Jumat, 05 Oktober 2012

Semarang oh Semarang, dari Rob, Banjir, sampai Kekeringan



Tinggal di Semarang rupanya memberikan sensasi tersendiri bagiku. Mulai dari kebanjiran ketika musim hujan, rob, sampai kekeringan ketika musim kemarau. Bukan hanya sekali, dua kali, tapi sangat sering aku mengendarai sepeda motor dalam keadaan jalan yang banjir bahkan hampir selutut orang dewasa. Sampai-sampai aku paham benar trik agar si motor tidak wafat ketika banjir. Pernah juga waktu itu ketika mengendarai motor pada malam hari, hujan deras, dan banjir, beberapa pohon tumbang dan jalan pun ditutup, terpaksa harus putar balik padahal selama di Semarang aku tak terlalu hapal jalan.
Kali ini kemarau terasa sangat panjang. Persediaan air di kos-kosan  menipis. Terpaksalah kami melaundry baju, mandi coboy, bahkan keramas hanya dengan air sepuluh gayung. Beberapa anak kos pun memilih numpang mandi di pom bensin. Yah, kondisi darurat memang memaksa kita untuk berpikir cerdik, sampai-sampai aku dapat merumuskan trik mandi dengan air yang sangat terbatas.

Jangan Ragukan Kekuatan Berkah

Source


Teman-temanku yang akan wisuda sedang heboh-hebohnya karena ada satu anak yang sebenarnya ia bukan seorang aktivis, tapi sengaja menandai dirinya pada daftar nama wisudawan aktivis. Sontak teman-teman yang benar-benar aktivis tidak terima, mereka menganggap bahwa kerja keras mereka selama ini dihargai dengan sangat murah, bahkan tidak dihargai. Seseorang yang tak aktif saja dapat dengan mudahnya mencantumkan namanya di daftar aktivis, lalu apa guna kerja keras selama bertahun-tahun?
Baiklah, sebenarnya apa sih yang akan didapatkan dari sebuah julukan “wisudawan aktivis?” bukankah hanya selembar kertas berbentuk sertifikat? Memang sih di negara kita masih mengultuskan sesuatu yang hanya dilambangkan dengan hitam di atas putih. Namun, sahabat coba kau renungkan lagi tentang esensi dari selembar kertas. Bukankah julukan hanyalah sebagai julukan. Lalu apa yang kau dapatkan selama ini, ketika kau benar-benar menjadi seorang aktivis pelajaran kehidupan, manajemen diri, kepemimpinan, bahkan sahabat. Lalu apa yang dia dapatkan ketika dia mendapatkan sertifikat wisudawan aktivis? Dan apakah ada kerugian bagimu ketika dia mendapatkan julukan itu?
Percayalah dengan yang disebut berkah. Opo sing koe tandhur bakal ngunduh.

Kamis, 04 Oktober 2012

Pasar Malam

Hiburan kampung yang sangat aku rindukan. Entah kapan kali terakhir aku menikmati wahana pasar malam. Di sekitar kampusku, tiap tahun memang rutin diadakan pasar malam. Selama empat tahun, aku jarang sekali mengunjungi pasar malam, yang kuingat adalah waktu semester satu aku pernah pergi ke pasar malam, tapi untuk membeli jajan, ketika aku lihat wahana yang ada aku cukup tersenyum simpul dan bergumam, “kampungan sekali”.
Namun kemarin, segalanya berubah. Aku dan Indah kawanku, mengunjungi pasar malam dan sepertinya aku akan ketagihan. Betapa aku menemukan berbagai perspektif yang berbeda dari pasar malam. Mulai dari tingkah pedagang, pengunjung, sampai pada pengelola wahana pasar malam. Mulai dari pedagang jilbab, pedagang harum manis, pedagang pakaian, pedagang perkakas rumah tangga bahkan sampai pedagang pakaian dalam. Ada pula tingkah pengunjung yang pergi bersama kekasih, pengunjung yang pergi seorang diri, pengunjung yang pergi bersama keluarga, dan yang pergi dengan teman-temannya. Ada juga tingkah pengelola wahana rumah hantu, bianglala, ombak banyu, pesawat terbang, kereta, dan komidi putar.

Selasa, 25 September 2012

Ling Art Essay Competition (Kompetisi Esai Tingkat Nasional)



Ling Art Essay Competition (LAEC) merupakan kompetisi penulisan esai tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Keilmiahan Ling Art (Lingua Artistica) Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Kompetisi penulisan esai ini diselenggarakan sebagai salah satu program kerja unggulan yang digagas sejak tahun 2008. Memasuki tahun ke-5, Ling Art Essay Competition (LAEC) berupaya menggandeng mahasiswa seluruh Indonesia untuk menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam sebuah esai kritis dan solutif menghadapi tantangan globalisasi. Tema yang diangkat untuk kompetisi ini adalah Aku dan Indonesia. Kompetisi penulisan esai ini diharapkan mampu memicu semangat kebangsaan dan cinta tanah air.

Sub tema dari Ling Art Essay Competition 2012 adalah sebagai berikut.
1.  Pendidikan
2.  Lingkungan
3.  Ekonomi dan Kesejahteraan
4.  Seni, Budaya, dan Bahasa
5.  4 Pilar Berbangsa dan Bernegara
Pelaksanaan Ling Art Essay Competition 2012:
1.        Pendaftaran dan pengumpulan karya dibuka mulai tanggal 24 September 2012 sampai dengan 20 Oktober 2012. Karya dikirim melalui  email akudanindonesia2012@gmail.com  dengan subject : LAEC 2012_Asal Universitas_Judul LAEC.
2.         Pengumuman finalis 15 esai terbaik akan dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2012 melalui laman www.akudanindonesia2012.wordpress.com dan akan dihubungi melalui nara hubung finalis.
3.         Presentasi 15 finalis esai terbaik dilaksanakan pada tanggal 2 November 2012 di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
4.     Pengumuman dan penganugerahan pemenang dilaksanakan pada seminar nasional “Aku dan Indonesia” pada tanggal 3 November 2012 di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

Info lengkap klik di sini.

Jumat, 21 September 2012

Mantra Baru : Man Shobaro Zhafiro

-->
Source


Masih ingat postingan aku edisi galau yang ini? Ketika dua minggu itu aku meratapi nasibku sebagai seorang pengangguran intelektual akhirnya saat ini aku mendapatkan jawaban dari segala gundah gulanaku, halah. Setelah aku memutuskan untuk meluruskan niatku bahwa mencari pekerjaan tidak semata-mata karena alasan material, bahwa ada yang jauh lebih berharga daripada urusan duniawi, yaitu kebermanfaatan bagi orang lain. Tak bisa dipungkiri bahwa manusia ingin selalu menjerit ketika segala usaha yang telah dilakukannya ternyata belum jua berbuah. Baiklah, rupanya benar apa yang dikatakan Bang Fuadi, antara usaha dan terkabulnya keinginan itu ada jarak, dan untuk mengisi jarak itu yang dibutuhkan adalah kesabaran. Tuhan akan selalu menjawab pertanyaan manusia, tapi kadang manusia yang terlalu bodoh untuk memahami maksud Tuhan, butuh waktu dan perenungan yang mendalam untuk menafsirkannya.
Tidak sampai 24 jam ketika aku memutuskan untuk mengubah mind setku untuk bekerja demi mengamalkan ilmu, tiba-tiba ponselku berdering, dari layar handphoneku tertulis dengan jelas bahwa yang memanggil adalah kantor jurusan. Setelah aku angkat dan aku berbicara dengan orang di seberang sana rasanya seperti ada sesuatu yang jatuh di kepalaku, besok pagi pukul 07.00 aku diminta untuk mengajar di depan tiga kelas dengan total 150 mahasiswa pada Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia. Entah kenapa tiba-tiba aku langsung saja menerima amanah itu, bagiku itu adalah sebuah tantangan. Ya, meskipun hanya mengajar 6 SKS, dan posisiku hanya sebagai dosen pengganti karena Bu Uum harus pergi ke Rusia.

Kamis, 20 September 2012

Refleksi Kuliah (2)



Catatan ini adalah lanjutan dari catatan sebelumnya.

Teori Pembelajaran Bahasa
Menurutku mata kuliah ini hampir sama dengan Psikolinguistik. Teori Pembelajaran Bahasa membahas tentang perkembangan bahasa sampai dengan cara belajar bahasa. Dosen mata kuliah ini adalah Dr. Subyantoro, M.Hum. alias Pak Kajur, dosen pembimbing skripsiku. Rasanya senang sekali kembali diajar beliau. Karena beliaulah aku mulai merancang hidupku, merencanakan hal dengan sedini mungkin. Yang aku amati selama ini, Pak Bi benar-benar menerapkan hadits “Barang siapa ingin urusannya dimudahkan, hendaknya ia memudahkan urusan orang lain.” Beliau paling suka dengan orang yang bersemangat, oleh karena itu beliau hapal dengan aku, hehehe.
Pada pertemuan kedua, kami diberi penjelasan tentang sebuah sekolah alam di Salatiga yang bernama Qoriyah Toyibah. Sekolah alam itu baru saja didirikan beberapa tahun yang lalu, dan baru ada jenjang Sekolah Menengah Pertama. Siswa-siswa di sekolah tersebut dibebaskan untuk belajar apa saja yang mereka inginkan. Anehnya walaupun Qoriyah Toyibah setara dengan kejar paket B, tapi siswa-siswanya malah “menantang” untuk ikut Ujian Nasional seperti yang dilakukan oleh siswa-siswa di sekolah lain, dan hasilnya? Nilai mereka lumayan, dan tidak jauh berbeda disbanding siswa-siswa yang sehari-hari didrill dan dicekoki latihan soal. Sekolah alam Qoriyah Toyibah makin menginspirasiku untuk membuat sekolah yang tidak hanya menciptakan orang yang “pintar” tapi juga cerdas, dan berkarakter. Karena “pintar” hanyalah sebuah produk yang dicetak dan dipoles oleh sekolah, tapi orang cerdas dan berkarakterlah yang nantinya berhak menjadi pemimpin.