pementasan Riski dalam Seminar Pembelajaran Sastra yang Apresiatif
Alhamdulillah hari ini kami sudah mencapai “gong” yaitu pementasan pantomim oleh Riski di depan Bapak Dekan, Bapak Kajur, Bapak Kaprodi, Ibu Sekjur, Bapak-Ibu dosen, serta 80 guru dan mahasiswa dari seluruh Jawa Tengah. Kami berharap lewat pementasan hari ini dapat menggugah kepedulian dan kesadaran kita bahwa setiap orang bisa “berkarya” dan “berkreasi”.
Riski, Seorang Anak Berkebutuhan Khusus
Seorang anak down syndrome, kurang lebih memiliki tingi badan 140 cm, berperawakan gendut, berkulit putih, dan wajah mirip ras Mongolia (ya memang begitulah ciri-ciri penderita down syndrome). Ia sebenarnya sudah kelas 1 SMA karena usianya yang sudah 17 tahun tapi Riski tak bisa menyebutkan namanya sendiri, bahkan kadang ia lupa siapa nama gurunya. Riski tak tahu dimana rumahnya, apalagi jumlah saudara kandungnya. Ia tak bisa membaca dan berhitung, apa lagi menulis.
Mencoba Berkomunikasi dengan Riski
Tadi pagi aku dan Riski sudah cukup banyak bercakap, ya walaupun kami tak tahu sedang memperbincangkan apa, yang penting Riski bisa tertawa, itu sudah membuatku merasa sukses “mengobrol” dengan anak yang memiliki keterbelakangan dalam kemampuan verbal itu. Dia hanya bisa mengucap “cape deh” (dengan gaya cape deh juga) jika sekiranya yang dia temui adalah hal yang lucu, kemudian ia tak sungkan untuk tersenyum dan melemparkan “kiss bye” nya pada setiap orang yang dia temui.
Belajar Bersama Riski
Terlintas saja di otakku untuk menguji Riski. Aku tuntun tangannya untuk memegang jemariku. Aku bilang satu, dua, tiga, empat, lima, kemudian aku menunjukkan bahwa jariku ada lima. Namun ketika Riski kutanya, ini ada berapa? Dia jawab “tiga”. Ya memang begitu, kemampuan Riski sangat rendah. Itulah yang sedang kupelajari, aku sangat penasaran dengan “Teknik/metode apa yang seharusnya digunakan?”
Anugerah itu Datang Melalui Pantomim
Keterbelakangan dan kekurangan Riski rupanya bukan alasan untuk membatasi kreasinya. Ajaib memang, seorang anak yang memiliki kecerdasan dan daya ingat yang rendah, rupanya bisa menghapal gerakan-gerakan pantomim, bahkan gerakan yang disuguhkannya sangat gemulai dan terkadang mengundang gelak tawa dari para penonton. Pertunjukkan pantomim di Gedung B1 106 hari ini sukses digelar, terima kasih atas bantuan semua pihak. Seluruh penonton tersihir olehmu Riski. Kesuksesan di tanganmu.
Bersama Nurul, Bu Nur, dan salah satu anak down syndrom
Berpose bersama anak-anak down syndrome dan tunagrahita ketika jam istirahat
Yeah, akhirnya hari itu aku ke YPAC (Yayasan Penyandang Anak Cacat) juga, setelah vakum selama dua minggu karena ngurusi lomba di kampus. Alhamdulillah kemarin waktu aku ke sana semua masih sama. Mereka masih terlihat ceria tanpa beban masalah, menikmati hidup dengan penuh senyuman yang menenangkan.
Jadi lupa, dulu aku pernah berjanji akan menceritakan pengalamanku ketika melihat mereka beraksi di ruang kesenian. Subhanallah ternyata mereka juga sangat lihai bermain alat musik, bernyanyi, dan jago berpantomim walau kenyataannya ketika mereka dihadapkan dengan angka dan huruf, mereka tak mampu berkutik, bahkan untuk mengurutkan 1-10 pun suatu ancaman untuk mereka.
Lama tak berkunjung rupanya tak menjadi masalah bagi Bu Nur, beliau masih setia menyambut kami dengan keramahannya yang super. Hari itu kami disuruh masuk ke dalam kelas, beliau bercerita berbagai pengalamannya dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus. Rupanya anak berkebutuhan khusus itu secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu anak yang cacat secara fisik (tunarungu, tunanetra, tunadaksa) dan anak yang mengalami keterbelakangan mental. Di YPAC, anak yang memiliki gangguan mental diantaranya anak autis, anak tunagrahita, dan anak down syndrom. Aku paling berminat untuk menyusuri lebih dalam tentang anak yang menderita down syndrom. Di sana aku melihat banyak sekali anak yang memiliki tipe wajah yang hampir sama, rupanya merekalah yang menderita down syndrom, karena gangguan tersebut membuat mereka meiliki tipe wajah yang khas (wajah kembar terbanyak di dunia). Anak-anak down syndrom memiliki kecerdasan yang sangat rendah, bahkan lebih rendah dari anak tunagrahita (idiot).
Aku baru sadar bahwa Riski (anak yang sangat lihai berpantomim) juga memiliki wajah yang khas. Ahh. . .ternyata benar, dia adalah penderita down syndrom. Dia sebenarnya sudah berusia 17 tahun, tapi badannya yang gempal dan mungil membuatnya terlihat sangat awet muda, bahkan dulu kali pertama bertemu aki mengira dia berusia 12 tahun. Di kelas dia tidak bisa membaca dan berhitung, tapi kata Bu Nur sekarang Riski sudah mengalami kemajuan, dia sudah bisa menulis di garis yang lurus dan dia sudah bisa melengkapi seretan angka yang rumpang, subhanallah. . Semangat Riski. ^_^
Aku sangat ingin menyusuri tentang kehidupan pribadi anak-anak yang berkebutuhan khusus, terutama tentang kondisi keuangan keluarga, saat mereka jatuh cinta, dan bagaimana dengan masa depan mereka. Menurut Bu Nur, tidak semua siswa SLB itu berasal dari keluarga yang mampu, banyak diantara mereka yang manunggak biaya bulananan, bahkan ada yang sampai berjuta-juta. Riski pun berasal dari keluarga yang kurang mampu. Hal yang paling seru untuk diperbincangkan adalah gaya pacaran mereka. Anak yang down syndrom dan tunagrahita rupanya juga memiliki selera, mereka dapat menentukan orang yang pantas menjadi pacar mereka, atau tidak. Hal yang cukup menakutkan adalah kecemburuan yang mereka punya. Ketika mereka melihat sang pacar sedang bersama orang lain maka mereka tak sungkan-sungkan untuk meluapkan emosinya, memukul orang yang sedang di dekat pacar, atau marah-marah tidak jelas.
Di antara anak-anak tersebut ada juga yang nge fans dengan Charly ST 12, kemana-mana yang dibawa adalah foto Charly, kalau belajar sammbil melihat foto Charly, dia langsung semangat, hmm andai Charly tahu semua ini, hihihi. Selain itu, mereka ada juga yang berprestasi menjadi juara dalam bidang olah raga, kesenian, dan ada juga yag sudah masuk dapur rekaman, subhanallah, semangat ya. . .
Nah, ini dia yang aku tunggu-tunggu, ada bocoran nih. Insya Allah tanggal 10 April pukul 08.00, kami akan mengundang Riski untuk pentas di Unnes yaitu di gedung B1 106 dalam rangka untuk membuka seminar “Pengajaran Apresiasi Sastra dan Mengenang Alm. Bapak Suharianto”yang akan disaksikan oleh ratusan guru dan mahasiswa. Kami akan menunjukkan pada dunia bahwa anak berkebutuhan khusus juga bisa berkarya.
Untuk Riski dan teman-teman yang luar biasa, semangat sayang, dunia tidak akan kiamat karena keterbatasanmu. Jadilah orang yang luar biasa karena segala kekurangan yang kamu punya. Tersenyumlah dan jadilah mutiara bagi orang tuamu. Riski, Jadilah pementas pantomim terbaik sedunia, jadilah cerdas di mata kami, dan buktikan pada dunia. Berkaryalah.
Sebuah momen yang dapat memotivasi kita untuk menjadi lebih baik.
Kompetisi itu,
Bukan momen untuk saling menjatuhkan.
Kompetisi itu,
Momen yang membuat ukhuwah semakin terjalin, membuat kita saling mengintrospeksi kesalahan masing-masing hingga akhirnya kita terus memperbaiki diri.
Sekarang sungguh bukan zamannya berulah curang dan menghalalkan segala cara untuk mencapai keberhasilan yang semu dan fana.
Ingatlah, Tuhan tak pernah menyuruh kita untuk menjadi orang yang sukses, Tuhan meminta kita untuk menjadi insan yang selalu berusaha dan memperbaiki diri.
Marilah kita bersama-sama meluruskan niat. Bersaing dalam sebuah kebaikan, bukan untuk sekadar menjadi “pemenang” hitam di atas putih, melainkan menjadi seorang pemenang yang menggunakan prinsip kebermanfaatan untuk semua.
“Berpengetahuanlah” karena itu adalah harta termahal yang dimiliki manusia.
“Belajarlah” karena itu adalah cara untuk “berpengetahuan”.
Berhentilah menghina diri sendiri dengan, embel-embel bahwa “saya tidak mungkin mampu bersaing dengan dia”
Ingatlah, apa hakikat dari sebuah kompetisi, lalu . . .
Alhamdulillahirabbil’alamin atas karunia-Mu aku masih dapat memainkan jari-jariku di malam super bulan ini dengan segala hal luar biasa yang telah Engkau titiskan.
#1
Hari pertamaku di YPAC Semarang
Hari itu Jumat 18 Maret 2011, aku dan teman sekamarku (Faknita Utami) melaju dengan motor Supra AA 3425 BK menuju YPAC Semarang (Yayasan Penyandang Anak Cacat), kami sampai di sana pukul 11.30. Kemudian aku segera menuju ke ruang loket untuk menanyakan tentang keterampilan pantomim yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus. Ibu loket meminta kami untuk menunggu sampai pukul 13.30 karena SLB (Sekolah Luar Biasa) baru akan dimulai, dan Bu Nur, guru yang dapat melatih pantomim bagi siswa SLB baru akan datang pada jam tersebut. Karena masih lelah, aku dan Nita memutuskan untuk beristirahat sebentar di depan YPAC, dan sungguh aku mendapat pemandangan yang membuat hati miris. Di depanku terpampang pintu dengan tulisan “Ruang Fisioterapi” dan seorang anak dengan kaki kurus duduk di depan sepeda motor, tampak bapaknya kemudian menjunjung anak itu ke ruang Fisioterapi. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan anak itu, tapi yang jelas, dia berbeda denganku. Panorama lain kemudian muncul, seorang anak SD dengan sangat lincahnya mondar-mandir dan seperti tak kenal lelah, ibunya yang sedang duduk dengan muka biasa saja, memandangi anaknya yang hiperaktif, sungguh keaktifan yang tidak biasa (autis) dan lagi-lagi aku melihat orang yang berbeda denganku.
Karena lelah menunggu akhirnya aku dan Nita memutuskan untuk jalan-jalan ke Citra Land yang kebetulan hanya berjarak 20 meter dengan YPAC. Di CL, kami menuju Alfath sebuah butik muslimah. Nita yang memang shopaholic mondar-mandir dari satu deretan baju ke deretan baju yang lain, sedangkan aku hanya duduk sambil memandangi orang belanja. Tapi eiiits pandanganku berhenti pada satu titik, yaitu seorang “embak-embak” sedang berdiri dengan anggunnya. Dia memakai gamis hijau muda yang dipadukan dengan cardigan hijau tua, memakai sepati hak tinggi, dan berkaos kaki. Wajahnya? Aduhaiiii aku melihat bidadari di Citra Land, hidungnya mancung, matanya besar, kulitnya putih, so perfecccccttooooo, sampai-sampai aku berdiri dan pura-pura melihat-lihat baju hanya untuk memandang wajah mbak-mbak itu, sungguh mengagumkan. Tapi ada yang aneh dalam diriku. “Siapa aku bila dibandingkan dengan mbak-mbak itu?” she is so perfect, aku minderrrrrr.
Akhirnya pukul 13.30 dan aku sampai lagi di YPAC. Aku meminta Nita untuk menunggu di lobi dan aku masuk ke ruang guru. Di sana aku disuruh menunggu Bu Nur datang, tak berselang lama, Bu Nur pun datang dengan menunggangi sepeda motor matic berwarna biru. Setelah Bu Nur masuk ke ruang guru, beliau menyambutku dengan begitu hangat. “Perkenalkan Bu, nama saya Meina. Saya dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes. Saya dan rekan-rekan saya (Nana Riskhi Susanti dan Nurul Basyiroh) mendapatkan kesempatan dari Dikti untuk melaksanakan program pengabdian masyarakat di YPAC semarang. Kami mendapatkan informasi bahwa di YPAC ini terdapat pelatihan pantomim bagi siswa berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, kami memiliki niat untu membuat YPAC Semarang sebagai SLB percontohan bagi seluruh SLB di Indonesia, bahwa anak yang berkebutuhan khusus juga bisa (dan berhak) untuk berkreasi, berkesenian, dan berkarya.” Tiba-tiba mata Bu Nur berkaca-kaca. “Benar, di sini ada seorang anak tuna grahita bernama Riski, ia tak bisa menulis dan menghitung, ketika saya menyuruhnya menulis dia malah bergerak-gerak seperti orang berpantomim, dia bergaya seperti sedang memakai bedak, menyisir, dan sebagainya, lalu saya arahkan saja dia. Akhirnya sekarang dia sudah pernah dipanggil pihak TVRI, berbagai mall, bahkan acara gubernuran untuk menampilkan bakatnya berpantomim.”
Subhanalloh ada aliran bening membasahi hatiku, sungguh setelah mendengar penjelasan Bu Nur aku benar-benar merasakan bahwa Allah Maha Adil.
Teng...Teng...Teng tiba-tiba lonceng tanda masuk berbunyi. “Sudah masuk jam pelajaran, ayo ikut saya kalo Mbak mau berkenalan dengan Riski.” Kata Bu Nur.
Aku lalu mengikuti langkah Bu Nur menuju ruang kelas sepanjang perjalanan kami, aku lihat berbagai anak tuna grahita asik bermain di koridor kelas, mereka tertawa riang gembira, dalam raut wajah mereka sungguh tak ada satu gores pun kesedihan.
“Haiiiiiii” sapa Bu Nur dengan seorang anak kecil (kira-kira kelas 1 SD), kemudian anak itu ikut melambaikan tangannya, ternyata dia juga tuna grahita.
Akhirnya aku dipersilakan untuk masuk kelas. Suasana di dalam kelas sungguh sangat bising, mereka sik dengan dunia mereka sendiri. “Ini Mbak yang Namanya Riski.” Kata Bu Nur. “Hai, namanya siapa?” tanyaku sambil menyodorkan tangan pada perempuan kelas 1 SMALB itu. Kemudian Riski menjawab, “Gita”. Nah lo? Rupanya anak tuna grahita kadang tidak bisa menangkap apa yang kita omongkan kepada mereka.
Karena tidak ingin mengganggu Kegiatan Belajar Mengajar, saya mohon diri. Besok aku akan ke YPAC lagi, karena kata Bu Nur anak-anak berkebutuhan khusus memiliki jadwal ektrakurikuler berkesenian pada hari sabtu, pada minggu ke-2 dan ke-4. I’ll back.
Selama perjalanan pulang aku masih speechless, aku dan Nita saling diam di atas sepeda motor. Sungguh jadi kepikiran mbak-mbak yang ketemu di butik. Bahwa rasa minderku itu sungguh tak beralasan. Masih banyak orang yang ada di bawah kita, mengapa kita harus berkecil hati? Bersyukurlah. Mereka saja yang “berbeda” dengan kita masih bisa tertawa riang gembira, mengapa kita harus bersedih?
“Tak ada manusia yang terlahir sempurna, jangan kau sesali segala yang pernah terjadi. Kita mungkin pernah dapatkan cobaan yang berat, seakan hidup ini tak ada artinya lagi. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.” (d'massive)
Jangan pernah kau sesali hidup ini kawan.
Dan jangan sekali-kali membuat jurang perbedaan antara kita dengan anak-anak berkebutuhan khusus, karena kita semua SAMA.
Semarang, 19 Maret 2010
(Bersambung hari #2 @YPAC Semarang Sabtu, 19 Maret 2011...............)
*Special thank’s to Nita yang sudah mau nemenin aku, love u fulllll
Aku bukan orang asli Purwokerto, tapi entah mengapa aku memiliki ikatan yang sangat kuat dan berjuta kenangan dengan kota itu.
Purwokerto, ibu kota Kabupaten Banyumas. Sebuah kota di belahan selatan provinsi Jawa Tengah. Sebuah kota terbesar ke-3 se-Jawa Tengah (setelah Semarang dan Solo). Sebuah kota yang terkenal karena bahasa ngapaknya.
Satu kota yang pernah aku singgahi selama tiga tahun untuk menuntut ilmu. Waktu yang terlalu singkat untuk menikmati kota seindah itu.
Kota yang katanya punya udara yang tidak dingin dan juga tidak panas. Kota yang katanya tidak besar dan juga tidak kecil. Kota yang menyimpan berjuta pesona dan daya tarik bagiku.
Sampai kapan pun aku tak akan lupa bahwa aku adalah orang Banyumas walaupun suatu saat nanti tak berdiam di sana. Ya, aku janji nantinya aku tetap mengajari anakku berbahasa ngapak dan mendongengi anakku dongeng Banyumasan, meskipun aku di negeri orang.
Biar kata orang bilang bahwa aku adalah seorang yang menganut paham etnosentrisme, aku tak peduli tapi keinginan untuk memajukan daerah ini tetap ada.
Ya, aku akan belajar, untuk diriku, untuk orang-orang yang kusayangi, dan nantinya (semoga) dapat berguna bagi daerahku.
Aku adalah putra daerah yang merantau di tanah orang, tapi ingat janjiku, aku tak akan mungkin lupa dengan “ngapak-ngapak”, sampai kapan pun aku lebih doyan bila disuruh makan mendhoan daripada burger.
Karena inspirasiku ada di kota itu, kota yang selalu membuatku merindu. Purwokerto with love.