Selasa, 01 Juli 2014

Kuda Besi untuk Pendidikan



Judul Buku                : Kuda Besi (Kumpulan Dongeng dan Fantasi Anak bersama   Birokreasi)
Penerbit                      : www.birokreasi.com
Harga                          : Rp 42.500
Tahun                          : 2014
Jumlah Halaman       : 178 halaman


Anak-anak dapat belajar memahami dongeng sebelum mereka mampu berpikir logis, sebelum dapat menulis dan membaca. Mendongeng merupakan kegiatan penting sebagai jembatan sampai anak dapat memahami cerita dan berpikir logis (Eagle, 1995). Pada zaman dulu dongeng dianggap begitu sakral, bahkan hanya orang yang disebut pawanglah yang boleh mengisahkan dongeng pada orang-orang. Anak-anak duduk berkerumun menanti cerita dari pawang. Sejak saat itulah dongeng digunakan sebagai sarana menyampaikan nasihat, bahkan sekadar pelipur lara. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Priyono (2006) bahwa kegiatan mendongeng sebenarnya tidak sekadar bersifat hiburan belaka. Dongeng memiliki tujuan yang lebih luhur yakni pengenalan alam lingkungan, budi pekerti, dan mendorong anak berperilaku positif.
Dongeng yang dahulu merupakan tradisi lisan dan menyebar dari mulut ke mulut saat ini hampir mengalami pergeseran seiring dengan berkembangnya teknologi. Dongeng tak lagi hanya dikisahkan oleh pawang, juga tak hanya menjadi tradisi lisan. Saat ini dongeng juga berkembang melalui tradisi tulis. Begitu juga cara penceritaannya, tidak hanya disajikan dalam bentuk pertunjukan, dongeng dalam bentuk tulis bisa dinikmati dengan cara dibaca.

Jumat, 20 Juni 2014

What is Great Teacher?

"Attorikotu ahammu minal maddati wal ustadzu ahammu minattorikoti waruhul ustadzi ahammu min kulli syai'in." Metodologi lebih penting daripada materi, kurikulum, dan buku. Guru lebih pating dari metode. Tapi guru yang bagaimana? Semangat pengabdian gurulah yang terpenting di antara semua itu. Artinya, mutu guru yang amanah dan ikhlas mengemban tugas mendidik dan mempunyai komitmen kuat sebagai pendidik serta menyayangi peserta didik sebagai generasi penerus. (Prof Dandan)

Guru yang baik tidak sekadar duduk dan ceramah, tapi menjadi fasilitator dan motivator bagi peserta didik. Pendidikan di sekolah yang baik tentu tidak hanya mentransfer pengetahuan semata. Mendewasakan peserta didik melalui kreativitas yang bisa membuat mereka pandai dalam memecahkan permasalahan tentu menjadi PR besar bagi guru. Tidak hanya permasalahan di dalam kelas tapi juga yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan. Sebab, kata kawanku hakikat hidup yang sebenarnya adalah lompatan dari satu masalah ke masalah yang lain. 

Kamis, 19 Juni 2014

What have you done in your age? #1 Menikmati Fase Kegagalan


Hidup adalah lompatan dari satu masalah ke masalah yang lain (Suseno, 2014).

Dinamika merupakan bagian yang pasti dalam kehidupan. Lima tahap kesedihan menurut Kubler Ross yakni: kemarahan, penyangkalan, penawaran, depresi, dan penerimaan. Tahapan itu mungkin di-amini oleh beberapa orang yang sudah pernah mengalaminya, begitu juga aku. Namun menurut Ross, ada perbedaan karakterisitik laki-laki dan perempuan saat mengalami kesedihan bila dilihat dari sikapnya. Laki-laki akan tampak biasa saja tetapi sesungguhnya dia sedang melakukan tindakan destruktif. Berbeda dengan perempuan, meskipun ia tampak begitu hancur, sesungguhnya ia sedang mengonstruksi dirinya menjadi lebih baik. 

Barangkali penerimaan yang sedang aku pelajari saat ini. Kalau mengulang pernyataan Ross, itu adalah fase terakhir dalam menyikapi kesedihan. Bilamana kehidupan bersifat dialektik maka setiap manusia akan mendapati fasenya masing-masing. Tentu, fase-fase itu akan terlihat dengan kadar yang berbeda dari sudut pandang manusia, tetapi sesungguhnya tidak di mata Tuhan. Seperti yang pernah dikatakan guru Madrasah Ibtidaiyahku kala itu, Tuhan akan memberikan tantangan pada setiap hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuannya. Itu sebabnya muncul nasihat bahwa manusia tak akan kalah oleh cobaan yang dihadapinya. “No one makes lock without a key. That’s why God won’t give you problems without solutions.”

Jumat, 30 Mei 2014

Aib


Kampoeng Kopi Banaran, Bawen 29 Mei 2014.

Seorang perempuan muda yang sedang hamil satu setengah bulan sedang duduk bersamaku sambil menikmati semilir angin di bawah pepohonan. Namanya tidak jauh beda dengan namaku, hanya selisih satu huruf, namaku Meina dan nama perempuan itu Neina. Kami adalah rekan kerja, usianya hanya terpaut empat bulan lebih tua dari aku tetapi waktu kuliah S-1 dia adalah kakak tingkatku dan kami pun pernah berada di organisasi yang sama.

“Dik, saat ini aku benar-benar merasakan makna persahabatan,” ujarnya padaku.
“Maksudnya Mbak?” tanyaku balik.
“Saat kita jauh dengan orang tua, suami, keluarga, di situlah kita hanya punya sahabat yang bisa diandalkan. Aku punya seorang sahabat dan baru kali ini aku menganggapnya seperti keluargaku sendiri. Kenapa? Karena dia sangat setia, perhatian, dan aku benar-benar tidak pernah merasa sendiri bila dengannya.”
“Oh iyakah Mba, senang ya punya sahabat seperti itu,” sambungku.
“Iya Dik, bahkan dia adalah orang yang paling sering aku ceritakan pada keluargaku. Orang yang paling bapakku hafal adalah dia, begitu juga dengan ibuku yang merasa sangat senang ketika mengenal dan bercakap-cakap dengannya,” ucapannya terpotong. Dia berhenti sejanak lalu menatapku. Entahlah tiba-tiba jantungku berdetak lebih kencang.
“Kamu tahu siapa orang yang sedang aku ceritakan?”
Aku terdiam, mungkin mukaku sudah memerah.
“Itu kamu Dik. Aku tak pernah menyesali apa pun yang pernah kamu perbuat. Meskipun kamu suka galau dan patah hati, kamu yang sangat lemah di urusan asmara karena susah move on, padahal sudah ratusan kali aku mengingatkanmu untuk mencoba mencintai orang lain, tapi kamu tak pernah mendengarkanku, entahlah tapi kamu pintar, baik, dan visioner. Apa pun yang kamu perbuat, kebodohan, ke-alay-anmu, sifat ngeyelmu selalu membuat aku tersenyum dan bisa membuatku memaafkan semuanya.”

Minggu, 25 Mei 2014

Sepenggal Kisah di Persimpangan


Kawanku seorang perempuan berusia 23 tahun baru saja putus dari kekasihnya yang sudah dua tahun berkomitmen. Dia bercerita dengan penuh penyelesalan. Kala itu kekasihnya meminta komitmen yang lebih, lalu kawanku meminta waktu berpikir. Sejenak sebelum ia meneruskan ceritanya, aku memotong ucapannya, “Jarang-jarang ada lelaki yang ingin lebih dulu berkomitmen.” 

“Justru itu yang aku tangisi saat ini Meina,” katanya sambil mengusap air matanya.

Sebenarnya ketika kawanku menjalin hubungan dengan kekasihnya dia juga menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak, tidak ada komitmen dengan pria lain itu, hanya saja sang pria begitu lihai memainkan benang asmara tarik-ulur dengan begitu indah, sialnya timbulnya rasa penasaran dari kawan perempuanku inilah yang membuatnya terus mencoba menghubungi pria asing itu.

“Aku katakan pada kekasihku bahwa aku tidak yakin dengannya. Di situlah akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Baginya untuk apa melanjutkan hubungan yang bahkan yang menjalani saja tidak merasa yakin.”

Suasana pun hening.

Senin, 19 Mei 2014

Sudut Pandang


Bukankah bahagia dan sedih hanyalah sudut pandang?

Belajar dari anak kecil yang bahagia tanpa alasan.
Mereka yang jatuh dari sepeda lantas bangkit kembali tanpa mengingat rasa sakitnya.

Yang menjadikan sabar dan syukur sebagai kunci kehidupan.