Rabu, 13 Februari 2013

Menjelang 23


Sebuah rasa syukurku.
Karena engkau: Lelaki Platonik

Salam,
Hai, Lelakiku apa kabarmu? Pagiku kali ini terbuat dari senyumanku untukmu. Di atas ranjang mata yang terpejam, tak inginku terlelap kembali, kantuk terkalahkan pagi. Sedang apa kau di sana? apakah kau juga menggenggam rindu untukku?

Menjelang 23 ini, aku ingin katakan padamu bahwa banyak sekali hal yang terjadi dalam hidupku. Rasa syukur itu tentu saja yang selalu kupeluk erat. Kau datang padaku dan menggoreskan kisah pada jalan berdebu. Keping hati yang sedang mencari, seperti sepatu kuyu yang hilang satu. Kau datang kehujanan, dengan mantel basah dan bibir menggigil kedinginan. Bukan, bukan sebab sepeda tua yang kau kayuh malam itu. Bukan juga karena sapa lembut dirimu. Kau datang dengan hadiah untukku, senyuman yang menghangatkan tubuhku di antara rintik hujan. Di balik punggungmu, masih kupeluk erat bayanganmu.

Menjelang 23,
Aku masih tak henti bersyukur karenamu. Atas segala pencapaianku dan semangat berkaryaku. Tanpa kau, aku tiada.

Menjelang 23,
Kau dan kotamu nanti. Aku harap kau tak melupakanku, kota tuamu. Dengan sejumput impianmu dan sisa pasir di sepatumu, bekas langkahmu di gurunku tak mungkin terhapus waktu.

Menjelang kepergianmu,
Aku titipkan rasa syukurku. Terima kasih Tuhan telah mengirimkanku wahai Lelaki Platonik.

Salam takzimku untukmu.
Menjelang 23.
(Kusuma, 13 Februari 2013)

2 komentar: