Berdiskusi dengan pacar memang hal yang menarik. Apalagi pacar yang memiliki daya intelektual tinggi. Satu-satunya laki-laki yang berani membanting buku di depan saya dan mengatakan, “Saya capek berdiskusi dengan orang yang tidak intelek.” Lalu, saya hanya cengar-cengir, garuk-garuk kepala, merasa bodoh, lantas kembali cuek dan lanjut bermain facebook sambil ngakak-ngakak sendiri. Maap ye...
Dia mengambil studi seni, sedangkan saya bahasa dan sastra. Dua disiplin ilmu yang kata orang, “Belajar seni dan sastra, mau jadi apa?”
Baiklah, jangan anggap ini adalah tulisan berbobot dan solutif. Tulisan-tulisan di blog saya memang propokatif dan menipu (katanya). Pacar saya saja heran. Saya menjelma laksana perempuan idaman di blog ini. Padahal di rumah, saya duduk nyingkrang, berbicara ketika mulut penuh makanan, dan sangat cuek. Saya pernah beberapa kali mendapat SMS dan surel dari pengikut blog saya atau orang yang tersesat membaca blog saya dari google, mereka menyatakan persetujuan atau kekaguman kepada saya. Preeet! Kata pacar saya itu pembohongan publik besar-besaran. Bahkan, kata si pacar tulisan saya ini dinilai tidak intelektual, sangat populer, dan tidak ada bobot keilmuannya, hahahha... yawis karepmulah.