Selasa, 22 Oktober 2013

Benarkah Saya Alay?



Apakah benar kata Raditya Dika bahwa ada fase harus dilalui oleh manusia menjelang dewasa? Setelah melalui fase anak-anak yang penuh keceriaan, lalu ABG atau remaja yang  identik dengan “alay”. Sebelum ia menjadi dewasa, masa-masa ABG itulah yang biasanya dipenuhi dengan ke-alay-an. Alay disebut-sebut sebagai akronim  “anak layangan”, orang yang dianggap norak dan ndeso. Biasanya ke-alay-an remaja ditandai dengan kegandrungan pada boyband, lalu menulis dengan huruf kapital secara berantakan, menggunakan bahasa yang dirasa “aneh”, tapi tentu saja keren menurut mereka. Terus terang saya juga bingung untuk mendefinisikannya.
J.W.M. Bakker Sj dalam bukunya yang berjudul Filsafat Kebudayaan menjelaskan bahwa ada hal-hal yang dinamakan dengan faktor kebudayaan. Faktor-faktor itulah yang dapat membentuk suatu kebudayaan, diantaranya ada yang disebut sebagai teori evolusi dan degenerasi.
Evolusi merupakan perubahan yang terjadi secara perlahan-lahan menjadi lebih baik atau lebih kompleks. Evolusi diajukan sebagai faktor kebudayaan pada pertengahan abad XIX, pandangan itu diambil alih dari ilmu biologi, orang yang sangat populer menggencarkan teori itu adalah Ch. Darwin dengan publikasi yang menggemparkan The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preservation of Favoured Races in the  Struggle of Life. Tidak hanya ilmu biologi, evolusionisme juga berkembang dalam perkembangan kebudayaan manusia. Contoh evolusi yang dilalui manusia adalah masa-masa berburu dan meramu, lalu menggunakan otot, gigi, berkembang menjadai masa-masa penuh peralatan , menanam , beternak, membangun kota, dan berpolitik. 
Berlawanan dengan teori evolusi, degenerasi disebut sebagai faktor yang mengakibatkan suatu taraf kebudayaan tertentu. Para penganut paham degenerasi memandang sebuah kebudayaan purba merupakan fase yang telah mengalami kemerosotan. Dalam mitologi kuno, dikhayalkan tentang abad emas asli yang mengalami kebobrokan dan dekadensi.
Benarkah evolusi dan degenerasi bisa dilalui manusia lewat fase hidupnya? Mungkin teori yang dianut saat ini adalah evolusi, perubahan fase dari anak-anak, ABG/remaja, dan dewasa. Mungkinkah selanjutnya manusia mengalami degenerasi? Bisa jadi. Dekadensi bisa dialami oleh manusia ketika ia bosan dengan keseriusan dan hal-hal kedewasaan yang palsu, “alay” kah solusinya?
Saya menggandrungi FTV, menggemari Coboy Junior, suka warna-warna ngejreng, suka hal-hal yang rata-rata orang menyebutnya “alay”. Saya menyebut hal-hal itu sebagai sebuah hiburan mengatasi kejenuhan. Namun, bukankah hal yang disebut hiburan adalah hal yang disukai dan membuat bahagia? Kadang alay itu tidak buruk. Benarkah itu disebut degenerasi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar