Jumat, 20 Februari 2015

Kata Temanku



Kata temanku, tiap orang memiliki jatah rezeki sendiri-sendiri. Ya, bukan berarti kita tak punya upaya untuk menjemput rezeki kan?

Kalau sudah berupaya tapi belum juga dapat, berarti itu bukan rezeki kita. Bisa jadi ‘bukan’, bisa jadi ‘belum’.

Rezeki itu kan macam-macam, tidak hanya uang/kekayaan. Kata temanku, kesehatan, persahabatan, kelancaran urusan, bahkan pasangan yang baik itu juga rezeki loh, hanya saja jarang disadari.
Rezeki itu tidak jatuh dari langit tapi dijemput dengan usaha. Kalau Allah memudahkan jalan kita, itulah yang dinamakan rezeki yang diridai Allah.

Kata temanku, tak usah iri pada rezeki yang didapat orang lain. “Lha, aku kan lebih keren dari dia, kenapa dia yang dapat?” itulah misteri. Bisa jadi yang dia dapat saat ini adalah “sebab”, bisa jadi pula “akibat”. Misalnya, seseorang yang berbuat curang, tapi malah berhasil. “Bisa jadi keberhasilannya adalah buah dari doa ibunya, atau berkah dia yang sudah berbakti pada orang tuanya, atau bisa jadi dia ternyata rajin memberi sedekah dan orang yang diberi sedekah kemudian mendoakannya.” Namun, ada juga kemungkinan bahwa capaiannya saat ini (yang ia peroleh dengan berbuat curang) itu adalah “sebab”; pada sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Bisa jadi, kelak urusannya akan dipersulit Allah, dan sebagainya. Wallahua’lam.

Minggu, 25 Januari 2015

Hidup dan Kehidupan

“Orang yang bertakawa bukanlah orang yang tanpa dosa, melainkan yang selalu bertaubat. Orang yang sukses bukanlah orang yang bergelimang fasilitas, melainkan yang selalu bangkit dari keterpurukan.”

Itulah, sebagai manusia biasa kita tak pernah lepas dari ketidakabadian. Yang sekarang sedih, besok bisa senang, yang sekarang cantik, besok bisa jelek, yang sekarang kaya pun besok bisa jatuh miskin. Manusia, juga tak pernah luput dari ketidaksempurnaan. Yang dipandang paling sukses, sebenarnya lebih tepat bila dikatakan “yang paling berjuang”. Yang dibilang paling elok, pun keelokan adalah hal yang relatif.

Lagi-lagi tentang hidup dan kehidupan. Memandang orang yang paling kaya dari garis keturunan sebagai orang yang beruntung, sebenarnya tidak juga, kalau dengan mudah mereka mendapatkan segalanya, darimana mereka merasakan nikmatnya berjuang?

Hidup dan kehidupan tak ubahnya belajar syukur dan sabar.
Oleh karena kita tak pernah tahu mana yang diridai Allah, antara berdoa dan bertindak maka perbanyaklah keduanya.

Selasa, 06 Januari 2015

Di Antara



Suatu hari seorang lelaki yang baik pengetahuan agamanya datang menemui gurunya. Ia sedang bimbang karena dihadapkan oleh beberapa pilihan. Dengan baik-baik, ia bertanya pada gurunya tentang pertimbangan memilih jodoh.

“Ustaz, siapakah yang sebaiknya saya pilih di antara dua gadis ini?”

“Bagaimana karakteristik masing-masing?”

“Dua-duanya sama-sama pintar, sama-sama Islam, sebut saja si A dan si B. Si A adalah gadis yang sangat mandiri, ia adalah tulang punggung bagi keluarganya, pengetahuan agamanya sangat baik karena sejak kecil dibesarkan di pondok pesantren. Sedangkan si B adalah gadis yang cukup manja, pengetahuan agamanya pun biasa saja.”

“Bila engkau ingin menjadi imam yang baik justru pilihlah si B maka kau bisa membimbingnya menjadi istri yang solehah.”

Senin, 29 Desember 2014

Nilai Ibadah



Saat itu kami sedang perjalanan dari Malang menuju Semarang. Kereta berhenti di Stasiun Kediri untuk mengangkut penumpang. Beberapa saat kemudian muncul seorang laki-laki dan duduk di depan kami. Tanpa mempedulikan sekelilingnya, dia membuka tas dan mengeluarkan kertas kerja. Dia menggunakan meja kecil yang ia taruh di pangkuannya untuk bekerja. Dia terlihat sangat sibuk dengan penggaris, pensil, dan kalkulatornya. Tak hanya itu, ketika magrib, lelaki itu mengeluarkan Al Quran dan mengaji di kereta.
“Mas, dia keren, rajin, alim.”
“Bila ia peduli dengan lingkungannya itu baru keren. Lihatlah apa yang dilakukan orang yang duduk di sebelahnya, bahkan tak dapat duduk di sebelah laki-laki itu karena ewoh. Lihat, meja kerja yang ia pangku hampir memenuhi kursi kereta. Bila saja ia membuat orang yang di sebelahnya nyaman, itulah yang bernilai ibadah lebih.”

Aaaah, ini hubungan horizontal yang banyak dilalaikan.

Sepasang Penjual Mangga



Sabtu, 27 Desember 2014 di Batu Malang.

Sore itu gerimis merintik membasahi Batu yang hampir selalu basah. Selama tiga hari saya di sana, tak pernah ada hari tanpa hujan. Entah sebab musim hujan atau memang Batu sudah ditakdirkan sebagai kota hujan. Meskipun selalu basah, pesona Batu tak pudar. Batu menyimpan kenangan manis setiap saya melihat rintikan gerimis di mana pun.

Gerimis akhir tahun ini juga menyimpan kisah singkat antara kami dan sepasang penjual mangga. Kala itu, kami sedang berjalan dari Alun-Alun Batu menuju pangkalan taksi. Sepanjang jalan banyak sekali penjual yang menawarkan barang dagangannya.
“Mas, Mba mau mangga? Murah dan manis lo,” kata ibu penjual mangga.
Kami pun berhenti. Kami berdua sama-sama penggemar buah mangga.
“Boleh Bu, bisa kami cicipi dulu?” tanya saya.
“Oh boleh,” kata ibu penjual sambil memberikan kode pada partnernya yang sepertinya adalah suaminya. Penjual laki-laki itu lantas memberikan potongan mangga pada kami.
“Hm.. manis, boleh lah kami ambil, satu kilo saja Bu,” kata pacar saya.
“Satu kilo sepuluh ribu Mas, biasanya dapat dua mangga,” kata sang penjual laki-laki.

Jumat, 21 November 2014

Cinta Orang Dewasa


Jatuh cinta dan menikah adalah dua hal yang berbeda tapi tidak dapat dipisahkan. Bagi anak SMP, cinta adalah pura-pura izin ke kamar kecil waktu pelajaran, padahal cuma ingin lewat di depan kelasnya. Bagi anak SMA, cinta mungkin sekadar antar-jemput kosan dan sekolah. Bagi anak kuliahan cinta mungkin sekadar menonton bioskop bersama. Atau, kata novel remaja, cinta adalah perasaan yang bisa membuat kamu deg-degan waktu melihatnya. Cinta orang dewasa adalah bagaimana cara menyatukan dua keluarga. Itulah bagian dari tujuan menikah.

Pendekatan psikologis dibutuhkan untuk mempelajari karakter dan kepribadian si calon. Sedangkan, pendekatan sosio-kultural yang seharusnya digunakan untuk mempelajari kebiasaan keluarga dan lingkungan sekitar si calon. Hal-hal itu harus dilaksanakan dengan metode yang benar. Jangan sampai kita menggeneralisasikan secara sepihak karakter sebuah keluarga berdasarkan konklusi yang prematur. Di situlah kita harus melakukan persuasif yang benar. Tentu usaha itu harus disesuaikan dengan keadaan sosio-kultural sang objek.

Idealisme yang dulu ingin mendapatkan pasangan yang sempurna entah mengapa begitu bergeser. Mungkin ini sebuah penyadaran diri bahwa: kadang kita merasa bahwa diri ini adalah sosok yang sempurna. Pergeseran itu mengarah pada tindakan untuk menemukan orang yang mampu menerima ketidaksempurnaan kita. Saya mungkin tidak pernah terlalu bersusah-susah mencari pekerjaan, juga tak perlu bersusah-susah mencari uang, tak perlu juga bersusah-susah untuk bertahan hidup. Namun, kenyamanan itulah yang yang tidak boleh membuat kita silau pada diri kita sendiri.