Sabtu, 11 September 2010

Saat Nikmat Menghilang, Laa Tahzan !

Rasa sedih itu wajar dialami oleh setiap manusia, apalagi ketika kita mengalami kegagalan, kehilangan, atau bahkan merasa sendiri di dunia. Kadang kita merasa bahwa hidup ini tidak adil, apa yang telah kita perbuat ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Padahal kita sudah berusaha keras dan sebagainya.
Hasilnya???
Manusia merasa putus asa dan meninggalkan segala ikhtiar mereka.
Kita sering sekali tidak menyadari bahwa setiap makhluk pasti pernah merasakan masa paling sulit dalam hidupnya.

Jadi teringat isi kajian siang hari itu, yakni tentang kisah Elang. Seekor burung Elang yang sangat gagah ternyata rata-rata mampu bertahan hidup selama 60 tahun, ketika mereka menginjak usia 30 tahun burung Elang harus rela kehilangan fungsi paruhnya selama 4 bulan. Paruhnya yang melengkung kedalam dapat melukai lehernya. Alhasil si burung Elang harus menahan sakit dan mematahkan paruhnya agar lehernya tidak terluka dan menunggu paruhnya tumbuh kembali selama 4 bulan. Selain itu dalam waktu 4 bulan tersebut, burung Elang juga harus mencabut kuku dan bulunya (alasannya kenapa aku lupa, hehe kayaknya sih buat regenerasi gitu) jadi intinya selama 4 bulan itu si Elang harus menahan lapar dan dahaga (ternyata burung bisa puasa juga ya, hihi). Dan semua itu ternyata dapat dilalui oleh si Elang. Artinya perjuangan tersebut merupakan fase untuk menyongsong masa 30 tahun mendatang yang lebih baik. Subhanallah.

Begitu juga dengan manusia.

Seperti yang dialami oleh Urwah bin Zubeir, ketika beliau harus kehilangan satu kakinya yang diamputasi juga seorang puteranya yang tewas ditendang seekor kuda, beliau tetap tegar. Bahkan ketika beliau pulang, kerabatnya menyambut Urwah dengan raut kesedihan, beliau berkata, “Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu, maka masih tersisa tiga, puji syukur bagi-Nya. Aku dikaruniai empat kekuatan (dua kaki dan dua tangan), lalu hanya diambil satu, maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya.”

Jika kita jujur sebenarnya nikmat yang tersisa jauh lebih banyak daripada nikmat yang hilang. Tapi ketika fokus kita tertuju pada nikmat yang hilang, maka nikmat lain yang lebih banyak akan terasa lenyap tak tersisa. Dari sisi ini maka orang yang berputus asa karena musibah yang menerpa, bahkan seringkali manusia tak habis-habisnya menyalahkan takdir. Itu artinya dia telah kufur atas segala nikmat Allah, akibatnya hatinya akan merasa kecewa dan tersiksa.

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum kafir.” (Yusuf : 87)

Untuk meraih kesuksesan dan tujuan hidup kita, seseorang pastilah pernah mengalami fase yang penuh dengan hambatan, tapi jangan pernah menganggap hambatan itu sebagai penghalang, anggap saja bahwa semua itu hanyalah “tantangan” sebuah teka-teki yang mengasyikan untuk dicari solusi pemecahannya.

Jadi jika kamu sekarang merasa di bawah, ingat cuy kalau hidup itu bagai roda, kadang di atas kadang di bawah. Yang penting ketika kita di atas jangan lupain ya sama yang di bawah. Soalnya “Ketika kamu menyombongkan diri, maka kehancuran sudah didekatmu.” (percaya deh, hihi)

So always be low profile and never give up.

Ingat hidup itu sangat indah dan kesedihan hanya untuk mereka yang tidak bersyukur.
Maka alangkah indahnya bila buah kehilangan adalah bersimpuhnya kita dihadapan Allah dan semangat untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Laa Tahzan,
Jangan bersedih.

~_^ v

Shafira, 17 Mei ’10. 8.45 PM.

2 komentar: