Senin, 01 April 2013

Renungan Indah



Renungan Indah
WS. Rendra
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskan di atas ranjang)


aku berkata,
Ketika semua orang memujiku

Bahwa semua itu hanyalah titipan.
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya.
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya.
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya.
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya.

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah.
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka.
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja,
untuk melukiskan kalau itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku.
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak popularitas, dan
Kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan.
Seolah semua “derita“ adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika.

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
Dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku“.
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk ibadah.
“ Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja “.



****
Kadang terpikir, untuk apa sekolah tinggi-tinggi, untuk apa kerja keras bila aku tak punya waktu untuk diri sendiri? Bahkan satu hari aku hanya punya lima jam waktu luang. Lantas hati terkesiap, tatkala menyadari bahwa arah hati sudah tak menentu, apa hakikat dari perjuangan, jika tak mengerucut pada pengabdian. Untuk apa dikagumi orang bila diri sendiri tak merasa bahagia? Untuk apa tampil hebat bila, diri sendiri tak pernah menikmati hidupnya?
Namun, sadarilah bahwa perjuangan tak pernah ditaburi oleh wangi bunga. Mungkin hanya butuh kesabaran, “man shobaru zhafiro”.
Ketika seseorang diuji dengan kemiskinannya, bisa jadi Allah ingin melihat perjuangannya. Bila seseorang diuji dengan kekayaannya, bisa jadi Allah ingin melihat berapa banyak sedekahnya. Bila seseorang diuji dengan waktu luang dan sempitnya, bisa jadi Allah ingin melihat seberapa ia memanfaatkan waktunya.
Semoga setiap helai keringat ini nantinya akan menjadi penyejuk di padang mahsyar. Tiada jalan lain untuk menikmati hidup, selain dengan menikmatinya. “Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja “.

(Griya Kusuma, 30 Maret 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar