Tinggal di Semarang rupanya memberikan sensasi
tersendiri bagiku. Mulai dari kebanjiran ketika musim hujan, rob, sampai
kekeringan ketika musim kemarau. Bukan hanya sekali, dua kali, tapi sangat
sering aku mengendarai sepeda motor dalam keadaan jalan yang banjir bahkan
hampir selutut orang dewasa. Sampai-sampai aku paham benar trik agar si motor
tidak wafat ketika banjir. Pernah juga waktu itu ketika mengendarai motor pada
malam hari, hujan deras, dan banjir, beberapa pohon tumbang dan jalan pun
ditutup, terpaksa harus putar balik padahal selama di Semarang aku tak terlalu
hapal jalan.
Kali ini kemarau terasa sangat panjang. Persediaan
air di kos-kosan menipis. Terpaksalah kami
melaundry baju, mandi coboy, bahkan
keramas hanya dengan air sepuluh gayung. Beberapa anak kos pun memilih numpang
mandi di pom bensin. Yah, kondisi darurat memang memaksa kita untuk berpikir
cerdik, sampai-sampai aku dapat merumuskan trik mandi dengan air yang sangat
terbatas.



