Kawanku seorang perempuan berusia 23 tahun baru saja putus dari kekasihnya yang sudah dua tahun berkomitmen. Dia bercerita dengan penuh penyelesalan. Kala itu kekasihnya meminta komitmen yang lebih, lalu kawanku meminta waktu berpikir. Sejenak sebelum ia meneruskan ceritanya, aku memotong ucapannya, “Jarang-jarang ada lelaki yang ingin lebih dulu berkomitmen.”
“Justru itu yang aku tangisi saat ini Meina,” katanya sambil mengusap air matanya.
Sebenarnya ketika kawanku menjalin hubungan dengan kekasihnya dia juga menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak, tidak ada komitmen dengan pria lain itu, hanya saja sang pria begitu lihai memainkan benang asmara tarik-ulur dengan begitu indah, sialnya timbulnya rasa penasaran dari kawan perempuanku inilah yang membuatnya terus mencoba menghubungi pria asing itu.
“Aku katakan pada kekasihku bahwa aku tidak yakin dengannya. Di situlah akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Baginya untuk apa melanjutkan hubungan yang bahkan yang menjalani saja tidak merasa yakin.”
Suasana pun hening.