Kamis, 04 Oktober 2012

Pasar Malam

Hiburan kampung yang sangat aku rindukan. Entah kapan kali terakhir aku menikmati wahana pasar malam. Di sekitar kampusku, tiap tahun memang rutin diadakan pasar malam. Selama empat tahun, aku jarang sekali mengunjungi pasar malam, yang kuingat adalah waktu semester satu aku pernah pergi ke pasar malam, tapi untuk membeli jajan, ketika aku lihat wahana yang ada aku cukup tersenyum simpul dan bergumam, “kampungan sekali”.
Namun kemarin, segalanya berubah. Aku dan Indah kawanku, mengunjungi pasar malam dan sepertinya aku akan ketagihan. Betapa aku menemukan berbagai perspektif yang berbeda dari pasar malam. Mulai dari tingkah pedagang, pengunjung, sampai pada pengelola wahana pasar malam. Mulai dari pedagang jilbab, pedagang harum manis, pedagang pakaian, pedagang perkakas rumah tangga bahkan sampai pedagang pakaian dalam. Ada pula tingkah pengunjung yang pergi bersama kekasih, pengunjung yang pergi seorang diri, pengunjung yang pergi bersama keluarga, dan yang pergi dengan teman-temannya. Ada juga tingkah pengelola wahana rumah hantu, bianglala, ombak banyu, pesawat terbang, kereta, dan komidi putar.
Satu-satunya wahana yang aku nikmati adalah ombak banyu, alasannya karena itu yang paling menantang. Selain dijalankan dengan kekuatan mesin, rupanya ombak banyu dijalankan juga dengan tenaga manusia. Bentuknya seperti lingkaran besar, penikmat wahana duduk di atas besi yang dibuat model kursi panjang. Tidak lupa pengelola juga memutar lagu dangdut koplo, lampu berwarna merah-kuning-hijau-biru yang menyala dan mati dengan silih berganti pun turut memarakkan ombak banyu. Di sana aku benar-benar merasa seperti berada di diksotik level kampung. Lalu bagaimana dengan penumpang ombak banyu yang lain? Ini yang paling unik. Di sana ada dua pasang kekasih, satu orang lelaki yang sepertinya sedang patah hati, dua orang anak kecil, dan seorang perempuan bersama anak kecil. Rasanya senang sekali mengamati tingkah mereka, tatkala aku dan Indah sedang heboh sendiri dan menjerit-jerit karena ombak banyu melaju kencang, rupanya di ujung sana ada kekasih yang curi-curi kesempatan dengan menutupi mata kekasihnya dengan tangannya (chiyeeee), lain lagi dengan tingkah anak kecil di depanku, bahkan ia tak berpegangan sama sekali, lalu seorang laki-laki yang sepertinya sedang patah hati itu malah asik ber-SMS ria sambil senyum-senyum sendiri, sepertinya dia ingin menunjukkan bahwa “Ki loh, aku yo payu, iseh iso sms-an”. Yang paling lucu adalah tingkah si umber “tenaga manusia ombak banyu” mereka seperti beratraksi, ada yang muter-muter, jempalitan, koprol, ngesot, sampai bertingkah seperti ular kepanasan sembari memutar ombak banyu dengan tenaga mereka sambil mengikuti hentakan irama dangdut koplo yang mengalun dahsyat.
Sepanjang aku menikmati pasar malam dan ombak banyu, aku seperti sekampung-kampungnya orang yang sedang menikmati hiburan kampung. Yah, jangan remehkan hiburan apapun dan dapatkan perspektif berbeda.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar