Rabu, 20 Juni 2012

Menjadi Penulis Cerdas atau Menulis dengan Cerdas?


Tentang Mimpi jadi Penulis
source
Apa itu penulis? Apakah orang yang hanya iseng-iseng menulis (seperti aku) bisa disebut sebagai penulis? Ah terlalu lajak kedengarannya. Berdasarkan kajian morfologi, penulis memiliki makna orang yang menulis. Tapi, entahlah rasanya makna itu masih kurang lengkap, aku menulis tapi aku belumlah pantas dipandang sebagai seorang penulis.
Kawanku, tiap kali aku berjalan-jalan ke toko buku, tempat yang kali pertama aku hampiri adalah jajaran best seller. Terbesit angan-angan bahwa “suatu saat nanti karya-karyaku akan abadi di sana.” Kau tahu, paling lama sebulan sekali aku mengunjungi toko buku, walau hanya sekadar melihat-lihat saja. Berjalan-jalan di sana jauh lebih menyenangkan dari tempat apa pun di penjuru pusat perbelanjaan.
Ketika aku kelas XII ibuku pernah berkata, “Belajarlah untuk menulis dan jadilah seorang penulis.” Semenjak itu aku berusaha untuk menulis, apa pun itu bentuknya, entah curhat galau artikel yang cuma copy-paste dan comot sana-sini aaaah apalah itu yang jelas aku harus konsisten untuk menulis, dan itu terjadi sampai saat ini.

Kali ini aku akan menceritakan kegalauanku padamu, apa itu? Tahukah kamu selama ini aku belum tahu betul tentang kriteria tulisan yang baik. Mungkin terdengar konyol. Dulu aku kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, tentu saja aku tahu apa saja indikator penilaian tulisan yang baik. Namun, aku berpikir, belum tentu buku yang memuat tulisan yang baik menurutku kemudian dianggap baik menurut orang lain. Belum tentu tulisan yang baik berdasarkan indicator penilaian kemudian dianggap baik oleh masyarakat kemudian laris dibaca atau dibeli bukunya. Berbicara soal tulisan, aku akan lebih fokus membahas tulisan seperti esai, prosa, puisi, drama, dan tulisan-tulisan lain yang argumentatif.
Hati-hati dengan Apa yang Kamu Baca
Menurutku, apa yang kita baca akan berpengaruh besar dengan apa yang kamu tulis. Aku sangat suka membaca buku tentang motivasi dan sejenisnya. Alhasil, karya-karyaku hanya seputaran itu, entah dari gaya bahasa maupun topik tulisan.
Mungkin sangat terlambat untuk aku menyadarinya, tapi sudahlah ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Saat ini, aku hanya ingin menulis dengan cerdas. Dengan kata yang mampu membuat kamu berpikir jauh lebih dalam dari sekadar (maaf) buku motivasi. Kecerdasan sebuah tulisan akan muncul ketika pembaca mampu memiliki pola berpikir baru. Tulisan yang mampu memunculkan gagasan-gagasan baru bagi pembacanya. Tulisan yang bahkan merupakan negasi dari kebaikan tetapi sebenarnya merupakan suatu kebaikan. Tulisan yang tidak hanya menyuguhkan kalimat, “Jika kamu berusaha maka kesuksesan ada di tanganmu,” yang tidak lagi diragukan bahwa jika kita berusaha pastilah akan sukses, dan jika itu tidak ditulis pun semua orang akan tahu.
Pernahkah kau berpikir bahwa sejahat-jahatnya tokoh dalam sebuah cerita sebenarnya adalah sisi religius yang berbeda. Bagaimana mungkin kita belajar tentang kebaikan ketika kita tak tahu mana hal yang buruk, bahkan peran pelacur pun dapat menjadi sebuah sisi yang protagonis. Hal itu juga terjadi pada tulisan, kadang orang awam menganggap bahwa itu hanyalah negasi dari kebaikan atau hal-hal diluar pikiran kita bahkan hal sepele yang tak pernah terlintas di akal sehat tapi tulisan itulah kecerdasan yang sebenarnya, dia mengajakmu untuk berpikir menemukan kebaikan. Kawanku, tak usah kamu terkejut bahwa  diksi yang paling seusai untuk menggambarkan suatu keadaan adalah bangsat dan brengsek. Itu bukanlah diksi yang saru, mungkin saja diksi itu adalah kata paling tepat untuk menggambarkan suatu keadaan.
Penulis cerdas belum tentu dapat menulis dengan cerdas. Aku memang bukan orang yang cerdas, bahkan tidak bisa dibilang sebagai penulis, apalagi penulis yang cerdas. Setidaknya meskipun aku bukan penulis, aku akan berusaha dan belajar untuk menulis dengan cerdas. Menulis dari sudut yang tak terlihat oleh orang lain. Tulisan cerdas yang menuntun pada kebenaran sejati, tapi apakah ada kebenaran yang mutlak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar