Sabtu, 11 September 2010

Tersenyum Bahagia di Jalan Allah

Tersenyum Bahagia di Jalan Allah


Ya Allah aku merasa sangat bahagia. Sungguh tak ada satu pun alasan yang dapat membuat kita bersedih. Aku sungguh bersyukur atas segala nikmat yang telah Kau berikan ya Rabb. Memang aku sering sekali mengeluh bahkan merasa hidup ini tak adil. Ternyata aku salah, akulah yang tidak adil dalam menilai hidup ini.

Sudah 3 hari lututku terasa sangat nyeri, apa lagi ketika harus duduk di antara dua sujud, rasanya aku ingin menangis, dan dalam kepasrahan itulah aku sadar bahwa Allah telah menganugerahiku sepasang kaki yang kuat untuk beraktivitas, berjalan bahkan berlari. Aku yang hanya merasa sedikit nyeri di lutut (mungkin karena kurang olah raga) saja sudah merasa sangat tersiksa apalagi mereka yang dilahirkan tanpa kaki. Astaghfirullah…

Pun sama halnya ketika kurasa senyumku telah beku, sepertinya aku enggan tersenyum untuk hal-hal yang menurutku tak penting apa lagi kepada sesuatu yang sebenarnya mengecewakan. Tapi Allah memberiku petunjuk untuk membaca sebuah kisah.

Di sana diceritakan tentang seorang gadis yang terkena penyakit saraf. Setengah saraf wajahnya tidak berfungsi. Alhasil otot-otot pada wajahnya hanya berfungsi separuh. Hal tersebut membuatnya tidak bisa tersenyum. Apabila ia tersenyum maka hanya separuh bibirnya saja yang bergerak. Bukankah itu seperti senyum sinis? Pernah ketika pelajaran olahraga ia tersenyum pada gurunya, tapi gurunya malah memarahi gadis itu, beliau merasa disepelekan dengan senyum sinis sang gadis. Setelah ditanyai oleh gurunya, sambil berlinang air mata sang gadis menjawab bahwa separuh saraf wajahnya mati dan ia tak bisa tersenyum. Namun bukannya memberikan motivasi, sang guru malah berkata, “kira-kira bisa sembuh nggak tuh?” sungguh hancur perasaan si gadis. Ia sangat merindukan senyum di wajahnya. Karena senyum itu indah, senyum itu cantik bahkan senyum adalah ibadah.

Berbahagialah saudaraku yang bisa berjalan
Maka berjalanlah di jalan yang diridhlai Allah.
Hingga kau bisa bermanfaat bagi orang lain.
Berbahagialah saudaraku yang masih bisa tersenyum.
Maka tersenyumlah dan buat orang disekitarmu bahagia karena senyum bahagiamu.

Berjalanlah dengan tersenyum, sinkronkan kaki dengan senyuman, berjalan di jalan Allah dengan senyuman untuk mengajak saudaramu mengikuti jalan-Mu. Buat saudaramu merasa kau bahagia di jalan-Nya hingga ia mengikutimu.

Berbahagia dengan senyuman di jalan Allah.
(filosofi hubungan kaki dan bibir, hehehehe)

Semarang, 29 Juni 2010 @11.44 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar