamiku (Kelak)
Wahai separuh jiwaku, semoga engkau selalu berada
dalam lindungan Tuhan. Bila Tuhan menghendakiku untuk bersujud kepadamu,
sungguh engkaulah jembatan surgaku. Kita mesti pahami bersama bahwa kita sudah
bersepakat untuk membangun rumah di dunia dan juga di akhirat. Artinya, kita
harus konsisten untuk menjalani hidup sebagai ibadah.
Suamiku, bukankah dulu sebelum menikah aku sudah
pernah berkata kepadamu bahwa masa depan kita masih suci, tak perlu kau
risaukan masa lalu kita. kita akan sama-sama membuka lembaran putih lalu
menggoreskan lembaran itu dengan pena kesakinahan. Aku juga sudah jelaskan
bahwa aku tak terlalu pandai di dapur, tak terlalu pandai mengatur keuangan,
dan mungkin tak bisa selalu berada di rumah. Banyak yang mengira bahwa aku
seorang perempuan yang career oriented, tapi
kau tak peduli. Kau bilang padaku bahwa kau tahu tujuanku bekerja adalah untuk
beribadah. Sungguh aku sangat terharu atas segala kemaklumanmu kepadamu. Katamu
waktu itu, “Cinta itu sederhana.”
Tak perlu jadi orang paling kaya, kau juga tak
perlu jadi presiden untuk membuatku bahagia. Aku hanya ingin kita membangun
keluarga yang penuh dengan kebarokahan. Kita akan hidup bersama selamanya.
Setelah orang tuaku melepasku kepadamu, ketakzimanku sepenuhnya kupersembahkan
padamu. Ketika subuh, magrib, dan isya kita akan salat berjamaah dan bersalaman
setelah salam. Kucium tanganmu, mengharap ampunanmu pada setiap kekuranganku,
dan kau kecup keningku dengan mesra. Sembari menunggu isya, kau buka kitab suci
dan membacanya bersama-sama denganku.
Bila ada rezeki berlebih kita akan kunjungi tanah
suci bersama. Kita akan melingkari rumah Allah dengan memanjatkan doa
keselamatan untuk keluarga kita. Di tanah suci kita mengkhatamkan Quran dan
bersujud di depan ka’bah. Semoga kita juga bisa mengajak orang tua kita.
Menjelang 24
“Kapan menikah?” sepertinya jadi pertanyaan yang
lazim terucap pada perempuan usia di atas 23. Setahuku di Indonesia, apalagi di
Jawa usia 23 sampai 25 adalah usia yang paling banyak dipilih perempuan untuk
menikah. Mengapa?
Mungkin pertimbangan yang utama adalah faktor
produktivitas biologis, budaya, dan agama. Faktor produktivitas biologis
mungkin jadi faktor yang seolah-olah terlihat paling mendesak, aku pernah
dengar kalau perempuan dianjurkan untuk tidak melahirkan pada usia lebih dari
35 tahun. Kalau dilihat dari faktor budaya, ini juga dipengaruhi oleh faktor
yang pertama tadi. Aku lebih menganggap faktor ini merujuk pada beban sosial,
perempuan yang berusia lebih dari 30 dan belum menikah maka cap “Perawan tua”
akan menancap pada dirinya, siapa yang tak sedih? Faktor yang terakhir adalah
agama. Sebenarnya agama seharusnya menjadi yang nomor satu, tapi entahlah,
jarang sekali ada yang menggunakan alasan ini pada kasus “Mendesaknya
pernikahan”.
Suatu sore kudengar seorang ibu menelepon anak
perempuannya, “Ibarat bunga, perempuan yang berusia lebih dari 25 tahun sudah
menjadi bunga yang layu, mana ada kumbang yang mau hinggap.”
Gadis itu terdiam.
“Ingat, kamu sudah hampir 24. Besok kamu berkenalan dengan seorang
pria, dia……”
Gadis itu tetap terdiam, dia pun tersenyum. Sesaat kemudian setelah
menutup teleponnya, tangisnya pecah, pikirannya menjelajah pada suatu hal yang
tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, perjodohan.
Jumat, 10 Januari 2014
Cinta Itu Bagai Mencari Fosil Dinosaurus
![]() |
| Sumber |
“Mei, mengajak perempuan makan di
warteg tidak akan bikin dia jatuh cinta. Kamu tahu, cinta itu hanya ada di
negeri dongeng, di dunia nyata yang ada hanya ongkos! Bangun Mei…..” kata seorang kawan pada saya. “Cinta tidak
bakal bisa buat bayar cicilan rumah,” lanjutnya.
“Sekejam itukah dunia? Apakah
benar saya makhluk negeri dongeng yang tersesat di dunia nyata?”
“Meina, tidak usah lagi kamu
terheran-heran mendengar cerita teman-temanmu yang baru saja membeli tas seharga
dua juta dan mereka bahagia.”
“Tapi tas saya seharga enampuluh
ribu, saya juga bahagia.”
“Murah sekali kamu Meina. Yakin kamu akan tenggelam dalam kebodohan
ini di saat teman-temanmu mulai realistis?”
“Saya bodoh dan tidak realistis?
Saya bahagia ketika diajak makan oleh orang yang saya cintai, meskipun itu di
tempat yang sangat sederhana dengan lauk yang sederhana. Saya sangat
menikmatinya.”
“Mungkin saja. Tapi itu sekarang
kan? Tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu sudah tahu, seberapa mahalnya
biaya masuk sekolah anakmu kelak.”
“Oh ya? Beasiswa masih banyak.”
“Hahaha, dasar alien.”
“Alien?”
“Emmm bisa jadi kamu itu semacam alien,
dan kita adalah manusia. Mendambakan cinta dan kehidupan yang tulus, adalah
omong kosong. Bisa jadi cinta semacam Dinosaurus. Konon, dahulu negeri ini
adalah negeri dongeng yang dihuni alien macam kamu, dengan cinta sebagai hal
yang paling mulia. Setelah datang manusia, mereka menjajah negeri dongeng dan
cinta pun punah seperti Dinosaurus. Negeri dongeng sudah hilang, dan sekarang
dunia berubah jadi dunia nyata yang dihuni manusia. Memang saya tidak yakin
masih ada cinta yang baik di dunia ini, tapi saya percaya bahwa masih banyak
laki-laki dan perempuan yang baik di sini, tenang saja Mei, kamu nggak
sepenuhnya salah, hahaha,” sambungnya.
Kamis, 02 Januari 2014
Berserah
Ketika aku gantungkan puncak harapanku pada-Nya,
aku tambatkan cinta pada-Nya, bahkan semua urusanku pada-Nya. Bukan, bukan
sebab aku egois tak mau menanggung urusanku sendiri tapi aku yakin itulah bukti
cintaku pada-Nya. Ada hal yang tidak bisa kita selesaikan dengan menguras
pikiran kita, menggerakan tangan kita, mengayunkan kaki kita, dan memeras
keringat kita. Hal yang tak bisa disentuh oleh manusia, hal yang sangat
mendalam dan hakiki : cinta. Ya, itulah anugerah terindah dari-Nya. Tak bisa direkayasa,
apalagi dipaksa.
Entah kenapa hari itu terasa sangat
indah. Langit pagi itu tetap sama, berwarna biru, bukan merah muda laksana
orang jatuh cinta. Jalanan di Jakarta kala itu tetap sama, seperti yang biasa
aku lihat di televisi, tidak tergelar karpet merah. Gedung-gedung pencakar
langit pun tak ada yang beda, masih terlihat jemawa dan kapitalis. Perspektif
dan subjektivitaskulah yang membuatnya sangat indah. Pagi itulah yang membuatku
belajar tentang makna “berserah”, bukan “menyerah”.
Lelaki yang datang dengan rambut tak bersisir dan
rela menuntun sepeda motorku saat ban motorku bocorlah yang sebenarnya kucari,
bukan lelaki maha sempurna. Lelaki yang mengirimiku surat via pos ketika aku
berulangtahunlah yang kutunggu, bukan lelaki yang memberiku barang-barang mahal
tapi tak bermakna. Sebab, setiap keputusan harus beralasan, dan alasan tentu
punya dasar; pertimbangan; sudut pandang. Dan, sayangnya kadang hal itu berlaku
secara subjektif dan asumtif.
Senin, 23 Desember 2013
Bahagia dalam Ketidakpastian
“Bahagia, sedih, keberterimaan, bahkan
penolakan adalah ritme kehidupan yang biasa dialami oleh setiap manusia,” ucap
kawanku waktu itu. Sebuah warung kopi adalah saksi, mungkin terlalu dini untuk
membicarakan tentang perpisahan.
Kawan saya mungkin terlalu legawa dengan
urusan perpisahan. “Cinta adalah anugerah dari Tuhan, itu yang membuat saya
merelakan istri saya dengan lelaki itu.”
Hal ini membuat saya cukup speechless. Namun, inilah yang mengingatkan
saya pada perkataan Umar Kayam di “Sri
Sumarah dan Bawuk” (1975), tentang sikap “nrimo”
nya wong Jowo. Sumarah atau
pasrah, nrimo ing pandum. Sebuah
keputusan untuk menjalani kehidupan sesuai seirama dengan alunan Tuhan. Kayam
memang sengaja menjelmakan Sri Sumarah sebagai simbol wong Jowo yang penuh dengan kepasrahan dan keberterimaan.
Berbicara tentang keberterimaan, Herman Hesse
pernah mengungkapnya dalam “Siddharta”. Perjalanan adalah hakikat kehidupan
yang sebenarnya. Pencarian jati diri menemukan kedamaian spiritual adalah
puncak kebahagiaan sejati. Hingga tibalah pada sebuah titik bahwa keberterimaan
menjadi kulminasi kebahagiaan dan kedamaian hati. Menerima apa yang
dianugerahkan Tuhan, dengan apa pun wujud anugerah itu, yang bahkan bisa
dilihat orang lain sebagai bencana.
Prinsip keberterimaan itulah yang saat ini
sedang saya renungi sungguh-sungguh dalam segala ketidakpastian hidup ini. Bisa
jadi, ini hanya sebuah pemikiran perempuan usia 23 yang masih labil saja. Ada
beberapa hal yang tidak usah kita pikirkan dengan begitu serius, seperti : masa
depan. Sebab tak ada yang tahu apa yang akan terjadi kecuali Tuhan, bukankah
begitu? Seperti halnya kita memikirkan, “Apakah esok hari saya masih bernapas?”
pertanyaan seperti itu tak pantas kita pikirkan dengan sungguh-sungguh pada
hari ini, sebab itu sudah menjadi urusan Tuhan. Sumarah? Ya. Ikhtiar dan doa lah yang bisa kita lakukan. “Mengapa aku
harus berdoa? Mungkinkah sebab pikiran dan hatiku tak cukup untuk menampung
kehidupan?”
Langganan:
Postingan (Atom)
