Alhamdulillah sudah empat semester aku diberikan kesempatan untuk memberikan nilai pada yudisium. Jujur, memberikan nilai adalah hal paling sulit dilakukan di antara serangkaian kegiatan pembelajaran. Bagiku memberikan nilai harus dilakukan seadil-adilnya sedangkan manusia tidak memiliki kapasitas memadai untuk melakukan keadilan dengan sempurna.
“Duh Gusti, kulo mboten pantes mlebet suwargo. Nanging nopo kulo kiyat manggen teng neroko?”
Sekilas terlintas di pikiranku bahwa orang yang paling pantas masuk neraka di sekolah adalah guru. Kenapa? Kadang aku merasa munafik ketika selalu memberikan semangat pada anak didikku tapi aku sendiri bermalas-malasan. Seperti yang Prof Dandan katakan pada kami, “Wahai guru, berhati-hatilah, jangan sampai mengajarkan hal yang salah, nanti akan ada pertanggungjawabannya di akhirat.” Itulah yang seharusnya diketahui para guru agar selalu menggali potensi dirinya.
Sudah dua bulan ini rasanya aku kehilangan semangat dan motivasi. Berat badanku turun, pola tidur kacau, dan rasanya ingin selalu bermalas-malasan. Entahlah, pada saat-saat seperti itu justru Alloh memberikan karunia-Nya yang begitu luas, dan jauh lebih besar dari masalah-masalah yang aku hadapi. Namun, untuk merasakan hal itu memang kita membutuhkan kesabaran dan tentu saja keyakinan. Mungkin benar, manusia terbatas pada usaha, Tuhan-lah yang menentukan segalanya. Esensinya, lakukan apa pun dengan sebaik-baiknya lalu iringilah dengan doa.