Jumat, 02 November 2012

”Hidup untuk Bekerja” atau “Bekerja untuk Hidup”?

Source

Selamat datang di kehidupan yang sebenarnya. Selamat datang pada fase baru dalam hidupmu. Saat teman-temanmu satu per satu menghilang, saat mereka mulai mencari pekerjaan dan mencoba untuk berdikari. Saat diriku hampir terjebak pada rutinitas yang memuakkan. Saat pembicaraan di telepon tidak lagi membahas soal si anu yang punya gebetan si itu, tapi sudah pada tataran, “Ayo temenin aku ke job fair”. Saat kita mulai membutuhkan orang yang membuat kita berdiri tegap seperti pohon kurma yang berada di gurun, pohon yang selalu memberikan buah yang manis walau dilempari batu.
Akhir-akhir ini hal yang sedikit “aneh” seringkali terlintas di pikiranku. Sebenarnya untuk apa aku bekerja? Untuk apa aku belajar? Untuk apa aku mencari bekal hidup? Untuk apa seorang ayah rela membanting tulang dan bercucuran keringat demi menghidupi keluarganya? Apakah ia benar-benar bekerja demi bertahan hidup? Lalu apa bedanya dengan seorang businessman yang super sibuk untuk bekerja siang dan malam? Apakah ia hidup hanya untuk bekerja?
 “Hiduplah untuk bekerja” maka kau akan menikmati hidup ini sebagai orang yang dianggap keberadaannya, dihargai dan diakui oleh orang lain. Bagiku “bekerja” tidaklah sesempit “hanya sekadar mencari uang”. Berbeda kasus dengan seorang businessman yang bekerja siang malam hanya untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya dengan tak mengacuhkan orang-orang di sekitarnya, itu egois. Bekerja yang sesungguhnya adalah kebermanfaatan bagi umat. Ketika seseorang berada di tempat ia berprofesi, ia bekerja. Ketika ia berada di rumah dengan keluarganya, ia bekerja demi menyenangkan keluarganya. Ketika ia berada di komunitas sosial, ia bekerja mengabdikan diri demi masyarakat. Dalam hal ini bekerja adalah sebuah gaya hidup antimalas, bekerjalah dan nikmati duniamu sebagai insan yang bermanfaat. Ada perpektif berbeda, bahwa bekerja dilakukan untuk menghidupi orang-orang yang ia cintai. Ketika ia bekerja maka ia hidup. Sejatinya orang hidup adalah ketika ia bekerja, bahwa bekerja semata-mata bukan lagi kewajiban, melainkan sebuah kebutuhan yang tak hanya meliputi kebutuhan material, tapi juga kebutuhan spiritual. Nikmatilah hidup bersama orang-orang yang kau cintai bahwa kebahagiaan itu tak bisa dibeli dengan apapun maka luangkanlah waktumu.
Hidup untuk bekerja dan bekerja untuk hidup sama saja. Malas bekerja? Lebih baik mati saja.

5 komentar:

  1. Ada buku berjudul "Hak untuk Malas", Me. Pengarangnya Paul Lafargue, menantu Karl Marx. Milan Kundera juga ngomongin salah satunya soal hilangnya kebiasaan malas di era modern yang membuat hidup kita kayak mesin. Dan menurut laporan sejarawan Denys Lombard, di awal perintisan perkebunan di Hindia Belanda (awal sejarah swastanisasi lahan di Indonesia, biangnya kapitalisme), orang pribumi dicap malas sama orang Belanda, meski menurut Lombard, malasnya pribumi ini adalah bentuk perlawanan terhadap otoritas yang mencekik. Gimana tanggapanmu? Apa mereka mending mati saja? Hahaha.

    Ngomong-ngomong, mengapa memakai "businessman" alih-alih "pengusaha", wahai ibu guru bahasa Indonesia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha. Perlawanan pribumi dengan aksi "malas" itulah cerminan bahwa ia telah "bekerja" demi negaranya.

      Ahahaha iya Buk, isin aku.

      Hapus
  2. bekerja juga merupakan kebutuhan aktualisasi diri. lalu sebatas apa wanita dalam karirnya? mengingat ia juga harus mengurus rumah tangga (ketika sudah menikah), berbakti pada suami dan kewajiban mendidik anak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, harus seimbang dong, bisa mampir di sini >> http://meinafebri.blogspot.com/search/label/perempuan

      pendapat-pendapatku tentang perempuan

      Hapus
  3. setuju menurutku bekerja untuk hidup tetapi hidup tidak dapat dibeli dengan nilai rupiah...
    salam dari bandung.

    BalasHapus