Rabu, 05 September 2012

Demi “Man Jadda Wajada”


Hanya sebuah cerita aneh dan tidak penting

Hari ini benar-benar spesial bagiku, mungkin beberapa orang menganggapnya lebay, tapi tak apalah. Hari ini aku tak mudah untuk berhenti tersenyum bahkan, camera digital itu aku bawa waktu kuliah dan aku pamerkan pada teman kuliahku bahwa aku baru saja bertemu dengan idolaku, salah satu orang yang menginspirasiku untuk bermimpi, beliau adalah A. Fuadi penulis Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna.
Bermula dari pesan singkat dari Diana temanku yang memberitahu bahwa besok A. Fuadi akan menjadi pembicara pada “Penyambutan Mahasiswa Baru FMIPA” katanya kalau aku berkenan datang saja karena acara itu terbuka untuk umum. Mulanya agak tidak berminat, apalagi malam itu pesan dari Diana terputus karena sebagian teks hilang. Aku malah membalas sekadarnyasaja lalu lebih memilih untuk menarik selimut dan segera tertidur. Rupanya insomniaku kambuh, aku tak mudah terlelap dan kepalaku malah makin pusing, tipis harapanku untuk melihat A. Fuadi, rasanya malas sekali.
Pagi pun menjelang, aku salat subuh dan tidur lagi, bukan karena apa-apa tapi karena aku baru tidur beberapa jam dan rasanya masih pusing sekali. Akhirnya aku terbangun pukul 08.45, sungguh bukan waktu yang pagi lagi, segera saja aku raih hand phoneku dan aku bertanya pada Diana, kapan acara dimulai? Rupanya semua sudah siap, acara dimulai setengah jam lagi di Auditorium. Alamaaak, bagaimana ini aku belum mandi, belum makan, belum siap-siap pula. Ah, tapi kapan lagi aku bisa melihat orang yang menginspirasiku dengan mantranya dan sepertinya A. Fuadi juga terinspirasi dengan syair-syair Imam Syafi’i yang sesungguhnya juga aku kagumi, kapan lagi aku dapat kesempatan?
Saat itu segera saja aku raih handukku, aku berlari menuju kamar mandi, rupanya persediaan air habis, aku pindah ke kamar mandi sebelah ternyata dipakai, aku pun berlari turun dari lantai 2 untuk mencari kamar mandi kosong dan untung ada satu kamar kosong, padahal jika tak ada yang kosong aku berencana hanya gosok gigi dan cuci muka, hahaha. Akhirnya segala ritual pagi yang biasa aku lakukan selama satu jam dapat aku singkat menjadi 15 menit, tentu saja acara makan pagi dan mendengarkan dangdut koplo sudah aku skip. Aku pun mengambil kamera, membongkar lemari, mengacak-acaknya dan jeng jeng jeng tiba-tiba aku memilih baju model baby doll alay dan dipadankan dengan kerudung berwarna oranye nge-Jreng (Kemudian baru nyadar kalo sudah terlalu banyak foto dengan memakai kerudung oranye). Setelah itu aku mengendarai sepeda motorku dan segera menuju Auditorium, tapi dasar Meina versi belum sarapan, aku malah salah parkir, pikiran memang ke Auditorium tapi malah parkir di perpustakaan (mungkin gara-gara masih ada bayang-bayang skripsi, oh nooo). Karena salah parkir aku pun harus berlari menuju Auditorium dengan gaya semi cool dan tetap menjaga kecantikan karena banyak mahasiswa bule ganteng yang bertebaran di sana (Astaghfirullah, zina mata ;p ).
Aku sudah tak sempat lagi melihat jam di handphoneku, apalagi memindah sepeda motor ke tempat parkiran Auditorium. Dengan napas tersengal-sengal aku pun berhenti di depan Auditorium. Semula aku mengira acaranya sangat formal, bahkan aku sudah menyiapkan skenario bahwa aku adalah teman dari Diana Purwaningrum yang juga diundang dalam acara itu, padahal sebenarnya aku adalah penyusup. Perlu diketahui bahwa hari itu Diana menggantikan Mbak Ryan untuk menjadi moderator A. Fuadi, oh betapa beruntungnya kamu Di. Ternyata sangat mudah untuk masuk dalam acara itu, dan Alhamdulillah aku berhasil mendapat tempat duduk yang sangat strategis untuk minggat yaitu di barisan paling belakang.
Ketika aku datang ternyata acara baru dimulai dan selama Bang Fuadi menyampaikan materinya, aku hanya bisa melongo, tercengang, terharu, pengin nangis, ah pokoknya lebay deh. Aku tak pernah lepas dari pena dan bukuku, tiap kata penting yang terucap aku catat dan renungkan. Selama 60 menit itu benar-benar dahsyat karena konsep dari beliau memang sangat sesuai dengan cara berpikirku. Dan sebenarnya selama 60 menit itu aku juga memikirkan cara agar bisa foto bareng. Perlu diketahui kalau saat ini aku sedang memiliki hobi baru yaitu foto dengan idolaku, hehe. Karena ini adalah acara penyambutan mahasiswa baru, aku yakin tidak bakal ada acara foto bareng karena setelah ini pasti masih banyak agenda. Bagaimana ya caranya?
Aha, kalau masalah akal busuk sih Meina ahlinya. Dengan wajah culun aku bertanya pada panitia.
“Mbak, ruang transit pembicara di mana ya?”
“Oh di sayap kanan auditorium Mbak.”
Wuih, jujur amat panitianya, nggak tahu ya aku punya rencana hebat. Sebelum A. Fuadi menutup acaranya, aku sudah berkemas dan bersiap, aku harus memastikan bahwa aku akan melakukan serangan. Setelah kupastikan A. Fuadi  keluar dari gedung, aku pun segera mengambil langkah seribu. Lagi-lagi aku berlari dan mengintai beliau dari jauh, aku melihat Diana di sampingnya. Segera aku ambil hand phone dan menelpon Diana tapi selalu disconnect. Aku mengamati dari jauh, rupanya ada beberapa orang yang ingin masuk ruang transit tapi panitia telah membuat pagar betis (lebay banget). Wah caranya gimana nih ya biar bisa foto bareng? Ahaaa, aku mau pura-pura lewat aja.
Dengan gaya sok cool aku pun pura-pura lewat, aku melihat Diana dan Diana pun melihatku, aku memberikan kode bahwa aku akan masuk, Diana datang menjemputku dan panitia tak berani berkutik hahahaha.
“Din, foto bareng sama Bang Fuadi yukkk laaah.”
“Ayukk, ayuuuk.” Jawab Diana dengan sangat antusias dan ekspresif. Diana sebenarnya bukan orang yang alay dan banci foto, tapi aku yakin gara-gara ajakanku kemudian dia jadi khilaf, maaf ya Di. “Sekalian book signing ya?”
“Di, aku nggak punya bukunya, dulu cuma pinjam hahaha,” jawabku dengan tampak nggak modal model ibu-ibu nawar harga sayuran di Pasar Johar.
Wah ini adalah adegan yang paling romantis dan perlu di slow motion. Akhirnya aku dapat melihat dengan sangat jelas wajah penulis idolaku, wajah orang yang menginspirasiku, aaah. . .jujur deg-degan banget.
“Bang boleh foto bareng?”
“Oh boleh,” jawab Bang Fuadi ramah.
“Ini temen saya Bang, dia ngefans banget sama Abang,” sambung Diana. Sumpah ini anak bikin aku malu banget.
“Beneran? Wah makasih ya,” sambung Bang Fuadi.
“Hehehe, iya,” jawabku malu-malu, sambil senyum-senyum tidak jelas, padahal salah tingkah. “Ehm tadi, saya sudah mention abang loh, nama saya at Meinafebri,” sambung aku dengan super percaya diri, kemudian cekikikan sendiri tidak jelas.
“Oh ya, kok belum masuk ya? Ya sudah nanti saya cek lagi.”
Mungkin ini bagian yang paling memalukan, sebenarnya dari dulu aku menderita penyakit antah-berantah, tapi kata teman-teman ini seperti Parkinson (na’udzubillahimindzalik) jadi tangan atau kaki bahkan lidah aku kadang suka bergerak sendiri kalau dalam bahasa Jawa namanya buyuten kalau bahasa Indonesia namanya gemetar, kata teman-teman sih mungkin faktor usia (Wasyeeem yo Ndes). Jadi ceritanya Diana memintaku untuk memotret dia dengan Bang Fuadi dan apa yang terjadi, tangan aku gemetar dengan sangat dahsyatnya, sampai aku maluuuu, maluuu sekali takut dikira grogi banget, selanjutnya…..ah tak usah diceritakan, isin aku.
Aku langsung minta izin Diana untuk pulang, bukan karena apa-apa tapi karena aku malu karena tadi tanganku gemetaran. Ketika aku sudah pergi aku bari nyadar kalau tempat kameraku ketinggalan, akhirnya aku pun kembali ke ruang transit lagi dengan gaya sok cool padahal nahan malu. Sudahlah, yang penting aku seneng. Tentu saja setelah itu aku unggah fotonya di BBM, twitter, dan facebook. Sing penting eksis to ya.

Mulanya ada mention seperti ini
Kemudian Bang Fuadi menambahkan mantion @Meinafebri dalam twitnya, aaaaaakkkkk!!!!

Jeng jeng jeng jeeeeeng :D


 *Untuk cerita isi materinya, di postingan selanjutnya yes!

4 komentar:

  1. hehe.. emang hebat pak Anwar, waktu itu launching buku di kampusku min, di ruang kelas.. tp berhubung aku blom baca bukunya jadi aku cuek,, foto2 tp lupa

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoiiih yi, tak kenal maka tak sayang, buktine koe juga salah nyebut nama ;p

      Hapus
  2. Sip...critane. bkn seru kisahnya tp bagus gaya bahasa penyampaiannya. Keep writting!!!

    BalasHapus
  3. Sip...critane. bkn seru kisahnya tp bagus gaya bahasa penyampaiannya. Keep writting!!!

    BalasHapus