Selasa, 12 Februari 2013

Cuma Tentang Benih



Cerita Pertama

Ada sebuah pohon yang sangat rindang. Selain itu, ia juga memiliki akar dan batang yang kuat dan dahan yang menjulang tinggi. Dua buah benih ingin sekali menjadi seperti induknya.
“Hai saudaraku apakah kau ingin menjadi pohon yang rindang, tinggi, dan kuat seperti induk kita?” tanya sebuah benih.
“Ya tentu saja, bahkan aku ingin jauh melebihi induk kita,” jawab benih yang lain.
“Tapi bagaimana caranya?”
“Tentu saja dengan pergi jauh dari induk kita.”
“Kenapa harus begitu? Aku takut jika harus tumbuh dan pergi jauh, aku tak yakin bisa bertahan hidup, jangan-jangan nanti aku dimakan hewan, aku pun tak bisa tumbuh.”
“Kenapa harus takut? Baiklah aku akan membiarkan diriku tertiup angin dan aku akan tumbuh di tanah yang jauh.”
Puluhan tahun kemudian benih yang jatuh tidak jauh dari induknya ternyata tidak tumbuh lebih besar dari induknya. Tentu saja bisa begitu, ia harus berbagi zat hara dan air tanah dengan sang induk. Ia pun hidup biasa-biasa saja.
Lain halnya dengan benih yang lain. Ketika angin mendaratkannya pada sebuah tanah ia dapat tumbuh dengan subur  tanpa harus berbagi air dan zat hara. Ia pun tumbuh jauh lebih tinggi dan besar dari induknya.
Seorang bijak pernah berkata, “Benih yang jatuh di bawah pohon induknya tidak akan tumbuh melampaui induknya.”

“Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan penggantidari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” (Imam Syafii)

Cerita Kedua
Alkisah terdapat dua orang yang sedang beristirahat di bawah sebuah pohon yang rimbun. Mereka adalah seorang ayah dan anaknya yang berbadan kecil. Dua orang itu tampak sangat lelah setelah berdagang. Puas beristirahat, sang anak bertanya pada ayahnya, “Ayah apakah suatu saat aku bisa menjadi orang yang kuat seperti Ayah?”
“Tentu saja bisa, kenapa kamu sampai bertanya seperti itu?” tanya ayah sambil mengernyitkan dahinya.
“Aku sangat kagum melihat ayah yang memiliki badan yang tinggi dan besar serta dapat memikul dagangan-dagangan kita yang sangat berat itu. Badanku sangat kecil dan ramping seperti ibu, bagaimana aku bisa menjadi seperti ayah?” ucap anak itu, raut wajahnya semakin sedih.
“Anakku, lihatlah pohon ini,” kata ayah sambil menunjuk sebuah pohon. “Tahukah kamu bahwa pohon yang sangat besar dan rindang itu dulu berasal dari sebuah benih yang sangat kecil ini?” lanjutnya  sambil meraih sebuah benih yang terjatuh di kaki pohon. Ujung telunjuk ayah nyaris seperti raksasa bila dibandingkan dengan benih yang ada di atasnya.
“Benih inilah yang akan tumbuh menjadi pohon yang besar. Tentu saja ia tak bisa tumbuh begitu saja, ia membutuhkan tangan-tangan lain yang membantunya. Tangan angin yang menerbangkannya ke tempat yang subur, air yang mencukupi kebutuhannya, cahaya matahari yang memberinya sumber energi, dan tentu saja waktu yang jadi saksi tumbuh kembangnya,” ucap ayah.
“Begitu juga dengan kamu Nak, suatu saat kamu pasti akan lebih “besar” dari ayah, kau hanya perlu berusaha dan menunggu, yakinlah pada janji sebuah ‘masa’ dalam penantian ‘doa’ dan ‘usaha’ yang tak terputus,” lanjut ayah.
Sang anak sangat terharu, badannya yang kecil memeluk tubuh ayahnya yang kekar, “Kaulah yang terbaik Yah,” tutupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar