Jumat, 28 Februari 2014

I am Happy to be a Teacher

Ungaran, tahun 2011.
“Bagus sekali musikalisasi puisinya Nak, Ibu sampai menangis terharu,” kata seorang guru sambil memeluk gadis kecil itu seusai menyajikan musikalisasi puisi berjudul ‘Bunda’.
Sajian musikalisasi puisi itu sempat menghipnotis pergelaran pada siang hari itu. Diawali dengan alunan musik ‘Bunda’ milik Melly Goeslow, lalu dipadukan dengan harmoni paduan suara dan deklamasi yang sangat menyentuh. Saya pun sampai tersihir. Saya hanya berdiri di barisan paling belakang lalu ikut bertepuk tangan riuh ketika anak-anak itu turun panggung.
Sungguh saat itu pujian bergemuruh di sekitar telinga saya, ya tidak lain mereka memuji pementasan musikalisasi pusi tadi.
Bukan guru atau pelatihnya.
Di situlah saya yang waktu itu menjadi guru praktikan di SMP diberi banyak kesempatan untuk memahami makna seorang guru. Menjadi seorang guru berarti belajar keikhlasan, seperti halnya semut hitam kecil di atas batu yang legam. Seorang guru tidak akan iri ketika muridnya melampaui dirinya, bahkan itulah indikator kesuksesan baginya.

Dalam hidup ini setiap orang berhak bermimpi atau bercita-cita kemudian ia memutuskan bahwa ia akan berjuang demi mimpinya atau mengalah pada realita. Kata Dewi Lestari, “Menyerah dan realistis beda tipis”. Tidak hanya satu atau dua orang, tapi sudah tak terhitung Sarjana Pendidikan yang menyerah pada realita. Hanya soal keputusan.

Mengajar bukan perkara mudah yang hanya bisa diselesaikan di atas meja dengan tumpukan berkas-berkas. Mengajar pun bukan profesi yang selesai pada jam kerja saja. Mengajar juga ‘memaksa’ guru untuk terus belajar. Sebab, ada karakter yang harus dibangun, yang tak hanya transfer of knowledge tapi juga transfer of thinking, transfer of method, dan yang terpenting adalah transfer of value. 

Selasa, 25 Februari 2014

Arti Kerinduan


“Kredibilitas label halal dipertanyakan”. Kabar itu yang menyeruak akhir-akhir ini. Aku tidak akan membicarakan tentang MUI, tapi aku jadi teringat quote yang ditulis kawan saya, “Halal is a must, not just about what we eat, but also what we wear, and what we love.”
Haruskah label halal pada hati juga mesti dipertanyakan?
Haruskah hilang prinsip hanya karena tak tahan didera cobaan?

Hidup dalam kesederhanaan dan perjuangan mungkin sudah menjadi pilihan hidupku saat ini, termasuk memilih untuk tidak egois pada perasaanku sendiri. Menyimpan kerinduan hanya sebatas sesuatu yang indah dan aku rasakan sendiri, mungkin itu yang terbaik saat ini.

Meskipun jatuh cinta, kita tetap harus menyerahkan hati kita pada Allah. Sebab, kerinduan yang terjalin kepada seseorang yang belum halal hanya akan menghadirkan kepalsuan dan kekecewaan.

Tahukah kau bahwa Rasulullah pernah menahan lapar seharian demi membahagiakan Aisyah? Tahukan kau Rasulullah pernah berjuang begitu keras demi Kahdijah yang seorang konglomerat? Bukankah segalanya butuh persiapan matang? Meskipun sudah dijamin Allah pada An Nur : 32.

Senin, 10 Februari 2014

Untuk Suamiku (Kelak)

Wahai separuh jiwaku, semoga engkau selalu berada dalam lindungan Tuhan. Bila Tuhan menghendakiku untuk bersujud kepadamu, sungguh engkaulah jembatan surgaku. Kita mesti pahami bersama bahwa kita sudah bersepakat untuk membangun rumah di dunia dan juga di akhirat. Artinya, kita harus konsisten untuk menjalani hidup sebagai ibadah.
Suamiku, bukankah dulu sebelum menikah aku sudah pernah berkata kepadamu bahwa masa depan kita masih suci, tak perlu kau risaukan masa lalu kita. kita akan sama-sama membuka lembaran putih lalu menggoreskan lembaran itu dengan pena kesakinahan. Aku juga sudah jelaskan bahwa aku tak terlalu pandai di dapur, tak terlalu pandai mengatur keuangan, dan mungkin tak bisa selalu berada di rumah. Banyak yang mengira bahwa aku seorang perempuan yang career oriented, tapi kau tak peduli. Kau bilang padaku bahwa kau tahu tujuanku bekerja adalah untuk beribadah. Sungguh aku sangat terharu atas segala kemaklumanmu kepadamu. Katamu waktu itu, “Cinta itu sederhana.”
Tak perlu jadi orang paling kaya, kau juga tak perlu jadi presiden untuk membuatku bahagia. Aku hanya ingin kita membangun keluarga yang penuh dengan kebarokahan. Kita akan hidup bersama selamanya. Setelah orang tuaku melepasku kepadamu, ketakzimanku sepenuhnya kupersembahkan padamu. Ketika subuh, magrib, dan isya kita akan salat berjamaah dan bersalaman setelah salam. Kucium tanganmu, mengharap ampunanmu pada setiap kekuranganku, dan kau kecup keningku dengan mesra. Sembari menunggu isya, kau buka kitab suci dan membacanya bersama-sama denganku.
Bila ada rezeki berlebih kita akan kunjungi tanah suci bersama. Kita akan melingkari rumah Allah dengan memanjatkan doa keselamatan untuk keluarga kita. Di tanah suci kita mengkhatamkan Quran dan bersujud di depan ka’bah. Semoga kita juga bisa mengajak orang tua kita.

Menjelang 24

“Kapan menikah?” sepertinya jadi pertanyaan yang lazim terucap pada perempuan usia di atas 23. Setahuku di Indonesia, apalagi di Jawa usia 23 sampai 25 adalah usia yang paling banyak dipilih perempuan untuk menikah. Mengapa?
Mungkin pertimbangan yang utama adalah faktor produktivitas biologis, budaya, dan agama. Faktor produktivitas biologis mungkin jadi faktor yang seolah-olah terlihat paling mendesak, aku pernah dengar kalau perempuan dianjurkan untuk tidak melahirkan pada usia lebih dari 35 tahun. Kalau dilihat dari faktor budaya, ini juga dipengaruhi oleh faktor yang pertama tadi. Aku lebih menganggap faktor ini merujuk pada beban sosial, perempuan yang berusia lebih dari 30 dan belum menikah maka cap “Perawan tua” akan menancap pada dirinya, siapa yang tak sedih? Faktor yang terakhir adalah agama. Sebenarnya agama seharusnya menjadi yang nomor satu, tapi entahlah, jarang sekali ada yang menggunakan alasan ini pada kasus “Mendesaknya pernikahan”.
Suatu sore kudengar seorang ibu menelepon anak perempuannya, “Ibarat bunga, perempuan yang berusia lebih dari 25 tahun sudah menjadi bunga yang layu, mana ada kumbang yang mau hinggap.”
Gadis itu terdiam.
“Ingat, kamu sudah hampir 24. Besok kamu berkenalan dengan seorang pria, dia……”
Gadis itu tetap terdiam, dia pun tersenyum. Sesaat kemudian setelah menutup teleponnya, tangisnya pecah, pikirannya menjelajah pada suatu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, perjodohan.