Minggu, 10 Juni 2012

Ajahn Brahm dan Dua Bata Jelek


Dulu pada tahun 1983 Ajahn dan beberapa biksu membangun sebuah wihara dengan tenaga mereka sendiri. Rupanya untuk membuat suatu bangunan dengan pondasi dan kuat dan indah, tidak hanya membutuhkan tenaga yang luar biasa, tapi juga pikiran ikut terkuras. Setelah berusaha dengan sangat keras, akhirnya Ajahn berhasil membuat sebuah tembok yang tersususun dari batu bata. Dia sangat senang karena hasil kerja kerasnya berbuah manis. Rupanya senyum Ajahn tak bertahan lama, ia melihat dua buah bata yang tak tersusun dengan apik. Karena dua bata itu, tembok yang ia bangun menjadi sangat aneh. Ah tapi ini terlalu terlambat untuk membongkar tembok itu, semen yang tertempel di sana sudah sangat merekat dengan kuat. “Itu benar-benar pekerjaan yang gagal,” batin Ajahn.
Tiap kali ada orang yang bekunjung ke Wihara, Ajahn selalu mengalihkan perhatian mereka sehingga mereka tidak melihat tembok yang ia bangun. Hingga suatu hari ada seorang pengunjuk yang tanpa sengaja melihat tembok itu dan dengan santainya ia mengatakan bahwa betapa indahnya tembok itu. Sontak Ajahn sangat terkejut, “Apanya yang indah, lihatlah dua bata yang merusak pemandangan kita, dua bata itu tak tersusun rapi dan membuat tembok terlihat sangat aneh.”

“Dua bata itu memang jelek, tapi lihatlah bata-bata yang lainnya, mereka sangat bagus, mengapa kita tak fokus pada keindahan mereka dan selalu memaki sedikit cela?”
Ada kalanya kita harus puas dengan apa yang kita kerjakan. “Ya sudah” bukanlah sebuah pernyataan yang menggambarkan kekecewaan. Ketika kita sudah sangat jauh melangkah dan ternyata tujuan yang kita impikan ternyata tidak berhasil kita genggam, bukan berarti kita tak berhasil. Merelakan sesuatu bisa saja menjadi jalan terbaik dari sebuah pencapaian. Kadang Tuhan menginginkan kita tumbuh dengan cobaan-cobaan yang kita lalui. Hamba yang luar biasa adalah ia yang mampu bersyukur dalam berbagai keadaan. Mengapa kita tak pernah fokus pada hal-hal yang positif?

“Lebih baik menyalakan lilin daripada memaki kegelapan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar