Senin, 12 Mei 2014

(Hastag) #GagalFokus


Malam ini harusnya aku mulai mencicil instrumen penelitianku karena “janji” akan selesai hari Sabtu karena Rabu harus ke Purwokerto, Kamis ke Bandung, Jumat ke Purwokerto, dan Sabtu harus sudah di Semarang lagi, tapi dasar Meina pasti ada saja yang dikerjakan, apa itu? Pulang kerja langsung tidur dan setelah itu nonton sinetron KW, acara dangdut cuma buat “ngece-ngece”, lalu pas sudah malam begini baru “ngeh”: tadi gue ngapain aja ya? -_-

Ya sudah, biarlah instrumen ini aku kerjakan esok pagi saja (semoga) karena kalau masih capek begini suka #GagalFokus hehe. “Ya Allah bangunkan aku pada sepertiga malam-Mu, berikanlah aku kekuatan untuk menyelesaikan studiku agar bertambah ilmuku untuk aku amalkan demi agama-Mu, aamiin.”

Sebenarnya aku mau cerita tentang pembelajaran tadi siang. Malam ini bahkan masih terbayang bagaimana kami tertawa bersama, rasanya (subhanallah) bahagia sekali. Menjadi guru adalah impianku and my dream comes true, alhamdulillah. Jadi tadi kami bercerita tentang hastag #GagalFokus. Kenapa tiba-tiba sampai pada topik bahasan itu? Sebenarnya ini hanya intermezzo saja agar anak-anak tidak bosan. Tatkala kami sedang membahas pesan kurikulum pada buku pelajaran dan evaluasi yang disesuaikan dengan Kompetensi Dasar, aku memulai dengan analogi #GagalFokus.

Minggu, 11 Mei 2014

Faktor X


Baginya untuk meraih sukses, 90% usaha akan sia-sia jika tak diimbangi dengan porsi 10% doa. Begitu pula dengan 10% doa, akan sia-sia jika tak disempurnakan dengan 90% usaha. Menurutnya doa adalah puncak dari ikhtiar karena keberuntungan tidak serta merta datang pada seseorang tapi harus dijemput dengan doa dan ikhtiar (Kutipan Buku “The Professors” – Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum.).

Tidak jauh beda dengan pendapat Bu Uum, rekan kerja yang dulu dosenku sendiri. Kamis siang itu tak sengaja aku melewati ruangan beliau, bermaksud menyalami saja ternyata kami pun larut dalam obrolan kami. Maklum sebagai sesama penggemar Ustaz Yusuf Mansur (YM), obrolan kami pun mengalir dengan sangat alami. Ngobrol dengan beliau membuatku semakin bodoh, kenapa? Ya, di situlah justru aku merasa bahwa ilmuku masih sangat cethek dibanding beliau.

“Mba Meina, sesungguhnya bila kita analisis segala yang terjadi ini memang tak lepas dari campur tangan Allah. Kalau saya boleh bilang malah 99% usaha itu akan sia-sia bila Allah tak merahmati atau meridai meskipun hanya 1%. Justru 1% yang biasa orang bilang sebagai “faktor x” lah yang menjadi penentu segalanya. Ya, di situlah saya semakin menyadari bahwa tak ada alasan untuk menyombongkan diri. Sebab, bisa jadi yang orang lihat sebagai sebuah keberhasilan itu semata-mata anugerah atas izin Allah dan bukan berasal dari kemampuan manusia itu,” ucap beliau.

Kamis, 08 Mei 2014

Rumah Kebohongan


Menyitir sedikit ungkapan Najwa Shihab, “Pendidikan memang memberikan peluang, tetapi pemimpin tak lahir karena ijazah.” Nyatanya anak-anak menjadi nakal ketika mereka mulai masuk sekolah, nyatanya pendidikan tinggi tak lantas menjamin hilangnya koruptor di negeri, nyatanya memang tak ada sekolah kejujuran. Darmaningtyas seorang pakar pendidikan bahkan menyatakan kalau pendidikan di Indonesia sudah abal-abal seperti gerobak butut. 

Seorang bijak pernah berkata, “Bila ada dua pilihan yang sama-sama baik maka pilihlah yang kebaikannya lebih banyak. Namun, bila ada dua pilihan yang sama-sama buruk maka pilihlah yang keburukannya lebih sedikit.” Mungkin nasihat itu cocok untuk menilai pendidikan saat ini, aku yakin di antara 10 orang yang pandai setidaknya masih ada orang yang baik. Artinya, pendidikan tak sepenuhnya gagal. 

Tatkala dosen seniorku mengatakan, “Boleh jadi para koruptor yang lahir memang tercetak dari kemudahan-kemudahan dan sikap permisif yang membudaya.” Terlepas dari carut-marutnya politik, muncul sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik, “Mengapa saat ini lebih banyak ditemukan koruptor yang usianya relatif muda?” meskipun belum ada riset persentasi porsi koruptor usia lanjut dan usia muda –bisa juga yang tua juga korupsi, hanya saja mereka lebih lihai dalam berkelit, hehehe. 

Kamis, 01 Mei 2014

Siapalah Saya Ini (?)


Tulisan ini bukan karena esok adalah Hari Pendidikan Nasional, juga bukan karena hari ini adalah Hari Buruh. Aku hanya ingin berbagi rasa. Yah, pada catatan ini aku tak akan “sok tahu” seperti gaya halnya gaya tulisanku yang lain.

“Meina, beberapa hari ini kamu sering sekali sibuk dengan pikiranmu sendiri,” mungkin itu adalah ucapan yang terlontar dari langit-langit kamar kosku. sebuah ruangan ukuran 3x3 meter yang aku penuhi dengan buku-buku. Memang betul, usia 24 ini sepertinya menjadi awal mula munculnya pemikiran-pemikiran yang acap kali mengganggu pikiranku. Tak hanya tentang kuliahku, pekerjaanku, urusan keluarga, urusan teman, percintaan, bahkan keyakinan atas agama yang aku peluk juga aku pertanyakan. Tidak yakin atas pilihanku? Tidak, aku tak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya ingin apa yang aku perbuat selalu beralasan dan aku tahu kenapa aku harus melakukan hal itu. Tentu saja dengan seperti itu hidupku akan lebih nyaman.

Tidak Memakai Celana Jeans
Bila suami Oyi berpuasa minum teh, sesungguhnya sudah lebih dari satu tahun aku berpuasa memakai celana jeans. Aku pernah berdiskusi dengan Oyi sahabatku tentang makna mencari Tuhan. Ya, kami memang sering mendiskusikan hal-hal yang jarang terpikirkan oleh orang lain. Kami biasa menggunakan gaya sarcastic untuk mengingatkan satu sama lain, apalagi kalau aku sedang patah hati, beuh jangan sampai dia tahu, nanti aku jadi bahan bully-an selama tujuh hari tujuh malam.

Sabtu, 12 April 2014

Melepas


Apa esensi “sumarah” “tawakal” dan “kenapa kita harus berserah”? Sudah enam bulan aku memikirkan hal ini. Beberapa referensi aku coba pahami mulai dari buku Kejawen, pemahaman Siddharta, sampai pada buku-buku Islam ala Aa Gym dan Yusuf Mansur. Semua mengatakan bahwa, jalan menuju kedamaian hidup adalah keberterimaan, kepasrahan, dan menjalani semua dengan kesabaran. 

“Kenapa?” tanyaku dalam hati. “Mengapa justru ketika kita tak merelakan harapan kita justru kita akan memahami betul hakikat memiliki?” Bahkan aku masih bertanya-tanya mengenai nasihat seniorku di kantor. “Meina, bila kau menjatuhkan hati pada seseorang. Lepaskanlah. Bila ia jodohmu maka ia akan kembali kepadamu.” Diktum “romo” itulah yang selalu menjadi tanda tanya besar hingga malam ini akhirnya aku menemukan cahaya penerang.

Analoginya hampir sama dengan kejadian dua tahun yang lalu ketika aku selalu mengalah pada teman-temanku yang mendaftar pekerjaan sebagai guru les, ketika aku mengalah tak mengajukan beasiswa, atau harapan dan kesempatan lain yang rela kau bakar lalu abunya kau biarkan terbawa angin tak bersisa. Kita tak pernah tahu sebelum akhirnya langkah-langkah kecil kita sampai pada suatu titik yang mana akhirnya aku menyadari bahwa aku sudah mendapatkan jauh yang lebih besar dari apa yang sudah aku relakan itu. Menjadi dosen mungkin sebuah hadiah Tuhan dari kerelaan melepaskan kesempatan menjadi guru les. Bukan, bukan maksudku merendahkan guru les dan menganggap dosen adalah hal yang lebih prestisius, kenapa?

Rabu, 09 April 2014

Berhenti Berjuang



Aku belum bisa mengerti sampai saat ini. Ketika pergi dengan seseorang justru yang ada di bayangan justru orang lain. Sungguh, baru kali ini aku duduk dengan seseorang tetapi yang ada dalam hatiku hanyalah resah dan gelisah. 

Pada sebuah janji yang tak terucap.
Perasaan menghianati.
Hingga aku putuskan untuk mengakhiri sebelum memulai.

It’s so hard to explain.

“Untukmu yang sangat gemar menunggu, ajari aku, bagaimana hatimu bisa seteguh itu, diam dan tanpa usaha. Bagaimana kau belenggu ketakutanmu di hati hingga tampak begitu indah, terkesan sabar dan anggun. Ajarilah aku, bagaimana caranya berhenti berjuang? ~ Dyah Praba

Tatkala aku harus belajar untuk berhenti berjuang.