Senin, 17 Desember 2012

Sosok Istimewa (2)

Lanjutan dari Sosok Istimewa 

Kita hidup di dunia seperti mampir (berhenti sejenak) untuk minum seteguk dua teguk air, begitulah perumpamaannya. Kita adalah pengembara yang menempuh perjalanan jauh.

Angin yang berhembus kala itu di Kota Semarang, gerimis yang menemani perbincangan kami, sepasang sahabat. Sembari memakan beberapa irisan Mangga Harum Manis yang ia bawa dari tanah Tidar. “Aku sengaja membawakan makanan buat anak kost,” katanya padaku. Aku tersenyum senang, sembari sedikit berjingkrak dari tempat dudukku.
“Bagaimana kehidupanmu sekarang Nit?” tanyaku tanpa memalingkan wajah dari komputer jinjing di hadapanku.
“Ya begitulah Min, nggak bisa kemana-mana, ibu kan keluar masuk rumah sakit terus,” jawab Nita.
Aku memalingkan wajah. “Tapi sekarang sudah sehat kan?”
“Lumayan Min, sudah di rumah tapi sekarang beliau bergantung sekali padaku.”
“Maksudmu?” tanyaku mulai serius.
Aku dan Nita adalah teman sekamar sejak tahun 2008 sampai 2012. Bahkan orang tua kami sudah saling mengenal baik. Semenjak aku wisuda, aku memutuskan untuk pindah kos. Namun, bukan berarti komunikasi kita terputus sampai di situ. Beberapa bulan ini kami mulai jarang berkomunikasi ya, paling tidak seminggu dua kali kami saling mengirim sms. Kadang pula kami saling menelpon. Entahlah, mungkin aku pantas untuk mengutuk diri. Semenjak aku terjebak pada rutinitasku yang memuakkan, untuk kuliah dan bekerja, aku dan Nita pun semakin jarang berkomunikasi. Sekali dua kali dalam sepekan dia mencoba menghubungiku, kadang aku ogah-ogahan untuk membalasnya. Begitu pula dengan dia, kalau aku kesepian dan mencoba menghubunginya terkadang pesanku dijawab begitu lama. Dia juga sudah terperangkap dalam kesibukkannya. 
Masih teringat jelas dipikiranku, waktu itu tahun 2009. Aku, Nita, dan Arum tiga orang sahabat yang sedang membicarakan suatu hal yang dianggap penting.
“Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus?” tanyaku
“Aku akan kembali ke kampung halaman, di Kendal,” jawab Arum.
“Aku juga,” sahut Nita.
“Aaaah kalian cemen, merantau dooong, jangan jadi jago kandang, kalau kita merantau pengalaman hidup bakal lebih banyak,” kataku masih dengan gaya congkak khas Meina.
Suasana hening.
Satu tahun pun berlalu. Waktu itu aku mendengar bahwa ayahanda Arum dipanggil Allah Swt. Beberapa tahun kemudian, 2012. Aku kembali berkumpul dengan mereka berdua, kami pun membicarakan hal yang hampir sama.
“Bagaimana kalian, masih ingin kembali ke kampung halaman?” tanyaku.
“Iya, aku kan kudu nemenin ibuku,” jawab Arum.
“Iya, aku kan anak tunggal,” jawab Nita. Sebenarnya Nita memiliki seorang kakak perempuan tapi pada saat Nita SMA, kakaknya meninggal karena sakit.
“Aku juga, bisa saja aku akan kembali ke kampung halaman,” jawabku.
“Yang bener?” tanya Nita.
“Iya Nit, merantau itu baik tapi jika keadaan tak memungkinkan maka aku mau kok pulang kampung, toh kontribusi kita pada lingkungan bisa lebih maksimal tapi yang paling utama ya, kita bisa merawat orang tua,” balasku.
Suasana hening.
“Entahlah, aku tak tau kemana masa depan akan membawaku,” ucapku lagi.
Selepas Nita kembali ke Magelang, aku pun kembali dengan aktivitasku. Malam itu Nita Mengirimiku SMS.


Pikiranku melayang. Aku kembali mengingat jawaban Nita waktu itu. “Aku tak menyesal kalau saat ini aku terperangkap dalam rutinitasku yang seperti ini. Ketika teman-temanku bersenang-senang pascawisuda aku malah bolak-balik rumah-rumah sakit-tempat kerja. Tapi aku bersyukur Min, aku masih diberikan kesempatan untuk berbakti pada orang tuaku.”
Esok paginya, aku mendapat telepon dari saudara Nita bahwa ibu Nita telah dipanggil Yang Mahakuasa. Aku hanya terdiam, mataku mengembun dan hanya bisa terisak sendiri di kamar itu. Mereka pantas dikagumi karena ketabahannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar