Kamis, 18 Februari 2016

LGBT

Heboh pemberitaan LGBT, warga Desa Cekaran pun ikut-ikutan berinisiatif mengadakan acara gerebek kos-kosan. Pada acara gerebek tersebut, sepasang laki-laki bernama Andi dan Anto tertangkap basah tidur bersama dalam keadaan kamar terkunci.
Pak Kades: Mana nomor telepon ortu kalian, biar saya kasih tahu kalau anaknya terjerat kasus LGBT.
Anto: Ampun Pak, jangan kasih tahu berita tidak benar pada orang tua kami. Memangnya kami salah apa?
Pak Kades: Sudah jelas-jelas kalian tertangkap basah bobok bareng di kamar yang terkunci. Masih kurang bukti apa lagi? Kalian fiks 100% jamaah LGBT!
Andi: Tapi Pak, kami memang menyewa kamar satu kamar untuk dua orang. Lha yang kamar sebelah juga ada si Budi yang sedang bobok dengan pacarnya. Kok gak digerebek Pak?
Pak Kades: Lha iya tadi juga ngintip kamar sebelah, ternyata yang lagi bobok bareng itu cowok dengan cewek. Itu normal tho. Kalian yang enggak!

Kamis, 07 Januari 2016

Cerita Sore

Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke sebuah desa. Di sana saya “iseng” mendatangi sebuah rumah bidan desa dengan maksud periksa kandungan dan berkonsultasi. Warga desa tersebut mayoritas berprofesi sebagai buruh pabrik. Saya datang pukul 15.30, tigapuluh menit sebelum bidan praktik bersama suami saya dengan mengendarai sepeda motor tahun 1997. Saya disambut oleh seorang karyawan dan langsung ditembak dengan pertanyaan, “Bu, mau periksa pakai asuransi pabrik?” Saya yang masih agak bingung spontan menggelengkan kepala. Beberapa saat kemudian, asisten bidan pun datang.

“Bu, biasa periksa di mana?”
“Semarang Bu.”
“Di dokter atau bidan?”
“Dokter Bu.”
“Punya buku merah jambu?”
“Wah tidak diberi oleh dokter saya Bu, gimana?”
“Saya sarankan, besok Ibu periksa di bidan saja ya Bu.”
“Loh, kenapa Bu?”
“Agar dapat buku merah jambu Bu.”
Saya hanya tersenyum dan mengangguk.
“Di Semarang kerja di pabrik mana Bu?”
“Wah saya hanya ikut suami kok Bu.”
“Di rumah saja ya Bu?”
“Iya Bu, ngurus rumah tangga.”

Beberapa saat kemudian Bu Bidan dari ruang sebelah pun datang. Beliau memeriksa detak jantung janin saya kemudian mengukur perut saya.

“Normal Bu, ada keluhan?”
“Saya flu Bu, apakah boleh mengonsumsi obat?”
Beliau langsung menunjuk-nunjuk beberapa obat pada asistennya lalu menyerahkan tiga jenis obat kepada saya. Saya melihat-lihat tiga jenis obat itu, salah satu obat yang diberikan tidak memiliki pembungkus, hanya dimasukkan dalam plastik transparan yang ditulisi dengan spidol “3 X 1”.
“Maaf Bu saya mau tanya, ini obat apa ya?” – tepatnya percakapan saya menggunakan bahasa Jawa Krama.
“Ini obat aman kok Bu. Saya ini bidan, jelas saya sudah tahu mana obat yang baik atau tidak untuk ibu hamil. Kalau berobat itu yang mantap saja Bu. Kalau suruh minum obat ya diminum, tidak usah banyak tanya,” jawab Bu Bidan dengan nada tinggi.


Selanjutnya, saya sudah malas untuk bertanya lebih jauh. Saya pun mengajak suami untuk pulang. Begitulah cerita sore itu.

Kamis, 17 Desember 2015

Ayam Goreng dan Semut

Malam itu mataku terbuka. Ah, sudah pukul 02.30. Lapar sekali rasanya.

Kuraba perutku, Alhamdulillah tendangannya semakin terasa.

Alamak, baru kusadari rupanya aku tertidur di depan televisi dan giliran semut-semut di televisilah yang menonton aku. Program televisi telah usai karena sudah terlalu larut. Aku baru ingat kalau sebelum tidur aku merasa lelah sekali, badanku sangat lemas. Aku pun meminta suami untuk memasakan sesuatu untukku. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.

Di sebelahku, dia tengah tertidur pulas di atas lembaran karpet yang ditumpuk bedcover.  Kasur di depan televisi memang hanya cukup untuk menampung satu orang. Aku berjalan menuju meja makan, di sana sudah terhidang ayam goreng yang sudah dikerumuti semut.


Malam itu juga aku mengusir semut-semut dari piring saji. Aku harus tetap makan. Bukan hanya dengan alasan lapar.

Kamis, 05 November 2015

Mother-Land


*Bersih-bersih sarang laba-laba di blog dulu ya*
Alhamdulillah sungguh nikmat tak terkira ketika Allah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menjadi calon orang tua. Hari ini usia kandungan saya sudah 14 minggu. “Alhamdulillah” adalah ungkapan yang selalu kami upayakan untuk terlontar dari bibir kami atas apa pun yang aku rasakan selama kehamilan. Kalau para sesepuh bilang, “Iki gawan bayi, nek muntah mriyang puyeng yo wajar.”

Benar kata orang, ketika seseorang (akan) mempunyai anak maka hidupnya pun akan berubah. Begitu pun saya, mulai dari cara berpikir sampai pada perilaku yang sudah tidak seperti dulu, bahwa: seorang ibu tidak akan berpikir untuk dirinya saja.

Yeah, baru kali ini saya merasa jatuh cinta pada makhluk Allah jauh sebelum saya bertemu dengannya. Baru kali ini saya merindukan seseorang yang saya belum pernah mendengar cerita tentang sosoknya. Baru kali ini saya tak lagi bersabar untuk ‘mengisinya’, menyiapkannya menjadi sosok yang jauh lebih baik dari diri saya sendiri.

Baiklah, dan sampai ia lahir di dunia saya harus berpisah dengan mie sedap kari dan es coffeemix. Namun, saya jalani ini sungguh dengan suka cita.

Jumat, 21 Agustus 2015

Suprapti: Antara Seorang Ibu dan Guru

 “Bu Prapti”, begitulah saya menyapa Dra. Suprapti, M.Pd., sosok yang saya kenal sejak tujuh tahun silam tepatnya tahun 2008. “Galak dan disiplin”, itulah kesan (waktu itu) dalam benak saya ketika kali pertama menjadi mahasiswa beliau. Masih begitu saya ingat, ‘Meina Mahasiswa Baru’ duduk di kursi paling belakang karena takut “ditunjuk” menjawab pertanyaan yang dilontarkan pada mata kuliah Linguistik Umum. Ketakutan dan isu kakak kelas tentang betapa susahnya mata kuliah linguistiklah yang menjadi salah satu penyebab saya “merinding” ketika diajar beliau.
Ketika saya memasuki semester enam, Bu Prapti kembali mengajar saya pada mata kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa.
“Hai kamu yang duduk di belakang sendiri,” kata beliau sambil menunjuk saya.
“Iya Bu,” jawab saya.
“Nah itu contohnya, ‘duduk di belakang sendiri’ merupakan ungkapan yang terinferensi oleh bahasa daerah yaitu bahasa Jawa, ‘lungguh mburi dhewe’ maksudnya duduk paling belakang, begitu kan Mbak?”
“Padahal saya tidak duduk sendirian ya Bu,” celetuk saya.
“Beda lagi kalau saya katakan, ‘Mahasiswa dilarang berbicara sendiri ketika perkuliahan’ itu pasti ada mitra tuturnya, kalau berbicara sendiri malah bahaya,” canda beliau.
Segmen perkuliahan itu yang mengubah pandangan saya tentang Bu Prapti, tak ada lagi kesan “galak” dalam benak saya, hingga akhirnya saya tahu bahwa beliau merupakan sosok yang disiplin dan disegani. Memasuki semester tujuh, saya kembali ‘ngangsu kawruh’ pada beliau sebagai mahasiswa PPL. Itu adalah kesempatan besar bagi saya untuk banyak-banyak bertanya pada beliau tentang bahasa, pendidikan, dan pendidikan bahasa dalam ranah paradigma, konsep, maupun praktik. Sebagai dosen senior, jawaban Bu Prapti sangatlah cerdas dan taktis. Bahkan beliau tidak segan memberikan tips dan trik menjadi seorang guru yang baik dan berkualitas secara akademik, paedagogik, psikologis, serta sosial.

Menikah

Berawal pada 17 Agustus 2014. Sebuah perkenalan yang dilakukan setelah melaksanakan upacara kemerdekaan rupanya berujung pada janji suci.

Alhamdulillah setelah melewati proses empat bulan setelah khitbah akhirnya kami pun menikah. Bahagia sekali karena Insya Allah akan mendapat kebahagiaan dunia-akhirat dengan orang yang saya cintai.

1. Seserahan/Malam Midodareni




2. Ijab









3. Resepsi






Terima kasih kepada:
Orang tuaku dan keluargaku, bapak-ibu mertua serta keluarga Kudus, para sahabat, dan suamiku.