Senin, 29 Desember 2014

Sepasang Penjual Mangga



Sabtu, 27 Desember 2014 di Batu Malang.

Sore itu gerimis merintik membasahi Batu yang hampir selalu basah. Selama tiga hari saya di sana, tak pernah ada hari tanpa hujan. Entah sebab musim hujan atau memang Batu sudah ditakdirkan sebagai kota hujan. Meskipun selalu basah, pesona Batu tak pudar. Batu menyimpan kenangan manis setiap saya melihat rintikan gerimis di mana pun.

Gerimis akhir tahun ini juga menyimpan kisah singkat antara kami dan sepasang penjual mangga. Kala itu, kami sedang berjalan dari Alun-Alun Batu menuju pangkalan taksi. Sepanjang jalan banyak sekali penjual yang menawarkan barang dagangannya.
“Mas, Mba mau mangga? Murah dan manis lo,” kata ibu penjual mangga.
Kami pun berhenti. Kami berdua sama-sama penggemar buah mangga.
“Boleh Bu, bisa kami cicipi dulu?” tanya saya.
“Oh boleh,” kata ibu penjual sambil memberikan kode pada partnernya yang sepertinya adalah suaminya. Penjual laki-laki itu lantas memberikan potongan mangga pada kami.
“Hm.. manis, boleh lah kami ambil, satu kilo saja Bu,” kata pacar saya.
“Satu kilo sepuluh ribu Mas, biasanya dapat dua mangga,” kata sang penjual laki-laki.

Kami pun berbisik.
“Mahal Mas.”
“Nggak apa-apa Dek, anggap saja ini rezeki mereka,” jawab pacar saya.
Aku mengangguk dan kami memilih dua buah mangga yang akan kami beli.
“Ini Bu,” kata saya sambil menyerahkan dua buah mangga.

Sesaat setelah menerima mangga dari saya, ibu penjual mangga menimbangnya. “Ini pas satu kilo ya Mbak.”
Saya mengangguk dan mengobrol dengan pacar saya.
Aaaah, saya tidak tahu kenapa, entah ibu penjual menganggap kami sedang lengah. Dia menukar satu buah mangga yang sudah kami pilih dengan mangga yang lain dari keranjang yang berbeda. Ibu penjual seperti memberi kode khusus pada suaminya.

“Monggo,” kata ibu penjual.
“Loh tadi kok mangganya diganti Bu?” tanya saya.
“Itu sama kok Mbak,” jawab ibu penjual kagok.
“Oh gitu ya,” pamit saya. Kala itu, saya sedang malas berdebat karena terburu-buru masuk taksi.

Di taksi, kami membahas peristiwa tersebut. Saya membuka kresek pembungkus mangga. Dua mangga di tangan saya, yang satu sudah masak, yang satu masih sangat keras.
“Mas, yang ditukar yang ini,” kata saya sambil menyerahkan mangga yang belum masak pada pacar saya.
“Iya biarkan saja Dik, anggap itu sebagai catatan kita.”

Sebuah catatan yang akan terus membekas di hati kami. Kejujuran adalah harta yang tak ternilai. Kejujuran adalah kunci keberkahan rezeki. Sepasang penjual yang mencoba untuk berbuat curang dengan alasan yang menurut kami sangat tidak cerdas. Kami menduga, dua keranjang milik mereka memang berisi mangga yang memiliki kadar kematangan yang berbeda. Kami tidak habis pikir mengapa mereka dengan sengaja menukar mangga kami dengan mangga yang sudah jelas-jelas tidak masak. Bukankah itu berarti mereka menyisakan banyak mangga yang masak? Lalu bagaimana kalau busuk? Aaah, Rasulullah selalu mengajarkan kepada kita untuk jujur terhadap barang dagangan.

Tidak usah jauh-jauh bicara tentang korupsi oleh menteri atau anggota DPR. Hal kecil itu ada dalam kehidupan kita sehari-hari.

2 komentar:

  1. Duh, jadi penasaran sama pacar barunya Mbak Meina. :D

    BalasHapus
  2. 1. mangga 10 ribu itu nggak mahal, emang segitu kali buu.... *emakemaktaubangethargamangga
    2. seringkali yang terjadi adalah sikap apatis membiarkan kemungkaran terjadi, gimana kalo si ibu itu mengira semua pembeli bersikap seperti kalian dan si ibu akan melakukan itu berulang kali..
    3.sial, tulisan ini bikin aku emosi, mana sinih si tukang mangganya? jejelin pelok mangga nih!

    BalasHapus