Senin, 02 Juli 2012

We Are The Fantastic Four


Mungkin bukanlah tindakan yang bijak jika aku banyak menulis tentang orang lain tapi orang terdekatku tak pernah aku kisahkan. Baiklah, kali ini aku akan bercerita tentang salah satu keajaiban dalam hidupku. Ya, mereka adalah belahan jiwaku : kakak-adikku. Kami dilahirkan empat bersaudara dalam keluarga kecil dan sederhana. Kami memang bukan kakak-adik yang sempurna, dulu ketika kami masih kanak-kanak kami sering sekali bertengkar, sampai-sampai aku kabur dari rumah (tapi kabur ke rumah Mbah, percuma dong hahaha). Tapi kau tahu, justru memori-memori itulah yang membuat kita tersenyum penuh makna ketika mengingatnya.

Arine Astika
Mba Rin, begitulah kami memanggilnya. Sungguh tak ada satu orang pun yang pernah mengatakan bahwa aku lebih cantik dari kakak pertamaku ini. Dia memang cantik, kulitnya putih bersih, wajahnya imut sekali walau penampilannya sangat sederhana.
Hal yang istimewa dari mbakku yang satu ini adalah bagaimana ia dapat mengontrol sugestinya, bagaimana ia mampu bertahan dikala keadaan yang tak menentu, dan bagaimana ia mampu menangguhkan egonya hingga akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga biasa agar bisa fokus pada keluarga kecilnya. Dia adalah orang yang kehilangan separuh masa mudanya dan terpaksa menghabiskan tujuh tahun untuk menamatkan S-1. Bukan karena apa-apa tapi karena kesehatan yang kadang datang dan pergi  tak menentu. Dia divonis menderita endometriosis selama hampir tujuh tahun dan selama itu ia tak pernah pergi ke luar kota. Selain itu, hampir enam bulan sekali dia terpaksa masuk rumah sakit, vertigo, infeksi saluran kencing, infeksi saluran pernapasan, tifus dan apalagi sampai aku tak ingat. Dan itulah yang membuatnya sangat membenci obat-obatan kimia.
Sebenarnya apa yang bisa menyembuhkannya? Selain doa, tentu saja karena sugesti diri, menurut dia apa yang kita pikirkan itulah yang terjadi. Mba Arin adalah salah satu orang paling optimis yang pernah aku kenal. Dia mengajariku tentang arti ketidakpercayaan pada hal-hal negatif yang menghantui kita, buktinya saat ini dia sedang mengandung anak keduanya meskipun sebelumnya dia pernah divonis akan susah memiliki keturunan. Dia mengajariku arti “belajar dari pengalaman hidup” bahwa ketidaksempurnaan itu nantinya yang akan menjelma menjadi pembelajaran terindah dalam hidup ini.

Theo Yudistira
Mas Theo adalah orang yang bisa dibilang mirip dengan tokoh wayang Yudistira atas sikap nerimonya. Dia kakak yang selalu ada untukku bagaimana pun keadaanku, pengorbanannya untukku mungkin sudah tak dapat kuhitung. Sikap lembutnya dan aaaaah sudahlah aku tak bisa lagi mengungkapkan dengan kata-kata. Jika Tere Liye pernah berkata bahwa Laisa adalah Bidadari Surga karena pengorbanannya pada keluarga, mungkin bagiku Mas Theo adalah bidadara surga.
Dia yang dulu pernah mengajariku membaca kitab suci, mengajariku membaca jarum jam, mengantarku kemana pun aku mau, dan menghabiskan masa kecilnya bersamaku. Itu mengapa dulu aku lebih sering main robot dari pada main boneka, hehehe. Sejak lulus SMA, dia langsung diterima di Sekolah Polisi Negara, dan perjuangannya untuk keluarga itu subhanallah, mungkin saja jika Mas Theo tidak memberikanku ponsel, aku baru memiliki ponsel ketika semester empat karena semua ponselku dialah yang memberikannya.
Kalau aku bilang kehidupannya itu sangat mulus, semulus jalan tol. Setelah lulus SMA dia langsung jadi polisi, penempatan, pindah ke kampung halaman, punya istri yang nerimo, baik dan cerdas, dan sedang menanti kelahiran anak pertama mereka. Kenapa bisa begitu ya? Mungkin ini buah dari perbuatan-perbuatannya kali ya? Hihihi. Yah, walaupun nggak ada orang yang sempurna di dunia ini tapi Mas Theolah salah satu orang yang menginspirasiku untuk selalu berbagi walau dalam keadaan sulit sekalipun.

Johar Putra Adek Artemi
Mungkin dari sekian banyak orang di dunia dialah orang yang tidak mempunyai nama. Bagaimana bisa begitu? Johar adalah akronim dari Jono-Haryati, Putra berarti anak dari, Adek berarti adik dari, dan Artemi adalah akronim dari Arine, Theo, Mina. Jadi namanya memiliki arti : putra dari Jono-Haryati dan adik dari Arine, Theo, Mina. Jadi dia sebenarnya tidak punya nama, hahahaha.
Apa yang bisa aku banggakan dari makhluk culun itu? Hahaha, tentu saja ada. Dia adalah orang yang selalu menang di akhir peperangan. Dulu ketika dia masih duduk di Sedolah Dasar, dia adalah anak yang menduduki peringkat 27 dari 30 siswa. Tapi ketika kelas 6 SD dia benar-benar bertekad agar diterima di SMP favorit di daerah kami, akhirnya dia pun keterima di SMP 1 Ajibarang. Begitu juga ketika dia duduk di bangku SMP, dari sekian banyak try out, dia kerap tidak lulus tapi ajaibnya saat ini dia telah diterima di SMA favorit di Kabupaten yaitu SMA 1 Purwokerto. Sangar juga itu anak kalau sudah bertekad.
Itulah yang membuat aku sangat bersemangat untuk mendidik adikku jadi seorang pemimpi. Mungkin metodeku adalah metode mendidik yang aneh (bahkan hal ini juga dilakukan oleh keluargaku), kami sering sekali “menghina” adikku hahaha, ya dengan menghina itulah makanya dia bisa termotivasi. Dia adalah orang yang paling sering dimarahi dalam keluargaku, tapi anehnya dia tetap bersemangat dan tidak pernah marah. Mungkin mentalnya sudah teruji. Bahkan sebelum pengumuman masuk SMA aku pernah melemparkan seragam olahraga SMAku pada adikku, “Nyoh, seragam olahragaku, seragam SMA favorit, mbokan ko ra ketampa neng SMA hahaha.”(Nih, seragam olahragaku, seragam olahraga dari SMA favorit, takutnya kamu nggak keterima di SMA favorit). Memang kelihatannya tega banget, tapi dari situlah muncul semangatnya agar dia bisa “lebih” dari kakak-kakaknya makanya dia langsung rajin belajar. Tradisi nilai adik harus melebihi nilai kakak harus selalu dilestarikan (kasihan Mbak Arine ya, hahaha).
Mulai saat ini, aku tanamkan pada adikku agar terus bermimpi, ya Akpol atau ITB menantimu dik, apa pun akan kami lakukan. Bersemangatlah!



Especially thanks to Alloh for giving me an amazing family. Papah-Mamah, Mba Arine, Mas Theo, dan Adek. I love you all.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar